Si Anak Kolong

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 5 January 2018

Aku adalah seorang anak kolong… sebutan yang diberikan kepadaku karena aku selalu berpindah sekolah. Menurutku memang menarik punya kawan baru, rumah baru, guru baru dan tempat bermain baru, tetapi aku juga merasa penat harus mencari sahabat yang tidak hanya sekedar teman bermain dan meminta kue jajanku, tetapi mencari kawan yang mau duduk di samping bangku denganku, dan terkadang berbagi PR denganku tidaklah mudah. Apalagi kawan yang mau ngobrol dengan anak baru sepertiku.

Tak terasa motor yang mengantarku sudah sampai di SD Kartika tempatku bersekolah, aku segera tersadar dan berkata, “Om Agus, jangat telat ya jemputnya!”. Mungkin ocehan anak yang baru berumur 8 tahun ini seringkali diacuhkannya, tetapi aku memang terkenal agak suka berbicara. Aku bergegas turun dari boncengannya dan berlari ke dalam kelas.

Baru satu minggu aku bersekolah di sini. Walaupun bukan gedung baru, namun kondisinya jauh lebih baik dari sekolahku yang dulu. Sejujurnya baru kali ini Papaku mendapatkan tempat bertugas di kota besar. “Semoga sekolah hari ini menyenangkan”, pikirku.

Kusibakkan rambutku yang hampir menyentuh bahuku dan kutarik bangku sekolah di deretan paling depan. Tak berapa lama kemudian datanglah Annisa, seorang kawan yang menurutku cukup baik hati. Seminggu ini dia duduk di sebelahku, kami sering bergurau tentang teman-teman cowok yang nakal tapi terkadang lucu. Pernah suatu ketika Annisa terjatuh di teras sekolah hingga sikunya berdarah karena tertabrak Roni secara tak sengaja. Akhirnya Roni berteman dengan kami dan jajan di kantin bersama.

Hari itu kami bersekolah sampai dengan jam 11 saja, karena murid kelas 5 dan 6 mengikuti kegiatan karya wisata. Aku berpikir, mungkin aku bisa bermain ke rumah Annisa sebentar sembari menunggu Om Agus menjemputku pukul 1 siang nanti. Annisa pernah berkata bahwa rumahnya hanya berjarak beberapa ratus meter di belakang sekolah. Pastinya akan menyenangkan bisa main di rumah teman. Aku merogoh kantung tasku dan mengambil hp merek Samsung yang Mama belikan untukku tempo itu ketika kami masih berdinas di Pulau Bintan. Kala itu sekolahku cukup terpencil dan Mama memberiku hp agar aku bisa menghubungi Papa apabila truk jemputanku belum datang.

Jari-jariku mengetik pesan teks dengan lincah, setelah pesan terkirim aku masukkan kembali hp ke dalam tasku. Semoga Mama mengizinkanku, pikirku. Aku tak akan main terlalu lama, cukup sudah Mama memarahiku karena aku terlambat pulang akibat bermain bersama teman tanpa memberitahunya. Mama memang sayang sekali kepadaku, cuma terkadang… lumayan galak kalau lagi marah.

Tit… tit… bunyi sms balasan Mama sudah masuk. “Ok sayang, tapi jangan terlambat pulang ya”, Hore… aku bisa berangkat sekarang. Kami berdua berjalan melewati gerbang sekolah dan membeli jajanan ubi goreng keju kesukaanku, aku hanya melihat Annisa memandangku memakan ubi sebelum aku menyadari kalau dia tidak mempunyai uang saku. Kasihan juga, pikirku. Apakah Mamanya tidak memberinya uang saku? Padahal Mama tidak pernah melewatkan aku ke sekolah tanpa uang saku sekalipun.

Tak terasa 15 menit berjalan sampailah kami berdua di rumah Annisa. Sepintas kemudian, tiba-tiba ada seorang anak balita laki-laki seusia adikku tanpa menggunakan celana dan hanya mengenakan kaos dalam lusuh berwarna putih berlari keluar rumahnya lalu memeluk Annisa dengan manja. Ternyata dia adalah adiknya. Rumahnya ternyata sangat sempit. Di ruang tamu terdapat kursi panjang yang tampaknya sudah tidak baru lagi, bahkan menurutku kurang nyaman untuk diduduki, karena pantatku terasa terjerembab ketika duduk di atasnya. Tak ada banyak barang di rumahnya, TV nya pun kecil sekali, tapi walaupun begitu rumahnya cukup rapi. Terlalu rapi malahan, pikirku. Semua barang tersusun rapi, buku-buku majalah dan koran ditumpuk di dalam rak buku yang menempel di tembok samping TV. Ada juga Iqra dan Al-Quran di tempat rak khusus.

Tak sadar aku asyik menilai rumahnya sampai Annisa menyenggol tanganku dengan cukup keras sambil berkata, “Maaf ya Putri, tadi aku mencuci piring sebentar di belakang”. Annisa keluar rumah dan mengambil sapu. “Kamu mau ngapain, Nisa?”, kuberjalan cepat mengikutinya. “Aku bantu Ibuku sebentar, dia sedang membersihkan halaman samping rumahku. Aku terperanjat, sangat berbeda denganku sewaktu pulang sekolah. Biasanya sepulang sekolah aku langsung mencuci tangan dan berganti pakaian kemudian memegang hp Android dan aku sibuk berselancar di dunia maya. Makanan ringan sudah masuk ke mulutku dan terkadang aku langsung makan siang karena sudah mencium aroma masakan Nenekku yang lezat. Dia selalu memanjakanku di rumah. Aku memang anak yang sangat berbahagia, pikirku.

Tak hanya sampai disitu, Annisa masih terlihat sibuk ke dapur untuk membantu melihat nasi yang sedang dimasak dan mengisi air dalam ember sambil merendam baju. “Nissa… kamu juga membantu mencuci baju?”, pertanyaanku wajar kulontarkan kepadanya, karena menurutku anak seusia kami tak perlu untuk bekerja sedemikian berat di rumah. Dia menjawab, “Iya… ini sudah biasa aku kerjakan, Putri. Siapa lagi yang akan membantu Ibuku? Aku kan anak sulung, aku harus merawat adikku dan membantu Ibuku. O iya… setelah merendam baju ini aku harus memandikan adikku dulu ya Putri”. Aku termenung untuk sesaat, dan tubuh Anissa melewatiku, hampir mengenaiku karena memang ruangan di dapurnya cukup sempit, bahkan untuk anak kecil seperti kami. Aku sungguh merasa malu dan miris kepada diriku sendiri, bulu kudukku berdiri karena aku tak pernah berpikir sebelumnya bahwa sahabatku yang terlihat sangat sederhana itu mampu berbuat sedemikian besar untuk keluarganya.

Sambil berjalan pelan, kupandangi tembok di ruang tengah, ada foto seorang laki-laki dewasa mengenakan seragam berwarna biru. Kalau tidak salah itu kan seragam orang yang menjaga sekolahku. Ia… tak salah lagi, itulah bapak penjaga sekolah di SD Kartika tempatku bersekolah. Annisa tersenyum dan berkata, “Kenapa Putri, kaget ya lihat foto Ayahku?”. “Iya…”, timpalku sambil tersipu kecil.

“Ayo duduk di sini, Putri, silahkan dimakan pisang gorengnya!”. Suara itu adalah suara Ibu Annisa yang mempersilahkanku untuk duduk di kursi plastik di samping meja makan. Aku meraih sebuah pisang goreng yang masih hangat dan memegangnya dengan kedua tanganku. Mereka berdua tersenyum-senyum memandangku. Mungkin mereka sedikit geli melihat gelagatku. Ya… memang aku mengenakan sepatu baru dan tas baru yang dibelikan Papaku di Bandung, dia sedang sekolah di sana dan Mama membawanya seminggu yang lalu setelah mengunjungi Papa. Tampak jauh perbedaan kondisi penampilanku bila dibandingkan dengan Annisa yang sangat sederhana.

Sudah dua buah pisang goreng yang kumakan, sambil berbincang ringan dengan Ibunya, Annisa mengingatkanku kalau sekarang waktunya aku kembali ke sekolah untuk menunggu jemputan Om Agus. “O iya… saya pamit dulu ya Tante. Terimakasih Tante, Assalamualaikum!”. Ibunya dengan ramah membalas, “Walaikum salam… Putri. Hati-hati ya. Annisa, kamu antar Putri ya nak”. Kemudian kami berjalan keluar rumah, melewati gang kecil yang hanya cukup untuk dilalui sepeda motor, hingga sampailah di belakang sekolah kami.

“Sampai ketemu besok ya Putri, da da…!” sambil melambaikan tangannya Annisa berjalan kembali ke rumahnya. Aku memandangnya hingga dia menghilang di belokan jalan. Aku terus berdiri dan berkata kepada diriku sendiri, betapa aku anak yang sangat beruntung. Memiliki semua yang aku inginkan, tinggal bersama Mama, Papa, Tante, Kakek dan Nenekku yang sangat memanjakanku. Aku tidak pernah mencuci piring apalagi mencuci baju di rumah. Rasa penat yang menghantui pikiranku karena berpindah-pindah sekolah rasanya tidak sebanding dengan kerja keras sahabatku. Aku berjanji tidak akan pernah mengeluh lagi walau aku anak kolong yang entah kapan lagi aku akan bertemu Annisa-annisa lain di tempat petualanganku yang lain, karena Papa berkata kepadaku bahwa akhir tahun ini aku akan pindah lagi. Semangat…!!

Cerpen Karangan: Ino Dwi Setyo

Cerpen Si Anak Kolong merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Korban Pukul

Oleh:
Demi menjaga perdamaian dan ketenteraman desa, dibuatlah peraturan dimana bagi yang melepaskan pukulan ke orang lain dengan maksud menyakiti dan mengajak perkelahian akan dikenakan denda sebesar 10.000.000 Rupiah. “Sekarang

Ibuku Malaikatku

Oleh:
Ibuku bagaikan malaikat yang diturunkan dari surga, untuk menjaga anaknya. Ibu kesayanganku, dia adalah sosok ibu yang paling baik sedunia. Setiap hari ibuku bangun jam 2 pagi untuk menyiapkan

Adik Baru

Oleh:
Di komplek daun hijau ada seorang anak tunggal namanya Alina rayna dipanggil Alin, dia sangat kesepian di rumah karena tidak punya adik. Suatu hari di rumah Alin. “bun, alin

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *