Sihir Kata

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Inspiratif, Cerpen Kehidupan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 26 August 2020

Semua ini dimulai dengan musim panas tanggal 23 Juni di kotaku. Dan layaknya kota-kota besar pada umumnya, jalanan selalu ramai dan padat kendaraan. Menjelang siang, panas matahari semakin menyengat. Aku rasa, ini adalah hari terpanas sepanjang tahun. Dan aku berani bertaruh, tak ada yang mau melewati hari yang begitu panas dengan berdiri di pinggir jalan sambil meminta sumbangan. Kecuali kami. Ya, aku dan teman-teman kuliahku sedang menggalang dana untuk para korban tanah longsor di wilayah Grobongan. Tak ada yang mendorong kami untuk melakukannya selain rasa peduli dan rasa persaudaraan yang kami rasakan terhadap para korban.

Bencana tanah longsor memang baru saja melanda wilayah Grobongan, tepatnya di daerah Banjarkulon. Tak main-main, bencana yang ditimbulkan tidak lain karena pengerukan tebing ini mampu mengubur hingga hampir satu desa. Korban yang meninggal tak terhitung. Bahkan masih banyak korban yang dinyatakan hilang dan belum ditemukan hingga sekarang. Tawa anak-anak yang berlarian di dekat tebing kini digantikan dengan erangan kesakitan dan tangis dimana-mana. Bukan karena melihat tempat bermain mereka sudah tak ada atau rumah mereka sudah terkubur dengan tanah. Tapi karena melihat keluarga mereka terbujur kaku, dengan tanah basah yang menyelimuti seluruh tubuh. Atau bahkan karena mereka kini sendirian lantaran keluarga mereka hilang ditelan bumi. Dan tak akan pernah kembali.

Setelah mendengar kabar bencana itu, beberapa hari setelahnya, aku dan teman-temanku langsung berinisiatif untuk menggalang dana. Puncaknya, kami sepakat terjun ke jalanan untuk melakukannya. Dan hari itu, adalah hari pertama. Berat memang. Seperti yang telah kukatakan tadi, hari itu sangat panas. Namun, hari sepanas apapun tak akan mampu membuat kami menyerah.

Saat lampu merah menyala, kami segera turun untuk meminta sumbangan ke para pengendara motor dan mobil yang terhenti. Terkadang, kami juga terjun ke toko-toko pinggir jalan dan pedagang kaki lima yang kami lalui. Ada yang memberikan sejumah koin, ada yang menolak dengan mengacungkan tangan, dan adapula yang pura-pura tak melihat, tak peduli. Mungkin mereka lebih menyayangi uang mereka daripada menyumbangkannya walau sedikit.

Hari semakin siang, kami akhirnya berkumpul dan memutuskan beristirahat sejenak.
Kami mulai menghitung dan mengira-ngira jumlah hasil galangan dana. Salah satu temanku mengeluh tertahan.
“Aku tak percaya dari semua orang yang ada disini kita hanya dapat sejumlah ini.” ucap Rio, salah satu pemimpin kegiatan ini.
“Orang-orang yang kutemui kebanyakan hanya tersenyum dan mengacungkan tangan. Entah karena mereka memang tak punya uang. Atau suasana panas ini penyebabnya.” ucap Elly, teman sejurusanku.
Beberapa temanku tertawa mendengar ucapan Elly. Yang lain ikut menimpali.
“Orang yang menyumbang kebanyakan juga memberikan recehan. Aku rasa mereka hanya ingin menyingkirkan recehan mereka yang terlalu banyak dan membuat beban.” ucap yang lain.
“Ayolah kawan, kita harus mensyukuri apa yang kita dapat. Jangan malah mengeluh, atau kita tak akan dapat yang lebih dari ini. Ingat niat awal kita. Kita ingin menolong bukan?” ucapku mengakhiri keluhan yang lain.
“Rani benar. Sudahlah, mari kita cari masjid untuk sholat. Sekarang sudah masuk waktu dzuhur.” ucap Rio.
Kami sepakat dengan ucapan Rio. Segera kami berbenah, membawa semua barang termasuk kotak sumbangan, dan mencari masjid untuk sholat.

Setelah beberapa kali berkeliling, kami akhirnya menemukan sebuah masjid yang letaknya agak jauh dari tempat kami menggalang dana.
“Tunggu siapa yang akan menjaga kotak-kotak kita?” tanya Bagas.
“Kita sholat bergantian saja.” Edo memberi usul.
“Tidak, kalian sholat dulan saja. Aku sedang berhalangan jadi tidak sholat. Aku akan menunggu diluar sambil menjaga kotak-kotak sumbangan.” ucapku.
“Aku akan menemani Rani, aku juga sedang berhalangan.” ucap Elly.
“Baiklah, Rani dan Elly yang akan menjaga kotak-kotak sumbangannya. Yang lain segera masuk dan sholat.” ucap Rio.
Aku dan Elly segera menyusun kotak-kotak sumbangan agar tertata rapi. Dan duduk di samping kotak-kotak itu sambil menunggu teman kami yang lain selesai sholat. Hingga tiba-tiba perutku mendadak sakit.

“Elly, aku ke toilet dulu ya.” ucapku pada Elly yang tengah sibuk bermain gadget.
Elly diam saja, tak bergeming. Dia asyik menyentuhkan jarinya ke layar gadget sambil terus tersenyum.
“Ell, kamu dengar tidak?” tanyaku.
Elly hanya menjawab dengan deheman pendek. Karena tak tahan lagi, aku segera menuju ke toilet. Menyerahkan semua tanggung jawab atas kotak-kotak sumbangan ke Elly. Sebenarnya aku tak begitu yakin, mengingat dia hanya menjawabku dengan deheman pendek. Tapi mau bagaimana lagi. Aku juga tak bisa begitu saja mengabaikan rasa sakit di perutku.

Setelah semua rasa sakit hilang. Aku mulai berjalan ke teras depan masjid, tempat semua kotak sumbangan berada. Sebenarnya, aku harap-harap cemas terhadap kotak-kotak sumbangan itu. Saat aku sampai di teras depan, betapa terkejutnya aku. Ada seorang wanita berbaju hitam yang tengah melakukan sesuatu dengan kotak-kotak sumbangan! Entahlah, dia terlihat memegang dan memeriksa kotak-kotak sumbangan itu. Dan parahnya, tak ada Elly yang menjaga di sana. Entah dimana dia sekarang. Aku berusaha mengejar wanita tadi, tapi aku kalah cepat. Saat aku sampai persis di depan kotak-kotak sumbangan, wanita itu telah pergi jauh, masuk ke dalam masjid.

Aku segera memeriksa uang sumbangan yang ada di salah satu kotak. Dan setelah kuperiksa, ternyata tak ada uang yang hilang atau berkurang, uangnya tetap utuh tak tersentuh sedikitpun. Kira kira apa yang telah dilakukan wanita itu barusan? Siapa dia? Dan kenapa dia tidak mengambil uang sumbangan? Lamunanku seketika membuyar, dan pikiranku segera tertuju ke Elly. Kemana anak itu? Ingin rasanya aku memarahi anak itu sekarang. Bisa-bisanya dia meninggalkan kotak-kotak ini begitu saja!

Sekarang aku memutuskan berhati-hati. Aku membawa uang sumbangan yang terkumpul dan mulai mencari Elly. Aku mulai berkeliling di lingkungan masjid, melihat segala sisinya. Siapa tahu anak itu ada di sana. Elly bisa berada dimana saja.

Dan begitu terkejutnya aku ketika menemukan Elly sedang berjalan sambil senyam senyum menatap gadgetnya di samping masjid.
“ELLY!” panggilku.
“Oh, Hai Rani. Eh, Ran. Kamu pasti tidak akan menyangka aku bertemu siapa hari ini. Aku bertemu artis Ran! Artis!” Ucapnya antusias sambil memamerkan foto selfienya dengan seorang wanita berbaju hitam.
Amarahku seketika padam. Wanita itu, serasa tak asing. Dan tiba-tiba aku teringat sesuatu.
“Wanita itu! Wanita itu yang tadi melakukan sesuatu dengan kotak sumbangan kita Elly!” ucapku.
Elly tampak kebingungan mencerna kalimatku.
“Kotak sumbangan? Maksudmu?” tanya Elly.
“Saat aku kembali dari toilet, aku melihat wanita berbaju hitam melakukan sesuatu dengan kotak sumbangan kita. Entahlah, seperti memegangnya dan memeriksanya. Lalu pergi begitu saja. Tapi, untungnya setelah kuperiksa tak ada uang yang hilang, masih utuh. Apa kau yakin dia artis?” tanyaku memastikan setelah menjelaskan panjang lebar.
“Emm, aku tak yakin pernah melihatnya muncul di TV. Tapi wajahnya sangat cantik, bening. Ya, seperti artis-artis!” jelas Elly.
Aku menepuk dahi. Astaga! bagaimana bisa dia menyangka orang-orang yang memiliki wajah menawan pastilah seorang artis?
“Aku juga melihat beberapa orang mengajak berfoto bersamanya.” tukas Ely.
“Sudahlah. Ayo kembali ke teras depan. Ada tanggungjawab yang harus diselesaikan” ajakku.

Dan ketika sampai di teras depan, aku dan Elly benar-benar dibuat terkejut. Bukan karena semua kotak sumbangan kami hilang atau kami mendapati ada pencuri yang tengah beraksi mencuri kotak-kotak sumbangan. Tapi karena kami mendapati banyak orang yang terlihat tanpa ragu memasukkan uangnya ke dalam kotak sumbangan untuk para korban tanah longsor di teras masjid. Bahkan, hampir setiap orang yang masuk dan keluar dari masjid menyumbangkan uangnya ke dalam kotak-kotak itu.

Aku dan Elly segera mendekati kotak-kotak sumbangan. Dan aku kembali terkejut melihat betapa banyaknya uang yang terkumpul. Lihatlah sekarang, bukan hanya pengunjung masjid yang menyumbang. Tukang parkir, tukang becak, bahkan pedagang-pedagang ikut menyumbangkan uang mereka. Apa yang terjadi? Seperti ada sihir yang terjadi. Sekejap semua orang dengan keikhlasan hati menunjukkan rasa empati dan kepedulian mereka. Rio dan teman-teman lain yang baru keluar masjid juga tampak terkejut melihat hal ini. Mereka mengira aku dan Elly yang melakukannya, meminta sembangan ke orang-orang selagi yang lain sholat. Tapi, bukan itu kenyataan yang sebenarnya.

Dan ketika aku hendak menjelaskan tentang wanita berbaju hitam. Mulutku seakan tak bisa mengeluarkan kata-kata. Wanita itu datang. Wanita berbaju hitam itu kembali ke masjid dan entah mengapa aku merasa dia tersenyum kepadaku. Aku segera mengejarnya.
“Tunggu!” teriakku.
Wanita itu menoleh. Benar saja, wanita itu memang wanita yang aku lihat beberapa menit lalu. Dan wanita yang sama yang ada di foto Elly. Elly tak berbohong. Wanita itu benar-benar cantik. Dengan selendang hitam yang mengerudungi kepalanya membuat wajahnya semakin bersinar. Aku terpukau sejenak. Hingga aku kembali tersadar.

“Maaf, namaku Rani. Boleh aku tahu siapa Nona? Dan apa yang Nona lakukan dengan kotak-kotak sumbangan kami?” tanyaku.
Wanita itu hanya tersenyum manis dan menjawab dengan lembut.
“Aku hanya mengganti kata. Mengubahnya menjadi kata yang berbeda, dengan makna yang berbeda pula. Hanya itu.”
Aku mengernyitkan dahi mendengar penjelasan wanita itu.
“Kata? Bagaimana mungkin kata bisa menyihir banyak orang untuk menyumbangkan uang mereka? Kami bahkan membutuhkan waktu dua jam lebih untuk mendapatkan uang satu kotak penuh. Dan hanya dengan kata. Uang yang terkumpul bahkan melebihi dua kotak sumbangan. Bagaimana bisa? Aku masih belum paham” tanyaku kebingungan.
“Ya, kata-kata bisa menyihir orang lain. Apabila disampaikan dengan penuh keikhlasan dan rasa tulus. Kau bisa membuat orang lain jatuh hati, atau menyentuh hati mereka. Hanya dengan kata-kata sederhana yang disampaikan dengan tulus dan segala kerendahan hati. Itulah kekuatan kata-kata. Itulah Sihir Kata.”
Wanita itu tersenyum manis dan pergi meninggalkanku yang mematung tak mengerti. Aku benar-benar masih tak paham dengan ucapannya. Sihir kata? Yang benar saja!

Aku memutuskan untuk kembali ke Elly dan yang lain, meninggalkan semua kebingungan ini.
“Hei, tunggu, aku baru sadar. Siapa yang menempelkan tulisan ini?” tanya Edo yang bingung melihat kertas yang tertempel di kotak sumbangan.
Tulisan itu jelas bukan kami yang memasangnya.
“Aku rasa, tulisan ini yang telah menyentuh hati semua orang untuk peduli. Lihatlah. Kata-katanya sangat menyentuh hati setiap orang yang membacanya. Seperti dapat menyihir setiap orang.” ucap Edo.
Menyihir? Kata? Aku sontak menatap tulisan itu. Menatapnya dengan mata berbinar-binar.

“Kalian bergembira di atas bumi pertiwi, kami tersenyum di balik tanah.” ucapku pelan membaca tulisan itu.
Hatiku langsung serasa meleleh dan tersentuh membaca rangkaian kata itu. Kata-kata yang begitu sederhana namun penuh makna hingga mampu menyihir setiap orang yang membacanya. Membuat mereka sadar, bagaimana jika merekalah yang menjadi korban tanah longsor. Bagaimana jika semua kegembiraan merekalah harus direbut paksa begitu saja. Bagaimana jika merekalah yang harus terkubur dan hanya bisa tersenyum di balik tanah. Kata-kata itu mampu membuka hati mereka, membuka rasa empati mereka dan mendorong mereka untuk jadi lebih peduli terhadap sesama.

Dan aku baru sadar. Wanita berbaju hitamlah yang telah menempelkan tulisan-tulisan ini. Sebelumnya saat melihat wanita itu memegang kotak sumbangan, aku hanya menghawatirkan dana sumbangan di kotak, dan langsung mencari Elly, tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda di kotak-kotak sumbangan itu. Ada yang tertempel disana tanpa kusadari.

Sekarang, entah apakah kami harus kesal karena wanita itu melakukan sesuatu terhadap kotak sumbangan kami tanpa izin. Atau kami justru harus berterima kasih karena dengan apa yang telah dilakukannya, kini kotak-kotak sumbangan kami telah terisi penuh.

Wanita itutelah merangkaikan kata yang mampu membuat hati orang lain tersentuh, dan terpanggil untuk ikut membantu serta peduli. Hanya dengan kata-kata sederhana. Mampu membuat perubahan besar. Mampu menyimpan ribuan makna. Dan mampu membuat keajaiban.

Aku tersenyum. Jadi, itulah maksudnya. Sihir Kata.

Cerpen Karangan: Mila De
Blog: cerpenbuatanku028.blogspot.co.id

Cerpen Sihir Kata merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Maafku Untuk Kakek Tua

Oleh:
Pagi itu aku tengah berjalan untuk pergi ke sekolah, dari jauh kulihat seorang kakek yang sedang meminta-minta. Aku pun membuka sakuku untuk mengambil handphone, lalu sibuk memainkannya, dan tak

Cinta Dalam Hening

Oleh:
Hai… Ketemu lagi sama gue yang super duper unyu-unyu… Haha… #ditimpok batako… Eh.. Balon. Buat para remaja remaji… Pasti tau, pernah, pasti faham kan gimana rasanya jatuh cinta? Nah..

Pintu Taubat (Part 2)

Oleh:
Bulan berganti bulan tak terasa aku sudah membolos kuliah selama kurang lebih enam bulan. peraturan di kampusku apabila ada mahasiswa yang tidak masuk lebih dari enam bulan maka ia

Boneka Beruang Itu

Oleh:
Ashifa Novita Sari, biasa disapa Shifa, memandangi sebuah boneka beruang berwarna Pink yang diberikan oleh ayahnya 3 Tahun yang lalu. Ia meraih boneka itu dan memeluknya erat, lalu meneteskan

Membayar Denda

Oleh:
Siang itu, aku berjalan cemas menuju ruang perpustakaan yang berada di lantai atas sekolahku. Disaat itu juga kupegang erat-erat kartu perpustakaan yang sedang kupegang ini. Kartu dengan pemilik bernama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *