Seutas Tali

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 25 December 2017

Seorang pemabuk itu berwajah reot, rambutnya ikal tidak rapi dan bibirnya hitam legam akibat ribuan rok*k kretek yang dihisapnya selama ia hidup. Dua kawannya berambut gondrong dan acak-acakan pula. Tiga manusia itu terus menenggak arak-arak yang dituangkan ke sloki kecil dan dilemparkannya air-air itu masuk dan mengalir melalui kerongkongan masing-masing sambil bersulang sebelum ritualnya dimulai lambat-lambat.

Aku hanya diam, menatap mereka di balik kaca jendela kamarku ini, di lantai dua rumahku yang mungil. Tak bosan sedari tadi aku memandang jalan-jalan di depan kediamanku yang dipenuhi oleh orang-orang yang bersuka-ria dengan air-air dewa yang aku jual selama beberapa tahun lamanya sebagai tonggak utama mata pencaharian. Aku hidup sendiri. Urusan asmara bisa aku lampiaskan di rumah-rumah bord*l yang remang-remang di sudut kota. Murah dan tanpa merana.

Di satu sudut jalan itu, kulirik dua perempuan yang wajahnya dipoles sedemikian rupa sehingga mirip bungkusan permen yang berlumur tanah. Wajah yang coklat itu dilapisi bedak. Dua perempuan itu berambut panjang, sangat lurus seperti tangkai sapu. Warna tangan dan leher serta kakinya sangat berbeda jauh dengan wajah yang sangat mereka bangga-banggakan itu. Hotpants dan kaos ketat si kupu-kupu malam itu membungkus tiap lekuk-lekuk tubuh mereka, yang juga semakin meyakinkanku bahwa mereka bak bungkusan permen yang hidup. Dilumuri tanah juga tentunya.

Ada pula dua lelaki hidung belang yang membuka lebar-lebar mulutnya. Tawanya terbahak-bahak. Entah apa yang mereka semua sedang bicarakan. Aku bingung. Kulihat-lihat dua lelaki itu sangat mirip. Aku sangat yakin mereka kembar. Hidungnya aneh. Persis buah jambu air di depan rumah tetangga sebelahku. Bibirnya sama-sama mengatup rok*k dengan bara merah di ujungnya. Perutnya buncit karena air-air dewaku tak pernah absen berkecipuk di lambungnya setiap akhir pekan. Pipinya gempal dan bulat. Rambutnya pendek dan daun telinganya lebar. Guratan-guratannya pun mirip. Pasti banyak orang yang sukar mencari perbedaan di antara si kembar itu.

Terang rembulan kali ini begitu lembut mencium manusia-manusia merdeka itu dengan cahayanya yang indah. Bintang-bintang berkelap-kelip, bertebaran dan terhampar luas di langit yang gelap, kian menambah kilau keindahan lengkung langit itu. Jalanan masih saja ramai lalu lalang kendaraan, simpang siur, riuh, dan gaduh, ramai oleh para pemabuk dan perempuan panggilan. Derum dan bising kendaraan benar-benar tak menganggu pikiranku yang berkelana sangat jauh. Sungguh jauh jaraknya bagi setiap orang, kecuali bagi setiap pikiran. Ya, pikiranku berkelana ke masa lalu, tujuh hari lalu tepatnya. Sejenak aku masih bimbang dan terus menimbang-nimbang. Pantaskah aku melakukan ini?

Pagi itu, di pagi yang gelap dan buta, di mana fajar belum memperlihatkan secercah cahayanya, aku sudah harus menuju ke rumah juragan arak untuk memasok lebih banyak lagi. Sendiri, dengan pick-up putihku. Kenapa jadi aku yang menjemput air-air nista itu? Kemarin aku menerima pesan singkat yang masuk ke ponselku. Ternyata sang juragan sedang terkena demam berdarah. Jelas saja nyamuk-nyamuk mau mengisap darahnya melalui kulit yang berkerut itu, lingkungan rumahnya saja kumuh dan kotor. Lebih mirip seperti gubuk-gubuk kambing. Sampah-sampah, air yang keruh menghitam dan menggenang dihiasi jentik-jentik nyamuk kecil yang berenang-renang ke sana ke mari seperti anak-anak di wahana kolam renang.

Mataku benar-benar buyar, pandanganku samar. Aku hanya melihat remang lampu jalanan membentuk bulat cahaya di aspal yang disorotinya. Pohon-pohon terlihat seperti bayangan, direngkuh pekatnya kegelapan di pagi itu. Penglihatanku yang buruk pagi ini bukan tanpa sebab. Semalam aku minum banyak untuk menjamu kawan lamaku yang datang jauh dari luar kota. Arak-arak yang kujual mengalir juga ke tenggorokanku dan menendang-nendang lambungku ini. Panas sekali, tapi nikmat. Banyak orang yang bilang, “yang dilarang itu yang nikmat.”. Ah, persetan dengan larangan-larangan.

Aku memperlambat laju kendaraanku untuk sejenak menyalakan linting tembakau yang aku apit pada dua jariku. Kunyalakan pula musik supaya aku tetap terjaga, tidak menjauh ke sisi jalan dan menabrak pohon-pohon. Aku mengangguk-angguk mengikuti irama musik dangdut ini. Ketika jeda berhenti pada pergantian lagu, kudengar sayup-sayup adzan berkumandang. Beberapa unggas pun berkokok, tak mau kalah dari nyaring suara si muadzin. Musik berlanjut, berdentum keras di gendang telingaku, syahdu dan asyik bukan kepayang. rok*k kusulut lagi, kuhisap terus dan kepulan asapnya hancur diterjang angin-angin yang masuk melalui kaca mobilku yang terbuka. Arak-arak ini semakin bereaksi saja. “Bangsat benar arak ini,” umpatku. Aku iseng menyalakan dan memadamkan lampu kendaraanku ini, mengikuti irama khas dangdut yang merasuk ke tubuhku begitu nikmat.

Ketika jari-jariku lincah memainkan tombol nyala-padam lampu, dan laju kendaraanku yang kencang menerpa kabut-kabut jalanan, aku seperti menabrak sesuatu. Diikuti teriakan pula! Sontak saat itu pula kuinjak pedal rem sedalam-dalamnya. Badanku condong ke depan dan jidatku membentur keras stir sialan ini. Aku kaget dan gelisah, ketika kulihat ternyata seorang anak kecil yang mengenakan mukena itu telah tergeletak beberapa meter dari kendaraanku. Badannya bersimbah darah dan tak lagi berbentuk seperti tubuh manusia pada umumnya. Merah itu terus mengalir deras dari tubuhnya. Mukena yang putih kini benar-benar berwarna darah. Aku sangat takut dan bingung. Lalu kupacu mobil ini sekencang-kencangnya, berbalik arah menuju rumahku. Si juragan pasti kecewa, tapi masa bodoh dengan itu. Aku sangat panik, tolol, dan ketakutan sejadi-jadinya! “Sialan!”.

Sudah tujuh hari sejak kejadian itu. Aku mengurung diri di kamar. Bila pelanggan tiba, kuteriak dan kusuruhnya mengambil sendiri arak dan meletakkan uang-uangnya ke saku kulkas. Para pelanggan terheran dengan seisi rumahku yang kosong, semua kutukar untuk uang, hanya menyisakan kulkas dan sisa-sisa beberapa botol arak. Aku tetap terbayang pada wajah anak itu yang masih terus saja menghantui lamunanku setiap malam. Wajah yang lugu itu menjadi begitu menakutkanku ketika terlintas di benakku dari kepalanya terus mengalir darah. Dua hari yang lalu aku kembali mengunjungi tempat kejadian itu dengan motor bututku. Masih membekas merah darah itu di jalan. Aku bertanya pada petani tua yang duduk di sisi jalan:

“Permisi, ini darah bekas apa ya jika boleh saya tahu?” Tanyaku berpura-pura tak tahu.
“Maaf nak, bukannya aku tidak ingin menjawab,” tukas Pak Tua, suaranya parau, “tetapi bila mengingat kejadian itu, aku benar-benar tak kuasa.”
“Memang kenapa pak?” tanyaku gundah.
Sejenak orang itu menunduk. Melepaskan cengkeraman pada cangkulnya. Terlihat mata itu tak lagi kuat membendung peluh yang membanjir, terisak kemudian, lalu menjawab tanyaku seraya mengusap linangan air mata itu.

“Beberapa hari lalu, aku dan cucuku pergi untuk shalat subuh. Usai beribadah, aku menantangnya berlari menuju ke rumah untuk segera menyantap nasi hangat dan ikan yang telah kumasak sebelum bersembahyang ke masjid.”
Hatiku terguncang, menebak-nebak. Kutimpali pernyataan itu dengan tanya:
“Lalu?”
“Lalu karena cucuku berlari kencang, ia tak sempat memperhatikan laju kendaraan di jalanan ini. Dan,” tetap menunduk dengan raut wajah Pak Tua yang kian sedih, “semua itu terjadi. Kini benar-benar sebatang karalah aku. Hidup dalam kesendirian. Semoga ia selalu bahagia. Bergabung dengan orang tuanya dan istriku di surga.”

Tangisnya semakin menjadi-jadi. Sebenarnya waktu ini juga aku ingin membuat pengakuan, tetapi kuurungkan niatku karena aku tak ingin membuat kesedihan dan amarahnya semakin memuncak. Setelah sedikit menenangkannya, aku berbalik menuju kediamanku.

Runyam sekali hidupku. Pelik dan bodoh. Aku masih saja memandang orang-orang di depan rumahku yang masih asyik dengan dunianya. Tak sama halnya dengan duniaku yang kini muram dan kelabu.. Baru kali ini jiwaku terasa sangat teriris-iris karena mengingat wajah itu. Wajah Pak Tani dan cucunya yang nahas itu. Seluruh hasil barang yang kujual kuhibahkan padanya melalui Pak RT setempat. Tak usahlah Pak Tani mengetahui aku yang tolol ini. Malah semakin menambah beban hidupnya saja. Andai saja, oh andai saja. Apa lagi mau dikata?

“Woy turun kau cepat! Lepaskan tali itu dari lehermu!” Teriak si pemabuk reot padaku. Kutimpali teriakan itu dengan senyum yang semu, lalu kutendang kursi di bawah kakiku ini. Aku tergantung kuat, dadaku sesak. Aku meronta-ronta, tapi tali ini terlampau beringas menjerat leher. Rasa-rasanya tepat di depan wajahku ada malaikat yang meringis dan bertepuk tangan kegirangan menunggu saat-saat seperti ini. Seutas tali ini sedikit demi sedikit menggesek kuat seutas nyawaku yang hanya tinggal menunggu putus saja. Semua kedap, pandanganku pekat, hitam dan kelam menjadi sendu dan kian kelabu. Gelap.

Cerpen Karangan: Noor Adha Satrio
Blog / Facebook: www.binarlentera.wordpress.com / Noor Adha S

Cerpen Seutas Tali merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Di Mana Kau?

Oleh:
Ketika itu aku masih SMA kelas 1, layaknya anak remaja yang mulai beranjak dewasa aku mulai jatuh cinta dengan lawan jenis ku, semuanya berjalan lancar seperti air mengalir kisah

Penyesalan

Oleh:
Angin malam berhembus kencang menerjang lapisan kulit setiap insan yang merasakan meski rembulan tampil dengan bulat sempurna meski bintang-bintang terang benderang menghiasi malam, namun pemandangan tersebut tak turut menghibur

Malaikat Jalanan

Oleh:
Kebaya lusuh menghias di tubuhnya, usianya mungkin tak muda lagi, keriput di wajah dan tubuhnya menapakan jejak-jejak yang telah hilang karena waktu. mangkok beling di tangannya, menyisir setiap rumah

Lani

Oleh:
Dikisahkan ada seekor kucing bernama Lani, ia tinggal bersama majikannya di daerah perkotaan padat penduduk. Lani kucing yang manja dan disayang oleh Rani sang majikan. Pada suatu hari Rani

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *