Si Hitam dan Sang Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fabel (Hewan), Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 6 May 2019

Malam hari di sebuah perkomplekan rumah terlihat sangat sunyi, tak ada yang ingin keluar dari tempatnya. Manusia-manusia itu bahkan memilih untuk tidur dan menikmati hujan di dalam rumahnya saja. Hewan peliharaan pun juga begitu, namun tak ada yang mengerti dengan sosok yang satu ini, ‘si hitam nakal’ begitulah manusia menyebut dirinya. Dirinya memang tak pernah bangga dengan hal itu. Namun yang dia bangga adalah bisa membuat para manusia kesal.

Si hitam. Dia tak punya nama, namun orang-orang selalu mengenalnya, terlebih lagi para manusia. Manusia-manusia itu sudah tau gelagat ‘Si Hitam’ ini. Selalu membuat onar. Mencuri makanan, masuk ke rumah manusia seenaknya, dan mengubrak-ubrik tong sampah di depan rumah mereka. Tak ada hal lain selalin dendam yang telah dia simpan dua tahun yang lalu, saat di usia kelahirannya yang baru menginjak dua hari, dengan tak berperasaan manusia yang menjadi majikannya itu membunuh Ibunya, dan dia pun dibuang di jalanan, tepat saat hujan pada malam itu mengguyur tubuh mungilnya.

“Ah jalan buntu sialan!” umpat si Hitam ketika berada di jalan buntu di perkomplekan itu. Di jalan buntu itu hanya ada sungai dan rerumputan, tidak ada jalan lain untuk kabur saat ini.
Si Hitam memang membenci manusia, tetapi dia juga memiliki hal lain yang dia benci. Teman-temannya, para anjing yang siap menerkamnya, dan ada satu lagi yang paling dia benci, sama halnya dengan teman-temannya. Dia membenci air. Seperti yang terjadi saat ini, di bawah rumah kecil berpondasi kayu. Si Hitam berlindung di sana, itu semua karena hujan yang merupakan bagian dari air. Hujan jugalah yang membuat dirinya seperti sekarang.

“Miaauu!” si Hitam baru saja berteriak kesakitan, tubuhnya mulai melemah, kaki yang kokoh tadi tidak dapat digerakkan dengan bebas, sang pemangsa baru saja mengigit kaki kokohnya itu.
“ampun!” si Hitam terus saja berteriak, meski dia tahu bahwa tidak ada seseorang di sana, tapi dia tetap berteriak, berharap ada yang menolongnya.

“Pergi kau anjing nakal!” teriak seorang gadis kecil melemparkan batu ke arah pemangsa yang menggigit kaki si Hitam. Si pemangsa yang tidak lain adalah seekor anjing itu melepaskan gigitannya dari si Hitam, kemudian pergi dari tempat dia berada.
Gadis itu mendekati si Hitam. Si Hitam merasa takut karena ia berpikir si Gadis akan menyiksanya juga dan membalaskan dendam para manusia yang sering dia buat sengsara.

“Hai manis!” sapa gadis itu sambil mengelus-ngelus kepala si Hitam. ‘Tenang. Aku tidak akan menyakitimu,” katanya dengan menaikkan sudut bibirnya.
Si hitam tersanjung, kali ini dia baru saja mendapat panggilan baru dari seorang manusia.

Gadis itu melepas selendang yang ia kaitkan di lehernya lalu membalut selendang itu di bagian kaki yang berlumuran darah. “Lihat! Lukamu sangat banyak, aku akan membersihkan dirimu dan merawat lukamu.” Gadis itu menggendong si Hitam dan membawanya ke rumah kayu miliknya.

“Manis. Sekarang itu namamu. kamu boleh tinggal di sini, ini rumah barumu mulai sekarang”.

“Mara, makan dulu nak!” panggil Ibu dari gadis itu.
“iya Ma.” Mara, nama dari gadis itu menghampiri ibunya ke meja makan. Sementara Manis panggilan baru si Hitam tetap berdiam di sana, kakinya tak bisa digerakan karena luka gigitan itu.

“ma, Mara boleh pelihara si Manis ya, kakinya luka, aku ingin merawatnya.” Kata Mara pada ibunya.
“Boleh, tapi dirawat baik-baik ya!” kata ibunya lembut.

Mara pun menghampiri si Manis dan memberinya ikan yang sudah disiapkan ibunya. Si Manis menatap nanar ke arah Mara, dia benar-benar bersyukur kepada hujan. Mungkin kini dia juga harus belajar untuk tidak membenci hujan. Hujan kali ini telah membawanya kepada kehidupan baru, dihargai dan mendapatkan seorang majikan yang sangat sayang padanya.

Cerpen Karangan: Reyhana Amalia
Blog / Facebook: Reyhana Amalia

Cerpen Si Hitam dan Sang Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pelangi Untuk Kita

Oleh:
Hujan masih menyelimuti bumi yang gersang. Air menggenang di jalan yang berlubang. Entah ke mana sang matahari sehingga tiada hadir menyapa. Sepeda tua itu tetap melaju menembus tirai-tirai air

Sepotong Daging Buat Asih

Oleh:
Angin sepoi berhembus menggoyangkan daun-daun kangkung. sinar matahari mulai meredup tak seperti waktu siang hari yang terik. sengatanya membuat kulit serasa terbakar. Marni. seorang wanita tua, masih sibuk memotong

Teroris

Oleh:
Suara jangkrik berdayun di sekeliling rumah. angin malam seakan membuat suara ngeri, aku terbangkit dari tidur. Sambil menatap bola jam yang bergerak pelan. “andai saja aku menyetujui papa untuk

Kisah Ayam Yang Sombong

Oleh:
Pada suatu hari di sebuah hutan yang rimba. hiduplah seekor ayam hutan jantan, karena ayam hutan itu sangat sombong dan keras kepala ia selalu mengajak semua binatang yang ada

Pandhebhe

Oleh:
Di antara dedaunan yang satu per satu mulai gugur menghiasi sajadah panjang kehidupan, biarlah semua nestapa dan duka runtuh bersama daun terakhir yang jatuh kala penghujung musim gugur tiba,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *