Sudahkah Aku Terbangun

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 1 November 2016

Belum pernah rasanya kelabu sepekat ini menaungi kami. Sudah beberapa hari matahari selalu menyembunyikan sinar hangatnya yang biasa menyapa kota yang mendadak sepi ini. Yang tampak sekarang hanya jalanan yang sunyi dari hiruk pikuk orang yang memilih berdiam dalam rumah mereka. Seolah takut, seolah berusaha menghindar dalam dingin yang datang menyergap masuk melalui ventilasi, membelai lalu menusuk kulit. Sementara mereka bersembunyi di rumah, aku lebih memilih untuk menatap jendela dalam kamarku, sebuah kamar dengan jendela yang besar dan salah satu bagian atapnya terbuat dari kaca. Disana aku melihat tiap rintik-rintiknya yang terhempas jatuh ke tanah dan mendengarkan suaranya. Membiarkan dingin yang masuk ke dalam ruangan.

Suasana di luar sebenarnya tidak begitu tenang dengan semua gemuruh dan kilatan cahaya seperti pikiranku yang kacau dipenuhi oleh cemas, mungkin akan terlihat seperti takut. Tapi tidak seperti mereka, rasa takut ini benar-benar membuat detak jantungku menjadi sangat cepat dan keras hingga dadaku terasa sesak. Segera kuhampiri kasurku dan berbaring di atasnya untuk merehatkan tubuhku yang mendadak lemas. Kasur yang berhadapan langsung dengan jendela membuatku masih bisa melihat ke luar meskipun aku sedang berbaring.

Pemandangan langit ternyata sangat menyeramkan. Mataku hanya menangkap gelap dan sesekali kilauan cahaya diikuti suara gemuruh yang sangat keras. Aku bisa merasakan getaran benda di sekitarku, termasuk mendengar jendela kamarku yang sedikit bergetar dan kilat itu seperti ingin ikut masuk lewat jendela.

Semuanya mendadak menjadi hening setelah terang dan gemuruh itu, aku tidak melihat lagi kilatan cahaya maupun raungan gemuruh. Tidak kurasakan apapun kecuali hanya gelap dan banyak titik. Titik-titik itu semakin jelas terlihat sebagai kumpulan tatapan yang sangat aku benci, atau lebih tepatnya aku takuti. Tubuhku terlalu kaku untuk lari, salah satu dari mereka mendekat dan memperlihatkan tubuh seorang manusia.

“Pergi!”, hanya kalimat itu yang berhasil kuteriakkan dari mulutku.

Tunggu, di belakang mereka seperti ada sebuah cahaya yang semakin mendekat. Keberadaan mereka ikut terhapus bersama dengan datangnya cahaya itu yang juga ikut menabrakku. Sebuah cahaya yang tepat menembus ke dalam mata membuatku bisa melihat sekitar dengan lebih jelas. Diikuti dengan suara rintikan yang mulai terdengar. Aku kembali merasakan kendali atas tubuhku, kuangkat tanganku untuk menghalangi cahaya yang menyilaukan dari atap kaca kamarku. Semua kegelapan itu sudah hilang tapi aku masih merasa kesal, bukannya rasa cemasku teralihkan tapi malah bertambah dengan mimpi tadi.

“Akhirnya keluar juga, udah ngerasa bosen Kak di kamar?” Sebuah suara mungil tepat saat aku baru saja membuka pintu langsung menabrak telingaku. “Enggak, cuma mau ke luar bentar.” Jawabku sambil melihat ke jam dinding, terlihat pukul 15.20. “Lho, pergi kemana? Lagian kan di luar masih hujan, di rumah aja.” Keadaan hening sejenak.

“Yahh, kok aku dicuekin.” Katanya menggerutu. “Ini kan gerimis bukan hujan. Lagian Ini penting kok.” Jawabku dengan tertawa kecil, setelah mengusap rambutnya aku beranjak membuka pintu rumah.

Untung saja tokonya buka. Meskipun jalanan di luar sepi dan cuaca sedang buruk bukan berarti kegiatan ekonomi mati, kan. Tapi saat masuk ke dalam toko, aku berubah pikiran dan memilih duduk di sudut ruangan. Entah kenapa rasa kacau itu tidak bisa lepas dari pikiranku. Mungkin aku akan duduk sebentar menenangkan diriku tanpa khawatir ada yang memperhatikanku, karena tidak ada yang mengenalku di sini.

“Dek, adek kenal nggak orang yang lagi duduk di pojokan situ?” tanyanya sambil membungkus barang yang terbeli dan melirikkan matanya ke samping kirinya.
“Nggak kayaknya. Emang kenapa Pak?”
“Dari tadi cuma duduk di situ, siapa tau adek kenal trus bisa ngajak pulang. Percuma di sini nggak beli apa apa.” Keluhnya. “Mungkin nanti juga beli.” Sahutku sambil menyerahkan uang.
“Tunggu, uangnya kurang!”
“Lah, kok bisa kurang? Kan harganya emang segitu tadi.”
“Kurang 200 buat plastiknya.”

“Boleh aku duduk di sini?” Suara itu sejenak mengalihkan hawa dingin di sekitarku. Kuangkat pandanganku dan sedikit mengangguk. “Oh ya, namaku Fluvia. Kau?” Katanya sambil mengulurkan tangan. “Angga.” kusambut tangannya yang ia ulurkan. “Apa yang kau lakukan? Sepertinya kau dari tadi hanya duduk disini.” Dia kembali bertanya. Hening sejenak menunggu jawabanku. Terlihat matanya yang sesekali mendongak ke atas seperti mencari sesuatu.

“Apa kau tidak ingin menceritakan apapun? Mungkin kau bisa mulai dari apa tujuanmu ke sini atau apa yang kau lakukan sekarang, apapun yang bisa kau ceritakan. Jangan menahan dirimu sendiri. Aku akan mendengarkanmu.” Kuberanikan untuk menatapnya, “Aku tidak tahu apa yang bisa kuceritakan!” Ia hanya mengangguk pelan, sejenak pandangannya teralihkan ke luar jendela.

“Apakah menurutmu sesuatu yang diungkapkan tidak akan terlihat saat berada di sana? Seperti kau mengatakan apa yang kau pendam tapi tidak akan ada yang menyadarinya.”

“Entahlah, itu tidak mungkin.” Sekarang pandangannya sedikit menunduk. Suasana sempat kembali hening. “Hmm, kira-kira kapan dan dimana jika ingin menemuimu?” Tanyanya. “Kenapa ingin menemuiku?” Tanyaku keheranan. “Tidak ada salahnya kan seseorang menemui temannya.” Aku hanya menatap kosong mendengarnya. “Mungkin lusa di taman alun-alun.” Jawabku. “Oke, duluan ya.” Ucapnya sambil berlalu. Setelah dia pergi, aku juga memutuskan untuk pulang karena merasa tidak nyaman saat penjaga toko beberapa kali melihat ke arahku.

“Kak, ayo makan dulu!” Berulang kali dia mengajakku, “yah, kok nggak dijawab.” Suaranya sempat hilang cukup lama dan berganti dengan yang lebih tegas, “Nak, ayo makan dulu.” “Iya Bu, bentar. Nanti aku ke sana.” Aku tidak bisa melawan jika ibuku yang menyuruhku, tapi sangat berat membangunkan badanku yang sudah serasa menempel di tempat tidurku ini. “Ayolah ini cuma sebentar, aku akan kembali saat akan tidur nanti.” Baiklah, mungkin lebih baik jika kubiarkan badanku merebah sebentar sambil mengumpulkan motivasi untuk bangun. Lagipula ini masih pukul 20.15 saat kulihat ke jam tanganku yang sudah aku letakkan di meja kamarku.

Sudah cukup lama aku terbaring, dan aku tidak bisa memalingkan pandanganku dari korden yang menutupi jendela kamarku. Korden yang sesekali bergerak pelan terkena tiupan angin. Ya, aku sudah berhasil mengumpulkan motivasi, tapi bukan untuk bangun makan malam melainkan untuk menghampiri korden yang sedari tadi menggugah rasa penasaranku.

“Apakah kau marah padaku?” Ucap sesuatu dari seberang jendela dengan seringai anehnya. Mataku perlu sedikit penyesuaian dari cahaya terang kamarku menuju ruang gelap di seberang, dan anehnya kegelapan itu seperti ikut masuk ke dalam kamarku. Penyesuaian itu hanya membuahkan sebuah sentakan diikuti bertambah cepatnya detak jantungku saat mengetahui bayangan yang jatuh ke dalam mataku tak lain adalah wajahku sendiri. Bukan pantulan kaca, wajah itu jelas terpisah dari jendela dan berada di seberangnya. Kulangkahkan kakiku ke belakang berusaha meraih ranjang untuk sekedar duduk, kepalaku terasa sangat ringan. “Ya, aku marah. Aku membencimu!” Aku tidak tahan dengan hentakan keras di dadaku, napasku juga semakin berat mengambil udara.

Rasanya ingin sekali teriak dan melepaskan semua sesak ini. Sekarang badanku terasa sama ringannya dengan kepalaku, sangat kontras dengan hentakan kuat dan berat di dadaku yang terus berulang-ulang. Pandanganku masih terus menatapnya yang mulai termakan gelap. Tapi bukan hanya dirinya, semua terang di sekitarku juga ikut termakan dan digantikan oleh gelap.

Kurasakan tubuhku kembali mendapatkan tenaganya. Semua masih sama gelapnya sebelum cahaya dalam jumlah besar masuk ke mataku yang sepertinya baru siap untuk menjalankan fungsinya. Membuatku bisa melihat sekitar, bedanya sekarang sudah tidak ada gelap. Keadaan di dalam sini dan di luar sama terangnya. Satu hal yang bisa kusimpulkan, kesadaran. Ya, aku kembali merasakan kesadaranku. Berakhirnya kejadian itu belum bisa mengakhiri keadaan ini. Aku sudah lelah sendiri, sampai kapan perasaan ini selalu mengikutiku. Apakah ketenangan adalah sesuatu yang terlalu mahal untuk kudapatkan. Sederhana saja, bisa bebas dan melepaskan (lebih tepatnya membuang) semua rasa berat ini. Apakah itu terdengar terlalu mahal?

Di pagi hari waktu libur, biasanya orang-orang akan melakukan hal yang menyenangkan. Ada yang berolah raga, bercengkerama dengan orang dekat, menikmati pemandangan pagi dan mengistirahatkan pikiran, atau sekedar menyaksikan semua itu seperti yang kulakukan. Sebenarnya aku juga tidak mau melewatkan saat-saat seperti ini hanya dengan berdiam di rumah. Apalagi setelah berbagai mimpi buruk yang selalu mendatangiku.

“Kayaknya ada yang nggak sabar menungggu lusa nih.” Sebuah suara yang sepertinya sengaja ditujukkan untukku. “Kenapa kau ke sini?” tanyaku saat melihat seorang gadis duduk di sebuah kursi panjang. “Aku memang biasa ke sini, tidak seperti kau yang jarang keluar.” Kali ini nadanya sedikit ngeledek, atau mungkin memang sarkasme.

“Main bareng anak-anak aja yuk.” Dia melambaikan tangannya ke arah kumpulan anak kecil seperti sedang mengundang mereka. “Kakak boleh ikut main bareng nggak?” Tanyanya dengan ramah, sementara mereka hanya mengangguk. Baru saja aku ingin menghampiri mereka, tapi langkahku tiba-tiba terhenti. Aku melihatnya, aku melihat tatapan itu pada wajah polos mereka. Sebuah tatapan yang terasa beku bagiku, beku dan kosong. Kualihkan pandanganku ke arah via, terllihat keheranan di wajahnya yang baru kali ini kulihat darinya. Mungkin dia masih bingung dengan sikapku. Aku cuma diam seperti diamnya mereka. Aku mulai bergerak mundur dan berlalu meninggalkan mereka.

“Sebenarnya apa yang terjadi? Kau kenapa?” Tanyanya tak mengerti. “Apa kau tidak melihat semua itu? Semua tatapan yang terasa beku itu?” Ucapku balik bertanya. “Yang kutahu mereka hanya anak kecil biasa, bahkan wajah mereka tampak sangat polos. Semua itu hanya perasaanmu saja. ” Jawabnya berusaha meyakinkanku. “Entahlah, aku merasa sedang kacau, mungkin lebih baik jika kau pergi dulu.” Ucapku dengan napas yang masih tak teratur.

Dia terlihat menggeleng pelan, “Apakah kau selalu seperti ini ke semua orang? Baik, mungkin aku tidak takut dengan tatapan yang kau bicarakan, tapi aku lebih takut dengan dirimu, sikapmu. Jangan mau dipersempit oleh penglihatanmu sendiri.”

Dia diam sebentar dan aku masih memandangnya, masih menunggu untuk mendengar perkataannya yang sebenarnya kuharapkan segera berakhir. “Apakah besok kau tetap akan datang?” Tanyanya dengan nada tidak setinggi sebelumnya, sedangkan aku hanya mengangguk pelan. Kata itu sekaligus sebagai kata pamit sebelum dia pergi seperti yang kuminta. Tak apalah, lagipula memang itu yang kumau, meskipun ada perasaan tak nyaman saat dia benar-benar pergi.

Senja telah mengantar siang beralih berganti dengan malam, menemani setiap orang untuk beristirahat dari semua hiruk pikuknya. Tidak seperti aku yang belum bisa beralih dari perkataannya. Sudah seharian aku terpikirkan tentang kalimat-kalimat itu, merasa ada yang harus kutemukan.

Sudah hampir pukul 22.00. Wajar sudah tidak tampak aktivitas apapun di rumah ini. Kusempatkan memasuki kamar mereka. Dan benar, mereka semua sudah tertidur. Sangat berbeda denganku yang masih saja berkeliaran di rumah ini. Diam-diam kuperhatikan mereka. Terkadang aku terkesan melakukan hal yang selalu bersebrangan. Tapi, paling tidak aku sudah menyempatkan sesuatu yang sempat kulewatkan kemarin malam. Ya, tadi kusempatkan untuk makan malam bersama mereka.

Hari sudah pagi, tapi aku masih belum mau beranjak dari tempat tidur. Aku seperti tak percaya dan masih terus menunggu. Tidak ada apapun yang terjadi tadi malam. Entah aku harus bahagia atau curiga. Apapun itu, aku tidak bisa berlama-lama di sini. Ada sesuatu yang harus kulakukan, aku pun segera bangun untuk mandi dan bersiap. Sebelum pergi kusempatkan untuk memperhatian keadaan rumah. Dan benar saja, sekarang pukul 6.30 dan aku menjadi orang yang bangun pertama di rumah ini. Kuputuskan meninggalkan kunci rumah di dalam, tetapi pintunya kukunci dengan kunci cadangan yang kubawa.

Perjalanan kali ini sedikit lebih lambat dari biasanya. Aku memang sengaja melambatkan langkahku tapi tetap mantap, hanya berusaha lebih menikmati tiap langkahku ini. Cahaya matahari pagi ini sedikit lebih redup. Mungkin ini yang membuatku wajahku tidak silau kena sinar matahari saat bangun tidur tadi. Lagipula suasananya juga terasa lebih pagi dari biasanya, seperti lebih melambat.

Akhirnya sampai juga di tempat yang kami tentukan. Tanpa menunggu perintah aku langsung duduk tepat di bagiannya biasa duduk, di pojok sebelah kanan. Nampaknya aku yang harus menunggu karena aku menjadi yang pertama datang ke tempat ini. Sambil memperhatikan keadaan sekitar yang sebenarnya tidak ada apapun yang bisa diperhatikan. Semuanya kosong, hanya ada aku yang masih saja menunggu.

Sudah hampir pukul 08.30, cahaya matahari juga sudah semakin meredup seolah aku memang harus pergi dari sini. Tapi bagaimana aku bisa pulang, aku sendiri yang mengusulkan tempat ini. Aku harus menunggu lagi, tapi tidak sendiri karena ditemani angin yang dinginnya seperti membuatku lemas. Ditambah lagi dengan napasku yang kembali berat membuat tubuhku semakin kehilangan tenaganya. Kenapa harus sekarang munculnya? Rasa sakit ini seperti memaksaku untuk mengeluarkan semua rasa berat ini, seperti ingin berteriak dan melepaskannya. Sepi terasa lebih menyakitkan di sini, terasa lebih dingin, benar-benar tidak ada siapapun yang kutemui. Dan awanpun sudah tidak kuat menanggung bebannya, menjatuhkan isinya secara bertahap, semakin lama semakin lebat.

“Jangan hujan-hujanan Kak.” Suara yang terdengar memiliki pelaku lebih dari satu itu muncul bersamaan dengan munculnya sebuah payung dari belakangku. “kalian!” aku kaget saat mengetahui mereka adalah anak kecil yang aku temui di taman waktu itu. Untungnya, mereka membawa tiga payung, jadi mereka juga tidak akan kehujanan. Aku semakin dibuat heran oleh senyum di wajah mungil mereka, Tidak seperti yag kulihat waktu itu. Ternyata aku salah menilai mereka. Apa mungkin yang kemarin itu memang hanya perasaanku saja seperti yang Via katakan. Oh iya, nama itu yang telah membuatku menunggu dalam keadaan seperti ini.

Setelah kami pergi ke teras sebuah toko untuk berteduh, kuberanikan diri untuk bertanya ke mereka. Siapa tau ada yang mereka ketahui. “Eh, kalian tadi lihat perempuan yang bareng sama kakak kemarin nggak?” Tanyaku agak ragu ke mereka. “Perempuan yang mana Kak?” Jawab mereka bingung, tapi tidak lebih bingung dari diriku yang mendengar jawaban mereka. Bukankan mereka juga ada di sana, lalu mengapa mereka tidak ingat. “Itu loh, yang kemarin bareng sama kakak di taman terus dia juga yang manggil kalian buat main bareng.” Ucapku berusaha menjelaskannya. Tetapi mereka hanya saling menoleh dan menatap satu sama lain. Bagaimana mungkin mereka bisa tidak tahu apa-apa, bahkan tidak mengingat apapun. “Kalian sering main di taman sana kan?” aku berusaha meyakinkan diriku kalau mereka adalah anak-anak yang aku temui kemarin. “Ya.” Jawab beberapa dari mereka mantap. “kalau gitu berarti kalian juga lihat perempuan yang sering duduk di situ kan?” Tanyaku sambil menunjuk kursi panjang tempatku tadi duduk.

Mereka terperangah mendengar pertanyaanku, ini ekspresi mereka yang baru kulihat setelah sebelumnya aku melihat wajah dingin dan hangat mereka pada dua waktu yang berbeda. Aku merasa senang saat melihat ada salah satu dari mereka yang mulai membuka mulut seperti ingin mengatakan sesuatu. “Kami nggak pernah lihat perempuan duduk di situ, bukannya kakak yang selalu duduk di situ, kami tadi membawakan payung karena kami selalu melihat kakak duduk di kursi itu dan kami nggak tega melihat kakak sampai kehujanan.”

Cerpen Karangan: Aldy Hendrawan
Blog: aldyhendrawan.blogspot.com

Cerpen Sudahkah Aku Terbangun merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Belenggu Tabir Kepalsuan

Oleh:
Jejak hujan masih membekas remang di antara rumput dan dedaunan. Helai daun yang gugur menyimpan sajak-sajak kepedihan. Nyiur melambai masih menyisakan gerimis di daun jendela. Menyingkap resah dalam hulu

Harus Kuat Sebagai Ulat

Oleh:
Seperti biasa, pada pagi buta Andi harus bersiap menuju sekolah dengan mengendarai sepeda butut kepunyaan ayahnya. Andi terlahir dari keluarga yang kurang berada, dimana dia harus mencari uang sendiri

Aku Ingin Pulang

Oleh:
Aku berada di antara orang-orang yang menampakkan raut keceriaan di wajahnya. Mereka tampak riang dan gembira ketika aku menyapanya. Hanya aku disini, terbawa arus kesedihan yang tiada hentinya. Merdunya

The Th1rd inQstr

Oleh:
Kamis, 2 agustus 2018 Pagi itu, jam 7.15 aku telah sampai di sekolah. Memasuki lorong kelas aku melihat di papan informasi terdapat sebuah poster lomba membuat cerpen. Aku melihat

Mappadendang Di Tonrongnge

Oleh:
Namanya Sriwahyuni, nama yang pasaran bagi orang-orang di daerahnya, Sriwahyuni gadis cantik berhijab dengan kulit berwarna kuning langsat dan dua buah lesung pipit menghiasi senyumnya, perempuan itu mendatangi salah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *