Suasana Kontrakan Petak Di Awal Oktober

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 8 January 2019

Meskipun hujan tadi siang sudah reda dan jalan-jalan juga sudah tidak basah lagi, tapi udara dinginnya masih tertinggal sampai malam. Sayangnya udara di luar sangat berbeda dengan kontrakan tempat Agus dan kawan-kawannya tinggal. Bahkan salah satu kawan Agus, Badru yang badannya gemuk sampai membuka baju.

“Jok, kipas anginnya diputer dong” Agus memanggil Joko sekaligus memerintah untuk memencet tombol di atas kipas.
“Awaku juga gerak, mau menang sendiri aja kamu” protes Agus.

Kaki joko yang tadinya lurus dari tumit sampai paha menyentuh ubin langsung berubah posisi. Untuk kali ini sebentar hanya jari dan dengkul saja yang menyentuh ubin, tangannya menggapai atas kipas angin untuk menekan plastik di belakang jaring-jaring.

Di kontrakan petak ini kipas angin merupakan barang istimewa yang paling mahal setelah televisi, walaupun hanya barang buatan Tiongkok dan bukan merk terkenal tapi mereka patungan untuk membelinya.

“tek!” bunyi plastik yang sudah ditekan Joko, dan kipas angin mulai berputar dari selatan ke utara lalu kembali lagi ke selatan terus menerus. Kipas angin sudah berputar Joko kembali lagi ke posisinya dan hanyut menonton televisi lagi.

“ihh, banyak banget yang demo” respon Agus yang kaget ketika melihat layar televisi menayangkan masa aksi Mogok Nasional .
“Ada dua juta buruh gus sejabodetabek yang ikut Mogok Nasional” kata Joko yang sejak tadi fokus menonton televisi.
“dasar wong edan, bukan bersyukur sudah ada pekerjaan malah demo nuntut gaji naik. Coba kalau pengusahanya tutup pabrik. bisa ngangur tuh semua!!” celetuk supri yang kelihatan jengkel dengan aksi para buruh.

Tiba-tiba dari pojok mulai terdengar suara Badru, ikut nimbrung dalam diskusi “Sup, temanku ada yang kerja di pabrik tapi gajinya dibawah kita, cuma satu juta perbulan, makan setiap hari paket 8000”
“Yah, kalo gaji kecil memang sudah seharusnya hemat.” Supri merespon cerita Badru.
“Sup, itu sih bukannya hemat karena ingin berhemat, tapi memang dipaksa hemat sama keadaaan.” kata Badru sedikit membentak.
“mungkin karena perusahaan tempat kerja teman kamu pemasukannya kecil, jadi cuma bisa ngegaji segitu. Nanti kalau omsetnya besar juga bakal naikin gaji pekerjanya.” Joko mencoba menjelaskan alasan paling rasional kenapa gaji kecil.

Mendengar penjelasan Supri, Badru mengangkat kepalanya ke atas sambil mengusap-usap dagu.
“Iya juga yah sup” Badru mengamini. “waktu di Angke gaji kita kecil tapi pas si Ronald, bos kita bisa tambah cabang di Serpong gaji kita dinaikin ”
Joko kemudian berkata dengan keras mengalahkan suara televisi “Makanya kerja yang rajin, bos juga ga buta, Jangan demo terus apalagi sampai mogok, bodoh!.”
Ia kemudian membakar rokok dan berkata membentak namun dengan suara yang lebih pelan tapi “Kalau pekerjanya mogok apa yang mau diproduksi? terus dapat uang dari mana?”

Agus yang sejak tadi diam akhirnya bersuara sekaligus memotong perkataan Supri
“yang bodoh itu kamu sup, kamu kejebak!!” ujarnya dengan membentak “Si Ronald memang sudah sepantasnya menaikan gaji kita. 3 tahun setelah kita bekerja di Angke baru dinaikin dua ratus ribu. Asal kamu tahu gaji kita sekarang saja masih seratus ribu dibawah UMK Tangerang.”
Setelah Agus bersuara melawan argumen Supri suasana kontrakan menjadi senyap, semua diam hanya ada kipas angin yang masih mengeluarkan suara.

“Sup, bbm sudah naik otomatis harga-harga yang lain ikut naik, wajar saja kalau gaji kita naik” Agus yang lulusan STM mulai bicara seperti layaknya ahli ekonomi.

Supri, Joko dan badru hanya bisa diam mendengarkan omongan-omongan Agus.

“Sekarang bandingkan antara kita dengan si Ronald, lima tahun buka usaha sudah bisa beli mesin second dan cicil ruko, apa kerja si Ronal?” lanjut Agus seolah mengajak manusia-manusia pengisi kontrakan berukuran empat kali tiga untuk berpikir. “Cuma telepon teman-temannya diajak jadi klien, lihatin orang-orang di jalanan masuk ke ruko untuk ngeprint dan nonton kita yang lagi kerja. Kalau ada order kita-kita saja yang ngerjain.”

Supri langsung memalingkan wajahnya ke arah Agus, dia kesal, ingin membantah argumen Agus tapi bingung mau berkata apa. Dia mulai berpikir keras dan akhirnya menemukan satu jawaban
“terserahmu lah, mau ngomong apa, menurutku dia wajar saja kaya wong yang punya perusahaan” gerutu Supri sambil mematikan rokok di asbak di samping kasur kemudian terbaring untuk segera tidur.

Malam semakin larut, empat penghuni kontrakan telah berada di posisi biasa mereka tidur, seperti pemain sepakbola professional mereka tidak perlu lagi diatur dimana posisi mereka seharusnya berada, karena telah paham. Satu kasur empat orang, kasur diposisi portrait tapi mereka posisi landscape, hanya kepala sampai pinggang yang menyentuh kasur sisanya tergeletak di atas ubin, berjejer seperti ikan di pelelangan.

Ketika semua sudah tidur lelap dan bergentayangan di alam mimpi, Agus masih belum memejamkan matanya, tidak bisa tidur. Memikirkan diskusi pepesan kosong barusan.

“Kami dipaksa hemat bukan karena ingin hemat, tapi keadaan memaksa kita untuk hemat.” ujar Agus dalam hati, “Benar juga apa kata Supri wajar Ronald kaya, karena dia yang punya perusahaan.”

Sambil memejamkan mata, Agus teringat pepatah kuno bahwa hemat adalah Pangkal Kaya, dan pepatah itu sudah tidak relevan lagi saat ini “Sekarang bukan hemat tapi punya modal pangkal kaya.” ucap hatinya

Agus membayangkan bagaimana kerjaan Ronald, bosnya, sehari-hari yang tidak harus lelah kerja hanya menonton karyawannya kerja dan atur ini itu kemudian uang datang.

“Pekerjanya dipaksa mati-matian bekerja agar perusahaan tetap untung dan mereka tetap dapat gaji. Bahkan biaya satu anak sekolahnya masih lebih besar daripada biaya pekerja yang mati-matian menghidupi keluarga si pemilik perusahaan,” ujarnya dengan suara sangat kecil.

Kemudian dia teringat pada anak Ronald yang kadang-kadang pulang sekolah dengan wajah dan senyum ceria penuh tawa, diantar ibunya datang ke ruko tempat dia dan kawan-kawannya bekerja untuk bercanda gurau bermain bersama ayahnya. Agus jadi kepikiran, bagaimana nanti jika dia memiliki anak dan membandingkan masa depan anaknya dengan anak majikannya.

Dia yakin nanti ketika besar anak Ronald yang sekarang belajar di sekolah mahal ketika sudah lulus kuliah jadi pemilik perusahaan disokong oleh modal ayahnya sama seperti Ronald yang dulu lulus kuliah langsung buka usaha disokong ayahnya.

“Keturunan pengusaha terus menerus jadi pengusaha. Lalu nanti nasib anakku Paling sama seperti bapaknya, lulus sekolah jadi kuli,” ucap terakhirnya dalam hati pada malam ini, kemudian dia menyusul kawan-kawannya ke alam mimpi.

Cerpen Karangan: Oov Auliansyah
Blog: auliansyah.16mb.com
Cowok yang sedang belajar menulis fiksi.

Cerpen Suasana Kontrakan Petak Di Awal Oktober merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ia Adalah Sahabat Ku

Oleh:
Tetangga! Sekaligus teman dekat yang begitu akrab, begitulah yang sempat bisa ku tuturkan saat orang lain bertanya “Siapakah gerangan orang itu? Orang yang sering kau beri makan di sudut

Kita Bisa

Oleh:
“Aahhh,” kata seorang anak yang sedang bekerja, bekerja dengan memungut barang yang sudah dibuang oleh orang lain. Setiap hari Vio berkeliling mencari barang bekas, namun belakangan ini dia hanya

Hapuskan Memoriku Tentangnya

Oleh:
“Selamat ya…” Malam ini, 22 Januari 2013 aku menjadi ratu semalam di sebuah pesta besar. Aku berharap ini menjadi titik awal kehidupanku menuju hidup gemilang. Semoga kebahagiaan ini tak

Kereta Api

Oleh:
Awan hitam kembali menggantung di kolong langit. Pertanda sebentar lagi akan turun hujan deras. Hembusan angin mulai bertiup dan semakin kencang. Udara dingin mulai turun dan menusuk kulit. Alam

Palang Kereta

Oleh:
Hidupku sangat dekat dengan suara bising dan suara gemuruh yang memekakan telinga. Terlalu sering bahkan selalu sehingga membuatku terlalu hafal dengan suara itu. Asap yang terkadang menghitam membuatku terbatuk.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *