Si Kecil

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 16 January 2013

Hari ini, semua terasa sama, tak ada yang berbeda, dunia masih berputar seperti biasa, matahari masih tersenyum seperti biasa, bulan selalu menyinari hari hari seperti biasa. dan dia, masih murung seperti biasa. gadis mungil disebuah pondok kecil nan tua namun terlihat indah karena dirinya. 5 tahun sudah sejak kematian ibunya, dia masih tidak mau keluar dari pondok kecil itu dia, terkadang dia menampakan wajah lugu nya di salah satu jendela. gadis sekecil itu seharusnya bisa bermain bersama temanya bergembira dengan masa kecilnya, kematian ibunya dan ayahnya yang menelentarkanya mengambil semua senyum dan gelak tawanya.

Hari ini simungil itu keluar dari pondoknya, mencoba tersenyum namun berat. aku meencoba menyapanya “selamat pagi” namun ia berlari entah kemana setelah ku sapa. pakaianya yang rusuh, tubuhnya yang kumuh dan wajahnya yang kusam membuat orang orang berpikiran ia sudah tak waras, tapi aku tahu dibalik semua itu terdapat jiwa yang suci didalamnya, kematian ibunya menimbulkan goresan dalam dihatinya.

Seperti biasa aku meletakan segelas susu dan nasi goreng dan sebuah coklat, didepan pondok kecilnya itu, sungguh, tak bisa ku bayangkan bagaimana gadis sekecil dia bisa ia hidup sendiri di dunia ini dengan keadaan seperti ini, ingin rasanya ku memeluknya disaat dia kedinginan, ingin rasanya ku berada disampingnya mendengarrkan kisah hidupnya.
hari semakin larut tapi dia tak kunjung datang, kemana dia? apa yang terjadi padanya? berbagai perntanyaan muncul dibenaku, beberapa jam kemudian dia kembali, dengan wajah tetunduk wajah lesu, aku melihat bagaimana reaksinya ketika melihat segelas susu dan sebatang coklat didepanya, reaksi yang wajar, yang selalu ditampil seorang anak ketika mendapatkan manisan, ia membawa makanan itu kedalam pondoknya itu, tak ada pencahayaan sama sekali disana, semua terlihat gelap, ku tak tahu apa ia bisa melihat butiran nasi yang ada dipiringnya dalam kegelapan itu.

Dalam perjalanan kesekolah ku melihat dia sedang memandang keatas langit, ntah apa yang sedang ia pikirkan dan ku sapa “selamat pagi, semoga harimu menyenangkan” namun ia seperti biasa ia tidak merespon apapun dariku. orang orang disekitarku memintaku untuk berhenti memerhatikan dia, karna mereka pikir itu hanya akan membuang buang waktuku. tapi ku pikir itu salah, gadis sekecil dia perlu kehangatan, terlalu banyak kedinginan di dalam dirinya. dia membutuhkan seseorang.

Hari ini aku membelikan ia sebuah kue rasa stroberi, ku rasa ia akan menyukainya, aku saja yang sebesar ini masih menyukai kue stroberi ini. aku memegang kantong berisi kue stroberi itu, dalam perjalanan aku mendengarkan lagu tentang ibu, sedih rasanya jika ku kehilangan wanita terhebat ku, mungkin ini yang dirasakan oleh gadis kecil itu. saat aku hendak kerumahnya, aku melihat ia berlari setelah keluar dari rumahnya.setelah ku letakan kue itu didepan pintunya aku ikut berlari mengikutinya. kulihat kaki mungilnya berhenti disebuah tempat yang mengerikan bagiku, sebuah tempat pemakaman. ku melihat ia berlari lari disalah satu tempat pemakaman itu, dia bernyanyi, untuk pertama kalinya ku melihat dia menangis begitu keras
“ibu, aku benci didunia ini, mereka tak memperdulikanku lagi, mereka menganggap aku sinting, mereka menertawakanku sepanjang hari,untuk apa aku hidup lagi bu,aku ingin ibu berada disamping ku lagi, aku terlalu kecil menanggung semua ini bu, bahkan semua ini lebih besar dari besar tubuhku” ucapnya sambil tidur di tempat pemakaman itu, aku baru tahu ini adalah tempat pemakaman ibunya.sedihnya rasanya mendengar anak sekecil itu bercerita begitu panjang dengan ibunya yang telah tiada.

“gi, kamu mau bawa susu dan nasi itu untuk anak sinting itu lagi?” ucap ibuku
“dia bukan sinting bu” jawabku
“untuk apa kamu membawa makanan itu untuknya, dia tidak akan memperdulikanmu, dia hanya bisa pulang pergi entah kemana, itu hanya membuang buang waktu mu, gi ”
“sudahlah bu, aku letih mendengar ibu mengatakan hal itu itu lagi, dia hanya anak kecil yang kehilangan ibunya dan butuh perlindungan, yang aku berikan ini tidak seberapa bu, aku saja yang sudah sebesar ini tak bisa membayangkan jika kau kehilangan ibu” jawabku sambil keluar dari dapur sambil membawa susu dan nasi untuknya. saat ku tiba didepan pondoknya itu, ku melihat kue stroberi ku tak ada, apa dia sudah memakanya? aku meletakan nasi dan susu itu di depan pintunya, aku juga meletakan sebuah sebuah senter dan beberapa baterai untuk peneranganya dipondok kecil ini.
sekarang sudah pukul 09:00 dia tak kunjung datang, apa dia masih makam ibunya? tapi ini sudah terlalu larut. aku berencana ingin menyusulnya dimakam ibunya saat ku buka pintu aku melihat sosok kecil yang hanya setinggi perut ku,
“astaga” teriaku
“kau tak perlu memberiku senter dan baterai ini, nasi dan susu saja sudah cukup”ucapnya sambil memberikan ku senter dan batrai itu
“tapi tampaknya rumahmu begitu gelap”
“aku suka gelap”jawabnya sambil membalikan badan namun aku menahanya.
“jika kamu suka gelap, kamu tidak akan tahu seberapa terangnya dunia ini”
“aku terlalu kecil untuk memikirkan hal itu, begini saja sudah cukup bagiku” jawabnya.
“apa kamu ingin naik ayunan?” tanyaku mengalihkan pembicaraan, matanya langsung tertuju pada ayunan pink yang ada dihalaman rumahku, aku tahu dia ingin kesana, ku ajak dia duduk disana, dia terlihat senang
“rumahmu tidak ada lampu?”
“mau pakai apa bayar listrik?makanya saja aku bergantung padamu”
“makanya pakai saja senter ini” jawabku sambil memberikan senter itu.
“aku tau ibumu membenciku ketika kau memberi ku nasi dan susu, jangan buat ibumu membenciku lagi karna kau memberikan ku sebuah senter” jawabnya
“tenang, ini punya ku, aku membelinya khusus untukmu”
“apa kau melakukan semua ini karna merasa kasihan padaku?”
“tidak, kau bagai adik kecil bagiku, aku menyayangimu, bukan mengasihanimu”
“kau mengikuti ku ketika aku ketempat ibu ku kan?”
“bagaimana kamu tahu?”
“ibuku mengatakanya padaku” jawabnya, aku tak mengerti apa maksud dari anak ini, apa benar ibunya melihatku
“aku lelah, aku pulang” jawabnya
“tunggu, bawalah senter ini, kamarku tepat didepan rumahmu aku sering melihatmu dijendela, jika kau butuh aku, hidupkan senter ini, senter ini cukup terang, bahkan bisa sampai kerumahku” ucapku bohong
“yasudahlah, aku pulang” jawabnya
ku lihat kaki kecilnya yang terlihat letih karna dia selalu pergi dan berlari lari di makam ibunya
“aku suka kue stroberi mu, ibuku pernah membelikanya untuku” ucapnya sambil berlari kerumahnya.benar dugaanku, kue itu kue terenak sepanjang masa.

Malam ini aku letih, mengerjakan tugas yang menumpuk, aku lupa sudah beberapa hari ini aku tak melihatnya, kini ibuku mulai mengerti tentang sikecil itu, bahkan pagi ini ibuku yang memberikan nasi dan susu untuknya, mungkin ibu sudah mengerti bahwa dia cuma seorang anak kecil yang membutuhkan kehangatan.
saat aku hendak berbaring aku melihat ada cahaya bulat yang memantul dari jendela kamarku, saatku lihat itu sikecil, dia benar benar menggunakan senter itu dengan baik.aku bergegas keluar menghampirinya
“ada apa?”tanyaku
“aku bertemu ibu” ucapnya sambil menangis, keringat menyelimunti tubuhnya
“apa maksudmu?” tanyaku sambil membawanya keayunan ditaman rumahku
“aku bertemu ibu, ibu merindukanku” ucapnya lirih. aku tak tahu harus bagaimana, aku peluk tubuhnya yang kecil itu, tubuhnya benar benar dingin dan basah karena keringat.
“apa ibu ingin aku menyusulnya?”ucapnya
“tidak, benar ucapanmu, ibumu hanya merindukanmu” jawabku
malam semakin larut, dia pun juga semakin tenang, kemudia dia tiba tiba saja bercerita
“aku merindukan ibuku, aku ingin ibu, kalau bukan karna ayah membunuh ibu, aku tidak akan seperti ini, aku tidak akan kesepian seperti ini, aku tidak akan menderita seperti ini. dihari kematian ibuku aku masih sangat kecil aku tak mengerti apa apa, yang aku tahu ibuku tergeletak dikamar karna ayah menusuk nusuk ibu dengan pisau, kini aku tau ayah telah membunuhnya, setelah hari itu ayah tak hilang entah kemana, aku tak kuat menanggung semua ini, aku teralu kecil menanggung semua ini, dunia begitu kejam padaku” ucapnya lirih.
sedih hatiku mendengar ceritanya.tak kusangka ibunya dibunuh oleh ayahnya dihadapanya sendiri. aku sedih, tak tahu harus bagaimana, kepeluk dia erat..erat.. tak kusangka hidupnya serumit ini, dia benar, dia terlalu kecil menanggung semua ini, sangat terlalu kecil. ku tinggalkan dia di ayunan itu dan ku berlari kedalam rumah mengambil segelas air untuknya, saat ku kembali ku lihat dia menghilang, ternyata dia sudah ada didepan rumahnya
“aku sudah tenang, kau bisa tidur sekarang, maaf aku mengganggumu, sungguh, jika tidak ada kau, mungkin aku akan… lupakan, terima kasih” teriak sikecil itu
dia benar benar anak yang luar biasa, tak kusanggka hidupnya begitu keras. seharusnya dia bisa bebas dan tak memikirkan hal seberat itu, namun apalah dayanya.

Cerpen Karangan: Sari Suryani

Cerpen Si Kecil merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Selamat Tinggal Kakak

Oleh:
Ali adalah seorang anak tunggal yang hidupnya dipenuhi dengan kesendirian. Ayahnya tewas sejak Ali berumur 6 tahun, saat itu Ayah Ali menjadi korban tabrak lari. Sekarang Ali hanya ditemani

Bintang Cemerlang

Oleh:
Ketika sang surya beranjak terbit dari ufuk timur. Lampu-lampu jalan padam, tergantikan oleh lembutnya sinar mentari pagi. Setitik embun bergantian menetes pada rumput-rumput kering. Ibu kotaku Jakarta nampak tersenyum

Sepasang Kaki dan Impian

Oleh:
Hari ini adalah hari pertamaku memenuhi panggilan dari salah satu stasiun radio ternama di Bandung. Setelah mengikuti berbagai seleksi, dan mengirimkan rekaman suara dalam sample voice ke beberapa stasiun

Perampok, Teganya Dikau

Oleh:
Air mata Zul Kaizani menetes membanjiri pakaiannya. Tergambar penyesalan yang amat besar di wajahnya. Ia meratapi tubuh Gurunya itu dengan penuh kasih sayang. Begitu juga dengan Paozan, matanya menggambarkan

Membenam Rasa Kepedihan

Oleh:
Hati ini belumlah lupa bagaimana ia menilaiku. Tak melihatku dan semakin melupakanku, terdiam tiba-tiba aku di tepi jembatan kota jakarta ini. Dengan berlinangan air mata dalam hati ku pantulkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *