Siapa?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 24 June 2019

“HEH! balik lo tolol!”

Aku menengok ke sumber suara. Laki-laki jangkung berdiri di sana, siapa sangka bahwa dengan tampang berandalan ala preman itu dulunya adalah siswa yang mewakili kabupaten dalam olimpiade Astronomi. Bibir kehitaman karena terlalu banyak merokok mencibir. Seketika suara tawa teman-temanku berhenti.

Aku buru-buru berdiri dan merogoh kantung jaket abu-abu usang yang kubeli saat SMP, empat tahun lalu kira-kira. Mencari uang recehan sesusah payah mendapatkannya.

Laki-laki tadi kembali berteriak, “cepetan!” dari ekor mataku terlihat ekspresi teman-temanku. Ada yang agak takut juga malas. Wajar saja, sekarang baru pukul delapan, dan remaja berumur 17 tahun sepertiku sudah disuruh pulang, disamperi bahkan.

“uangnya aku ganti besok aja, Dinn. Maaf.” kataku ke Dinna, cewek berdandanan modis yang juga satu sekolah denganku. Uang sebesar lima ribu rupiah yang tadi kupinjam untuk membeli siomay. Tidak tahan rasanya melihat mereka makan saat aku belum makan apapun dari siang hari.

“Iya Dee, sans aja.” setelah membalas senyumnya buru-buru aku menyamperi Doni. Yang dengan cepat berjalan di depanku. Kaki pendekku berusaha menyeimbangi langkah lebarnya.

“bilang tuh ama bapak ibu lo! Kalo mau nyuruh lo pulang jangan pake gue!” Doni mengerutu, “nyusahin!”
“maaf.” Doni mendengus, jari-jarinya memasukan lintingan rokok.

Aku disuruh pulang pasti untuk gantian menjaga atau membantu belajar Aditya (adikku yang kelas 8). Namun jika bukan dia dengan apa aku disuruh pulang? Hp jadul di jaket ini satu-satunya barang kepunyaanku dari hasil sendiri. Bukan seperti ponsel teman-temanku tadi yang keren canggih serta diberikan oleh orangtua mereka. Kulihat ke belakang, sebagian dari mereka kembali bersenda gurau, sisanya lagi pasti membicarakanku.

Biar saja. Untuk apa mendengarkan kata-kata orang? Belum tentu orang itu ingin mendengarkanmu juga.

Bell kembali berdering. Buru-buru aku memasukan pulpen standar ke dalam rok agar tidak hilang. Dengan meminta remaider plastik berwarna hijau dari Nurul –teman sebangkuku– kutempelkan di atas halaman buku tulis matematika. Kucocokan juga catatan tadi dengan milik Nurul, siapa tahu ada yang terlewat.

Dan dari telingaku. Kudengar anak-anak sibuk membahas harga sepatu asli yang didiskon besar-besaran di suatu mall. Ada yang tidak percaya, ada juga yang memastikan akan ke sana akhir pekan ini.

Rasanya enak seperti mereka. Seperti tidak memikirkan apa-apa, tinggal meminta, lalu diberikan. Sejujurnya aku iri. Boro-boro pergi bermain, istirahat sejam saat aku kerja di warteg besok saja untukku sudah mengilangkan penat.

Topik beralih ke yang lain, tapi tetap saja membawa uang. Mulai dari harga tiket konser, jadwal bioskop, hingga liquid vape dan aroma sisha.

Aku keluar kelas. Nurul sudah duluan karena ada keperluan. Dinna mengabarkanku untuk ketemukan di koridor penyambung kelas saja. Jaraknya sama-sama seimbang antar kelas kami. Sorak ramai murid SMA terdengar nyaring, dan untukku ini seperti sesuatu yang malas kudengar.

“Dinn.” dengan novel di tangannya. Dinna menoleh, lalu kembali menatap ke bawah ada anak-anak basket di sana. Dan setahuku dia juga harus latihan cheers. Kurogoh kantung baju putih lusuh. Aku menyodorkan, “ini Dinn.”
Dinna menggeleng. “nggak usah Dee.”
“tapi kan ini uang kamu.”
“buat lo aja.”
“aku nggak perlu dikasihani.” kutaruh saja selembar uang tadi ketangannya. “itu punya kamu.”
Dinna menghela nafas. Sebelum berbicara dia menggigit bibirnya. “sejujurnya gue agak takut lo main sama kita-kita, Dee. Maksud gue… bukan semalem aja lo disamperin Bang Doni. Sebelum-sebelumnya juga udah, bahkan sampe narik-narik lo.”
“Nggak apa-apa Dinn, lagipula aku ini kan yang dimarahin? Kamu nggak salah apa-apa kok.” aku tersenyum.
“sorry Dee, maksudnya gue tuh, duh gimana ya…”
“iya.”
Diam sebentar.

“btw, lo enak ya, punya keluarga yang masih sayang sama lo, perhatian gitu. Enggak kayak gue, Dee. Boro-boro disamperin, ditelepon aja nggak pernah.” Dinna terkekeh, tapi ada bias di matanya.
“Lo pasti malu emang disamperin kayak gitu, abang lo pake kata-kata kasar lagi. Padahal kan masih jadi hak lo untuk bermain dan bersosialisasi. Lagipula tiap kita main malem nggak cuma main kan? Kita belajar bareng, bahkan kadang elo yang jadi gurunya.
“Tapi enak ya? Lengkap.”
Aku diam.

Mungkin maksudnya lengkap penderitaanku. Ibu yang selalu marah-marah, bapak yang dulunya karyawan terkena PHK dan memutuskan mengojek berpenghasilan rendah, kakak yang berubah menjadi monster setelah menjadi malaikat dan mengorbankan cita-citanya menjadi astronot. Serta adik yang entah bisa mendapatkan ijazah SMA atau enggak.

Aku memainkan jariku, sikap-sikap saat gelisah. “sejujurnya aku yang iri sama kamu Dinn, kemana-mana ada yang nganter walaupun cuma ojek online. Makan setiap pagi ada di meja. Tiap weekend jalan sama temen sampe nggak inget waktu.” dan gantian aku yang terkekeh dan Dinna yang diam. “kalau aku jadi kamu, untuk apa aku iri ke orang bernama Dee?”
“walaupun ortu lo pisah dan sibuk kerja?”
“kata orang sih, kita cuma perlu bersyukur.”
“dan cara bersyukur tiap orang beda-beda, contohnya elo yang sabar banget.” aku? Sabar? Siapa bilang?
Sayangnya aku cuma bisa diam sembari membenarkan ucapan Dinna. Setiap orang punya cara bersyukurnya masing-masing entah sekecil apa yang Semesta berikan.

Aku melanjutkan, “maka dari itu Dinn, kadang aku bingung siapa yang pantas aku cinta dan siapa yang patut aku benci.”

Cerpen Karangan: Aulia Roz
Cuma pelajar SMA

Cerpen Siapa? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sore

Oleh:
Hari yang melelahkan. Seharian ini penuh dengan agenda kantor. Pagi tadi rapat dengan Bapak Kepala Institusi Statistik, siangnya melatih instruktur petugas pencacahan sensus penduduk yang tinggal beberapa bulan, sorenya

Bukti Kecantikan

Oleh:
Siswa-siswi SMA Harapan 45 Surabaya berhamburan dari ruangan kelas yang berderet di setiap lorong bangunan. Jam pulang sekolah selalu dinanti oleh setiap siswa di dunia. Ada seribu satu rencana

Kisah KiKi

Oleh:
Namanya Kiki, umur 16 tahun, sekolah kelas XII di SMA Tunas Harapan. Doi anak tunggal, alias semata wayang dan sebatang kara. Hehehe, soalnya papi-maminya terlalu sibuk dan jarang ada

Impian (Part 2)

Oleh:
Pesawat yang aku tumpangi sedang lepas landas. Alhamdulillah pesawat yang aku tumpangi lancar sampai Jepang. Ku segera turun, tiba-tiba ada seseorang yang bertanya kepadaku. “Apakah anda Cici Nuraeni?” tanyanya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *