Sesal

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Penyesalan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 28 April 2015

Kini Putri hanya bisa meratapi nasib buruk yang menimpa hidupnya. Hanya menangis yang bisa ia lakukan untuk meluapkan kepedihan di hatinya. Jiwanya terbang melayang meninggalkan jazadnya yang kini sedang tergenang rasa pilu yang dalam. Pipinya terasa tak pernah kering, selalu basah dengan air mata. Penyesalan kini membungkus tubuhnya yang terasa amat menyesakan dadanya.
“Aku memang bodoh! kenapa aku bisa berbuat sebodoh itu? mengapa aku bisa dibutakan oleh nafsu? mengapa aku bisa diperbudak oleh hawa nafsu?”. Gumam putri dalam benaknya.

Angan-angan putri kembali membumbung tinggi terbang mengambang di awang-awang. Ingatanya kembali berkelana ke saat-saat itu, saat–saat dimana putri kini harus menyasali mengapa saat-saat itu harus terjadi. Saat-saat yang kini harus ia bayar mahal dengan air matanya. Saat-saat yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya. Dan Saat-saat yang akan selalu disesalinya hingga akhir hayatnya kelak.
Putri masih sangat ingat saat–saat itu, seakan saat-saat telah terlukis di dalam hati dan jiwanya. Saat itu putri dan kekasihnya yang bernama Rama sedang merayakan kelulusan mereka berdua. Tak seperti siswa-siswa SMA lainya yang merayakan kelulusan dengan coret-coretan baju atau konvoi di jalan raya. Putri dan Rama malah merayakanya pada malam hari dengan acara makan malam berdua. Makan malam mereka berjalan begitu lancar seakan tak ada sama sekali yang menggangu, tapi semua berubah saat Rama mengatar Putri pulang dengan motornya. Di tengah perjalanan tiba-tiba hujan turun dan membasahi mereka berdua. Rama menarik gas motornya kencang agar cepat sampai ke rumah Putri.
Dengan keadaan tubuh basah kuyub Rama pun sampai mengantarkan Putri pulang ke rumahnya dengan selamat walaupun dengan tubuh yang basah tersiram air hujan.

“Kamu gak masuk dulu? di luar kan hujan, sekalian berteduh”. Ajak Putri kepada Rama agar mau masuk ke rumahnya.
Mendengar kata-kata itu Rama terdiam sejenak, ia bingung harus menerima atau menolak tawaran itu.
“Ayo cepetan masuk hujanya makin lebat nih!”. Ajak Putri sekali lagi.
“Ya udah deh aku masuk”. Ucap Rama sembari memarkirkan motornya ke dalam rumah kekasihnya itu.
“Ayo cepetan masuk!”. Ucap Putri dari depan pintu.
“Iya sayang!”. Ucap Rama sambil berjalan menuju Putri.

Mereka pun masuk ke dalam rumah yang pada saat waktu itu memang sedang sepi dan tak ada seorang pun. Ayah dan ibu Putri sedang pergi ke rumah saudara yang sedang ada acara dan akan menginap disana untuk beberapa hari.
“Rumah kamu kok sepi? ayah sama ibu kamu ke mana?”. tanya Rama.
“Iya memang sepi, ayah sama ibu kan sedang ke rumah tante aku!”.
“Oh begitu ya, pantesan sepi amat”.

Hujan di luar turun semakin deras saja, bukannya mereda malah semakin lebat. Nampaknya hujan tak akan reda dalam 3 sampai 5 jam ke depan. Kelihatannya Rama harus menginap di rumah Putri. Dari balik jendela Rama hanya bisa melihat tetesan air hujan yang terus turun seakan tak ada hentinya. Seakan hujan itu memaksanya untuk tidak pulang malam ini.

“Baju kamu kan basah, kamu pake ini dulu ya!”. Kata Putri sembari menyodorkan sehelai baju yang nampaknya baju itu milik ayahnya.
“Oh ya, makasih ya!”.Sahut Rama sambil mengambil baju dari tangan Putri.
Tiba-tiba Rama mendekatkan tubuhnya ke arah tubuh Putri dan mencondongkan kepalanya ke arah telinga kiri Putri sembari berbisik lirih. “I love you sayang”. bisik mesra Rama di telinga Putri.
Tangan-tangan Rama tiba-tiba memeluk tubuh Putri, memeluk erat bagaikan menyelimuti tubuh Putri dari dinginya malam itu. Gelora asamra terbakar hebat dalam hati dan jiwa kedua insan itu seakan mengundang nafsu untuk datang dan singah. Nafsu-nafsu pun mulai merasuk ke dalam aliran darah kedua insan itu. Meracuni iman mereka berdua dan membutakan kesucian cinta yang ada. Kedua insan itu terbakar hasrat cinta dan tertipu oleh nafsu dunia yang nikmat yang menengelamkan mereka ke dalam dosa terindah.

3 bulan telah berlalu benih cinta yang ditanam Rama pada malam itu sudah tumbuh menjadi janin di rahim Putri. Putri hamil, mengandung buah cintanya bersama Rama, ia kini bingung apa yang harus ia lakukun terhadap janin yang ada di rahimnya. Apalagi kini Rama sudah tak di sampingnya lagi, Rama pergi 2 bulan yang lalu saat Putri belum tahu kalau dirinya sudah berbadan dua. Rama pergi ke Kalimantan menyusul ayahnya yang bekerja di sana dan Rama menetap tinggal di sana. Pikiran Putri terombang-ambing bersama angin, apabila ia membayangkan bagaimana nantinya jika ayah dan ibunya tahu keadaanya ini. Putri tahu orangtuanya cepat atau lambat akan mengetahu tentang keadaanya ini, bagaimanapun ia mencoba menyimpan bangkai pasti kan tercium juga.

Di dalam benak Putri pernah terbersit tuk mengugurkan saja jabang bayi yang ada di dalam perutnya, bahkan ia juga pernah terpikir untuk bunuh diri saja bersama bayi yang ada dalam rahimnya. Tapi ia merasa tak tega untuk membunuh bayi dalam rahimya itu. Tiap hari Putri hanya menaggis dan mengurung dirinya dalam kamar. Hal ini malah membuat ayah dan ibunya menjadi curiga, anaknya dulu selalu ceria dan periang kini menjadi pendiam dan selalu mengurung diri dalam kamar. Apalagi ayah dan ibunya sering melihat Putri sedang muntah-muntah. Tapi apabila ditanya oleh orangtuanya mengapa ia muntah-muntah, Putri selalu mejawab sedang masuk angin atau sedang tak enak badan.

Minggu-Minggu pun berganti dengan bulan dan perut Putri pun kini nampak semakin besar. Tiap hari Putri tatap saja menangis, berharap dengan air matanya ia bisa memutar waktu dan kembali ke malam itu. Putri kini tak tahu lagi bagaimana caranya untuk menutupi keadaanya saat ini. Ia bingung dengan cara apalagi ia menyimpan rahasianya ini. Mungkin kini waktunya untuk Putri menyerah dan berkata tentang apa yang sebenarnya terjadi kepada kedua orangtuanya. Tapi ia masih takut untuk berbicara jujur, pastinya ayah ibunya akan marah dan terluka bila mendengar kabar ini. Ia takut jika ayah dan ibunya nanti akan sedih mengetahui anak semata wayangnya hamil diluar nikah.

Perut Putri tiba-tiba terasa mual ia pun segera berlari menuju kamar mandi, tapi sekembalinya dari kamar mandi Putri melihat ayah dan ibunya sedang duduk di sofa di ruang keluarga.
“Put duduk sini! ayah sama ibu ingin bicara dengan kamu”. Ucap sang ayah.
“Ayah ingin ngomong apa?”. Tanya Putri.
“Jadi begini Put, ayah lihat beberapa minggu ini kamu jadi aneh, kumu sering muntah-muntah sendiri dan perut kamu ayah lihat kok semakin buncit, ayah takut kalau kamu itu sekarang sedang hamil!”.
“Hamil…! mana mungkin Putri hamil”. Kata Putri dengan mimik wajah menyimpan rahasia.
“Ayah mau kamu bicara jujur sekarang! apakah kamu memang sedang hamil?”.
“Ngak kok yah Putri ngak hamil”. Sanggah Putri.
“Kamu jangan bohong sama ayah!”. Ucap ayah dengan nada tinggi.
Tiba-tiba air mata jatuh mengalir dari mata Putri yang membashi kedua pipinya. Dengan terbata-bata Putri berkata.
“Putri…! Putri memang hamil yah”.
Mendengar anak semata wayangnya hamil jantung sang ayah dan ibu Putri seakan disayat-sayat pedang yang teramat tajam. Wajah mereka bagaikan tersambar petir dan hati mereka seketika hangus terbakar.

“Apa kamu hamil!”. Kata ibu seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya oleh kedua telinganya.
“Iya buk Putri hamil”. Jawab Putri.
“Kamu…! kamu harus gugurin bayi itu”. Ucap ayah.
“Nggak yah…! Putri ngak mau gugurin bayi ini”.
“Nggak kamu harus segera gugurin bayi itu! ayah malu, mau ditaruh mana muka ayah sama ibumu nanti jika orang-orang tahu tentang hal ini”.
“Tapi yah!”
“Ngak ada tapi-tapian! ayo ikut ayah”. Ucap ayah sembari menarik tangan Putri.

Bersama dengan ibu, ayah membawa Putri pergi ke seorang bidan yang melayani untuk mengugurkan kandungan. Seribu tolak Putri untuk tak mengugurkan kandunganya sama sekali tak didengar oleh ayah ibunya. Meraka tetap memaksa Putri untuk mengugurkan kandunganya walaupun Putri memohon dengan air mata, mereka tetap saja tak mengubris sama sekali. Mereka tatap ingin mengugurkan bayi yang ada di dalam kandungan Putri.

“Jadi saya ingin mengugurkan kandugan buk!” Ucap ayah kepada bidan yang ada di depannya.
“Tapi siapa yang ingin mengugurkan kandunganya pak?”. Tanya bidan.
“Itu buk anak saya!”. sembari tanganya menunjuk Putri.
“Oh ya! ayo silahkan!”

Bidan pun membawa Putri masuk ke sebuah ruangan. Raut wajah Putri tampak sangat ketakutan saat memasuki ruangan itu. Jantungnya berdetak tak beraturan, rasa takut telah menyelimuti benaknya. Dalam lubuk hatinya ia tak ingin mengugurkan bayinya tapi ia tak bisa menentang kemauan ayah dan ibunya. Ia berharap saat ini hanyalah mimpi dan ia berharap agar segera terbangun dari mimpi buruk ini.

90 menit telah berlalu semenjak Putri memasuki ruangan itu tapi bidan juga belum keluar. Di luar ayah dan ibu Putri berharap-harap cemas tentang keadaan anak mereka yang ada di dalam. Semoga anak semata wayang mereka baik-baik saja di dalam, itulah harapan yang sekarang ada dalam sanubari mereka saat ini. Mereka sebenarnya takut akan terjadi apa-apa pada anaknya apabila melakukan aborsi tapi mereka juga lebih takut dan malu apabila nanti orang-orang tahu anaknya hamil diluar nikah. Kini hanya doa yang mereka bisa lantunkan kepada anaknya, semoga anaknya baik-baik saja.

Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, terlihat sang bidan keluar dari balik pintu itu dengan wajah agak berbeda. Sang ayah dan ibu langsung menghampiri bidan tersebut.
“Bagaimana keadaan anak saya bu?”. Tanya ayah.
“Maaf pak, anak bapak!”.
“Kenapa anak saya buk?”. potong ibu.
“Anak ibu… anak ibu meninggal!”.
“Ngak mungkin… ngak mungkin..!”. Teriak ibu seakan tak percaya mendengar kata-kata bidan itu.

Ayah dan ibu pun segera berlari memasuki ruangan itu tuk melihat anaknya. Tapi apa yang bidan katakan memang benar, anak semata wayang mereka telah tiada. Anak meraka telah meninggal terbaring tak bernyawa. Air mata pun segera datang membasahi pipi mereka berdua tuk menyesali apa yang telah mereka lakukan pada anak mereka. Sang ibu langsung mendekap jasad anaknya yang kini sedang tertidur.
“Put bangun put…! maafin ibu put…! maafin ibu! Ibu ikut kamu aja..! ibu ikut kamu aja!”. Ucap sesal ibu sembari menaggis tanpa henti.

Cerpen Karangan: Gaddang Arief
Facebook: gaddangarief

Cerpen Sesal merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bintang Utama

Oleh:
Adeeva Point Of View Ini aku, sang bintang utama. Aku pemegang peran utama pada cerita ini. Namaku Adeeva Afsheen Myesha. Aku hidup serba berkecukupan. Aku cantik dan selalu menjadi

Rahasia Sebuah Peristiwa

Oleh:
Sungawi sangat sedih, meratapi nasibnya menjadi orang miskin. Sungawi ingin sekali bekerja di salah satu pabrik atau perusahaan, namun ia hanya bisa berangan-angan karena ia hanya tamat SMP. Prestasi

I Wanna Reset

Oleh:
Malam semakin larut meninggalkan senja yang kuratapi hari ini. Entah mengapa sulit bagiku untuk sekedar memejamkan mata. Pikirku melayang jauh membayangkan hari-hari yang kulalui hampir 3 bulan ini. Hari

Maafkan Aku Nita

Oleh:
Namaku Anggi, aku salah satu murid di sekolah ternama di daerah jakarta. Di sekolah, aku adalah murid yang pendiam, jarang murid-murid yang lain menyapaku. Tapi hal itu tidak ku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *