Simpul Senyum di Dusun Bengalun

Judul Cerpen Simpul Senyum di Dusun Bengalun
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Daerah, Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 14 June 2016

Sebagai hati yang tertinggal di dusun bengalun, ada simpul senyum yang menanti di seberang lautan sana. Sudah dua hari Renita habiskan waktunya untuk menganyam. Daun pandan kering yang entah ingin dia bentuk seperti apa. Hanya lamunan yang tergambar jelas dari dirinya. Perempuan berdarah dayak – banjar itu sedang dalam himpitan pilihan yang penuh dilema. Mengabdi tetap di desanya atau melanjutkan gelar magister sebagai mahasiswi beasiswa berprestasi di kota Metropolitan. Di tempat kelahirannya wanita yang akrab disapa Rene itu sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Satu-satunya perawan desa yang memiliki pendidikan tinggi dan sangat dicintai oleh anak-anak desa di lingkungannya. Sekolah jabuk yang hampir roboh adalah tempat sehari-hari rene mengahbiskan waktu setelah gelar sarjana telah disandangnya.

“Konbalmu dino?, ngakan kow baya jama’ mu”
“Mino koy ma”
Sepertinya ibu rene pun mengkhawatirkan keadaan batin anaknya yang sedang bingung menentukan sikap masa depannya. Makan pun menjadi terabaikan oleh rene.

Seminggu berlalu. Pagi ini terlihat lebih cerah dari biasanya, ada pelangi setelah hujan rintik subuh tadi. Mungkin itu juga membantu mood rene untuk masuk sekolah dengan senyum dan semnagat yang lebih sumringah.
“Selamat pagi anak-anakku”
“Selamat pagi bu reneeeeeeeeeee”
Memulai pelajaran bersama muridnya rene sekalipun tidak menunjukan pertanda bahwa dia akan berpamitan. Hari itu memang menjadi hari terakhir rene menjadi guru disana. Dengan segala rembuk bersama orang tua dan kepala sekolah, rene meminta kepada kawannya sewaktu study S1 untuk menggantikannya mengajar. Awalnya agak sulit namun setelah mengiba dan meyakinkan, kawannya mengiyakan untuk mengabdi menggantikannya di desa tengah rimba tersebut.

Tangis anak-anak pecah seketika, memeluk rene erat dari segala sisi. Tidak ada lagi komunikasi resmi di antara mereka seperti di kelas, dengan rengekan anak-anak bicara menggunakan bahasa daerah meminta rene jangan pergi.
“ditu koy bu, pai kow makow ngaa”
“si ulun ngajar damon minoo”
Anak-anak mencerca rene dengan berbagai pertanyaan sambil menangis.
Rene pun tak kuat lagi menahan air matanya yang sejak tadi mengendap di kantong matanya.

Hari ini rene pulang dari sekolah lebih cepat dari biasanya. Memastikan kembali bahwa barang bawaanya untuk segera bertolak ke Jakarta tak ada yang terlupa. Abah dan ina’ rene akan mengantar hingga ke kabupaten, begitupun kepala adat yang sangat menyayangi rene layaknya anak kandung turut mengantar rene kepelabuhan speedboat.
Selain sedih meninggalkan anak muridnya, rene pun terasa sedih harus meninggalkan orangtua dan kampung halamannya dalam waktu yang cukup lama. Rene akan mengikuti perjalanan yang lama, setelah naik speadboad dari kabupaten menuju kota, ia akan 2x transit penerbangan.

2 tahun sudah rene menjalani masa studynya di Jakarta. Melepas rindu hanya lewat panggilan telefon dengan sanak keluarganya. Malam itu, rasanyan ingin rene memeluk ibunya sambil melepas penat di dada selama masa perjuangannya di perkotaan.
Tak jarang makan menjadi sesuatu yang harus dia pertimbangkan untuk berhemat karena keterbatasan dana hidup yang sering terlambat dari provinsinya. Penuh dengan suka duka.
“Ren, tuh hape lo bunyi mulu angkat napa”
“Lagi malas ngomong lis, besok juga ketemu di kantor”

Selama di Jakarta rene memiliki kekasih bernama Jordan. Lelaki putih bersih berbadan tinggi yang merupakan kepala kantor media massa tempat Rene bekerja sebagai penulis berita. Mereka menjalin hubungan sekitar 15 bulan.
Begitu banyak pertimbangan rene dalam menjalani hubungannya itu. Bukan soal restu orangtua. Soal perbedaan budaya dan cara pandang masa depan yang berbeda. Sisa masa study rene yang hampir beberapa bulan lagi membuat mereka sering bertengkar ketika membahas planning ke depan.
Jordan yang ingin membawa rene dan orangtuanya hidup di jakarta setelah menikah dan rene yang ingin pulang kembali mengabdi didesanya. Keinginan yang sama baiknya namun penuh dengan dramatis.
“Kenapa semalam telfonku gak diangkat ren?”
“Aku ngerjain tesis, dikit lagi soalnya semalam udah kelar”
“Ibu manggil semalam makan di rumah katanya kangen sama kamu”
“Iya besok ya kalo aku udah lega sama hasil”
Saat ini sama dengan beberapa tahun ketika rene harus menentukan sikap untuk lanjutkan study. Rene pun harus menentukan sikap tanpa harus menyakiti Jordan kekasihnya.

Jordan tampak bahagia menanti kedatangan orangtua rene di bandara. Sengaja rene tak ikut serta karena sudah menyiapkan penyambutan bagi orang tua kesayangannya itu. 3 hari lagi wisuda rene, sekaligus acara lamaran Jordan kepada rene. Ini akan menjadi moment kebahagiaan bagi rene terutama orangtuanya. Menyaksikan anaknya mendapatkan gelar baru dan menjadi kebanggan orangtua bahkan semua warga dusunnya, sekaligus melihat anaknya dilamar oleh lelaki yang baik dan sukses seperti Jordan.

Hari bahagia itu pun tiba. Ditengah meja dan ruang penuh nuansa glamor disajikan Jordan dan keluarganya dalam menyambut rene dan orangtuanya. Tidak ada konflik kasta seperti di sinetron-sinetron meski kebudayaan dan latar belakang sosial keluarga mereka yang berbeda. Semua sangat hangat dan saling menerima. Acara lamaran pun beralangsung romantis dan membahagiakan.

Tiba pula masanya rene melepas rindu pada kampung halamanya. Menggelar acara pernikahan dengan konsep pesta rakyat, seluruh warga dusun turut merasakan kebahagiaan dan keeruntungan rene sebagai putri desa yang dipinang lelaki berkecukupan. Tenanglah rene jika kembali membawa kedua orangtuanya ke Jakarta, Jordan suaminya menghadiahkannya sebidang tanah luas beserta yayasan yang akan segera dibangun rumah belajar gratis bagi anak-anak desanya.
Begitu bahagia dan lega rasanya hati Renita. Simpul senyum itu dapat dia dapat dan bagikan pada seluruh orang yang dia kasihi.

Cerpen Karangan: Sarinah
Blog: sarinahmyr.blogspot.com
Penulis asal kalimantan yang selalu mentok dicerpen karena sibuk jadi aktivis kampus.
Untuk kenal lebih lanjut bisa follow twitter : @inisiales dan instagram : uknomearod
Salam kenal!

Cerita Simpul Senyum di Dusun Bengalun merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Berguna

Oleh:
“Aku tak mengerti mengapa aku tak dapat menjadi orang yang berguna”. Keluh Dian Anin hanya tersenyum seraya menatap Dian, dari tadi ia hanya menanggapi semua keluhan dian dengan senyuman.

Senja di Imajinasiku

Oleh:
Hari sudah mulai malam. “Aku pasti bakal telat karena ekskul ini” gumamku. Tapi aku hanya berjalan santai ke stasiun sambil melihat keadaan kota ini. Jam sudah menunjukkan pukul 5.30

Perjalanan Hidup Ami

Oleh:
Hi, namaku Ami. Aku seorang PRT, janda beranak satu. Ziandra nama anakku. Pendidikanku yang rendah membuatku harus pasrah membesarkan anakku sendirian sambil mengais rezeki demi membesarkan si kecil. Asalkan

Gara-Gara Buruk Sangka

Oleh:
Aku terus berlari tanpa memedulikan panggilan kawan-kawanku yang masih asyik bermain voli di lapangan sekolah. Aku tidak ingin pulang terlambat lagi. Ibuku pasti cemas jika aku belum sampai di

Sore

Oleh:
Hari yang melelahkan. Seharian ini penuh dengan agenda kantor. Pagi tadi rapat dengan Bapak Kepala Institusi Statistik, siangnya melatih instruktur petugas pencacahan sensus penduduk yang tinggal beberapa bulan, sorenya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *