Serendipity

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 24 March 2019

Berteman dengan kegelapan, itulah yang kini tengah dilakoninya. Bersama secangkir kopi tanpa gula yang masih mengepulkan asap tipis. Ge menyandarkan punggung lelahnya ke sandaran kursi kerjanya. Perlahan ia berputar dan memandangi setiap sudut ruangan, tempat dimana ia kini melabuhkan semua hasrat dan mimpinya. Tempat yang dibangun dengan selubung kerja keras bersama kedua sahabatnya.

Namun genap satu pekan ini Ge digayuti perasaan malas yang sangat. Bukan malas membangun pondasi mimpinya, namun malas untuk pulang. Rumah hanya membuatnya gerah. Gerah dengan rombongan kalimat berulang yang keluar dari mulut Mamanya yang telah satu minggu ini berada di rumahnya.
“Dia itu cantik, berpendidikan, dan yang terpenting dari keluarga baik-baik.”

Seiris red velvet masih teronggok utuh dipiring kertas berwarna keemasan, belum disentuh, sementara sirup apel yang datang sepaket dengan cake berwarna merah menyala itu telah habis diteguknya. Fe tersenyum, perayaan ulang tahun memang selalu membahagiakan, tapi tidak baginya.

Fe menatap kalender di mejanya, dua hari yang lalu adalah hari ulang tahunnya yang ke 31. Angka yang membuat semua kaum perempuan paruh baya dalam silsilah keluarganya gatal. Gatal untuk bertanya “Jadi kapan?”
Fe tersenyum kecut.

Ge memejamkan matanya, kakinya belum juga mau diajak melangkah.
“Ge?” sebuah suara memanggilnya dari arah pintu yang langsung menyemburkan selarik sinar temaram.
“Ya, masih di sini. Kenapa balik lagi? Ada yang ketinggalan?”
“Jiwaku.” Erwin menyalakan lampu lalu mengacungkan laptop kesayangannya.
“Masih pening harus menjawab ya atau tidak?” Erwin mendaratkan tubuh gempalnya di sofa.
Ge tersenyum hambar.
“Cantik, berpendidikan, dari keluarga baik-baik. Sempurna.” Erwin menyeringai.
“Aku kelihatan merana sekali ya Win? Sampai Mama jauh-jauh datang kemari hanya untuk menyodorkan wacana ini?”
“Itulah orangtua Ge, mereka khawatir anaknya tidak bahagia hidup sendiri di usia yang sekarang ini.”
“Aku bahagia.”
“Berarti mereka yang tidak cukup bahagia dengan kebahagiaan kamu.”

Layar monitor di hadapannya masih berpendar, semua pekerjaan yang tertunda karena libur cuti yang ia ambil satu minggu lalu belum selesai seluruhnya. Perutnya terasa perih. Fe menyentuh garpu plastik yang tertancap di red velvet-nya.

“Mbak Fe belum mau pulang, sudah malam loh ini mbak.” Sebuah suara menyapanya dengan sopan.
Fe tersenyum dan menggeleng. “Malas pulang Gus.”
“Loh kenapa?.”
“Lagi betah di sini Gus.”
“Betah apa dibetah-betahin?”
“Kamu dukun ya Gus?”
“Gak perlu jadi seorang dukun untuk menerawang wajah mbak Fe yang sedang suntuk.”
“Kelihatan ya Gus?”
“Sudah mbak, gak usah dipikirin, jalanin aja.”
“Tapi, gimana ya Gus.”
“Ya, apa salahnya mbak. Aku tahu mbak sudah mencoba, dua tahun dengan empat orang berbeda itu usaha yang patut diacungi jempol.”
“Kamu ngeledek aku Gus?”
“Ya, Enggak lah, mana berani aku mbak.” Agus menyeringai.
“Aku lelah Gus. Sekarang ini aku hanya ingin sendiri.”

Ge menyesap kopi pahitnya, ia kembali teringat kepada perkataan yang meluncur dari mulut Mamanya kemarin ini.
“Mama dan papa sudah tua, apakah salah bila kami ingin melihat kamu bahagia bersanding dengan seseorang?”
Memang tidak ada yang salah dari perkataan Mama nya, namun sampai saat ini Ge belum ingin memikirkan hal itu, ada pekerjaan yang menyita waktunya, hobi yang membuatnya selalu bersemangat dan teman-teman yang selalu ada di sekelilingnya.
“Semua ada waktunya Mam. Dan waktuku belum tiba. Toh aku merasa nyaman dengan keadaanku sekarang.”

Jarum jam di tangannya telah menunjuk di angka 9 tepat, Baru saja Agus berpamitan untuk memeriksa keadaan sekitar yang sudah merupakan tugasnya sehari-hari.
Fe mematikan komputernya, dan mulai memberesi mejanya. Semua telah rapi, namun ia belum juga beranjak dari kursinya. Pikirannya masih bercabang. Beberapa kali mengalami kegagalan membuat Fe kini lebih berhati-hati dan tidak terburu-buru. Ia hanya ingin menjalani hidupnya dengan tenang. Namun ternyata orangtuanya memandang lain. Mereka merasa khawatir dengan anak perempuannya yang sampai detik ini belum juga membawa seseorang untuk diperkenalkan.
Jawaban “ya” atau “tidak” sudah tak berlaku lagi karena esok adalah hari dimana pertemuan yang dibungkus dengan acara makan malam dua keluarga akan berlangsung.

Ge duduk berputar-putar diatas kursinya dengan gelisah. Kopinya telah tandas. Erwin menjinjing laptopnya dan beranjak.
“Ge, jangan terlalu keras berpikir. Jadilah anak yang baik barang satu hari saja.” Erwin menepuk bahunya, sementara ia hanya bisa tersenyum tipis.
“Pulang Ge, istirahat, besok ada pertemuan yang harus kamu hadiri kan?.” Erwin berteriak dari bawah tangga.

Fe bergegas menuruni tangga ketika terdengar suara deru motor yang sangat gaduh di luar sana. Agus tidak ada di tempatnya. Secepat kilat ia berlari ke arah pintu ketika ia mendengar teriakan-teriakan kasar diselingi dengan suara gas motor yang meraung-raung.
“Prang!”
Kini terdengar suara kaca pecah, ada rasa was-was yang menyembul di hatinya namun tak urung membuatnya membuka pintu.
“Agus!” Fe berteriak demi melihat Agus yang kini terduduk di jalanan yang sepi.
“Mbak Fe, jangan keluar, masuk mbak.” Agus berteriak sambil meringis menahan sakit, dahinya dipenuhi leleran darah.
Fe melihat beberapa motor parkir tak beraturan di depan mini market yang kacanya pecah. Ada beberapa orang yang entah tengah melakukan apa di dalam mini market itu. Teriakan, tawa, perkataan kotor besahut-sahutan dari dalam sana. Walau ada rasa takut yang menyelubunginya namun tak ayal Fe berlari menghampiri Agus.
“Mbak Fe, tolong telepon polisi.” Agus berbisik lemah lalu pingsan, darah mengucur hebat dari kepala dekat dahinya. Dalam kepanikan Fe melepas cardigannya lalu membebat kepala Agus dengan segera. Tergesa ia mengeluarkan ponsel dari tasnya, ia sama sekali tak mengetahui bila ada yang tengah menghampirinya.

Ge menguap lebar, kopi pahit itu rupanya tidak berpengaruh pada rasa kantuknya. Tiba-tiba kantuknya lenyap ketika ia dikagetkan oleh suara-suara yang biasanya tidak pernah ia dengar selama ia berkantor di kawasan ini. Sepertinya ada yang tidak beres, pikirnya. Ge berlari menuju pintu dan membukanya dengan cepat. Ia terbelalak, dua orang pemuda tengah berusaha merebut sesuatu yang berada di tangan seorang wanita, sementara seorang satpam tergeletak di atas aspal. Tanpa pikir panjang Ge melangkah cepat ke arah wanita yang barangnya telah berada di tangan dua pemuda yang kini tertawa terbahak-bahak itu.
“Kembalikan.” Ge merangsek, berdiri di antara dua pemuda dan wanita yang terlihat cemas itu.
“Oh, ada yang mau jadi pahlawan rupanya.” Pemuda yang mengenakan anting di hidungnya berteriak tepat di wajah Ge. Aroma alkohol menyeruak seketika.
“Hajar aja, Cel.” sahut pemuda satunya yang berjaket kulit.
Ge langsung waspada.

Fe menghembuskan nafas lega, ternyata masih ada orang yang mau menolongnya diantara orang-orang lain yang hanya berani melihat dari balik pintu ataupun jendela. Fe bersimpuh di samping tubuh Agus yang tergolek. Saat itu Fe tidak tahu harus berbuat apa, ponselnya masih ada di tangan pemuda berandal itu. Kini perkelahian tengah terjadi tak jauh darinya. Pria yang menolongnya terlihat tak mengalami kesulitan dalam melumpuhkan dua pemuda yang kini kesakitan mencium aspal. Teman-teman berandal mereka rupanya masih agak waras tak mau mengambil resiko. Setelah menjarah mini market mereka membawa dua temannya yang babak belur tadi lalu melesat pergi mengenderai motor meninggalkan suara bising dan asap knalpot yang memuakkan di sertai sumpah serapah yang tak henti keluar dari mulut mereka.

“Ini ponsel kamu.” Ge mengulurkan tangannya.
Fe menengadah lalu berdiri. Tatapan mereka bertemu.
Perasaan hangat tiba-tiba mengaliri pembuluh darahnya, semerbak aroma bunga membawa Ge melayang sejenak, kakinya seakan tak menyentuh bumi.
Sementara itu Fe menatap jauh ke dalam mata itu. Teduh, lembut, dan menyejukkan.
“Mbak, Mas, jadi ini bagaimana?” sebuah suara terdengar panik.
“Oh iya maaf Pak, bisa bantu bawa ke kendaraan saya di sebelah sana?”
“Kamu ikut aku ke rumah sakit kan?” Ge bertanya dengan tergesa.
Fe mengangguk dan bergegas melangkah.
Suasana diluar kendaraan yang ditumpangi Fe kini tak sesepi tadi, bunyi sirene terdengar sayup dari kejauhan.

Ge senyap di balik kemudi, sesekali ia melihat wajah kedua orangtuanya melalui kaca spion. Mama nya terlihat semringah sementara Papa nya datar seperti biasa. Ge menghembuskan nafasnya panjang, tempat yang dituju telah ada di hadapan matanya. Dalam hatinya ia berharap bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tidak ada yang harus kecewa dan dikecewakan.

Fe merubah-rubah posisi duduknya dengan gelisah sementara matanya tertuju ke arah layar ponsel yang ada di genggamannya. Lima menit bagaikan lima jam. Fe menangis dalam hatinya, mengapa ini semua terjadi pada dirinya. Mengapa orangtuanya tega melakukan hal ini kepadanya? Semakin lama, kepalanya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada jawabannya.

“Fe, berdiri, mereka datang.” Mama menyentuh bahunya lembut namun tak ayal membuat Fe terlonjak karena terkejut. Ia berdiri, namun kepalanya tetap memandang meja seakan tak ingin melihat kenyataan yang kini harus dihadapinya. Suara-suara penuh keakraban yang diselingi tawa renyah langsung memenuhi telinganya. Fe masih tertunduk lemas.

Ge menatap takjub wajah seseorang yang berdiri di seberang meja. Senyumnya merekah seketika.
“Fe?”
Fe mendengar namanya disebut oleh sebuah suara yang terasa familiar, ia mengangkat kepalanya perlahan.
“Ge?”

Cerpen Karangan: Ika Septi
Facebook: Ika Septi

Cerpen Serendipity merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Talk Love

Oleh:
“Albitari Diandra dan Reyhan Andriano.” “What? Nggak mau!” Suara seorang manusia terdengar menggelegar di dalam kelas. Gadis itu tak terima dengan keputusan yang diberikan Bu Anita —wali kelas mereka.

Bahagia Ku

Oleh:
Tiara atau sering dipanggil Ara, berjalan sendirian melintasi koridor kampus yang masih sepi, selalu sepi setiap ia melewati koridor ini di pagi hari. Mungkin Ara terlalu rajin datang sepagi

Anak Jalanan

Oleh:
Tahu apa itu istilah anak jalanan…? Ya, kebanyakan pasti tahu. Apalagi para muda-mudi yang setiap harinya nonton RCTI tiap malam sebelum isyak. Anak Jalanan adalah sebuah drama elektronik —sinetron—

Kisah Kelam Seorang KKM (Part 1)

Oleh:
Seiring berjalannya waktu, dia jalani hidup ini dengan kesendirian. Dia memang tak tinggal sendiri, dia tinggal bersama ketiga buah hatinya yang masih seumur jagung, namun dia harus mengurus anak-anaknya

Sebuah Cake

Oleh:
Menjadi kuat itu tak semudah bayangan, tak seindah keinginan, tapi seperti membuat sebuah cake yang hasilnya manis atau mungkin gosong dan bisa saja tetap menjadi bahan dasar. Filosofi manusia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *