Siapa Malingnya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 8 September 2017

“Mas, boleh minta tolong ndak?” Seorang laki-laki berbadan tinggi besar menghampiriku di pos ronda. “Minta tolong apa ya?,” Aku meminta penjelasan. “Itu, bantuin saya ngangkat kayu ke mobil.” Kata laki-laki itu sambil menunjuk ke arah pekarangan kosong. Aku pun tanpa basa-basi langsung menyetujui permintaannya. Di pekarangan sudah berdiri dua orang lainnya.

Setelah selesai menolong laki-laki berbadan tinggi besar itu aku kembali ke pos. Tiba-tiba hujan lebat turun, aku bergegas pulang. Sepanjang jalan aku masih bertanya-tanya mau dibawa ke mana kayu-kayu itu malam-malam begini hujan pula. Sudahlah, buat apa aku pikirkan bukan urusanku. Aku tertidur pulas sampai pagi.

Siang hari sepulang dari sawah aku melihat pemandangan yang tidak biasa. Banyak orang berkerumun di pekarangan kosong yang semalam. Ada beberapa polisi sibuk memasang police line di sekitar pekarangan. Aku sandarkan sepedaku di pagar tetangga. Rasa penasaran membuatku mendekati kerumunan itu. Riuh sekali suara bisik-bisik orang membicarakan sesuatu. “Ada apa ini?” Aku bertanya pada Pak Karyo. “Itu lho, kayu-kayu milik pak Harto yang baru ditebang kemarin dicuri orang.” Jawab Pak Karyo terbawa emosi. Oh, ternyata kayu pak Harto dicuri orang. Hah, apa? Dicuri? Tadi malam aku ikut mengangkat kayu-kayu itu. Waduh, bagaimana ini? Apa aku juga akan dipenjara.

Aku cepat-cepat mengambil sepedaku lalu meninggalkan tempat itu. Napasku terengah-engah. Sampai di rumah sepeda aku sandarkan begitu saja. Rasa takut terus menghantuiku. Ya Allah, aku harus bagaimana. Kenapa aku malah membantu pencuri-pencuri itu. Harusnya aku berjaga supaya kampung ini aman dari maling. Petugas keamanan sepertiku dengan mudah ditipu maling.

“Tarjo, kamu dipanggil pak dukuh. Berkumpul di pekarangan kosong milik pak Harto.” Teriak mbok Yem padaku. Ada apa ini? Apa orang-orang sudah tahu kalau aku ikut membantu para pencuri itu? Aku buru-buru menuju pekarangan dengan kepanikan. Aku serahkan semuanya padaMu ya Allah. Aku tidak tahu apa-apa.

Sudah banyak polisi di tempat itu. Di pojok lapangan aku lihat seorang polisi sedang berbincang serius dengan pak Karyo. “Pokoknya Pak, para pencuri itu harus ditangkap. Bisa-bisa bukan cuma kayu pak Harto yang hilang. Tapi kayu milik semua warga di sini juga dicuri.” Pak Karyo terus ngotot agar polisi segera menangkap para pencuri.

“Selamat siang saudara Tarjo.” Aku sedikit terkejut ketika seorang polisi menghampiriku. “Iya, se.. se.. selamat siang, Pak.” Aduh, aku takut sekali. “Boleh saya minta waktunya sebentar. Hanya untuk memberikan beberapa keterangan yang kami perlukan.” Lanjut polisi itu. Aku hanya mengangguk lalu mengikuti pak polisi ke pojok pekarangan tempat Pak Karyo berdiri. “Saudara, Tarjo apakah Anda berada di lokasi saat pencurian malam itu?” Polisi memulai interogasi. “Saya di pos ronda, Pak.” Jawabku berusaha tenang. “Alaah… Dia pasti tahu siapa para pencuri itu, Pak. Dia pasti juga terlibat dalam kasus ini. Malam Rabu kemarin dia kan jatah ronda. Bagaimana mungkin tidak tahu tentang pencurian kayu pak Harto.” Tiba-tiba pak Karyo menunjuk-nunjuk ke arahku dengan penuh amarah. “Saudara Tarjo, tolong bantu kami dengan memberikan keterangan yang sejujurnya tentang apa yang Anda lihat malam itu.” Polisi masih berusaha mencari tahu tentang kesaksianku. “Jadi, malam Rabu kemarin saya sedang berjaga sendiri di pos. Lalu datanglah seorang laki-laki berbadan tinggi besar menghampiri dan minta bantuan saya untuk mengangkat kayu. Saya tidak ada rasa curiga karena saya pikir dia itu juragan yang membeli kayu pak Harto. Setelah itu saya pulang karena hujan lebat turun.” Tuturku menceritakan kronologi malam itu. “Baiklah, untuk sementara cukup. Apabila nanti ada perkembangan kasus dan kesaksian Anda kami butuhkan, kami akan menghubungi saudara Tarjo kembali. Terima kasih.” Polisi menyudahi interogasi sambil menjabat tanganku.

Sepanjang hari hanya para pencuri kayu yang jadi trending topic di kampung kami. Aku juga ikut dalam perdebatan warga kampung. Ada yang ikut terprovokasi pak Karyo bahwa aku terlibat namun masih ada pula yang membelaku. Ya Allah, mumet kepalaku ini. Belum kawin sudah tercemar begini, bagaimana aku bisa laku di kalangan gadis desa. Terserah saja pendapat orang aku yakin aku tidak akan masuk penjara. Aku ini Tarjo, pemuda baik-baik mana mungkin ikut komplotan pencuri. Biar pihak berwajib saja yang mengungkap masalah ini.

“Kepada seluruh warga kampung diharapkan berkumpul di pekarangan kosong pak Harto. Ada pemberitahuannya penting tentang kasus pencurian kayu. Terima kasih.” Seseorang menyiarkan lewat pengeras suara masjid mengumumkan kepada seluruh warga untuk berkumpul. Aku berlari menuju lokasi dengan harapan aku tidak akan masuk penjara. Aku berdiri paling depan di antara kerumunan warga. Sementara pak polisi didampingi pak dukuh mengumumkan hasil olah TKP penyidik dan bukti-bukti yang terkumpul bahwa aku tidak dipenjara. Para pencuri itu sudah tertangkap dan salah satu diantaranya adalah anak pak Karyo. Semua orang tercengang mendengar pengumuman tadi. “Oalah, ternyata malah anak pak Karyo sendiri yang maling kayu. Kemarin menuduh Tarjo yang maling kayu. Gusti Allah memang tidak tidur. Yang bersalah akhirnya terkuak juga.” Mbok Yem menepuk-nepuk pundakku.

Pak Karyo pulang dengan wajah layu menahan malu. Siapa sangka malingnya adalah anaknya sendiri. “Jadi, bapak-bapak ibu-ibu sekalian kita sudah tahu siapa malingnya. Jangan diperdebatkan lagi. Tidak perlu mengolok-olok yang belum terbukti. Sudah bubar, bubar…,” Pak dukuh membubarkan warga.

Cerpen Karangan: Dwi Indarti
Blog: Pena Tuna (dwiindarti2992.wordpress.com)

Cerpen Siapa Malingnya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Racun Dari Negeri Bidadari

Oleh:
Aku datang ke desa ini dengan penuh rasa kekhawatiran. Stigma negatif pun menghantui pikiran. Desa Teluk Kecimbung namanya. Desa yang terletak di Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi ini, masih menyimpan

Sebuah Pertanyaan (Part 1)

Oleh:
Aku masih termangu di basecamp PMR ketika malam mulai meniupkan nafasnya yang dingin menggigit. Acara besar menanti besok, namun hujan belum juga berhenti. Kubetulkan posisi jaket yang aku gunakan

Pukul Sembilan

Oleh:
Lelaki yang di seberang sana itu, memakai pakaian seperti yang kukenakan saat ini. Mungkin dia copet juga. Masa semua copet berpakaian sepertiku? Tapi pakaian yang dikenakannya itu terlihat mahal.

Cinta

Oleh:
Aku tak sengaja melihat rasa cinta yang benar-benar cinta sore tadi. Aku melihat seorang anak berumur 13 tahun bermain sepak bola dengan semangatnya. Dia bermain dengan kami, para pemuda

Manusia-Manusia Trotoar

Oleh:
“Pak, Bu, Mbak! Tolongin ibuku, Mas! Kumohon! Aku nggak bohong.” Orang-orang masih saja lalu lalang melewati trotoar depan minimarket itu. Seorang gadis kecil semakin keras menangis sambil memeluk ibunya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *