Sudut Kota Jakarta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 26 July 2021

Jakarta
Matahari begitu terik sinarnya tajam menusuk setiap inci kota yang memiliki segudang permasalahan ini. Berbagai proyek pembangunan hampir selalu ada di sekujur tubuh kota jakarta. Para pekerja proyek menyerengitkan dahi mereka karena terkena hantaran panas dari lempengan besi dan baja, belum lagi polusi yang sepertinya sudah bersahabat dengan kota metropolitan ini. Bagaimana tidak, sehari-harinya ratusan kendaraan berlalu lalang asap kendaraan pun mengepul sana sini, begitupun dengan pabrik-pabrik yang seolah tidak pernah berhenti beroperasi. Maka tak ayal birunya langit mustahil kau temukan di kota ini.

Aku berjalan menyusuri gang sempit agar aku bisa sampai ke jalan raya, sepanjang perjalanan aku mendengar alunan lagu. Lagu “forget Jakarta” milik Adithia Sopyan yang belakang ini sering diputar hampir setiap pagi. Rupa-rupanya penghuni gang mentari ini merasa kehilangan akan sosok Jakarta yang sudah tidak lagi menjadi ibukota negeri ini, terkadang aku merasa seolah sedang melakukan syuting video klip, dimana setiap langkahku berjalan seirama dengan nada lagu itu.

“Tin… tin… kampung asa Bung?” kata seseorang yang menyembulkan kepalanya dari balik jendela angkot.
“Bung! Kampung asa nih jadi tidak?” katanya untuk kedua kalinya
“eh, iya“ jawabku terburu-buru sambil masuk ke dalam mesin tua itu, sial ternyata tadi aku melamun sampai-sampai tidak sadar jika sudah ada di pinggir jalan.

Rambut gondrongku sedari tadi menari-nari tertiup angin, aku duduk di tempat biasa, dekat pintu masuk sambil menikmati pemandangan kota ini. Meski sebenarnya yang ada hanyalah gedung-gedung raksasa, sesekali aku memejamkan mata sambil mengingat betapa spesialnya Jakarta di mataku, detik itu pula sebuah lagu dari kotak musik diputar. Sebuah lagu milik Chrisye mengalun di sepanjang perjalanan yang mengingatkanku pada zaman SMA dulu.
“Ah lagi-lagi aku dipaksa bernostalgia” batinku menggerutu

Sett… set…
“Aduh!” kataku, karena terkejut angkot yang kutumpangi tiba-tiba ngerem mendadak
“Masuk, mbak masuk!” kata sopir pada seorang wanita yang sedang menatapku seolah sedang menyelidiki sesuatu. Aku yang merasa ditatap olehnya bersikap acuh karena ini bukan pertama kalinya orang menatapku dengan tatapan menyelidik. Mungkin karena penampilanku yang seperti preman.

“Permisi mas” katanya sambil memeluk tas selempangnya dengan erat
Sudah kuduga dia menganggapku seorang pencopet, hah omong kosong soal penampilan. Lalu apa kabar para pencopet yang berpenampilan elegan di dalam sana yang menggasak uang rakyat dengan jumlah tak tanggung-tanggung. Wanita itu tampak gelisah terlihat dari air mukanya, mungkin dia merasa terancam karena tidak ada lagi penumpang selain kami berdua.

“Kiri-kiri” kataku karena memang sudah sampai ditempat tujuan, aku bergegas turun menuju tempat yang sudah hampir setahun ini menemaniku.
“hati-hati Bung” kata supir angkot sambil melambaikan tangannya sehingga membuat bulu ketiaknya terlihat jelas, maklum supir angkot tua itu hanya mengenakan kaos dalam sehingga perutnya yang besar menyembul dibalik kaos dan celananya.
“siap!” kataku penuh semangat sambil mengacungkan jempol. Aku kembali menyusuri gang-gang sempit dengan got yang berada di kanan kirinya, maka tak jarang pula aku melihat tikus got yang berkeliaran disekitar sana, orang-orang di gang asa sudah mengenalku karena setiap harinya aku melewati gang ini. Orang-orang yang sudah lama mengenalku mereka akan memanggilku dengan sebutan “Bung” bahkan anak-anak pun turut memanggilku dengan sebutan “Bung”

“Bung sudah datang, Bung sudah datang” kata seorang anak yang berada di rumah pohon sambil berteriak memberitahu teman-temannya jika aku sudah datang
“Cek, cek” kata salah seorang anak, dari balik pengeras suara
“kepada seluruh pejuang negeri ini yang berada di kampung asa di sudut kota metropolitan ini diharap segera mempersiapkan alat tempur dan bersiap terjun ke Medan perang. Merdeka! Merdeka!” lanjutnya dengan semangat menggebu-gebu.

Setelah berorasi anak itu berpindah ke salah satu bangunan yang selama ini menjadi markasku dan anak-anak. Dalam hitungan detik anak-anak yang berada di kampung asa keluar dari rumahnya masing-masing dengan kepala yang sudah diikat dengan pita berwarna merah, mereka semua mengerumuniku layaknya semut menemukan bongkahan gula.

“Bung, penampilan Bung semakin keren saja” kata salah satu anak lelaki sambil meninju perutku, yang belakang ini baru aku ketahui ternyata dia mengagumi penampilanku. Heran baru kali ini aku dikagumi seseorang karena penampilan.
“Biasa, kan Bung habis servis penampilan” kataku ngasal
“Baiklah para pejuang, sekarang sudah saatnya kita bertarung, dalam hitungan ke tiga Bung memerintahkan kalian untuk memasuki benteng ini” kataku
“Satu, dua, tiga”
“Serang…” Lanjutku sambil berlari

Langit sudah berubah warna, sinar jingga sudah memancar dibalik cakrawala semburat cahaya memantul dari satu gedung ke gedung yang lain. Para pekerja membanjiri jalanan dengan berbagai jenis kendaraan, begitupun denganku. Selepas dari kampung Asa aku kembali pulang, kali ini bukan dengan naik angkot tetapi naik becak. Tukang becak yang mungkin usianya sudah hampir setengah abad terlihat dari rambut hitamnya yang sudah menjadi minoritas, memang jarang sekali di zaman sekarang ini ada tukang becak yang usianya masih muda. Aku memasang headphone dan menyetel lagu dari gawai milikku, sepanjang perjalanan lagu “forget Jakarta” terus mengalun.

I’m waiting in line to get to where you are
Hope floats up high along the way
I forget Jakarta
All the friendly faces in disguise
This time, I’m closing down this fairytale
And I put all my heart to get to where you are
Maybe it’s time to move away
I forget Jakarta

Setiap perjalanan adalah cerita, dan setiap hari yang kita lalui akan melahirkan cerita baru, Jakarta yang sering dikutuk dengan segala permasalahanya. Meski begitu kota ini tetap saja menjadi kota nomor satu. Jakarta, kota yang menjadi tempat berkeluh kesah bagi ribuan manusia yang datang dari seluruh pelosok negeri ini. Tetapi hari ini, aku pandangi wajah Jakarta dari balik becak, sosoknya yang menjadi primadona karena menjadi ibukota, kini tinggalah kenangan.

“Berhenti disini Pak” kataku tepat di depan toko barang jadul
“Siap” katanya
“Ini Pak, terimakasih” kataku sambil memberikan selembar uang
“Sama-sama” Jawabnya, lalu kemudian kembali mengayuh becaknya

Aku memasuki toko itu sambil mengikat rambutku, dari kejauhan aku sudah melihat temanku, Feelin. Yang sedang membersihkan mesin ketik kesayangannya. Ah, dia memang aneh di zaman sekarang ini dia masih saja mengetik sesuatu di mesin tua itu, dan karena kecintaannya terhadap barang-barang antik dia merintis “toko barang jadul”
“Hanya orang yang kurang kerjakanlah membersihkan mesin tua itu setiap hari” kataku yang sudah berdiri di depan mejanya
“Sepertinya” katanya sambil memicingkan matanya ke arahku
“Anda yang tidak ada kerjaan karena setiap hari mampir” lanjutnya, lalu kembali fokus pada mesin uaangnya itu
“Saya tidak perlu beker-”
“beker-ja, karena saya tidak punya tanggung jawab.. Itu kan jawaban anda” katanya
“Aku sudah hafal” lanjutnya
“Hmmm” jawabku acuh, sambil melenggang ke arah lemari buku.

Aku melihat-lihat berbagai koleksi buku miliknya, bukan hanya buku dia juga memajang foto-foto kami ketika zaman SMA.
“Sepertinya tempat ini lebih pantas disebut kamar kosan, Benar tidak?” tanyaku padanya
Aku melihat Feelin berjalan ke arahku sambil membawa dua gelas cangkir kopi, seperti biasa kami akan mengobrol sampai matahari tenggelam.

“Toko aku itu unik, ini namanya gaya toko yang tidak kaku” jawabnya
“Unik? Itu mah alibi kamu aja, mana ada di toko ada tempat tidur dan antek-anteknya” kataku sambil tertawa
“Udahlah, tiap kamu mampir pasti ngomentari toko aku. Lain kali mampirnya ke tukang cukur noh” katanya sambil menunjuk ke arah tukang cukur rambut di seberang jalan
“Yaudah iya” jawabku sambil tersenyum

“Selamat sore pendengar setia Radio back to 80s FM. Sore ini kita akan kembali Bernostalgia dengan lagu-lagu populer di zamannya, kali ini kita akan diajak bernostalgia bersama grup band a-ha dengan lagu populernya yaitu “Take on me” ini dia langsung saja kita dengarkan” tidak lama kemudian lagu “Take on me” mengalun, membersami sore kami berdua.

“We’re talking away
I don’t know what
I’m to say I’ll say it anyway
Today’s another day to find you
Shying away
I’ll be coming for your love, okay?
Aku dan Feelin duduk di sofa yang menghadap ke arah jalan raya, kami berdua menikmati kopi sambil sesekali ikut bernyanyi, seperti sekarang ini pada bagian reff lagu tersebut, kami bernyanyi sambil menggerak-gerakkan badan.
“Take on me, (take on me)
Take me on, (take on me)
I’ll be gone
In a day or two”

“Yah lagunya berhenti” katanya sambil kembali duduk, karena selama lagu itu mengalun, di berdiri sambil menggerak-gerakkan badannya, entahlah apakah geraknnya layak disebut sebuah tarian atau tidak
“Kalau mau puas dengerinnya di YouTube” tukasku
“Lebih menarik di radio” jawabnya

“Rindai” panggil Feelin padaku
“Mmm” jawabku
“Menurutmu apa yang sepesial dari kota ini?” tanya nya
“Semuanya sepesial” jawabku
“Semuanya?” tanyanya untuk meyakinkan
“Iyah semuanya, termasuk kamu mungkin” kataku sambil melihat sekilas ke arahnya
“Harus dong, tiap hari kamu numpang ngopi disini” jawab Fellin

“Rindai, kenapa waktu zaman SMA kamu menulis puisi dengan judul “Sudut kota Jakarta”? Tanyanya sambil memiringkan kepalanya sambil melihat kearah ku
“Karena di sudut kota Jakarta lah aku mendapatkan cerita-cerita baru, dari mulai aku melihat anak-anak yang tersenyum tulus saat pertama kali aku mengajar hingga saat ini, selain itu, karena di sudut kota inilah untuk pertama kalinya aku bertemu seorang wanita yang saat itu sedang lari-larian dan tidak sengaja menginjak tai kucing” kataku
“Aku juga pernah menginjak tai kucing, asli sebel banget” katanya sambil mengambil kue lapis yang ada di atas meja
“Itu memang kamu” kataku sambil menyentil dahinya yang lebar selebar lapangan bola, detik berikutnya dia melihat ke arahku dengan tatapan tidak percaya.

Sekian

Cerpen Karangan: Anna
Blogk: kreatifmencari.blogspot.com
Seorang penulis amatir

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 26 Juli 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Sudut Kota Jakarta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Warung Kopi (Pesan Untuk Kawan)

Oleh:
Malam itu malaikat Mikail memainkan perannya, yaitu menurunkan hujun dari langit (Jogja). Ribuan rintik air turun menyela obrolan dan hangat kopi di warung kopi gbol, dingin seperti tak lagi

Potongan Yang Hilang

Oleh:
Dua tahun. Berlalu dengan cepat, layaknya laju kereta yang terisi penuh oleh bahan bakar. Sekarang boleh ku ingat apa saja yang sudah terukirkan di tembok masa yang berada di

Indahnya Hidup ini

Oleh:
“Waktu” ya itu sebutan yang pas untuk salah satu hal yang kejam di dunia. Begitu cepatnya waktu berlalu tanpa memikirkan bagaimana seseorang seharusnya bertindak. Hai namaku Niken Amanda Putri

Janji Ku Adalah Harapan Ku

Oleh:
Pagi itu di bulan mei aku merasa harus pergi. Pergi ke mana, entahlah semuanya tidak melalui rencana yang matang dan aku memutuskan harus pergi. Mungkin aku kecewa lantaran apa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *