Si Gadis Apel

Judul Cerpen Si Gadis Apel
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 11 January 2017

Teng.. tong… teng… tong… teng.. tong… begitulah bunyi lonceng pintu lintasan kereta, menunjukkan kereta KRL pukul 7 pagi akan segera melintas. Biasanya memang aku berangkat kerja dengan menggunakan bajaj, namun mulai pagi ini, aku akan menggunakan angkot agar lebih berhemat. Aku tengok ke kiri dan ke kanan. Tidak sebuah kepala loko kereta pun yang terlihat. Tekad untuk lari menerobos lintasan kereta api pun sudah bulat. Namun, langkahku tiba-tiba terhenti. Bukan mendadak ada kereta yang akan lewat. Kali ini, langkahku terhenti oleh suara lantang dan kekar seorang laki-laki. Sesegera mungkin pandangan kuarahkan ke suara itu, yang telah mengalahkan kerasnya lonceng lintasan kereta.

“Heee… pergi kau dari sini”. Begitulah suara kekar si penjual buah di pintu kereta. Keliatannya hanya aku yang peduli dengan suara itu. Aku mulai mencari kepada siapakah suara galak itu ditujukan. Belum selesai aku mencari, tiba-tiba badanku sedikit terdorong oleh seorang gadis yang tanpa melihat kanan kiri langsung menerobos lintasan kereta tersebut. Entah apa yang dia lakukan, sehingga membuat si penjual buah itu marah, dan dalam hitungan detik si gadis itu hilang dari kerumunan orang yang akan menyeberang lintasan kereta api. Oh, untunglah si gadis itu selamat melintasi rel kereta.

Kuurungkan niatku untuk segera menerobos pintu kereta, karena tak lama kemudian kereta akan melintas. Rasa iba masih menggelantung di hatiku. Penasaran tetang gadis itu semakin besar menemani langkahku sepanjang jalan. Apakah yang dia perbuat, sehingga amarah si bapak penjual buah meledak. Lamunanku segara buyar, ketika ku sadar bahwa waktu di jam tanganku menunjukkan 7.30. Berarti, aku hanya punya waktu setengah jam untuk mencapai tempat kerjaku.. Sesegera mungkin kucari angkot yang menuju ke kantorku.

Hari ini serasa cepat berlalu, jam kantor pun telah usai. Semangat untuk segera pulang tidak seperti biasanya. Bukan karena lapar atau capek, tapi hatiku ingin segera melihat gadis tadi padi. Sesampainya di lintasan kereta api, pandangan mataku mulai mencari-cari. Berharap bisa menemukan sosok gadis tadi pagi. Sambil melihat-lihat di sekitar tukang buah, aku mampir ke kedai martabak manis yang tidak jauh jaraknya. Ah, sampai martabak manis selesai dibuatpun, tak kutemui juga gadis itu. Akhirnya aku menclok di tukang buah. Biasanya memang aku hanya membeli 1 kg mangga kesukaan ibuku, namun kali ini kutambah menjadi 2 kg. Dengan harapan agar si Bapak lebih ramah untuk menjawab pertanyaanku.

Setelah transaksi jual beli selesai, akhirnya kuberanikan diri untuk bertanya.
“Punten, Pak. Boleh sedikit bertanya?. Kenapa bapak tadi pagi marah-marah kepada seorang gadis kecil?” Tanyaku tanpa rasa takut.
“Marah? Marah kepada seorang gadis kecil tadi pagi?” Si bapak penjual buah bertanya balik sambil mengerutkan dahinya.
“Iya, pak. Gadis kecil yang tadi pagi Bapak usir dari sini.” Jawabku memperjelas.
“Oooh, dia. Yah, suka kesel aja Neng. Tiap pagi selalu saja berdiri di sini. Pernah ketangkap basah, dia mengambil buah dagangan saya. Kalo saya lagi meleng sedikit.” Jawab si Bapak dengan rasa kesalnya. Sedikit rasa puas atas jawaban si Bapak, akhirnya aku akhiri pembicaraan itu dengan berucap terima kasih.

Keesokan harinya, aku berangkat kantor sedikit lebih pagi. Berharap keberuntungan menemaniku untuk mempertemukan dan melihat lagi gadis kecil itu. Aaah ya… Dia, si gadis kecil itu berdiri kurang lebih 2 meter dari meja dagangan si Bapak. Kuamati dari jauh. Bak seorang detektif, penasaran dan keingintahuanku semakin besar. Rasanya ingin juga membuktikan kebenaran kata-kata si Bapak kemarin sore. Mataku tak kubiarkan berkedip barang sebentar. Kuikuti semua gerak geriknya. Entah mengapa, rasa iba bercampur gemas akan tingkah lakunya menyelimutiku.

Teng.. tong.. teng.. tong… teng.. tong… lonceng pintu keretapun berbunyi. Yah tepat pukul 7.00 pagi seperti kemarin. Beberapa saat kemudian, kulihat si Bapak penjual buah harus mengambil sesuatu di kolong mejanya. Si gadis itu pun sesegera mungkin mendekatkan dirinya ke meja dagangan si Bapak. Mataku terbelalak ketika melihat tangannya mengarah ke sudut meja buah, namun lagi-lagi si Bapak lebih cepat bereaksi.
“Hee… lagi-lagi kamu… Pergi kau… Dasar…!!!” Teriak si Bapak penjual buah itu.
Tangan si gadis pun gagal meraih sesuatu dari meja dagangan si Bapak. Secepat kilat si gadis itu lari menerjang kerumunan orang-orang yang menunggu di pintu lintasan. Aku pun tak ingin kehilangan moment tersebut. Mataku berusaha mengikuti jejaknya. Si gadis itu berlari dan melintasi rel kereta api. Aku pun berusaha mengikutinya. Tanpa rasa takut, dia menyeberang jalan besar yang begitu ramai lalu lalang kendaraan. Tiba-tiba, sebuah BMW mendadak berhenti tajam.
“Ciiiittt…” begitulah bunyi rem yang sempat menarik perhatian orang-orang di sekitar jalanan.
Si gadis itu pun mematikan langkahnya. Untunglah, BMW tersebut berhenti kurang lebih 1 meter dari gadis itu.
“Heei… liat-liat dong kalo nyeberang!” Teriak pemuda di belakang setir BMW dengan matanya yang melotot tanda sangat kesal. Amarahnya yang sangat, diikut dengan melemparkan sebuah apel yang tengah digigitnya ke arah gadis tersebut.

Hatiku sangat teriris, melihat kejadian antara si kaya dan si miskin. Ingin rasanya berteriak dan mengumpat pemuda pengendara BMW tersebut. Namun, apa yang kulihat kemudian, membuat air mata ini mengalir..
Si gadis bukannya takut, malah justru sebaliknya. Ditangkapnya apel tersebut yang mendarat persis di dadanya. Kemudian dia pun bergegas berlari girang meninggalkan lokasi sambil mengucap terima kasih kepada pemuda BMW. “Terima kasih oom…!!!” teriaknya girang.
Senyum dan tingkah girang si gadis apel itu tersimpan terus di kepalaku. Yah, si gadis apel, begitu aku menyebutnya sekarang.

Keesokan harinya, aku berusaha berangkat ke kantor jauh lebih pagi. Rasa iba masih saja melekat di hatiku. Terpikir olehku untuk memberikan buah apel untuknya. Ah ya… Aku akan membeli 1 kg apel untuknya. Niatku untuk menemui si gadis apel pagi ini semakin besar, dan akan ku berikan 1 kg apel untuknya.

Teng… tong… teng… tong… lonceng pintu keretapun kembali berbunyi tepat pukul 7.00 pagi. Namun, sampai waktunya aku harus berangkat ke kantor, tidak kutemukan juga si gadis apel itu. Walaupun sedikit kecewa, tapi aku masih berharap bertemunya di esok hari.

Sudah 3 kali pagi sejak kejadian antara si gadis apel dan pengemudi BMW. Dan aku masih menunggu si gadis apel di tukang buah itu. Namun si gadis apel pun tak kunjung datang. Aku kehilangan dia. Dimanakah dia sekarang. Atau mungkin sudah puaskah dia makan sebuah apel? Yah, makan sebuah apel gigitan pemberian pemuda BMW kala itu? Sehingga dia tidak pernah lagi mengganggu Bapak penjual buah?. (DK)

Cerpen Karangan: Dewi Kusumaningrum
Facebook: Dewi Kusumaningrum

Cerita Si Gadis Apel merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ada Yang Hilang

Oleh:
22 November 2006 Semuanya berakhir hari ini. Penantian buta itu terhempas begitu saja sore tadi, entah keberanian darimana yang membuatku mampu mengucap selamat tinggal dan semua yang kurasakan. Padahal

Perfect Life

Oleh:
Dinara namanya. Matanya bagaikan bintang kejora, sungguh indah. Rambutnya hitam mengkilat dan lebat. Kulitnya halus seperti pualam. Alisnya nyaris menyatu, bagaikan semut beriring. Tutur katanya pun halus dan sopan.

Sepuluh Kenjeran

Oleh:
Ibuku cinta pada lautan. Tiap minggu ia mengajakku bepergian ke pesisir pulau Jawa Timur. Kami menghabiskan dua jam hanya berjalan saja, namun tidak menunjukkan rasa peduli terhadap kedua kakiku

Secercah Asa

Oleh:
Saat itu, aku masih berusia 9 tahun. Ayahku sudah meninggal, beliau hanya mewariskan malaikat tanpa sayap padaku, Ibuku. Aku sudah merasakan kerasnya hidup dimana anak-anak seusiaku hanya menikmati harta

Renungan

Oleh:
Di sudut ruangan ini aku duduk sendiri. Merasakan keterasingan, merasakan kesepian, merasakan kehampaan. Entah dimulai kapan aku tak tahu pasti. Yang ku tahu bila rasa itu datang, sakitnya menusuk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *