Si Anak Jalang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 10 November 2012

Embun pagi ini masih begitu terasa. Sayup-sayup kokokan ayam itu perlahan-lahan mengecil dan akhirnya menghilang. Mataharipun baru sedikit menampakkan sinarnya yang begitu terang dan berarti bagi kehidupan. Terlihat sesosok anak kecil yang belum genap berusia 10 tahun. Pakaian putih dan celana merah yang dikenakannya menambah semaraknya pagi ini.

“aku pergi dulu ya mak” ucapnya. “uhuk…uhuk… hati-hati ya nak” jawab ibunya yang sejak seminggu lalu sakit. “hati-hati kalau ketemu konde…nanti kamu terseret” sambung sang ibu yang cemas terhadap anaknya. “iya bu” ucapnya sambil mencium tangan halus dan lembut ibunya. Sang ibu pun mencium keningnya dan seperti mengucapkan sebuah do’a untuknya.

Inilah Haris Nursalam. Sebuah nama yang bagus untuk orang semiskin dia. Nama ini diberikan oleh seorang ustadz di desa Sungai Penibung, Kutipang Raya. Nama ini memiliki arti “penjaga cahaya keselamatan” . dia terlahir dari keluarga yang tidak mampu. Ketika dia berumur 6 tahun ayahnya pergi meninggalkannya dan sang ibu untuk pergi bekerja ke ibukota. Sampai kini kabar tentang ayahnyapun tiada didapati.

Sekolah haris memang jauh dari rumah. Jaraknya bisa mencapai 5 km. Apalagi dengan kondisi jalan yang bisa dibilang tidak cukup bagus. Bahkan bisa dibilang hancur. Kalau hujan turun bisa dipastikan haris dan teman yang lain tidak bisa melewati jalan itu. Itupun baru sampai sungai konde yang mengalir deras memisahkan dua perkampungan sederhana. Apalagi semenjak ada pabrik kelapa yang berada didesa sebelah membuat kondisi jalan semakin parah kerusakannya. Hal ini terjadi karena mobil pabrik yang setiap hari beroperasi dengan mengangkat beban yang melebihi kapasitas jalan sehingga jalan banyak yang hancur.

Hidup yang begitu berat ini tidak membuatnya patah semangat dalam menjalani hidup. Selalu saja tampak wajah yang ceria keluar dari parasnya yang mungil. Senyumnya yang khas membuat orang semakin yakin kalau hidupnya tanpa masalah, padahal masalah yang ditanggungnya cukup besar untuk anak sekecil itu.

Sepulang dari sekolah ia harus cepat-cepat pulang kerumah. Tak bisa ia habiskan waktu siangnya untuk bermain bersama-sama dengan temannya yang lain. Ia harus merawat ibunya yang sakit-sakitan. Bahkan ia harus bekerja untuk bisa makan sesuap nasi.

“Assalamualaikum” suara itu terdengar sayup-sayup dihadapan sebuah rumah reyot. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Lantainya terbuat dari batang pohon pinang yang dibelah menjadi 2 kemudian disusun menjadi lantai. Atapnya terbuat dari rumbia. Rumahnya berukuran 5 x 6 meter dengan halaman didepan rumahnya.

Tidak terdengar suara sahutan dari dalam rumah. “Assalamualaikum” Harispun mengulanginya untuk yang kedua kalinya. Kali ini juga tidak terdengar suara sahutan sang Ibu yang sedang dalam keadaan sakit. Kali ini Haris mengetuk pintu yang terbuat dari kayu itu.

Tampak kekhawatiran di wajah Haris. Firasatnya mengatakan bahwa terjadi sesuatu pada ibunya. Betapa tidak, dari tadi ibunya tidak juga menyahut salamnya. Sudah beberapa kali pintu rumahnya yang reyot digedornya, tapi suara yang diharapkannya belum juga terdengar.

Saat itu, hari begitu panas. Matahari bersinar begitu terik menembus kulit muka haris yang nampak cemas dengan keadaan ibunya. Orang-orang tidak nampak berkeliaran di desa sungai penibung. Hidupnya bagaikan sendiri dalam sulitnya hidup ini.

Tiba-tiba datang seseorang paruh baya dengan wajah yang selalu terpancar senyum dari bibirnya. Ternyata dia adalah pak Mudi, tetangga Haris yang biasa memberinya uang. Pak Mudi ini merupakan salah satu orang yang terpandang di kampung sungai penibung. Tanahnya yang luas ditanami berbaris-baris kelapa. Di sanalah biasanya Haris bekerja membantu pak Mudi.

“Kamu mencari ibumu?” kata pak Mudi dengan melemparkan senyum kepada haris. “ ia pak” jawab Haris dengan singkat. “daritadi aku ketuk-ketuk pintu tapi ibu tidak ada menyahut dan membukakan pintu untukku” sambung Haris. “bapak juga daritadi tidak melihat ada ibumu. Biasanya dia duduk diluar”

“bapak…aku mau sekolah. Aku ingin seperti yang lain.” Ucap haris kecil. “nanti ya nak, kalau bapak ada uang” jawab sang bapak untuk menenangkan keinginan anaknya. “jawabnya itu terus…aku mau sekolah” teriaknya sambil menangis. “iya nanti bapak carikan uangnya. Udah teruskan mainnya dengan udin bapak mau istirahat dulu” jawab bapak haris menenangkan sang anak.

“tuh dengarkan din. Aku nanti mau sekolah. Aku mau jadi kepala desa, kamu mau tidak jadi sepertiku din?” kata haris kepada udin teman main congkaknya. “ ah aku ngak mau, nanti aku kayak pak kades yang kemarin dibawa pak polisi kata bapakku dia maling uang. Aku mau jualan aja kayak bapakku” jawab udin membalas tawaran Haris. ”hmm… gitu ya din. Tapi aku tidak mau seperti dia din. Aku tidak mau ditangkap polisi nanti kasihan mamaku” harispun menanggapi.

“ah kamu curang ne” Harispun berteriak. Ternyata udin berbuat curang saat bermain congkak. Congkak adalah sebuah permainan tradisional yang dimainkan oleh 2 orang terdiri dari papan congkak dan biji congkak. Biasanya papan congkak terbuat dari kayu, plastik, bahkan bisa dibuat ditanah dengan membuat melubangi tanah. Papan ini terdiri dari 16 buah lubang yang terdiri atas 14 lubang kecil yang saling berhadapan dan 2 lubang besar dikedua sisinya. Setiap 7 lubang kecil disisi pemain dan lubang besar disisi kanannya dianggap sebagai milik sang pemain. Setiap pemain bergantian mengambil buah dari salah satu lubang miliknya kemudian meletakkan satu ke lubang sebelah kanannya dan seterusnya.
“hehe… akhirnya ketahuan juga” ucap udin dengan malu-malu. “ permainan aku sebenarnya mati ni. Sekarang giliranmu” tambah udin yang sudah ketahuan bermain curang. “huh… kecil kecil dah pandai curang” ucap haris. “hehe…” udin hanya bisa senyum-senyum karena udah terlanjur malu.

Betapa bahagianya anak itu. Haris kecil belum begitu mengerti dengan kondisi orang tuanya yang hidup dalam garis kemiskinan. sang ayah mendengar percakapan putranya dan berkata “Do’akan ayah semoga ayah dapat uang banyak”. “ayah mau kemana?” jawab haris yang masih berusia 6 tahun. “besok ayah mau pergi keibukota untuk mencari uang sekolahmu” pesan sang ayah.

Keesokan hari ayah Harispun pergi meninggalkan istri dan anaknya. Dia harus pergi keibukota untuk mencari uang. Harispun hanya bisa terdiam. Sang ayahpun mencium kening putranya dan pergi. Tak lama kemudian sang ayah sudah menghilang dari pandangan si Haris.

Haris tak ingin lagi kehilangan orang yang ia sayangi. 4 tahun yang lalu ia telah kehilangan ayahnya yang sampai saat ini belum tau kemana arahnya. Kini ia harus dihadapkan pada keadaan ibunya. “coba kamu ketok lagi iris” kata pak mudi. “kita berdo’a saja semoga tidak terjadi apa-apa dengan ibumu” terangnya lagi untuk menenangkan Haris yang mulai gelisah.

Setelah lama di gedor belum juga terdengar suara ibu haris. “bagaimana ini pak? Ibu tidak menyahut panggilan Haris. Apa ibu masih marah dengan haris karena tadi pagi lambat bangun” ucap haris. Terlihat mata Haris kini sudah mulai berkaca-kaca. “ya udah. Kita dobrak aja bagaimana?” sahut pak Mudi memberikan solusi. “nanti bapak yang akan memperbaiki pintumu” tambahnya.

Harispun setuju untuk mendobrak pintu rumahnya yang sudah tampak tua. Maklum rumah itu merupakan rumah peninggalan neneknya Haris yang telah meninggal ketika Haris berusia 2 tahun. Walaupun rumah tua, ternyata mereka berdua kesulitan untuk mendobrak rumah itu. Setelah melalui perjuangan yang panjang akhirnya pintu itu berhasil terbuka.
Setelah pintu itu terbuka, betapa terkejutnya Haris melihat kondisi ibunya yang terlihat tidak berdaya diatas tikar. Selama ini haris dan ibunya tidak pernah merasakan empuknya tidur diatas kasur. Selama ini mereka hanya tidur beralaskan tikar. Begitu kasihan melihat penderitaan yang dialami oleh ibu haris. Matanya hanya bisa menatap anaknya yang matanya sudah berkaca-kaca.

“nak…” panggil ibunya lirih. Harispun mendekati ibunya yang sedang sekarat. “ibu sudah tidak kuat lagi nak. Tolong ambilkan kotak didalam lemari itu nak” sambung ibunya. Harispun mengambil kotak dilemari reot itu. “ ini bu kotaknya, apa itu bu?” ucap haris penasaran. Ibunya membuka kotak dan mengambil sebuah benda dari kotak itu. Benda itu adalah sebuah kalung yang terbuat dari rotan. “ pakai ini nak. Ini pemberian ayahmu sebelum iya pergi. Carilah ayahmu, gapai cita-citamu nak. Uhuk-uhuk… Laillahailallah” inilah kata-kata terakhir yang diucapkan ibunya. Kini sang ibupun telah pergi dengan tenang ke hadirat Allah yang maha kuasa. Air matapun terkucur deras dari anak ini. Pak mudi yang menemaninyapun tak sanggup untuk berkata apa-apa lagi.

Setelah pemakaman sang ibu Harispun berpamitan kepada pak mudi untuk pergi mencari ayahnya sesuai dengan amanat ibunya. Ia ditemani oleh Badrun, tetangganya. Selain itu juga haris mengucapkan terima kasih kepada pak mudi yang telah membantunya selama ini. “ ini bekal untukmu selama perjalanan nak. Hati-hati dijalan ya. Bg Badrun akan menemanimu.” Ucap pak mudi kepada haris. Harispun hanya mengangguk.

Perlahan-lahan bayangan haris dan badrunpun mulai menghilang. Kini ia hanya berharap akan bertemu dengan ayahnya yang telah lama meninggalkannya. Kalau dibilang hidup ia seakan mati tanpa orang tuanya. Tapi dibilang mati dia masih bisa bernafas. Betapa tidak beruntungnya nasib anak ini. Sekecil ini ia harus menanggung beban seberat ini.

Cerpen Karangan: Afriansyah
Facebook: Afri chemios/Afri Vhd d’castro

Cerpen Si Anak Jalang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Maafkan Putramu

Oleh:
Tuhan, Aku manusia yang tidak mempunyai kebaikan apapun. Kebaikan yang pernah aku lakukan dikit demi sedikit terkikis oleh keburukan yang sengaja maupun tidak sengaja kulakukan. Kebaikan yang telah aku

Air Mata Cinta

Oleh:
Cinta merupakan seorang gadis yang cantik dan tegar, walaupun nasibnya kurang beruntung. Setiap hari dia hanya berteman dengan bunga yang berada di kebunnya. Meskipun dia ingin sekali mencurahkan isi

Sajadah Milik Nenek

Oleh:
“Karina! Bangun nak, sudah jam 4 sore, ayo mandi dan shalat Ashar dulu!” Mama membangunkanku. “Hoamm… Mama aku masih ngantuk!” jawabku. “Ayo Karina!” kata mama. “Iya Maaa” kataku. Aku

Kehilanganmu

Oleh:
Air mataku menetes ketika ku dengar kabar itu, aku nggak pernah menyangka dia akan pergi secepat itu meninggalkanku, pergi untuk selamanya. Pergi dengan tanpa kata, hanya dengan senyum simpul

Dia Kakakku

Oleh:
“Timmy, cepat turun…!!! Ini sudah Ibu buatkan nasi goreng!” “Iya Bu, bentar! Timmy lagi pake kerudung!” “Bantu Ibu menyuapi kakakmu…!” “Argggghh…”, gerutuku. “Iya! Iya!” Teriakan itu yang setiap pagi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *