Si Jal*ng

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Sastra
Lolos moderasi pada: 3 October 2017

Ia menyeka wajahnya dengan kapas basah. Ia menyeka wajah yang sudah seperti tanah tak bertuan, jerawat tumbuh dengan liar seperti belukar. Atau mungkin lebih serupa dengan pemukiman kumuh di Jakarta dulu, berlomba-lomba tumbuh dalam kerumun. Tapi ia sudah tak lagi peduli dengan hal itu. Justru dengan keadaannya yang seperti ini, ia jadi tahu siapa yang suka ia dalam rupa atau jatuh karena sukma yang selama ini bersemayam dalam tubuhnya. Ia melihat kapas bekas sekaan wajahnya, dalam hatinya ia gusar. Wajah sudah sama seperti pantat panci, penuh jelaga. Jelaga dari asap kendaraan Jakarta yang tak lagi terkendali. Setiap pagi dan malam, ia bercumbu dengan itu semua. Mau tak mau, agar bisa tetap hidup.

Ia tersenyum pada persona yang terpantul pada cermin usang pemberian mendiang ibunya. Hai Jal*ng, lama sekali tak bersua. Begitu kata pantulan itu. Ia mendengus kesal, ia menyaut dengan suara yang cukup keras, “iya aku tahu, kamu tahu sendiri aku diperbudak kebutuhan hidupku di sini. kamu bisa ada pun sudah bagus. hentikan, aku butuh bertahan!”. Pintunya langsung digedor. Penghuni sebelah sepertinya. Ia langsung mencabut telepon genggam yang sedang kucharge, pura-pura menelepon. Ia membuka pintu, benar ia penghuni kamar sebelah. “Maaf mbak, saya sedang telepon”. Belum sempat penghuni sebelahku membuka mulut, ia sudah mengatakan itu dan kemudian segera menutup pintu. Ia menghela nafas. Tidak, tidak bisa lagi aku berkelahi dengan diriku sendiri seperti ini.

Matanya terbelalak, pandangannya menjalar liar ke langit-langit dengan bercak coklat. Sial, aku dikejar waktu lagi kali ini. Namun ternyata salah, aku terbangun pada pagi buta. Angka jam di telepon genggam masih menunjukan jam 2. Astaga, tidur macam apa ini. Ia beranjak dari kasur tipis yang sudah menjadi teman bercumbu setianya selama empat tahun. Sudut berdebu itu masih tersusun rapi. Ada kuas bersih, cat-cat air, body painting, dan beberapa kertas sketsa yang hanya dikerjakan setengah. Ia menghela nafas sambil menggeser-geser kertas-kertas itu. Ia masih ingat kenapa ia selalu kehabisan tinta warna merah dan hitam. Ia melukis kemarahannya. Hanya dua warna itu yang baginya pantas melukiskan kemarahannya. Namun, satu kemarahan yang tidak bisa terlukis. Semenjak itu, personanya hanya terkurung anggun pada sebatas bayangan cermin.

Ia menyeka wajahnya, kali ini dengan tangan kosong. Wajahnya sudah basah dengan air mata. Jam 2, ia menemukan dirinya sendiri di ujung jalan dalam keadaan tidak sadarkan diri di teras depan rumahnya. Entah sudah berapa lama ia terbaring di situ. Ayahnya membuka pintu, lalu menyeretnya masuk. Ia dihujani tangis ibunya, ayahnya tak henti mengeluarkan sumpah serapah. Entah siapa lagi yang dia kutuk, ia atau laki-laki yang ternyata hanya ingin sebuah liang. Ya, liang vag*na. Wedari hanya ingat, ayahnya terus menerus menyebutkan kata ‘Jal*ng’ sambil mengarahkan telunjuknya ke arah Wedari. Memang ia tidak hamil, tapi entah bagaimana ceritanya semua orang di desa itu tahu bahwa selaput dara seorang Wedari sudah robek oleh seorang laki-laki yang selalu dibanggakan oleh Wedari karena berpikiran terbuka itu. Wedari bukan tak tahan dengan kata orang, persetan dengan mulut mereka yang lebih Jal*ng. Tapi Wedari tak sanggup melihat ibunya yang hanya bisa menangis setiap hari karena menghadapi gunjingan tetangganya dan sumpah serapah suaminya entah kepada siapa. Akhirnya, Wedari beranjak ke Jakarta yang kini menjadi lembaran barunya.

Jakarta, yang katanya keras kehidupannya kini jadi terasa getir baginya. Kini ia hanya bersimpuh menangis. Semenjak itu, Wedari memutuskan untuk mengubur dalam-dalam soal impiannya. Ia bisa melukis karena laki-laki itu. Maka semenjak itu, hanya dendam yang bisa terlukis di kertas-kertasnya. Angkara dan murka seorang Wedari yang berubah jadi warna hitam dan merah. Kadang kelabu jika Wedari menitikkan air mata. Sejenak ia menarik nafas dalam-dalam, air mata di pelupuk jadi enggan bergulir dan hanya berhenti menjadi genangan. Ujarnya dalam hati, aku harus melukis lagi biar ia tahu aku tidak pernah mati.

Balai Kartini, sore pukul 17.00.
Hujan menyambangi Jakarta sore itu. Baginya di desa dulu, hujan bisa jadi sebuah berkah karena menyuburkan tanaman yang jadi sumber kehidupan warga termasuk keluarga Wedari. Hari ini dianggap saja sama sebagai berkah karena tak ada yang salah dengan meyakini hal baik. Ah, lebih baik aku keluar saja menunjukkan diri. Aku keluar dari ruang tunggu di belakang panggung. Tak ada yang lebih membahagiakan dibandingkan membebaskan bayangan di kaca yang kutemui kala itu. Kini ada bayanganku di setiap lukisan yang terpajang. Saat yang bersamaan pula aku menerbitkan buku. Isinya sederhana, menjadi perempuan yang tidak mudah menyerah walau kadang suka terinjak oleh sosial yang juga membesarkannya; perempuan yang cepat pulih dari rasa terbuang karena dibuang oleh orang-orang; perempuan yang mengatasi dirinya sendiri: Jal*ng, Si Pelukis Angkara.

Ruangan tidak terlalu penuh dengan orang-orang, tidak banyak juga yang menghampiri Wedari karena Wedari tidak pernah menunjukkan wajahnya di manapun sebelumnya. Wedari kemudian melihat seseorang di depan lukisan pertamanya. Lukisan pertama yang ia beri nama “Sebelum Hilang”. Lukisan pertama dan terakhir Wedari yang kaya warna. Ternyata ia adalah laki-laki yang membuat Wedari dipanggil Jal*ng oleh ayahnya dan warga sekitarnya. Wedari tidak kaget, ia hanya berbisik di sampingnya, “kamu yang mengajariku untuk terbang, lalu memasungku dengan perlakuanmu padaku. tapi tidak, aku berhak memilih bebas. kamu tahu? bagimu aku tak akan pernah mati, sayang”. Lelaki itu menoleh, yang didapatinya hanya punggung seorang wanita berbalut gaun malam marun yang tenggelam di kerumunan dan sayup-sayup tercium harum alami lulur rempah, “Sri Wedari”, gumam lelaki iitu sambil menatap kehilangannya dengan nanar.

Cerpen Karangan: Natasja
Facebook: Patricia Natasha Krisdayanti

Cerpen Si Jal*ng merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Wanita Kelabu

Oleh:
Pagi yang tak begitu bersahabat denganku. Matahari rupanya sedang tak bersemangat menyinari hari di sabtu pagi ini. Langit tak begitu cerah mengulas warna yang kurang menarik untuk dilihat olehku.

Sepeda Ontel Ajaib

Oleh:
Alkisah seorang anak dari keluarga miskin yang baik hati yang tinggal di sebuah negeri perbatasan yang sangat tidak dikenal masyarakat dia bernama Joko, meskipun demikian mereka selalu berusaha dan

Lukisan di Hati

Oleh:
Aku ingin melukiskan dirimu, terutama senyuman manismu, layaknya leonardo da vinci yang telah berhasil melukiskan monalisa hingga sekarang dengan senyuman misteriusnya… Angin berdesir gemuruh ombak membahana, kicauan burung memperindah

Fakir

Oleh:
Matahari sudah tinggi dan sinarnya cukup menyengat. Bagi orang yang tak terbiasa pastilah sudah meringis dan mencari perteduhan. Tapi aku sudah terbiasa. Mungkin kulit gelapku sudah beradaptasi karena setiap

Pohon Mangga Mbah Karto

Oleh:
Mbah Karto siapa yang tak kenal kakek ini di desa Mayasari. Demikian orang-orang di desa menyebutnya. Di usianya yang ke 85 tahun Beliau masih sehat dan semangat untuk beraktivitas

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *