Setetes Air Surga (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 23 May 2017

Pagi hari sebelum berangkat, bayi berumur empat bulan itu memberinya kado muntahan susu di jas kerjanya. Pembantunya memberi kado sarapan roti yang gosong. Sopir taksi yang lamban mengadoinya absen merah di time card, alias terlambat.

Hari ini adalah evaluasi konduite akhir tahun fiskal perusahaan. Dari bos, dia mendapat kado berupa dua surat peringatan (SP), hanya dalam satu bulan setelah dia mengambil tiga bulan cuti melahirkan. Dua SP berarti sekali lagi tamatlah riwayatnya. Ironis sekali, mengingat tahun lalu dia adalah staf teladan dengan konduite paling bagus, outstanding. Dengan demikian, karier yang dulu kelihatan menjanjikan, kini bak di ujung tanduk.

Lalu, kado yang sungguh tak disangkanya adalah…
“Sofia, ada customer kamu di depan!” Teriak seseorang, dari pintu.
“Tapi saya sedang makan siang,” jawabnya.
“Dia bilang hanya mau dilayani sama kamu.”
“OK. Siapa namanya?”
“Pak Andrew. Jas biru. Keren juga, tuh.”
“Andrew yang mana, ya?”
Sofia melangkah ke counter sambil mengernyit. Terlalu banyak nama customer yang harus dihafalkannya.

“Silakan,” ujarnya sopan, kepada seorang pria berjas biru yang sedang menunduk memainkan ponsel pintarnya.
Pria itu mengangkat wajah, bangkit, dan melangkah menuju kursi di depan Sofia. Dan, mereka pun saling berpandangan.
“Andrew?” Mata Sofia membelalak.
Pria itu menatap tenang.
“Tadi saya telepon, kamu sibuk. Saya sudah titip pesan mau datang.”
“Ya, ampun! Saya kira Andrew customer yang mana…”
“Baik, Fi.”
“Baik? Apanya yang baik?”
“Jika kamu menanyakan kabarku.”
“Oh, baik juga, Ndrew. Kejutan sekali kamu tiba-tiba muncul.”
“Ya. Sudah lama tidak bertemu. Saya sekalian mau mengambil tiket.”
“Tiket?”
“Ya, ini kartu frequent flyer saya. Tidak disangka kalau saya anggota juga?”

Sofia segera menekan tuts-tuts komputer dengan cekatan.
“Reservasi dua orang, Mr. dan Mrs. Andrew.” Keningnya mengernyit. “Jadi kamu sudah menikah? Emiko namanya. Orang Jepang?”
“Belum. Tapi akan. Untuk itulah saya datang.”
Disodorkannya sebuah undangan.
“Jadi ini tiket bulan madu? Ke Hawaii. First class. Sungguh romantis.”
“Kamu bisa hadir, ‘kan?”
“Nikah wisata di Bali Wedding Island, Legian Beach,” dia membaca undangan itu. “Tempat menikah favorit turis Jepang. Tapi, saya sudah tidak punya cuti. Lagi pula, bayi saya masih sangat kecil.”
“Bayi? Kamu sudah punya bayi?”
“Waktu berputar terus, ‘kan?”
“Oh great. Come on, ceritalah yang banyak, pasti seru hidupmu sekarang.”
Ungkapan spontan yang tulus dan bersemangat dari pria di depannya itu, merupakan sebuah nostalgia.

Sejenak dia terpaku.
Bukan, bukan karena jumlah miles pria itu sungguh banyak yang membuatnya sempat terpaku.
“Ngomong-ngomong, kamu sudah bisa jadi member premier. Jam terbangmu tinggi sekali, ya.”
“Sorry, saya lupa kamu sedang dalam jam kerja. Tidak profesional bekerja sambil mengobrol.”
“Tidak apa-apa,” jawabnya. “Tanyalah apa yang kamu ingin tahu.”
“Tell me, punya bayi, kamu pasti bahagia.”

Bahagia?
Apa yang dia tahu tentang bahagia?
Apakah itu sesuatu yang kau rasakan ketika mendengar suara tangis bayi yang keluar dari rahimmu setelah sembilan bulan mendekam di sana?
Apakah itu sinar di mata suamimu yang basah ketika dia mencium keningmu saat kau terbaring kehabisan tenaga sehabis melahirkan?
Apakah itu yang membuat keresahanmu musnah ketika akhirnya mengalir air susu dari buah dadamu sendiri dan kau tak rela membiarkannya terbuang setetes pun karena itu bagaikan air dari surga yang tak ternilai harganya?
Ataukah sesuatu yang menggelegak di hatimu ketika melihat senyum puas seorang bayi mungil yang kenyang dan tertidur setelah menikmati tetes demi tetes air surgawi dari dadamu?
Kalau begitu, jawabannya adalah…

“Ya, saya bahagia sekali.”

Itu benar.
Tapi, bila dia harus menyebutkan betapa kariernya kini di ujung tanduk, sekali SP lagi dia akan dipecat, suami yang baru resign dari pekerjaan dan sekarang bekerja freelance dengan penghasilan yang tak mencukupi, dua orang adik yang masih kuliah yang menjadi tanggungannya sendiri yang sudah yatim piatu, masihkah dia percaya diri menyebutkan kata itu, bahagia?
Perlukah diceritakannya semua itu kepada orang yang pernah diimpikannya menjadi teman hidupnya ini, yang kini datang tepat ketika dia dirundung masalah?

“Tangisan bayimu pasti nyaring.”
“Kamu ahli menganalisis tangisan bayi?”
“Bukan. Kalau nyaring, mungkin dia bisa masuk The Voice Kids. Tapi, kalau kurang, ya… mengamen saja.”
Dia pun tertawa kecil. Untuk pertama kalinya, hari ini.
“Come on, Fi. Ceritalah sesuatu. Jauh-jauh saya datang bukan untuk melihat keningmu yang berkerut itu. Atau, bagaimana kalau nanti kita ngobrol sambil makan siang?”
“Makan siang dengan bekas kekasih itu termasuk selingkuh, bukan?”
“Perlu saya telepon meminta izin suamimu?”
“Saya hanya bercanda.”
“Apakah itu berarti mau?”
“Berikan saya alasan lain untuk tidak bisa menolak.”
“Oh, kamu lupa, itu keahlian saya. OK, bagaimana kalau saya traktir makan siang sebagai kado ulang tahunmu? Hmm?”
“Ya, ampun…” gumamnya. “Kamu masih ingat ulang tahunku.”
Dan, tak ada lagi yang bisa dia ucapkan.

Tapi, apa yang akan kamu bicarakan kepada mantan kekasih yang tiba-tiba muncul setelah sekian tahun tak bertemu dan tidak ada kabar?
HUT Bhayangkara awal bulan ini? Siapa yang paling memeriahkannya? Jakarta dengan kemacetannya? Kasus kerusuhan alun-alun Bandung? Kasus beredarnya vaksin palsu? Kasus-kasus kriminal yang marak seperti bunuh diri, pencab*lan oleh kakek 70 tahun, pembunuhan bayi? Atau siapa pemain favorit di Persib Bandung? Atau barangkali sinetron Anak Jalanan?
Dulu, apa saja bisa mereka bicarakan. Tapi, sekarang?

“Dua kali SP?” Andrew tidak percaya.
“Hampir tiap hari saya terlambat, bulan yang lalu. Tidak ada yang bisa saya andalkan menjaga bayi saya. Gonta-ganti baby sitter. Dan, kamu takkan tahu bagaimana rasanya meninggalkan bayi yang menangis, apalagi sedang sakit, di rumah. Hati bagai teriris melihat wajah polos itu. Tiap kali saya menangis, bila berangkat bekerja. Rasanya tidak tega meninggalkan bayi sekecil itu di tangan orang lain. Saya hampir berhenti bekerja. Saya harus bekerja. Gaji saya perlu untuk membayar tagihan keperluan rumah tangga. Apa saja akan saya lakukan demi bayi mungil itu. Saya sangat menyayanginya. Dia adalah anugerah terbesar dalam hidup yang saya terima sampai sekarang. Bagaimana jadinya jika saya menganggur. Susu mahal sekali.”

Cerpen Karangan: Riska Rizkiyani
Blog: chikalolot.mywapblog.com
Riska Rizkiyani | @chikalolot_ Blogger. Content creator. Aquarian. Movie lover. Bookaholic. Amateur Photographer. Cooking lover. Read my stories at chikalolot.mywapblog.com | Find me on facebook: facebook.com/riskarizkiyani.3
Gue itu:
Pengertian, feminis, sensual, teman sejalan, blakblakan, mandiri, intelektual, loyal, pecinta kebebasan, teguh prinsip, charming, dan apa adanya.
Ini cerpenku untuk guru bahasa Indonesiaku, Ka Mohamad Abdul Rosyid dan Ibu Indri Maryam Nursihah. 🙂

Cerpen Setetes Air Surga (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jiwa Malaikat

Oleh:
Siang itu terik matahari yang menyengat mulai menyentuh kulit kepala sang bocah bernama Andini, belum lagi sang kakak yang seharian berkeliling mendorong gerobak mengorek-ngorek sampah dan berharap menemukan barang

Cerpen Yang Tak Berguna

Oleh:
Setiap hari aku selalu membuat cerpen, sudah beribu-ribu cerpen yang kubuat tetapi ada saja kakakku yang tidak suka dengan semua cerpenku, namanya Zanet dia itu selalu memarahi aku karena

Si Penjaga Makam

Oleh:
Hamja Mardiayana Daeng Tahir, atau orang-orang kampung memanggilnya Daeng Tahir, seorang penjaga makam yang telah lama mengabdikan hidupnya untuk “Orang-orang,” yang sudah tiada. Ia dengan senantiasa membersihkan makam dari

Ontel Tua Milik Kakek

Oleh:
Namanya Veronicca amora, dia sering disapa Amora, dia sangat dekat dengan kakeknya yang sudah berumur 65 tahun. Nama kakek Amora adalah Goldylocks veroka, nama panggilannya adalah kek Goldy. Kek

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *