Surat (Part 1)

Judul Cerpen Surat (Part 1)
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 9 January 2017

Pernahkah kau merasa jika apa yang telah kau perjuangkan berakhir sia-sia? Semua tenaga, keringat, bahkan hembusan napas yang keluar dari tubuhmu terbuang begitu saja hanya untuk meraih mimpi yang tidak akan terwujud sampai tua. Dunia ini memang adil. Bukan, malah sangat adil. Ya, sangat adil bagi mereka yang ingin mewujudkan ambisinya menjadi nyata dan diwujudkan dengan cara yang kotor pula! Aargh, sial!

Namaku Putra Bramantyo biasanya dipanggil “Tyo”. Aku adalah pemilik perusahaan ternama di Indonesia. Perusahaanku beroperasi di bidang perdagangan. Aku tidak akan memberitahu apa nama perusahaanku. Karena sekarang, perusahaanku berada diambang kehancuran! Lihat? Sejak 4 tahun lalu aku membangun perusahaan ini, mencari karyawan unggulan untuk mengembangkan usahaku, sampai di tahun ke-4 kami berdiri perusahaan ini terus berkembang pesat. Kukira kesuksesan ini akan ada untukku selamanya dan aku memang pantas mendapatkannya! Karena apa? Karena, banyak yang telah kukorbankan untuk kemajuan perusahaanku. Mulai dari modal yang besar, tenaga yang terkuras deras, sampai masalah asmara pun juga kukorbankan demi usahaku ini. Oke, Putra Bramantyo, seorang pengusaha muda tampan dan mapan memang belum memiliki pasangan. Jadi, ada yang mau mendaftar menjadi calonku? Ah, sudahlah lupakan.

Ya, karirku sebagai pengusaha muda di Indonesia memang cemerlang! Namun tidak selama yang kukira. Semua ini berawal dari -penjilat- itu. Kebon Jeruk Jakarta Barat. “Jadi, begini pak. Agar perusahaan kita semakin berkembang lagi, kita harus meluaskan jangkauan perusahaan ke beberapa wilayah di Indonesia. Yah, minimal di sekitar Jabodetabek ini Pak Tyo,” jelas Anji Bagaskara salah satu karyawan andalanku. “Tapi bukannya terlalu dini jika kita membuka cabang di kota lain? Perusahaan ini masih baru berdiri 4 tahun lalu. Dan kita masih dalam tahap perkembangan perkembangan. Walaupun ya, kau tahu sendirilah Nji. Perusahaan ini akan semakin maju kedepannya,” ujarku dengan bangga.
“Bukan itu yang saya maksud Pak,” sanggahnya. “Maksud saya, kita dapat menginvestasikan sebagian modal perusahaan ini ke perusahaan lain. Jadi, tidak perlu repot-repot membuka cabang. Hanya menanam modal, tunggu mereka berkembang, dan kita akan mendapat keuntungan yang lebih besar lagi. Begitu Pak,” jelas Anji. Hmm, benar juga yang dikatakan Anji, pikirku. “Baik, saya setuju dengan ide jeniusmu Nji. Sekarang cari data yang sebanyak mungkin mengenai perusahaan-perusahaan di Jabodetabek dan sekitarnya yang memiliki potensi untuk memajukan perusahaan kita,” perintahku pada Anji. “Baik Pak, saya permisi dahulu.” Lalu, Anji keluar dari kantorku untuk segera mencari data perusahaan-perusahaan yang kumaksud.

Beberapa minggu kemudian, Anji kembali menemuiku. Kami berbincang sambil mengisi perut di Cafetaria. “Bagaimana, apakah kau sudah mendapatkan semua data perusahaan seusai dengan keinginanku?,” tanyaku pada Anji. “Sudah Pak. Ini,” jawabnya sambil menyodorkan amplop coklat. Setelah menerima amplop tersebut, segera kubuka amplop itu dan melihat kertas-kertas yang berisi data dari perusahaan se-Jabodetabek dan sekitarnya. “Saya sudah survey semua perusahaan yang ada di Jabodetabek dan sekitarnya selama 2 minggu ini. Dari sekian banyak perusahaan yang saya survey, hanya 4 perusahaan saja yang saya rasa pantas untuk diinvestasikan oleh perusahaan kita. Hasilnya, dapat Bapak lihat dan pertimbangkan mana yang dirasa lebih pantas.” Jelas Anji seraya meminum teh manis pesanannya.

Asap mengepul hangat dari kopi yang disajikan Djono, Office Boy di perusahaan ini. Aku berada di kantorku, melihat data dari 4 perusahaan yang diberikan Anji. Sejak 10 menit lalu kami bertemu, belum ada keputusan yang pasti dariku. Maka, aku meminta Anji memberiku waktu untuk mempertimbangkannya. Dan disinilah aku, mengurung diri dalam kantor kesayangan hanya ditemani kopi yang menhangatkan badan. Memang pas karena di luar sana hujan turun dengan derasnya.
Akhirnya, satelah satu malam aku meminamn-nimang pilihanku jatuh pada perusahaan yang bernama PT Nusa Jaya. Beroperasi di bidang yang sama seperti perusahaanku dan berdiri lebih lama dari perusahaanku. Namun mereka masih tertinggal jauh dari perusahaan milik Tyo ini. Dikarenakan beberapa tahun yang lalu kantor PT Nusa Jaya mengalami kebakaran dan menyebabkan mereka kehilangan modal yang cukup besar sehingga mereka hampir gulung tikar pasca kejadian itu. Akan tetapi, PT Nusa Jasa kembali bangkit dan sekarang dalam proses perbaikan. Nah, ini perusahaan yang kucari sekaligus cocok dengan motto hidupku “walaupun tersandung bara api pun, tetap bangkit dan berjuang sampai titik darah penghabisan.”

Aku pun memberitahu Anji bahwa aku sudah memilih perusahaan yang pantas kami tanami modal. Keesokan harinya, Anji masuk ke dalam kantorku bersama pria paruh baya dengan setelan jas yang elegan. Sepatu hitam legamnya mengkilap menyilaukan mata. Rambut putih tersisir rapi tampak sedikit berminyak sepertinya diberi pomade (?) Ya, ya, aku tahu tidak salah jika pria tua memakai pomade sama seperti anak muda lainnya.

“Ini Bapak Nur Rohmat Direktur Utama PT Nusa Jasa. Pak Nur, di depan anda adalah Putra Bramantyo pemilik perusahaan sekaligus atasan saya,” ucap Anji. Aku melihat bapak tua itu mulai dari pakaiannya hingga wajahnya yang dihiasi kerutan halus akibat ‘kerja keras’-nya selama ini. Cukup aku apresiasi semangatnya untuk kembali membangun perusahaan yang hampir saja gulung tikar. Yah, walaupun tidak muda sepertiku lagi. “Saya permisi dahulu,” ucap Anji seraya keluar dari kantor.

“Selamat siang, Bapak Putra Bramantyo,” sapanya tersenyum. “Pak Tyo,” jawabku. “Ehem, baik Pak Tyo. Saya kemari ingin membicarakan tentang investasi yang akan perusahaan Bapak yang besar ini berikan ke perusahaan saya.” “Jadi begini Pak Nur, saya sudah melihat data-data dari perusahaan Bapak dan saya memilih untuk menginvestasikannya ke perusahaan Pak Nur ini. Bagaimana jika saya tanamkan modal sekitar 150 juta?,” tanyaku. “150 juta? Pak Tyo, beberapa tahun lalu perusahaan kami mengalami kerugian yang mencapai hampir 200 juta. Jadi, apakah pantas jika kami menerima modal dari Bapak Tyo yang baik ini hanya 150 juta?,” balasnya.
‘Hanya’ ujarnya? Aku tidak percaya pria tua ini berkata seperti itu kepadaku. Hei, memangnya 150 juta tidak banyak apa? “Hmm, jadi Pak Nur ingin saya mengeluarkan berapa banyak? 200 juta cukup? Atau ingin lebih dari itu? Saya dapat meberikan semua kepada Bapak,” balasku pongah dan sedikit memendam amarah. “Baik Pak, tenangkan diri Bapak dahulu. Karena perusahaan kami dalam perbaikan pasca 2 tahun kejadian itu. Dan sepertinya Bapak sangat ingin menginvestasikan modal Bapak ke perusahaan kami, maka dari itu kami rasa cukup dengan 170 juta saja kami akan membantu perusahaan Bapak Bramantyo manjadi semakin maju lagi kedepannya. Bagaimana Pak? Apakah Bapak setuju?,” tanya pria tua itu. “Oke, saya terima. Tolong temui Etik, sekretaris saya dan minta cek darinya,” ujarku. “Baik, terima kasih telah menjalin kerja sama dengan kami,” balasnya sambil beranjak keluar kantorku.

Setelah negosiasi menyebalkan bersama pria tua berpomade itu, perusahaanku menginvestasikan modal ke PT Nusa Jaya walaupun baru setengahnya sebagai uang muka. Karena sebenarnya budgetku hanya sampai 150 juta saja. Akhirnya, terpaksa aku berhutang ke Bank Plecit untuk membayar setengah dari jumlah investasi yang kujanjikan kepada pak tua itu. Namun setelah 2 bulan aku menginvestasikan modalku ke PT Nusa Jaya, tidak ada kabar mengenai perkembangan perusahaan itu. Malah seperti ditelan bumi Anji pun juga hilang entah kemana. Ketika kutanyakan kabarnya ke beberapa rekan kerjanya, mereka bilang sudah sebulan lebih Anji tidak datang ke kantor karena sakit. Aku pun sudah mencoba mendatangi kost yang ditempatinya. Ternyata ia sudah tidak tinggal di kost itu. Kemana Anji Bagaskara pergi?

Cerpen Karangan: Manayra Amaryll
Facebook: Manayra Amaryll
Gadis biasa yang masih sekolah tingkat SMA berusaha mencari jati dirinya melalui kegiatan menulis cerpen. Berzodiak Taurus yang terkenal dengan keras kepalanya,senang dan sering melakukan hal ‘Gila’. Percaya bahwa karma itu ada.

Cerita Surat (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pelangi Sederhana (Part 2)

Oleh:
Happy b’day mom.. besok adalah ulang tahun ibuku yang ke40. “terima kasih Tuhan, Engkau masih memberiku kesempatan untuk hidup bersama orang yang aku cintai. Semoga ibu, panjang umur, di

Tuhan Bilang Jangan!

Oleh:
“Jangan bilang kalau Tuhan itu baik!” Ucap Supardi “Kenapa? bukankah Tuhan yang memberikan kita kehidupan, Ayah” balas Gendis Gendis tahu rasanya kehilangan hak yang sangat berharga atas apa yang

Catatan Ayah

Oleh:
” Seorang AYAH selalu ingin yang terbaik buat ANAKNYA ” Sabtu selalu menjadi hari kebebasan buatku , lepas dari segala rutinitas yang membuatku selalu ingin berdiam diri di kamar

SMS Lailatul Qadri

Oleh:
Setelah shalat Subuh, aku baru kembali mengaktifkan hp yang semalaman di off kan. Malam ke 27 bulan suci Ramadhan aku sempatkan beri’tikaf di masjid dekat rumah. Sebenarnya, ingin sekali

Ice Cream Love

Oleh:
Kopi ini hanya terlihat kabut tipisnya dan menebarkan aroma khas. Belum berhenti mencari inspirasi untuk apa yang sekarang harus ku tulis setelah aku kehilangannya. Waktu seakan berhenti ketika aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *