Simpanan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 12 January 2014

“ini mas tehnya” ucap Sarah dengan lembutnya pada sang suami, Sarah kemudian duduk di samping suaminya dan menyandarkan kepalanya ke bahu sang suami yang baru saja pulang. Tangan suaminya pun langsung menyambut sandaran Sarah dengan memeluk bahu Sarah sembari sesekali tanganya membelai rambut Sarah yang panjang dan mengelus-elus perut Sarah yang sedang hamil tua.
“Bagaimana keadaan bayi kita”
“Kata dokter, mungkin bayi kita akan lahir beberapa hari lagi mas!”
“Maafkan aku sayang, aku nggak bisa antar kumu ke dokter”
“Nggak apa-apa kok mas, aku juga tahu kalau mas juga sedang sibuk”

Sarah tiba-tiba berdiri pergi menuju dapur dan meninggalkan suaminya yang sedang menikmati teh buatanya.
“Ini mas, tadi aku buat pisang goreng spesial buat mas” ucap Sarah sambil menaruh piring berisi pisang goreng yang masih hangat di atas meja.

Sarah pun kembali duduk di samping suaminya. Tiba-tiba ia teringat saat-saat pertama dia bertemu dengan suaminya. Mereka bertemu pertama kali di sebuah cafe sekitar 16 bulan yang lalu. Sebenarnya pertemuan mereka tidak disengaja. Saat itu Sarah hendak membayar pesanannya tapi ternyata Sarah lupa tidak membawa dompet. Dia tampak bingung mencari-cari dompet di dalam tasnya. Tiba-tiba datang seorang laki-laki yang cukup tampan menghampiri Sarah yang sedang sibuk mencari dompetnya
“Ada apa mbak?” ucap laki-laki yang mengapiri Sarah itu.
“Anu mas, kelihatanya dompet saya hilang!”
Kemudian laki-laki itu mengelurkan kartu kreditnya dari dompet.
“Di bayar pakai ini aja mas” ucap laki-laki yang kini sudah menjadi suami Sarah itu kepada kasir.
Dari situlah Sarah dan suaminya bertemu. Dari kejadian tersebut mereka saling berkenalan dan saling bertukar nomor hp. Dan 6 bulan berselang mereka berdua menjadi suami-istri.

Tiba-tiba hp suami Sarah berbunyi. Sarah pun terbangun dari lamunanya tentang pertemuanya dengan sang suami dulu. Suaminya kemudian berdiri dan mengabil hpnya di dalam saku celananya dan kemudian berjalan pergi menuju ke belakang meninggalkan Sarah yang sedang duduk di sofa.
“Iya-iya mah, papah sebentar lagi pulang, papah sedang di jalan” terdengar lirih kata-kata sang suami di telinga Sarah.

Sang suami kemudian kembali ke ruang tamu. tapi belum sampai sang suami duduk. Sarah sudah mengajukan sebuah pertanyaan.
“Telefon dari siapa mas?”
“dari istriku, aku harus segera pulang, dia sedang mencariku”
Mendengar kata-kata tersebut Sarah hanya bisa diam. Dia menyadari posisinya sekarang, ia hanyalah istri simpanan. Ini adalah resiko yang harus ia terima, ia tak dapat memiliki sang suami seutuhnya. Suaminya hanya pulang ke rumahnya 2-3 hari itu pun hanya dari jam 18:00 sampai jam 21:00 bahkan terkadang hanya sampai jam 19:00.
“kalau begitu aku pulang dulu ya sayang!”
“mas, tapi mas nanti bisakan nungguin aku, kalau aku lahiran?”
“ya..!, kamu berdoa saja semoga mas ada waktu untuk nungguin kamu lahiran”

Sang suami pun masuk ke dalam mobilnya dan bersiap meninggalkan Sarah. Sarah pun melambaikan tanganya dan mobil sang suami meluncur meniggalkan Sarah. Sarah pun kembali masuk ke rumahnya dan mengunci pintu rumahnya dengan hati yang menanggis. Dan kembali menuggu, semoga esok suaminya akan pulang ke rumahnya lagi.

Sebenarnya pernah terlintas di fikiran Sarah untuk hidup normal seperti wanita-wanita lainya. Apalagi wajah Sarah begitu cantik pasti banyak lelaki di luar sana yang ingin mempersuntingnya. Tapi apa boleh di kata ini adalah jalan yang sudah dipilih Sarah apapun yang terjadi dia harus menerimanya. Karena cintanya, hatinya sudah terlanjur luluh, sudah terlajur dibutakan oleh perhatian dan kebaikan yang telah diberikan oleh sang suami.

Cerpen Karangan: Gaddang Arief
Facebook: Arief Van Gaddang

Cerpen Simpanan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tompel

Oleh:
“Dua puluh lima tahun lalu? Tidakkah Bapak ingat?” katanya kepadaku. Ah, usia mengikis memoriku. Aku bahkan sudah lupa kapan aku lahir. Hal terakhir yang aku ingat adalah hari wafatnya

My Ears Feel You

Oleh:
Hantaman bom dan suara tembakan pistol dari kompeni seakan terbiasa terdengar di telinga gadis muda yang buta bernama sekar, perawat para tentara pribumi itu, dia dengan cekatanya menemukan luka

Orang Dewasa Pembolong Pelipis

Oleh:
Aku heran mengapa mereka sibuk sekali saling tuding menuding. Mereka suka sekali bersikap kasar padaku dan pada teman-temanku. Mereka suka memukul, menendang dan apapun yang mereka lakukan pasti bersifat

Semata Kamu

Oleh:
Kamu tau kan kalau coklat itu rasanya manis, tapi sayangnya cuma sebentar. Lain halnya dengan perasaanku sekarang, untung saja hatiku bukan coklat atau kue yang nikmatnya sesaat karena aku

Maaf.. Aku Bukan Penculik!!!

Oleh:
Sudah dari kemarin, sepanjang jalan aku keliling mencari gelas plastik, botol plastik atau apa saja asalkan plastik. Atau mungkin kalau lagi beruntung saya dapat besi-besi bekas. Tentu tidak gratis,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Simpanan”

  1. lify says:

    Sama seperti yg aku alami saat ini…

Leave a Reply to lify Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *