Setitik Cahaya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 12 January 2013

Tatkala langit membiru perlahan, kelak sang raja mulai kembali ke daerah peristirahatannya setelah ia menguasai siang dengan berkahnya. Entah merasa lelah, bosan atau pun mendapat tugas di belahan lainnya. Hembusan sejuk alam mulai menyentuh sela-sela tulang rusukku dan mendinginkan cokelat yang sebelumnya telah terbakar. Sejuk, bahagia, dan tentram sedikit mengusir kehangatan yang menusuk dan pahit. Melebihi pahitnya kesengsaraan.

Meskipun itu dulu atau masa itu telah terlalui, namun masih terasa sentuhan pahitnya dalam hati. Masih terpendam sakitnya dalam batin ini dan terukir jelas dalam pikiranku yang telah tergores. Aku terhanyut dalam ombak deras yang menerpa masa laluku.
“Ki, ke mana aja nih? Kok baru nongol?” tanya perempuan di hadapanku.
“Lagi sibuk, nih, hehe.” jawabku.
“Cielah… Sibuk? Galau kali, merenung terus, ya?” ledeknya.
“Sembarangan aja kamu, Cha.”
“Maaf, Ki. Bercanda, kok.” gumamnya.
“Haha, santai aja, Cha.” ujarku menenangkan Icha.
“Pulang, yuk. Ikut?” tawar Icha padaku
“Hmm, aku nanti aja.” tolakku halus
“Ok, duluan yaaa…” pamitnya sambil menjauh dari pandanganku

Setelahnya tak terlihat dalam penglihatanku, aku pun pergi. Namun bukan pulang ke rumah, melainkan ke tempat adikku –lebih tepatnya- tempat adikku dan kawan-kawannya berkumpul. Aku akan menjemputnya sebelum ia melakukan hal-hal yang tidak boleh dilakukan. Sebenarnya aku tak tahu pasti apakah dia telah melakukannya atau belum, tetapi setidaknya aku akan berusaha melarangnya.

Memang akhir-akhir ini dia sering berkeliaran bagai seekor binatang yang tak berkandang dan tidak ada yang memilikinya. Namun masih ada perbedaan di antaranya, dia mempunyai kandang dan masih dimiliki olehku, bahkan telah kuikat. Walaupun ikatannya sudah erat, namun sayangnya dia masih memiliki pisau untuk memotong tali yang mengikatnya, sehingga ia dapat berkeliaran bak hewan liar.

Kali ini aku tidak lagi takut, melainkan telah pasrah. Yah, seharusnya kalian tahu apa penyebabnya. Betul, dia telah melakukannya. Kevin, telah melakukan hal-hal yang dilarang! Dilarang oleh aku sebagai kakaknya, ayah dan ibu meski mereka sudah tiada, negara bahkan agama. Aku merasa seperti seorang pahlawan yang kesiangan. Jangankan pahlawan kesiangan, pahlawan saja bukan.
“Ki, sini!” perintahnya padaku.
“Kev, kamu nekat. Kamu liar! Lebih liar dari seekor binatang!” geramku.
“Liar? Tentu. Kita sudah dewasa, Ki. Suatu kewajiban untuk mencobanya. Apalagi ini hal yang baru untukmu. Tidak ada salahnya mencoba, kan?” ujarnya sambil membusungkan dada.
“Tidak, Kev. Itu salah! Salah besar! Ayo, pulang!” tegasku padanya.
“Kau ke mari ingin apa sih, Kak? Ayolah gaul sedikit, dengan hal sekecil ini saja takut? Bahkan ukurannya tidak ada seperempat dari tubuhmu, kau memang pengecut” hinanya padaku.

Pengecut. Tidakkah kau dengar itu? Sebuah kata yang membuat darah seorang lelaki menjadi meningkat. Darah-darah yang awalnya melakukan aktivitas seperti hari-hari biasa menjadi tidak biasa. Darah tersebut memikul beban yang lebih berat karena ia harus mengendalikan diri supaya kenaikan suhunya tidak terlalu tinggi. Untungnya, aku bukan tipe laki-laki yang memiliki darah seperti itu. Pedulikah kau dengan kata pengecut? Bukan urusanku! Jalanku benar, aku tahu itu.
“Aku ke mari ingin menjemputmu dan mengingatkanmu. Tujuan itu masih sama, tidak berubah karena aku yakin bahwa yang ku ekori itu benar. Aku ke mari ingin menjemputmu!” jelasku mempertegas keadaan.

Seketika suasana menjadi tegang, hening total. Aku tidak tahu apakah mereka takut padaku atau bagaimana, namun sepertinya tidak. Untuk apa takut padaku? Siksaan Tuhan saja sudah bukan hal yang menakutkan bagi mereka.
Hanya terdengar hentakkan kaki Kevin yang sedang melangkah ke arahku. Dengan tiba-tiba, ia menarik kerahku dengan kasar. Mata kami pun saling tertuju. Dapat kulihat sorot matanya tajam seakan-akan mengancam hidupku.
“Lo mau ini barang hilang atau nyoba, hah?!” ancamnya sambil menunjuk leherku
“Astaghfirullah, kamu kenapa?” tanyaku dengan mata terpejam
“Jangan sok agamis deh lo. Pengecut!” bentaknya keras dengan pisau tepat di dekat leherku.

PISAU! Aku terkejut. Entah darimana asal pisau tersebut dan bagaimana cara ia mendapatkannya aku tidak tahu. Aku menghabiskan waktu sepuluh detikku dengan melihat kegelapan ruang mataku sendiri. Kejutan pisau pun membuatku makin tak berdaya, aku pasrah dengan apa yang akan aku lakukan nantinya.
“Maaf, Kev. Ampun. Baiklah, akan kucoba.” jawabku lemah.
“Nah, gitu dong. Itu baru kakak gue. Duduk, gih.” suruhnya.

Aku duduk dan membisu. Kurasakan aliran air yang mulai membasahi wajah dan sekujur tubuhku. Dan dapat pula kudengarkan kencangnya detakan-detakan yang semakin lama semakin cepat.
Terlihat jelas oleh indera penglihatanku ini, tubuh tegap dengan gerik menyeramkan sedang menjulurkan tangannya yang berisi marabahaya. Lebih bahaya dari bahan peledak meski sama-sama mempertaruhkan jiwa. Aku bimbang, takut, malu, dan tidak mengerti harus berbuat apa. Perlahan kuputuskan untuk menyentuhnya dari telapak tangan teman sedarahku. Dan kali ini, bahaya itu tergeletak begitu saja di telapakku. Aku pun menggenggamnya sambil merenungi apa yang kan kulakukan setelahnya.
“Pejamkan saja matamu it, lalu hisap perlahan. Jangan buru-buru! Biar pelan, asal selamat” saran salah seorang teman adikku.
“Dasar payah, pria sejati bukan? Pengecut!” hina yang lain padaku.
“Sudahlah, biarkan saja dia berlama-lama yang penting kan mencoba. Oh, ya, Ki, setelah kau habiskan itu, minumlah ini.” bela Kevin sambil melemparkan sebotol air yang tak kalah berbahaya.

Ya mungkin benar kata Kevin, tak ada salahnya mencoba. Akhirnya, dari lubuk hati yang sebetulnya tidak begitu dalam memutuskan untuk menghisapnya. Terhisaplah racun-racun itu oleh tubuhku. Merasuknya marabahaya itu membuat sakit di dadaku semula. Seperti kata peribahasa, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian, namun kali ini ialah berpahit-pahit dahulu, nikmatilah puntungnya.

Habislah tujuh belas milligram nikotin. Kupegang botol yang tadi dilempar Kevin untukku dan pahitnya terkecap oleh rongga mulutku. Kulirik adikku, ia menyunggingkan bibirnya serta mengacungkan jempolnya padaku, yang lain bertepuk penuh kemenangan. Aku pun membalasnya dengan membungkukkan badanku sebagai ucapan terima kasih. Sejujurnya, aku tidak mengerti berterima kasih untuk apa.

Lalu, mereka mengajakku ke suatu tempat. Aku tidak tahu tempat apa, tetapi ironisnya aku tetap mengikutinya. Mungkinkah aku dihipnotis? Memang sempat terlintas dalam pikirku. Namun aku segera mengacuhkannya.
Sesampainya, ku edarkan pandangan ke sekelilingku. Banyak lenggokan maut dan raut-raut penuh nafsu. Jijik mulanya, karena inilah yang dulu kusebut wanita jalang dan buangan, wanita yang tidak memiliki rasa malu dan memamerkan tubuhnya layaknya menjual paha atau tubuh seekor ayam, bahkan menurutku, mereka tak pantas disebut wanita.

Tentu tak kubiarkan rasa jijik menguasaiku. Belum banyak wanita yang kulihat, namun aku sudah mulai terkesima pada sosok wanita di hadapanku. Putih bersih kulitnya, elok tubuhnya, manis senyumannya nan indah bola matanya. Tentunya ia lebih menawan dari bidadari-bidadari yang pernah bertamu di mimpi-mimpi ku dahulu. Merasa diperhatikan, ia pun menghampiriku.
“Baru ya, Bang?” tanyanya manja sambil mengedipkan matanya.
“Nggg….iya.” jawabku gugup.
“Ikut aku, yuk, Abang Ganteng.” rayunya sambil menyentuh pergelanganku.

Tak tahu harus bagaimana, aku mengikutinya dengan tangan terbalut jari-jari lentiknya. Tertera papan bertuliskan kamar nomor 1, lalu kami pun memasukinya. Suasana tegang menyelimuti kami pada awalnya, tetapi itu tak lama terjadi. Suasana mulai mencair ketika Regina memulai percakapan denganku.

Belum lama aku menikmatinya, telah terdengar kericuhan di luar sana. Pintu kamar pun didobrak oleh dua orang polisi. Aku kepergok bersama Regina, dan dua polisi itu memborgol kami. Diseretlah kami ke dalam mobil mereka. Tak hanya aku dan Regina, adikku dan teman-temannya serta wanita-wanita lainnya pun ditangkap.

Sampai kami di tempat tujuan. Dibuanglah kami ke dalam sel-sel yang tak begitu ramai waktu itu. Aku sendiri, mereka memisahkan kami –satu dengan yang lainnya-. Gelap gulita, seperti yang kurasakan. Penyesalanku akan hidup yang telah terkotori. Aku tidak bisa menyalahkan Kevin, teman-temannya, ataupun Regina. Meski merekalah yang telah mengotori hidupku dengan mencuci otakku, namun aku tetap tidak bisa menyalahkan mereka semua karena itu ialah suatu ketidaksengajaan. Mereka hanya merayu dan membujukku, ah, sedikit memaksaku memang. Tetapi semua jawaban diserahkan padaku, jadi ini sepenuhnya salahku.
“Terima kasih, Tuhan. Aku tahu Engkau masih sayang padaku. Terima kasih telah mengirim polisi-polisi ke kamar-kamar itu. Aku bersyukur karena masih mendapatkan cahaya kebenara, walau hanya setitik cahaya.” lirihku lalu tersenyum.

Cerpen Karangan: Rahma Rizky Alifia
Blog: rahmr.blogspot.com

Cerpen Setitik Cahaya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mappadendang Di Tonrongnge

Oleh:
Namanya Sriwahyuni, nama yang pasaran bagi orang-orang di daerahnya, Sriwahyuni gadis cantik berhijab dengan kulit berwarna kuning langsat dan dua buah lesung pipit menghiasi senyumnya, perempuan itu mendatangi salah

Jawaban Tuhan

Oleh:
Segelas moccachino mengepulkan uap nan harum. Sinar lampu lima watt dengan temaram menyinari seluruh ruangan. Tape di pojok langit-langit mengeluarkan nyanyian wanita yang diiringi bebunyian akustik. Tanaman merambat dari

Wakil Tuhan

Oleh:
Hari ini, pelajaran fisika. Fisika merupakan pelajaran yang menarik, karena berkaitan dengan sekitar kita. Tapi tak semua anak senang dengan fisika, tak terkecuali Agung. “Hooaam…” Agung menguap di tengah-tengah

The Greatest Fear

Oleh:
Petang itu aku sangat gembira. Senyum senantiasa mengembang di bibirku. Bagaimana tidak, pihak HRD mengabari bahwa Hasna Lestari lulus dalam psikotes dan interview di salah satu perusahaan di Bekasi.

Tak Terasa Jerih Hari Ini

Oleh:
Di balik rumah megah berpagar besi terdapat rumah kayu berkelilingan pohon kelapa dan mangga. Rumah kayu sederhana yang masih layak pakai itu dihuni oleh Pak Aleh dan putrinya Alin.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *