Sima Yang Sial

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 11 October 2017

Pagi itu aku sedang khusyuk mencuci setumpuk pakaian. Tidak, bukan milikku, tapi milik para pelangganku. Lebih jelasnya, aku adalah seorang buruh cuci. Sungguh profesi yang amat melelahkan. Kegiatan sehari-hariku hanya mencuci setumpuk pakaian —dengan tangan kosong karena aku tidak punya mesin cuci— dengan upah yang pas-pasan. Ketika aku kecil dulu aku paling malas mengerjakan pekerjaan berat. Sekarang aku malah menjadi pekerja kasar. Ironis sekali.

Selepas sebagian pekerjaanku beres, aku melangkahkan kaki ke luar rumah. Ke pasar, lebih tepatnya. Aku tak mungkin lupa kalau aku masih butuh nutrisi. Biasanya aku membeli sebungkus nasi dengan lauk seadanya. Padahal dulu aku paling enggan makan kalau tidak dengan ikan ayam. Ah, sungguh sebuah ironi.

Mentari siang ini begitu jahat. Dengan angkuhnya memamerkan sinar teriknya. Apa dia tidak tahu kalau aku kepanasan. Hiruk-pikuknya jalan raya semakin memperkeruh suasana. Mungkin sebentar lagi aku akan dehidrasi. Bahkan telingaku ikut kepanasan dengan gendang telinga yang hampir pecah mendengar klakson yang hampir setiap detik dibunyikan pengemudi kendaraan bermotor. Kalau tahu begini aku akan mengontrak rumah di dekat pasar saja. Atau mungkin mendaftar menjadi TKI, setidaknya nasibku di negara tetangga akan jauh lebih baik. Kadang aku merasa aku ini munafik sekali, seenaknya mengomentari kondisi jalan raya, padahal dulu aku sering ngebut pakai sepeda motor ke sekolah. Padahal waktu itu aku belum punya SIM. Tapi namanya remaja, gengsinya terlalu tinggi.

Pasar yang kutuju ada di seberang jalan. Mataku sedikit berbinar ketika tahu aku sudah sampai. Aku menyeberang dengan tergesa. Perutku sudah keroncongan meminta-minta. Langkahku kupercepat, dan—

Brukk!
Aku merasakan benda keras menghantamku. Kepalaku terasa pening seketika. Mataku berkunang-kunang, lalu semua menjadi gelap, dan aku tak merasakan apa-apa lagi.

Begitu sadar aku berada di ruangan serba putih. Aroma obat-obatan menusuk indera penciumanku. Ah, ini pasti di rumah sakit. Aku ingat sekarang, motor itu melaju dengan kecepatan tinggi dan menabrakku yang menyeberang tidak hati-hati.

“Alhamdulillah, Ibu sudah sadar rupanya!” perkataan seorang dokter muda —kalau kutaksir umurnya sama denganku— sukses menyadarkanku.
“Sepertinya Tuhan masih sangat menyayangi Ibu. Ibu hanya mengalami sedikit lecet. Saya sudah mengobatinya tadi. Ibu bisa pulang jika berkenan,” dokter muda itu menjelaskan panjang lebar dengan bahasa yang santun dan segaris senyum.

Aku memerhatikan dokter muda itu dengan seksama. Kalau boleh jujur aku iri. Dia masih muda dan memiliki karier yang bagus. Dia tampak begitu santun. Dia begitu sempurna dibanding aku yang hanya seorang buruh cuci tak tahu diri. Aku memerhatikan dokter muda itu dari ujung kerudungnya sampai ujung sepatunya. Mataku terpaku pada name tag-nya. Salwa Asy-Syifa.

“Salwa,” hati-hati aku menyebut namanya. Salwa, temanku di SMA.
Salwa mengernyit bingung.
“Ini aku, Sima,”
“Eh… Sima! Lama nggak ketemu, ya?” ekspresinya berubah seketika.
“Iya,”
“Gimana kabar Papa-Mamamu?”
“Mereka sudah meninggal, Sal. Kalau Ibumu, gimana?”
“Alhamdulillah, beliau masih sehat,”
“Kamu sukses, ya, sekarang,” aku memaksakan senyum.
“Alhamdulillah, kamu sendiri kerja apa?”
“Aku cuma jadi tukang cuci,” aku menunduk malu. “Sudah, ya, Sal, aku pulang dulu,” aku rasa ini saatnya mengakhiri perjumpaan tak terduga dengan Salwa.
“Iya, hati-hati di jalan, ya,” Salwa menjabat tanganku. Ia menyelipkan sesuatu ke genggamanku lalu mendorongku ke luar ruangannya.

Aku membuka telapak tanganku ketika keluar dari rumah sakit. Ada selembar uang seratus ribu di sana. Ingatanku melayang ke masa yang lalu. Dulu, aku adalah anak yang pemalas, tidak pernah mau belajar, dan hobinya bikin onar. Berketerbalikan dengan Salwa yang kalem, rajin, cerdas, baik hati, dan senang membantu. Setelah semua yang terjadi, wajar kalau dia sesukses ini.

Benar kata pepatah, “Apa yang kau tanam, itulah yang akan kau tuai.” Seandainya aku bisa membalik waktu. Aku akan berubah menjadi anak yang rajin, aku tak akan lagi membantah nasihat orangtua dan guru-guruku. Tapi nasi telah menjadi bubur. Kini hanya sesal yang kudapat. Berakhir sebagai orang tanpa keahlian tak pernah kubayangkan sebelumnya. Tapi, inilah aku, Sima yang sial.

Cerpen Karangan: Na

Cerpen Sima Yang Sial merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hujan Terakhir

Oleh:
Oktober 2012, 00:25, hujan rintik. Sorotan lampu belajar masih memenuhi meja belajar nya, dia tidak peduli seberapa besar rasa kantuk yang menggelayuti kelopak matanya untuk segera turun mengantongi kedua

Pedagang Kecil

Oleh:
“Naik lagi?” tanyanya dengan nada tinggi penuh penasaran, juga kekesalan. “Yah, hampir segala bahan baku dimonopoli para cukong (tengkulak besar, pen). Permainan harga pada akhirnya dianggap wajar. Hukum rimba

Usap Rambut Ku, Ma

Oleh:
Belaian tangan Ibu sangat dirindukan gadis kecil itu. Ia kesepian, tak hadir sayang yang dia harapkan. Ayahnya sudah wafat lebih dulu dua tahun silam. Hanya Babysitter yang setia menemaninya

Bidadari Hati

Oleh:
Aku terdiam sepi, seperti gurun yang merindukan datangnya sang hujan. Seperti daun yang merindukan datangnya butiran embun di pagi hari. Aku terdiam sepi. Ku coba berjalan, namun langkahku tak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *