Sun of San

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 12 February 2020

Munculah kau wahai sinar yang begitu hangat di pagi hari, iringi langkah hariku dengan sinarmu dan tutuplah hariku dengan keindahanmu yang tak pernah bisa dibayar dengan apapun.

Terbangun di pagi yang masih diselimuti langit biru gelap, ku berharap engkau muncul dengan segala kelebihan dan kekuranganmu, aku menantikan saat saat itu, menikmati belaianmu yang begitu hangat kurasakan dan ku bertanya padamu “matahari kenapa engkau tak pernah bosan untuk berdiri, tanpa aku suruh pun engkau tetap menjadi penghangatku?”, Dia selalu menjawab dengan jawaban yang sama “aku akan tetap menjadi penerangmu sampai habis usiaku, karena aku tau kau sangat membutuhkannya”, dia begitu tak ingin kehilangan momentum awal hari begitupun aku yang sangat menantikannya.

Aku menikmati setiap detik saat dia berdiri tapi hey awan “hey awan kenapa kau selalu menggangguku merasakan belaian hangat matahari?”, awan itu menjawab dengan nada agak tinggi “aku bukan mengganggumu, nak aku akan menjadi peneduhmu ketika matahari terlalu bertingkah berlebihan dan ketika matahari terlalu berlebihan engkau selalu mengeluhkan apa yang matahari lakukan karena itu aku ada, untuk meredam hal yang tidak diinginkan yaitu menutupi sesekali matahari” aku hanya termengu dan tak begitu paham dengan awan, dia memang benar bahwa aku selalu mengeluhkan ketika matahari berada di atasku, tepat di atasku.

Waktu terus berjalan aku tetap dengan apa yang biasanya aku lakukan, matahari tetap mengiringi langkahku dan awan tetap siaga lalu lalang kesana kemari. Matahari berkata “hey nak, apa kau tidak kepanasan? Lihatlah aku! Aku ada tepat di atasmu” aku menjawab “yaa kau terlalu panas sampai sampai aku tak bisa melihatmu, tidak bisa melihat bentukmu” awan pun menghampiri matahari dan berbicara kepada matahari “kau jangan terlalu angkuh akan apa yang kau punya matahari!”, awan itu meneduhkanku dan mereka berbincang tapi aku tidak pernah mendengar apapun ketika mereka berbincang pelan.

Aku terus menjalani hari seperti biasanya kulakukan dan sampai hari tak terasa sudah memasuki sore aku selalu ke tempat yang kusukai dan memandangi langit dengan ditemani matahari yang berada di samping atasku, aku berebah di padang rumput dengan sedikit menumpangkan kaki kiriku ke kaki kanan melipat tanganku dan kusimpan di bawah kepalaku… Aku suka saat ini karena aku bisa merasakan alam begitu bersahabat bagiku.

Matahari bertanya kepadaku “bagaimana harimu nak?”, aku selalu menjawab dengan ekspresi yang biasa “yaaa seperti biasanya” “kau pasti lelah nak” aku tau matahari akan berkata begitu dan aku tau juga matahari akan pergi meninggalkan pesan yang sangat kusukai, awan tidak waspada lagi di hari itu dan aku tak peduli tentang itu tapi awan pun selalu menjadi hal yang sangat kukagumi pula bahwasanya dia adalah penyejuk saat aku lelah letih.

“Matahari apakah kau akan kembali lagi hari esok dengan hangat belaianmu?” “ya aku akan berusaha sebisa mungkin untuk tetap ada untukmu” dia perlahan berubah menjadi kuning kemerah merahan, sangat indah terlihat dan sangat nyaman terasa dia berkata “nak janganlah menjadi orang munafik kepada alam semesta karena tanpa alam semesta kalian tidak bisa hidup dan bersyukurlah kepada sang pencipta kita semua tuhanlah yang membuat kita berdiri disini, jangan pernah berhenti berusaha untuk kebaikan, ini hanya tentang menjaga dan menghargai, jangan sampai engkau egois seperti yang lainnya mereka yang begitu selalu mempunyai sifat yang entah apa aku harus panggil sifat itu. Nak ini aku berikan sedikit kehangatan untuk menutup hari ini dan pandangilah aku, nikmatilah aku sebisa mungkin karena hari esok tidak bisa ditebak apakah aku masih bisa seperti ini untukmu, jangan khawatir ketika aku menghilang hari ini, masih banyak bintang sepertiku yang akan menjaga malammu nanti yang akan memberikan keindahan malam hari” ketika matahari berkata seperti itu aku hanya bisa diam dan tersenyum lirih kepada kenyataan sekarang, bahwa hidup bukan untuk dikeluhkan, bahwa hidup pasti ada akhirnya, bahwa hidup tidak bisa ditebak kebenarannya semua hanya perlu perjuangan dan kerja nyata, matahari itu terus tenggelam dan aku terus menikmati setiap detiknya.

Aku sangat mengagumimu matahari, tanpamu tidak ada kehidupan dan bukan hanya kau tapi bintang bintang malam nanti, semoga ini kurasakan tanpa ada kesombongan diri, malam akan segera tiba dan ku kembali ke rumah berharap esok kan lebih baik.

Cerpen Karangan: Sansan Saepulloh
Blog / Facebook: Sansan S

Cerpen Sun of San merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Melihat Ikan Paus Merah

Oleh:
Di desaku, pagi-pagi sekali para nelayan sudah turun melaut, beberapa ada yang membawa jaring besar, ada yang hanya membawa pancing. Ayahku, juga seorang nelayan, saban pagi ia turun melaut,

My Family

Oleh:
Usia Ku udh hampir 18tahun, sekarang aku dUduk di bangku kuliah (MABA). Aku adalah anak pertama dari dua berSaudara. Aku memiliki adik Laki-laki usianYa 13 tahun dan dia duduk

Si Sombong Edo (Part 2)

Oleh:
Edo kemudian memarkir mobil mewahnya itu di depan pagar rumah. Dia kemudian membunyikan bel rumah tersebut. keluarlah seorang wanita dengan rambut dikuncir dan memakai daster, “Siapa ya pak?”, “Saya

Peramal Ulung

Oleh:
Mata anak itu memicing. Mentari pagi bersinar, mengentaskan temaram dini hari yang sunyi. Ekoinoks vernal, sangat terasa. Peronda malam telah dirumahkan. Selimut mereka bentangkan. Saat untuk istirahat. Di sisi

Anak Kerbau

Oleh:
“Kasian juga aku liatnya, Mak.” ujarku. Isteriku tak menyahut, ia asik mengaduk nasi dalam periuk. Aku menghisap rokokku dan mengepulkannya ke atas. Daguku terangkat tinggi, kepalaku bersandar ke daun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *