Setetes Air Surga (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 23 May 2017

Andrew menatap dalam-dalam. Matanya kelam.
“SP yang kedua, seorang pelanggan komplain. Suatu hari saya tidak masuk karena tiba-tiba bayi saya sakit. Sehari sebelumnya saya sudah menitipkan tiket beliau di bandara. Entah hilang di tangan siapa, tiket itu tak ada dan dia harus beli baru. Tak seorang pun di bandara yang mengaku menerima tiket yang saya kirim dengan kurir itu. Meskipun belakangan ketahuan tiket tersebut diterima oleh seorang staf, tapi dia lupa, tetap saja saya dianggap salah. Kebetulan bos saya baru dan dia tipe ekspatriat yang agak diskriminatif pada jenis kelamin. Dia tidak menyukai staf wanita yang berkarier sambil mengurus anak. Bagi dia, itu mustahil.”
“Padahal, setiap tahun konduitemu selalu bagus.”
“Hidup mungkin memang seperti roda pedati. Sekarang roda saya sedang di bawah dan menggilas tahi kuda.”
Dan, Andrew pun tertawa.
“Sense of humor kamu, salah satu ciri khasmu, yang jadi favoritku. Itu juga yang membuat saya jauh-jauh datang kemari.”
“Maksudmu?”
“Maafkan saya, Fi. Bolehkah saya mengungkapkan sesuatu, yang masih saya pendam sejak dulu sampai kita berpisah? Saya harus mengungkapkannya sebelum saya menikah dengan orang lain. Kamu harus tahu.”
“Bahwa kamu tidak bisa melupakan saya?” Sofia mencoba bercanda untuk menetralisasi keseriusan pria di depannya. “Tidak bisa hidup tanpa saya?”
“Itu kamu sudah tahu.”
“Jadi, apa lagi yang belum saya tahu? Padahal ‘kan, saya serba tahu.”
“Kamu ingat mengapa dulu kita berpisah?”
“Kita sama-sama sibuk. Kamu terbang terus, bahkan menetap di luar negeri. Saya dapat pekerjaan yang saya impikan di sini. Lalu orangtua saya meninggal, saya tidak bisa meninggalkan kedua adik saya untuk mengikuti kamu.”
“Bukan karena itu.”
“Lalu?”
“Karena saya memang tak pantas untuk kamu.”
“Maksudmu, saya terlalu bagus buat kamu, atau kamu terlalu buruk buat saya? Oh, itu, sih, sama saja, ya.”
“Kamu terlalu sempurna buat saya. Hidupmu sungguh sempurna sekarang.”
“Hidup saya di ambang kehancuran sekarang. Apanya yang sempurna?”
“Kamu bisa saja dipecat sekarang. Percayalah, beberapa bulan lagi kamu bisa mendapat pekerjaan baru. Suamimu bisa saja pengangguran, tapi dia telah membuatmu sangat bahagia. Pernahkah terpikir olehmu bahwa mungkin hidupmu akan lebih bahagia bila menikah denganku?”
Sofia hanya diam sambil menahan senyum.

Andrew mengibaskan tangannya.
“Kalau pernah, kamu salah. Kamu takkan pernah bahagia denganku.”
“Bagaimana kamu tahu Thomas membuatku sangat bahagia?”
“Dia telah memberimu seorang bayi yang sangat kamu cintai.”
“Andrew, maksudmu apa sebenarnya?” Sofia menatap tak percaya. “Kamu…?”
“Ya. Tebakanmu biasanya benar.”
“Tapi, kamu akan menikah. Apakah calon istrimu sudah tahu?”
“Tidak perlu. Dia juga tidak ingin punya anak. Wanita karier.”
“Jadi, kamu tidak ingin punya anak atau tidak…?”
“Ya, instingmu tepat! Saya tidak bisa punya anak.”
“Berapa dokter terbaik di berapa negara sudah kamu temui?”
“Setiap negara yang kukunjungi.”

Mereka pun berpisah. Entah kapan bertemu lagi. Kedatangan pria itu memberikannya sebuah kado: ucapan syukur. Tak semua bisa dibeli dengan uang. Tapi, yang tak terbeli oleh uang itu, sudah dimilikinya, walau dia tidak memiliki banyak uang. Berapa gaji karyawan di Indonesia?

Kado termahal mungkin diterimanyanya ketika akan pulang kantor tadi.
Hari ini, atau mungkin lusa, adalah hari terakhir dia bekerja. Usai libur lebaran dia mungkin akan menerima SP ketiga. Itu mungkin menjadi kado yang paling berkesan seumur hidup yang pernah diterimanya, karena membantu seorang ibu yang datang ketika jam kantor sudah lewat, memohon-mohon hampir menangis, untuk mengganti tanggal penerbangan berhubung anaknya sakit dan sekarang sekarat, dan dia harus segera terbang. Sang ibu begitu bahagia ketika Sofia dengan penuh daya upaya akhirnya berhasil mengabulkan permohonannya, sampai-sampai Sofia dipeluk, dikecup, dan didoakan:
“Semoga Allah membalas kebaikanmu, Nak.”
Ibu itu tidak tahu bahwa Sofia telah memakai sine code komputer yang bukan otorisasinya lagi, demi menolongnya. Dan, itu berarti pelanggaran kode etik perusahaan. Itu adalah sine code-nya ketika masih di bagian reservasi dan kini dia sudah di departemen yang berbeda, customer service. Dan, itu berarti dia telah menyerahkan nyawanya demi sang customer. Besok pagi hal ini akan ketahuan.

Dia lalu menyadari. Satu-satunya yang belum memberikan kado adalah suaminya. Dia bahkan belum menelepon. Dia sedang mengejar berita ke daerah. Apakah besok dia akan pulang untuk merayakan ulang tahunnya bersama-sama, itu dia tidak tahu. Juga, apakah dia akan pulang membawa kado kecil, sebuah boneka Stitch untuk menghiasi kamar bayi mereka, itu juga dia tidak tahu.
Lantas, hari yang sempurna itu diakhirinya di bus yang AC-nya rusak sehingga agak bau dan mengebut. Dengan penumpang di sebelahnya yang berbau badan tidak sedap, mungkin tidak pakai deodoran, tertidur lelap sambil mendengkur ringan, menyender di bahunya.
Lalu seorang pengamen menyanyi dengan nyaring sebagi pengganti lagu Selamat Ulang Tahun untuknya…

Akan kuusahakan mencari uang siang dan malam
Untuk menyekolahkan anakku
Dia harus sekolah setinggi-tingginya
Semampu dayaku
Anakku adalah kekayaan bagiku

Lagu itu membuatnya dalam sekelebat terbayang apa yang akan terjadi besok. Dia akan dipecat. Dipecat. Dipecat. Menganggur. Menganggur. Menganggur. Tak ada penghasilan. Tak ada uang. Lalu bagaimana jadinya nasib anaknya yang masih bayi itu?

Seusai libur lebaran…
“Anda tahu ini kesalahan fatal dan apa risikonya, Sofia?”
“Ya, Sir.”
“Lalu mengapa Anda melakukannya, dengan sengaja?”
“Ibu itu, Sir, mengiba-iba hampir menangis. Saya tidak tahan melihatnya. Anda tidak bisa membayangkan perasaan seorang ibu yang bingung dan kalut memikirkan anaknya yang hampir menemui ajal.”
“Anda jadi sangat berempati?”
“Mungkin. Saya juga akan melakukan apa saja demi anak saya.”
“Alasan yang sangat manusiawi, tapi tidak profesional.”
“Kemarin saya orang terakhir yang belum pulang ketika pelanggan datang. Saya coba hubungi HP anda, tidak aktif. Orang bandara yang saya hubungi tidak ada yang mau membantu.”
“Harusnya Anda ingat, ini usaha bisnis, bukan badan amal.”
“Jadi, saya dipecat, Sir?”
“Apakah ada kemungkinan lain?”
Tidak ada.
“Saya tahu Anda tidak menyukai staf wanita berkarier sambil menjadi ibu rumah tangga.”
Bosnya hanya menatap dengan ekspresi yang tidak jelas.
Dia harus segera membereskan barang-barangnya.
Ternyata, kado ulang tahunnya tahun ini adalah kehilangan pekerjaannya.

“Apa yang Anda lakukan, Sofia?”
“Saya akan segera pulang, Sir.”
“Sebelum pulang, tolong terima telepon di line satu.”
Sungguh kejam. Sudah dipecat masih disuruh bekerja. Tidak mau rugi! Tak berperasaan! Ini risiko bekerja di perusahaan multinasional.
“Sofia di sini,” jawabnya datar. “Ya, Ibu siapa, maaf? Sekretarisnya komisaris perusahaan apa?”
Lalu bosnya sudah berdiri di sebelah tempat duduknya sambil memegang sehelai kertas.
Itu surat PHK saya, pikir Sofia.
“Ucapan terima kasih? Untuk apa? Tiket semalam?”
Ketika telepon ditutupnya, dia tidak percaya.
Bahwa penumpang yang semalam ditolongnya adalah owner salah satu klien penting perusahaan tempat dia bekerja. Dan, bahwa bos yang sangat tidak menyukainya ini, untuk pertama kalinya, sedang tersenyum padanya.

“Ini compliment letter terbaik tahun ini untuk perusahaan regional kita karena pelayanan kamu. Berani mengambil resiko dipecat demi menolong pelanggan. Amazing. Saya akan mengirimkannya ke headquarter dan Anda pasti akan mendapat penghargaan.”
“Tidak perlu, Sir,” jawab Sofia cepat. “Saya tidak pelu penghargaan.”
Sang bos mengernyit, heran dan terkejut.
“Maksud Anda? Anda menolak penghargaan?”
“Ya. Saya tidak perlu penghargaan itu. Yang saya perlukan adalah promosi dan kenaikan gaji untuk biaya membesarkan anak saya.”
Bosnya segera berbalik dan menggerutu.
“Oh, my goodness! Itulah kenapa saya tidak suka staf ibu rumah tangga!”
Dan, Sofia pun tertawa lepas. Lepas. Bagaikan terlepas dari dahaga oleh setetes air dari surga.

Cerpen Karangan: Riska Rizkiyani
Blog: chikalolot.mywapblog.com
Riska Rizkiyani | @chikalolot_ Blogger. Content creator. Aquarian. Movie lover. Bookaholic. Amateur Photographer. Cooking lover. Read my stories at chikalolot.mywapblog.com | Find me on facebook: facebook.com/riskarizkiyani.3
Gue itu:
Pengertian, feminis, sensual, teman sejalan, blakblakan, mandiri, intelektual, loyal, pecinta kebebasan, teguh prinsip, charming, dan apa adanya.
Ini cerpenku untuk guru bahasa Indonesiaku, Ka Mohamad Abdul Rosyid dan Ibu Indri Maryam Nursihah. 🙂

Cerpen Setetes Air Surga (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Di Balik Janji Indah

Oleh:
Semenjak prang dunia II 1943-1945. Jepang melancarkan serangan kilat melalui udara ke negara-negara di Asia Tenggara yang pada saat itu adalah jajahan blok barat. Pada 1943 juga jepang menduduki

Ada Cinta di Ampera

Oleh:
Dini hari begini, masih saja kendaraan berlalu-lalang di jalan arah Jakabaring. Hembusan AC yang semilir ini membuat bulu romaku berdiri. Sudah tepat pukul dua, mata yang sebenarnya berat ini

Aroma Balasan

Oleh:
Perawakan tinggi langsing dengan rambut ikal sebahu sukses membuat kaum adam terpikat. Paras wajah yang cantik meski tanpa ada taburan bedak menjadi nilai tambah. Memiliki tampilan menarik adalah satu

Dua Kata Untuk Ibu, Terimakasih Dan Maaf

Oleh:
“Kangkung lagi kangkung lagi!!! Bosen tau nggak sih?!!” Teriak hana. “maafkan ibu nak, ibu tak punya uang. Besok kalau ibu punya uang, ibu belikan makanan yang lebih enak. Yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *