Si Sombong Edo (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 12 November 2016

Edo kemudian memarkir mobil mewahnya itu di depan pagar rumah. Dia kemudian membunyikan bel rumah tersebut. keluarlah seorang wanita dengan rambut dikuncir dan memakai daster, “Siapa ya pak?”, “Saya Edo, saudara dari Pak Bondan!” “Oh iya pak..” Wanita itu kemudian berlari ke dalam rumah, beberapa saat kemudian wanita itu keluar kembali “Silakan masuk pak..” Katanya sambil membukakan pagar.

Edo kemudian masuk ke dalam rumah luas yang sekitar 600 meter persegi itu dengan langkah sombong. Edo dibukakan pintu ruang tamu, dan menunggu kedatangan pak Bondan. ruang tamu tempat Edo menunggu itu sangat luas, mungkin sekitar 10×4, dengan sofa yang sangat mewah bermerek Wellington’s, dengan lampu kristal besar yang menggantung, dan berbagai lukisan mahal yang terpajang di temboknya. “Ah Edo..”, sambut uan rumah “Halo Mas Bondan..”, “Tumben neh mampir..”, Edo tersenyum.

Edo dan pak Bondan kemudian mengobrol dengan sangat asyik sekali, terlihat mereka berdua sangat menikmati obrolan tersebut. Pak Bondan adalah sepupu Edo, anak dari kakak Ayah Edo, Pak Bondan bekerja sebagai seorang pegawai negeri, dan tidak jelas bagaimana cara dia mendapat semua hartanya itu mengingat dia tidak punya warisan apalagi bsinis sampingan apapun, banyak orang yang bilang kalau dia itu korupsi. Ironisnya Edo ke tempat Bondan untuk menunjukan kalau sekarang dirinya sudah sekaya Bondan. “Jadi kamu masih kerja di perusahaan itu?” “Masih mas.. saya bertahan karena gajinya gede mas..” “Wah bagus deh kalo gitu” Pak Bondan tersenyum.

Tiga jam kemudian, Edo mohon diri dari hadapan Pak Bondan, saat itu sudah jam delapan malam, pak Bondan mengantar sendiri Edo sampai ke depan rumahnya dan melihat Mercedes milik Edo, “Wah mobil baru neh Edo..” “Ya mas..” Edo membuka pintu mobilnya, “Merci itu mahal biaya perawatannya.. kamu harus kuat banget dananya..” “Ya mas.. sama kayak BMW 760 li keluaran 2016 punya mas-lah..” Pak Bondan tersenyum malu, pasalnya dia memang punya mobil itu, dan itu adalah mobil utamanya. Dengan mengatakan biaya perawatan mercedesnya sama dengan BMW Pak Bondan, maka dia secara tidak langsung telah mengklaim bahwa dia sekaya Pak Bondan.

“Jadi anda sudah pamer kesana kemari?” “Udah donk Rei, gue pamer sampe mereka ngejilat gue wkwkwkw” mereka berdua tertawa terbahak-bahak di dalam ruang kerja Edo. “Nah pak sekarang anda tinggal menunggu saja, panggilan ke berbagai acara keluarga yang sebelumnya anda tidak pernah diundang, biasanya setelah mendengar gosip tentang mobil mewah anda itu, keluarga anda yang mata duitan lainnya akan langsung mengundang anda..” “Wkwkwkwkwk..” Mereka berdua kembali tertawa terbahak-bahak.

Omongan Reihard menjadi kenyataan, Edo mendapat banyak panggilan, bahkan dia dikirimi kartu undangan pernikahan oleh saudara yang bahkan tidak pernah dia dengar namanya “oh mungkin ini saudara yang jauhhh sekaliii..” ejek Edo. Edo kemudian memilih ke acara mana saja dia akan mampir, dan tujuan pertamanya adalah ke acara yang diadakan oleh anak dari Pakde Bowo, yaitu HUda, Huda memang seorang presiden direktur, dia sangat sombong atas dirinya sendiri, padahal semua orang tahu, kalau Huda itu mengkredit semua yang dimilikinya, termasuk Bentley Brookland keluaran 1992 yang dimilikinya itu. Huda memang tidak pernah menganggap Edo sama sekali, apalagi ketika tahu Edo hanya memakai motor, ironis, karena pakde Bowo sang ayah justru merupakan kebalikan dari Huda.

Edo tiba di rumah Huda di kawasan pasar minggu, Jakarta Selatan, di acara yang diadakan hari minggu siang oleh Huda untuk merayakan hari ulang tahun anaknya di rumah, setelah sebelumnya dia rayakan di restaurant mahal, Edo memarkir mobilnya langsung di depan garasi rumah Huda, yang membuatnya menjadi pusat perhatian, Edo turun dari mobil dengan langkah gagah, dia memakai jas berwarna hitam dengan kacamata hitam. “Oh mas Edo apa kabar” ujar salah satu saudara yang langsung menyalami, “Bos Edo lama ya gak ketemu..” seorang saudara yang lain menyalami lagi, begitu seterusnya hingga dia tiba di dalam rumah.

Di dalam pesta itu, Edo menjadi primadona, banyak saudaranya yang menjilat dirinya, dan bahkan memanggilnya bos, atau mas atau bang, padahal sebelumnya mereka tidak pernah menganggap dirinya! Edo menjadi sangat bergaya dan menjadi pusat perhatian, bahkan lebih diperhatikan daripada tuan rumah itu sendiri. Dan bukannya kesal tuan rumahnya malah ikut menjilat Edo.

Edo menjadi sangat sombong, di jalan dia bahkan menyetir secara ugal-ugalan, merasa dirinya paling hebat, di acara keluarga lain, dia mulai jadi seperti saudaranya yang lain, saudaranya yang tidak datang memakai mobil tidak dia anggap sama sekali. Bahkan dia sering menyuruh-nyuruh kepada saudaranya yang dianggap miskin, di kantor pun demikian, Edo membuat duet dengan Reihard, mereka hanya berteman berdua saja. Sumitro melihat hal tersebut dan mendatangi Edo di ruangannya “Edo, aku ingin bicara padamu.” Ujarnya sambil agak tersenyum.

“Silakan masuk Pak Sumitro silakan duduk..”, kata Edo dengan posisi duduk yang sombong dan berlagak seperti seolah dia bosnya, “Gini ya Edo, saya tahu saya memang pemarah, dan saya minta maaf atas itu..” “Ya.. ya.. ya..” “Tetapi belakangan ini kamu menjadi tidak produktif dan lebih sering berkumpul dengan Reihard daripada mengerjakan tugas kantor..” Edo memotong dengan menggebrak meja “Jangan macam-macam denganku.. Kamu itu sok banget siapa sih elo?” “Loh aku atasanmu..” “Atasan kok mobilnya cuma trajet.. gue aja merci tahun 2009!” “Edo.. memangnya kamu pikir pak Bustofa pemilik perusahaan ini yang seorang konglomerat naik apa? dia bahkan sering naik angkot bung!” Ujar Sumitro dengan wajah merah padam. “Kalo gitu dia konglomerat palsu.. masak konglomerat naik angkot..” “Itu namanya bergaya sederhana Edo..” “Ah bilang aja lu pada gak punya uang..” sumitro keluar dengan wajah sangat kesal dari ruangan Edo.

Edo adalah orang pertama yang berani melawan Sumitro yang dijuluki si bos galak, akan tetapi dia juga mengeluarkan kalimat yang tidak pantas pada Sumitro, menyebabkan sebagian karyawan di kantor itu mendukungnya, dan sebagian yang lain tidak menyukainya. “Ahahahah aku memang hebat..” ujar Edo sambil memandang dirinya sendiri di cermin rumahnya, dia kemudian menyetel televisi plasma terbarunya yang juga dia kredit, dia bahkan mengkredit juga smart phone terbaru bermerek sangat mahal.

Tanpa diduga banyak tetangga Edo yang matre sering datang ke rumah Edo, mereka datang untuk menjilat Edo, berharap mereka akan mendapat proyek dari Edo suatu saat nanti. “semua orang ngejilat gue.. liat betapa hebatnya gue wkwkwkwk..” Ujar Edo dengan wajah sombongnya sambil bicara sendirian.

Edo juga sering berlaku semena-mena, dia sering mampir ke rumah saudaranya yang dia sebut “mantan orang kaya” yang dulunya bergaya hedon dan sekarang bergaya sederhana, hanya untuk pamer harta. Edo juga sering semena-mena terhadap orang yang dia anggap “miskin” di jalan raya. “Minggir luh..” ujar Edo sambil membunyikan klakson pada orang yang baru turun dari angkot, dia menanggap orang itu penghalang penyabab angkot itu berhenti, padahal angkot itu sudah berada di tepi jalan, hanya saja posisi Edo yang terlalu ke kiri.

“Minggir luh..”
“Maaf pak..”
“Maaf pala lu peyang **** luh!!”
“Maaf..”
“*** lu”
“Maaf..”
“Dasar orang miskin..” ujar Edo sambil terus memacu mercedes hitamnya itu. Dia kemudian menuju ke kantor, setelah turun dari mobil, di tengah jalan menuju ke lift, dia bertemu Sumitro, yang memasang wajah kesal padanya, Edo justru memasang wajah sombong pada sumitro, sampai di lantai 27, tempat dimana Edo bekerja, Muhdi, si presiden direktur, sedang mengumukan sesuatu di tengah kantor, “Halo? Hari ini pak Bustofa, pemilik perusahaan kita akan datang ke kantor ini, mari kita bersiap menyambutnya..”, mereka semua lalu mempersiapkan penyambutan untuk pak Bustofa dengan memsang pernak pernik di kantor tersebut, termasuk Edo, pak Bustofa datang sekitar pukul 10 pagi, yang segera disambut oleh Muhdi, “Nah saudara sekalian, beri sambutan untuk pak bustofa..”, Edo kemudian ikut bergabung, tetapi dia menjadi terkejut saat melihat pak Bustofa!! wajahnya menjadi sangat pucat. Pasalnya pak Bustofa adalah pria yang turun dari angkot tersebut. Edo terus membuang muka selama kunjungan pak Bustofa ke kantor itu, berharap beliau tidak melihat dirinya. Pak Bustofa kemudian pulang sekitar pukul 11 siang, saat itu juga Edo dipanggil ke kantor Muhdi, “Saudara Edo Barokah?” “Ya pak..” “Anda dipecat dari pekerjaan anda..” “Kenapa pak?” “Aku katakan saja alasannya Edo.. Pak Bustofa sendiri yang menyuruh untuk memecatmu..” “Karena dia mendapat pengaduan dari Sumitro atas apa yang kau katakan..” Tambah Mahdi “Tapi dia belum melakukan apapun, sampai dia melihat sendiri kelakuanmu pagi ini, dia hapal wajahmu, karena dia pernah bersalaman denganmu dulu, sewaktu kunjungan pertamanya, yang dimana kau tidak mengenalinya.. Tapi dia selalu ingat padamu..” “Karena itu maaf kau sudah selesai di sini!” Edo tertunduk lesu.

Setelah dipecat itu, otomatis Edo kehilangan semua penghasilannya, yang paling tragis adalah, semua yang dimilikinya sekarang adalah hasil kredit, termasuk rumahnya, karena dia tidak dapat membayar semua yang dia kredit disebabkan tidak adanya penghasilan, maka dia harus rela melihat barangnya satu persatu hilang, termasuk merci hitamnya, dan kemudian rumahnya.

Edo kemudian menggelandang di jalanan, dia tidur di kursi taman saat malam, terkadang dia mengamen, walau tanpa alat apapun, dia sangat malang sekali, bahkan untuk makan saja dia harus mengambil makanan sisa dari sebuah warung yang sudah akan dibuang, uangnya sekarang hanya berjumlah 100 rupiah saja. hasil mengamennya terkadang habis untuk membeli minuman saja, berhubung dia mengamen di tempat yang sepi. “Kasihan sekali aku” keluhnya sambil telentang di atas kursi taman sambil wajahnya ditutupi koran.

Edo merasakan kerasnya hidup di jalanan, selama 3 tahun berikutnya, dia terus menggelandang di jalanan, tanpa seorangpun membantunya, bahkan saudara-saudaranya yang katanya kaya dan gayanya sok mewah itu tidak ada yang membantunya sama sekali. dia sering dikejar satpol PP dan juga pindah dari satu jalanan ke jalanan lain.

Suatu ketika edo sedang duduk di pinggir jalan dengan baju yang robek dan celana yang dekil sambil menatap jalan dengan pandangan kosong, lewatlah seorang pria dengan motornya, “Loh itu kan Edo?” pria itu menghentikan motornya dan memarkirnya di pinggir jalan. “Edoooo..” teriak pria itu sambil mendatanginya, Edo terus menatap dengan pandangan kosong ke arah jalan, “Edo ini gue Edo..” pria itu kini ada di sampingnya, seketika Edo terkejut dari lamunannya.” “Siapa loe..” Sambil berwajah ketakutan “Gue Syarif bro temen kuliah lu..” “Loh Syarif..” wajah Edo menjadi bahagia.

“Jadi lu dipecat dari kerjaan lu ya??”
“Iya bro karena kebodohan gue sendiri..”
“Kenapa sih?”
“Gue bergaya hedonis bro, dan itulah yang buat gue dipecat..”
“Ya ampun..”
“Iya bro gue nyesel..”
“Bagus itu bro orang yang nyesel itu berarti masih punya hati nurani!”
“Iya bro seandainya gue gak ngelakuin semua itu.. seandainya gue gak peduli sama ejekan dari semua saudara gue..” “ah kenapa lu harus peduli sama semua ejekan saudara lu? Toh buktinya sekarang mereka gak ada yang nolong lu kan?” “Ya bro” Edo menitikan sedikit air mata “Sabar ya bro” Syarif menepuk bahu dari Edo, “Ya rif” Kata Edo sambil tersenyum tetapi matanya berair.

Ternyata Syarif adalah seorang Pengusaha besar sekarang dan telah memiliki banyak sekali perusahaan, kemudian dia mempekerjakan Edo sebagai seoarang manajer di salah satu perusahaannya sesuai dengan kualifikasi Edo.

5 tahun kemudian, Edo sudah menjadi CEO dari salah satu perusahaan yang dimiliki oleh Syarif, dia kemudian memberikan pidato sambutan di salah satu acara pemberian bekal bagi karyawan perusahaan tersebut, “Saudara sekalian, dulu, saya pernah melakukan kesalahan.. kesalahan yang terlihat orang lain seperti sepele tapi ternyata sangat besar..”, “Saya mengkredit sebuah mobil, mobil yang mewah.. semua karena saya peduli pada ejekan dari orang lain tentang betapa miskinnya diri saya..” “Lalu saya jatuh dalam lingkaran kegilaan yang besar, yang membuat saya menjadi gila dan serakah, gaya hedonisme merasuki saya, saya begitu gila akan harta yang saya miliki, yang sebetulnya bahkan bukan milik saya, karena semua itu hasil hutang..” “Tapi saya tidak pernah menyadari itu dan malah menjadi sombong, merasa harta yang bukan milik saya itu seolah milik saya, dan itu yang mengawali kejatuhan saya saat itu..” “Jadi saudara sekalian.. jika anda mau sukses, mau jaya dan mau menjadi hebat.. bukanlah dengan apa yang bisa anda sombongkan.. bukan.. yang harus anda lakukan adalah berbuat baik.. berbuat baik dan terus berbuat baik., tak peduli berapa orang yang memusuhi atau melecehkan anda, teruslah berbuat baik.. dan anda akan sukses, sukses menjadi orang yang berguna bagi orang lain, itulah yang akan membuat anda tercatat dalam sejarah dan bukannya harta anda..” “Dan itulah yang dilkukan juga oleh pak Syarif, sahabat saya..” kemudian disambut dengan standing applause dari semua yang hadir di situ, Syarif tersenyum bangga.

Cerpen Karangan: Ananda Syahendar
Facebook: Ananda Syahendar
penulis sekarang aktif sebagai penasehat politik, sekaligus politisi senior partai Gerindra.

Cerpen Si Sombong Edo (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Di Balik Doa

Oleh:
Hari ini mulai ku tulis sebuah alur hidupku yang banyak melibatkan air mata. Tentang pahitnya menghadapi kenyataan yang sebenarnya harus selalu aku lewati, Memohon agar dapat diberikan umur yang

Maafku Untuk Kakek Tua

Oleh:
Pagi itu aku tengah berjalan untuk pergi ke sekolah, dari jauh kulihat seorang kakek yang sedang meminta-minta. Aku pun membuka sakuku untuk mengambil handphone, lalu sibuk memainkannya, dan tak

Tanya

Oleh:
Tanya diam terpekur, matanya nanar menatap kabut. Ada sesal dalam hatinya dan ada sedikit kesenangan di dalamnya. Menyesal telah mengkhianati hatinya dan senang telah membalas kesal masa lalunya. Dulu

Allah SWT Memang Maha Adil

Oleh:
Dari selembar kertas kutulis pengalamanku yang membuatku menangis. Menangis deras untuk sebuah benda yang hilang. Betapa pentingnya benda itu untukku dan keluargaku. Benda itu hanyalah sebuah hp dan sebuah

Takdir Sukri

Oleh:
Hilir mudik, mondar-mandir, semua bergerak berusaha mengejar roda putaran waktu yang bergulir dengan sangat cepat, pepatah bahwa waktu adalah uang, waktu adalah seperti pisau yang memiliki 2 mata yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *