Siti Nurhaliza dari Rantau Panjang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 7 November 2014

Sopir bus masih asyik ngobrol dengan kernetnya meski sudah memasuki pemberhentian terakhir. Pemberhentian terakhir di Sungai Kolok. Sungai Kolok merupakan daerah perbatasan antara Thailand dengan Sungai Golok, Malaysia. Saking asyiknya, penumpang terakhir yang ada di bus itu tidak dihiraukan. Penumpang terakhir yang akan melanjutkan perjalanan ke Kota Bharu, Kelantan, Malaysia, itu pertama kalinya ada di daerah itu, sehingga rasa cemas pun menyelimuti. Dengan sedikit gugup penumpan terakhir berujar kepada sopir, “Turun keimigrasian.”
Mendengar ujaran itu, sopir dengan nada yang datar mengatakan, “Wah seharusnya turun di sana tadi.” Untung sopir itu baik hati sehingga ia mengatakan, “Saya carikan win.” Win kalau di Indonesia adalah ojek. Bus yang menyusuri jalan berlawanan dengan arah keimigrasian itu berjalan pelan. Sayang win yang dicari belum ketemu. Bus pun mendekati garasinya dan akhirnya parkir. “Tunggu di sini dulu,” katanya.

Rasa cemas dari penumpang terakhir belum sirna, jam sudah menunjukkan pukul 08.00 PM. Kecemasan dirasakan sebab bisa jadi keimigrasian tutup sehingga perjalanan ke Kota Bharu tertunda. Tak lama kemudian, muncul scoopy, sepeda motor merek honda masuk ke garasi. Kendaraan roda dua kalau di Indonesia lebih sering dipakai oleh cewek itu ditunggangi dua orang cowok. Dari kejauhan, sopir nampak berbicara dengan cowok yang menyetir scoopy. Tak lama kemudian, sopir itu mendekati penumpang terakhir dan mengatakan, “Kamu diantar orang ini menuju ke imigrasian.”
Dengan buru-buru, penumpang terakhir langsung membonceng di bagian tempat duduk scoopy itu. Gerimis sedikit membawa perjalanan menjadi tak nyaman. Scoopy pun melaju ke kantor keimigrasian Thailand. Mendekati tempat pengecekan, orang yang menyetir scoopy itu berkata, “Passport.” Ia mengatakan demikian agar penumpang terakhir menyiapkan passportnya.

Beberapa menit kemudian, scoopy berhenti di sebuah pos yang mirip masuk jalan tol di Indonesia. Passport penumpang terakhir itu pun diminta oleh penyetir scoopy dan selanjutnya diserahkan kepada petugas. Petugas pun memeriksa tanda masuk antarnegara itu. Rupanya petugas menyarankan agar penyetir scoopy dan penumpang terakhir untuk masuk ke dalam gedung kantor keimigrasian.

Mendapat perintah yang demikian, penyetir scoopy dengan sigap langsung menuju motornya dan penumpang terakhir langsung membonceng. Begitu mesin hidup, sepeda motor itu langsung melesat ke gedung yang dituju. Kendaraan angkut yang praktis itu diparkir tak jauh dari pintu masuk ke gedung keimigrasian. Begitu mau masuk ke tempat itu, penumpang terakhir agak kaget sebab anjing besar duduk di samping pintu. Untung saja anjing itu tak peduli dengan orang yang lalu lalang sehingga ancaman gigitan tak akan terjadi.

Ke sebuah loket, passport itu diserahkan kembali. Petugas dalam loket itu memeriksa buku kecil berwarna hijau itu. Lembaran putih yang menandakan visa habis pada tanggal 18 Januari 2014 pun dilepas dari staples. Selanjutnya passport diserahkan kembali. Penumpang terakhir dan penyetir scoopy pun kembali ke pos pertama. Saat tiba di pos pertama, petugas nampak sedang memeriksa passport tiga orang dari negara kawasan Eropa timur yang melakukan perjalanan dari Thailand ke Malaysia dengan menggunakan sepeda motor. Tahu penumpang terakhir dan penyetir scoopy datang, petugas tadi menyarankan untuk melapor ke kantor imigrasian bagian cap sah. Mendapat perlakuan yang demikian, penumpang terakhir menggerundel, “Waah dipingpong nih.”

Ini aturan negara lain dan harus dihormati, penyetir scoopy dan penumpang terakhir pun menuju ke tempat itu. Bagian yang dituju tidak jauh, jadi cukup dengan jalan kaki. Begitu sampai di loket yang dituju, passport diserahkan. Petugas jaga nampak memeriksa halaman-halaman passport. Setelah itu dicap sebagai bukti sah untuk meninggalkan Thailand.

Sebab sudah tak ada halangan keimigrasian maka penyetir scoopy dan penumpang terakhir segera bergegas menuju motor. Mesin motor dihidupkan dan kemudian melesat. Setelah bergerak sejauh 200 meter. Scoopy itu berhenti tepat di garis batas Thailand dan Malaysia. Penyetir scoopy itu mengatakan, “Sampai di sini ya.” Berhenti di sini menunjukkan saya sudah selangkah lagi masuk Malaysia. Dompet kuambil dan kutarik uang 5 ringgit, mata uang Malaysia itu juga bisa digunakan di wilayah perbatasan kedua negara, dan kemudian kusodorkan kepadanya. Penumpang terakhir pun mengucapkan terima kasih. Penumpang terakhir sendiri tidak tahu, apakah uang itu lebih atau kurang buat penyetir scoopy yang telah memandu di kantor keimigrasian Thailand.

Memasuki wilayah kantor keimigrasian Malaysia suasana agak gelap. Penerangan lampu tak banyak. Rasa was-was menghinggapi kembali penumpang terakhir. Untung tak jauh kelihatan Polis. Polis itu tersenyum ketika penumpang terakhir melintas. Kebingungan dijalani ketika banyak pintu dan jalan menuju keimigrasian. Dari kejauhan penumpang terakhir itu menunjuk tangannya ke arah ke sana atau ke sini sebagai tempat mengurus passport kepada Polis tadi. Rupanya Polis tadi cukup tanggap sehingga ia menunjukkan arah ke sana sebagai pemberitahuan bahwa tempat itu untuk mengurus kedatangan di Malaysia.

Suasana di bagian kedatangan kantor keimigrasian sepi, hanya penumpang terakhir yang melapor sehingga proses pun tak lama. Setelah dicap tanda sah, penumpang terakhir meninggalkan kantor itu. Terlihat di sekitar kantor keimigrasian itu nampak truk-truk angkutan barang yang diparkir. Mungkin mereka ditahan karena alasan-alasan tertentu. Lintasan keluar wilayah itu pun masih terlihat gelap. Tanda sudah meninggalkan area keimigrasian terlihat ketika nampak taksi-taksi yang diparkir di pinggir jalan. Taksi-taksi itu menawarkan angkutan ke Kota Bharu kepada orang asing bila ingin cepat ke tempat tujuan.

Dengan bekal secukupnya atau ingin mengirit, penumpang terakhir tak ingin naik taxi. Ia pun terus berjalan hingga akhirnya bertemu dengan Terminal Rantau Panjang. Jarak terminal itu dengan kantor keimigrasian Malaysia paling 200 meter. Terminal Rantau Panjang adalah terminal yang melayani jurusan ke berbagai kota di Malaysia bahkan hingga Bangkok, Phuket, Krabi, dan Singapore.

Saat berada di luar terminal, penumpang terakhir ditawari taxi dan ojek oleh para pengemudinya. Tawaran itu dibalas dengan ucapan, “Tidak, terima kasih.” Rasa lelah menghinggapi penumpang terakhir setelah melakukan perjalanan dari Pattani. Untuk menghilangkan rasa lelah, ia mencari kedai makan yang berada di terminal itu. Meski sudah menunjukkan pukul 08.30 PM namun kedai-kedai itu masih buka. Dengan acak, penumpang terakhir memilih kedai. Kedai yang dipilih kebetulan dijaga oleh tiga perempuan. Sepertinya ketiga perempuan itu terdiri dari pemilik kedai, anak pemilik kedai, dan pembantu.
“Ada teh panas,” ujar penumpang terakhir setelah duduk di kursi kedai. “Ada,” ujar pemiliknya sambil menyuruh pembantu itu membuatkan pesanan itu. Di tengah menunggu teh panas yang disuguhkan, penumpang terakhir menyantap roti rasa jagung. Hilang sudah rasa lelah dan lapar. Penumpang terakhir pun hendak membayar, “Berapa?” “Enam ringgit,” jawabnya. Sisa dari 10 ringgit dikembalikan, penumpang terakhir kembali bertanya, “Kalau mau ke Kota Bharu naik apa?” Pemilik kedai tadi dengan wajah ramah menjawab, “Naik bus tapi malam begini sudah tidak ada. Kalau mau naik taxi.” “Berapa ringgit?” penumpang terakhir kembali mengajukan pertanyaan. “Empat puluh ringgit mungkin,” pemilik kedai menjelaskan.

Rasa gundah mulai menghinggapi penumpang terakhir, kalau naik taxi pasti menguras uang, kalau menginap di Rantau Panjang juga demikian. Dalam teori backpacker, perjalanan malam adalah cara yang paling efektif untuk menghemat biaya perjalanan sebab dengan naik angkutan malam maka biaya menginap tidak ada.

“Ada ojek,” penumpang terakhir kembali bertanya. “Ada,” jawab pemilik kedai itu. Pemilik kedai itu menyuruh anaknya untuk mencarikan ojek. Anak pemilik kedai itu terlihat tinggi langsing, berpakaian kerudung khas Malaysia yang masih memperlihatkan leku-lekuk pinggangnya, serta memiliki wajah yang manis. Sambil menunggu ojek, penulis terakhir menceritakan kepada pemilik kedai bahwa dirinya selepas dari perjalanan dari Pattani. “Sendirian?” tanya pemilik kedai itu. Penumpang terakhir pun hanya tersenyum. Setelah tahu penumpang terakhir dari Indonesia, pemilik kedai itu berujar, “Saya pingin ke Indo tetapi tidak berani.” Obrolan pun menjai cair dan akrab. Anak pemilik kedai pun sudah tiba.
“Tahu Siti Nurhaliza,” penumpang terakhir bertanya kepada pemilik kedai itu. “Tahu,” jawabnya dengan sumringah. Siti Nurhaliza adalah penyanyi pop dari Malaysia namun juga kesohor di Indonesia. “Nah anak ibu kayak Siti Nurhaliza,” penumpang terakhir mencandai pemilik kedai itu. Mendengar ungkapan itu, pemilik kedai tadi tersenyum dan meneruskan ungkapan itu kepada anaknya. Mendengar pujian yang demikian, anak pemilik kedai itu tertawa dan tersanjung.

Tukang ojek pun datang, ia menyarankan menginap saja di Rantau Panjang sebab jarak ke Kota Bharu sejauh 24 km. Dikatakan bisa saja tidur di mushola terminal namun rawan dengan budak-budak (anak-anak) yang berkeliaran dan mencuri. Akhirnya home stay yang terjangkau didapat penumpang terakhir dengan bantuan tukang ojek itu.

Pagi telah tiba, penumpang terakhir pun ingin segera melanjutkan perjalanan. Sebelum meninggalkan Rantau Panjang, ia ingin mengunjungi kedai yang tadi malam disinggahi tujuannya agar bisa bertemu dengan ‘Siti Nurhaliza’ dan berkenalan lebih jauh. Sayangnya tiba di terminal itu, kedai miliknya belum buka. Harapan cinta kepada ‘Siti Nurhaliza’ dari penumpang terakhir tak tersampaikan. Dengan rasa merana penumpang terakhir itu pergi menuju Kota Bharu.

Cerpen Karangan: Ardi Winangun
Facebook: Ardi Winangun
penulis adalah backpacker

Cerpen Siti Nurhaliza dari Rantau Panjang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku dan Angkot

Oleh:
“tiiitt tiitt… ‘pasar bu?’ ” begitu Tanya pak sopir ketika menjumpai deretan ibu-ibu di pinggiran jalan. Tidak ada jawaban dari mereka. Tampaknya mereka sedang membincangkan sesuatu yang enggan diganggu,

Jarak Ungu dan Wakil Rakyat

Oleh:
“Apa kaitan ranting, daun dan buah jarak dengan wakil rakyat yang akan bertarung memperoleh kursi panas pada Pemilihan Umum Legislatif (Pileg)?” Pertanyaan yang memusingkan untuk dijawab dan kalau perlu

Pirouette Kue Ulang Tahun

Oleh:
Sara keluar dari stasiun dengan langkah ringan, merasa senang bisa lepas dari sesak kerumunan penumpang Jumat sore. Tumit sepatunya berkeletak-keletak tiap kali menapaki trotoar yang masih basah setelah hampir

Gengsi itu Sama Dengan Miskin

Oleh:
Tiga hari telah kulewati dengan beban yang sangat berat jika aku ibaratkan bebanku ini seperti “menggendong sapi sekaligus dengan gerobak nya ” he he he he sedikit lebay, tapi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *