Surat Senja Untuk Fuada

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 16 October 2016

“Tahukah kamu, Fuada, kapan tulisan-tulisan ini diikat oleh penaku dalam kertas kusam ini??”
“Senja”
Banyak hal yang kupelajari dari senja, dan kau harus tau!!!
Pertama, aku melihatmu untuk kali pertama, di sebuah senja di pinggir pantai. Kau tumbuh dengan kasih sayang ibu, bapakmu. Mereka menyempatkan untuk memperkenalkanmu pada senja. Senja yang akan hilang ditelan malam. Kau begitu menikmati senja, kau sempat mengambil gambar bersama senja. Kau sangat rindu pada senja seperti air laut, dia takut kehilangan senja. Senja mengajarkan air laut melihat sisi lain dari warnanya.

Aku melihatmu berlarian di bawah senja, sementara ombak berguling di atas tikar busa memecah karang. Ayah dan ibumu duduk di gazebo sambil bergandengan tangan menikmati senja. Sementara dirimu berlalu-lalang menikmati senja.
Kedua, selain dirimu, aku juga menyukai senja. Aku pecandu senja, pecandu yang tak kunjung tobat. Aku memilih senja dari pada tuhan. Senja tak pernah pilih kasih, dia sangat mencintai penikmatnya. Senja tak pilih kasih; perawan, gadis, nona, tua muda bahkan yang munafik sekalipun.

Hidupku disibukkan dengan bekerja. Aku tak bisa menikmati pagi, dengan matahari terbit, dengan hangatnya, dengan keindahan yang terparcar darinya. Semua itu demi melanjutkan hidup. Aku harus mengorbankan pagi untuk menebus dan menukarnya dengan uang, agar aku bisa menatap senja.

Senja memberiku kebebasan. Saat senja mulai muncul dari ufuk barat, aku merasa bebas dari segala hal. Aku tak perlu lagi bekerja, yang tercatat di benakku hanyalah senja. Itulah mengapa catatan ini kutulis di waktu senja. Seluruh naluri, perasaan dan kelihaianku terpancar lewat senja.

Lebih penting, senja selalu mengingatkanku tentang segala hal, termasuk kenangan. Dan ketika senja tiba pada letaknya yang paling nyaman, aku teringat dengan sebuah cerita penting.

Sebuah keluarga –kakek, nenek, suami, istri, empat orang anak- mereka pecinta senja. Senja yang membuat kehidupan mereka menjadi harmonis. Seluruh aktivitas dihentikan diwaktu senja, kecuali hanya menikmati cemilan bersama senja. Namun kebahagiaan itu tidak berumur panjang. Ketika mobil mereka jatuh ke jurang akibat menghindari ambulan yang melejit dengan cepat mengantar orang yang lagi sekarat. Waktu itu, mereka baru saja pulang setelah menghadiri pesta keluarga. Mereka juga terburu-buru karena takut tak menatap senja hari ini. Mereka berkeyakinan, sehari tanpa senja itu membuat kehidupannya berantakan. Kejadian yang menimpa keluarga pecinta senja sangat teragis, tidak ada yang bisa terselamatkan kecuali seorang anak laki-laki.
Herannya, lelaki tersebut terlihat seperti tak terjadi apa-apa padanya. Sehelai rambut pun tak ada yang gugur pada kecelakaan tragis tersebut. Sementara keluarganya yang lain, maut telah menjemputnya. Masyarakat kaget melihatnya, seluruh media memberitakan peristiwa menakjubkan tersebut.

Ketika anak tersebut telah kembali dari masa kritis batinnya atas perasaan trauma, kehilangan sanak keluarganya. Para pemburu berita pun mendatanginya untuk mengadakan wawancara atas kejadian menimpa dirinya.
“aku tak ingin diwawancarai kecuali senja” gubrak anak tersebut.

Waktu menunjukkan pukul 17.30, para pencari berita; surat kabar, radio, televisi semuanya telah berkumpul di halaman rumah keluarga malang tersebut. Para wartawan telah lama menunggu. Mereka menyaksikan senja yang tidak ada duanya selam ini, senja yang menjadikan si miskin menjadi kaya, senja yang menjadikan penjahat menjadi orang alim. “senja ini seperti di surga” kata seorang wartawan dalam percakapannya menunggu lelaki malang tersebut. Begitu indahnya, sampai menyebut kata surga, seolah-olah telah pernah datang kesana.

Pemilik rumah yang telah lama dinanti, ke luar dari rumah berukuran sedang, dengan cat berwarna putih tulang dan tulisan di bawah atapnya “Hiduplah dengan senja”.
Tanpa berpikir panjang, anak itu dengan menggunakan sweter coklat, warna kesukaannya, dengan secangkir kopi pengantar senja, duduk di gazebo, dimana keluarga besarnya menikmati senja.
Tatapannya sangat tajam kepada senja, seolah tak mau kehilangan sedetikpun panorama senja.

“Kami sekeluarga adalah pecandu senja. Kami mencintai senja di atas tuhan. Kami percaya bahwa hari tanpa senja itu, membuat hidup kami berantakan. Lihatlah hari dimana musibah besar terjadi, dimana maut menimpa mereka. Kami memburu senja karena kami percaya dengan keyakinan nenek moyang kami. Dan akhirnya mereka mengakhiri hidupnya tanpa melihat senja” kata anak yang malang itu dengan hiasan air mata di pipinya tanpa mengabaikan senja
“trus, kenapa kamu selamat dalam kecelakaan beruntun itu. Seperti tak terjadi apa-apa pada dirimu??” Tanya seorang wartawan majalah dewasa. Entahlah apa hubungan majalah dewasa dan kecelakaan tragis.
“Senja, Ini semua karena senja”
“hah??” sontak para wartawan tak percaya, seolah perkataan anak itu adalah dusta.
“iya, senjalah yang menyelamatkanku. Ketika kecelakaan terjadi di puncak gunung tersebut, dengan jalan-jalan yang dipenuhi jurang, aku melihat sinar senja yang lebih indah dari pada senja di gazebo ini. Saya pikir, keluarga –nenek, kakek, ibu, ayah dan ketiga kakakku- tidak melihat senja indah itu. Mereka kaget melihat kendaraan ke luar dari jalur dan menghantam pembatas besi yang menyebabkan mobil seperti burung yang kehilangan sayap dan terjatuh di pepohonan-pepohonan yang merenggut nyawa mereka. Sementara aku tidak merasa terjadi sesuatu, aku hanya terbangun dari tidurku dan melihat senja itu tiga detik, kendaraanku sudah berada di bawah jurang. Dan aku yakin itu karena senja”.

Nelangsa yang dialami anak tersebut telah berjalan Lima tahun. Tak ada lagi gosip tentang kejadian yang menimpanya. Berita itu seolah angin yang berhembus lekang oleh waktu. Anak itu pun tak lagi memikirkannya. Dia harus punya cara hidup menatap senja.

Kini, anak pecinta senja itu telah dewasa. Menikmati hidup sebatangkara. Perasaan sedih dan senang bercampur jadi satu. Dia sedih karena tak ada lagi yang menemaninya dan menyukai senja seperti dirinya. Dia juga senang, karena merasa memiliki senja sendiri. Tak membagi sinar senja kepada orang lain.

Sebagai pria normal, ada hal yang pasti dalam hidupnya selain senja yaitu jatuh cinta.
Suci adalah gadis berusia 23 tahun. dengan tinggi sekitar 160 cm, berparas cantik dengan kulit putih, mata hitam bulat, dengan dihiasi bibir kemerah-merahan, rambut hitam melewati bahu.
Gadis inilah yang membuat lelaki malang ini jatuh cinta. Bermula pada pertemuan pertamanya di sebuah café di Makassar. Umumnya laki-laki, ketika melihat pelayan cafe yang mengantarkan makanan padanya, tatapannya tertuju pada bagian dada wanita. Ini lumrah, sebagai lelaki normal. Diperkirakan tinggi payudaranya 15 cm, berat sekitar 750 gram persatuannya, dengan volume sedang 400cc dengan ukuran bra 34.
Siapa sangka, ketika lelaki malang tersebut mencari suasana lain melihat senja, dia berjalan ke pantai losari, disanalah untuk kali kedua bertemu dengan Suci, pelayan yang membuat hati lelaki malang itu dipenuhi cinta –cinta pada pandangan pertama. Pantai losari salah satu tempat wisata terpupuler di kota makassar, dengan hamparan pantai yang membentang luas. Pantai ini juga dikenal memiliki senja yang indah meskipun tak seindah senja di halaman rumah lelaki malang itu.
Selain senja yang indah, pantai losari juga adalah tempat yang nyaman bagi pasangan kekasih, atau mungkin mencari gebetan.
“hai, Suci yah?, pelayan café yang itu hari… ngapain di tempat seperti ini sendirian?” Tanya lelaki pecinta senja ini, dengan agak ragu dan berjalan menghampiri suci yang duduk dengan hidangan pisang epe’ makanan khas makassar.
“eh.. mas.. iya,.. mas sendiri lagi ngapain sendirian di tempat seperti ini?” jawab suci dengan senyum tipis di bibirnya.
“aku memang sudah terbiasa sendiri, aku kesini ingin menikmati senja yang berbeda dari biasanya. Kamu juga menyukai senja?”
“lumayan sih, kalau lagi ada waktu kosong, biasanya aku menghabiskan waktu sendirian di tempat ini.” Jawab suci dengan menatap senja seolah ada hal yang terbayang di pikirannya tentang kenangan masa lalu.
Percakapan mereka berlanjut syahdu. Berawal dari SKSD (sok kenal, sok dekat), akhirnya menjadi diskusi yang panjang, bertukar nomor telepon, sampai berbicara masalah kebiasaan-kebiasaan mereka.

Setelah tiga bulan berkenalan, sampailah pada hasrat yang mereka inginkan yaitu berpacaran. mereka berdua layaknya orang dimabuk cinta, semuanya terasa indah. Seolah dunia hanya milik mereka berdua yang lainnya ngontrak.
Kini, lelaki yang malang itu tak lagi merasa kesepian. Dia bisa melihat senja bersama suci setiap hari.
Setahun berlalu!!!
Suci merasa bosan dengan rutinitas melihat senja. Memang dari awal, suci tidak menyukai senja. Hanya saja dia menghargai lelaki malang tersebut, dan untuk menarik perhatiannya saja. Di pikirannya senja tidak akan memberikan apa-apa untuk kehidupannya kelak. Tidak ada yang istimewa dari senja. Hanya matahari yang cahayanya agak redup, tidak memberikan nilai ekonomi untuk kehidupan.

“sayang, selain dirimu, aku juga sangat mencintai senja. Aku ingin hidup bersamamu selamanya. Agar kita sama-sama menikmati senja. Dan memiliki anak pecinta senja. Nanti akan kuajarkan kepada mereka bagaimana menikmati senja.”
“sayang, kalau boleh jujur, aku tak suka senja. Apa yang bisa kita dapatkan dari senja. Itu hanya kejadian alam yang berulang. Aku lebih suka dengan uang. Kita bisa hidup dan melakukan apa saja dengan uang. Tanpa uang senja bukanlah apa-apa. Aku tak mau menjadi sepertimu, menghabiskan waktu hanya untuk persoalan sia-sia” tanggap Suci dengan nada tinggi dan menolak rangkulan dari lelaki pecinta senja.
“Sayang, ini adalah kebiasaan yang diwariskan oleh nenek moyangku. Bahasa senja sangat hangat, dia tak pilih kasih, bahkan pada mereka yang tidak punya uang sekalipun. Banyak hal yang diajarkan oleh senja. Mengajarkan kedamaian, ketentraman, kehidupan”
“ah.. sudalah, aku malas bicara senja. Kamu saja yang mencintai senja, jangan paksa aku. Saya lebih butuh uang dibanding senja. Dengan uang saya bisa menciptakan kedamaian, ketentraman dan hidupku akan lebih nyaman. Suatu saat akan kubeli senja dengan uangku” jawab suci. Lalu meninggalkan kekasihnya yang masih duduk di gazebo menikmati senja.
Dalam hati bergumam “aku kira, kau adalah wanita yang mampu menemaniku hingga tua nanti. Kau bukanlah wanita yang kucari selama ini. Untung saja aku tidak gegabah mengambil keputusan dan berikrar dalam bahterah rumah tangga lewat perkawinan yang sah denganmu. Hampir saja mimpiku selama ini kandas olehmu. Aku bersyukur kau menyampaikannya sebelum semuanya hancur berkeping-keping.”

Dua Minggu telah berlalu, keduanya belum saja bertukar kabar sama sekali. Mungkin waktu itu adalah pertemuan terakhir bagi mereka berdua. Hari buruk bagi mereka berdua.
Ternyata kepergian suci selama dua minggu ini adalah kepergian untuk selama-lamanya dari kehidupan lelaki malang itu. Ini baru diketahuinya, setelah lelaki malang ini melakukan stalker di dinding facebook suci. Dia melihat foto suci yang sedang berpelukan dengan seorang lelaki yang lebih gagah dibanding lelaki pecinta senja. Setelah ditelusuri profil pacar baru suci, ternyata dia seorang anak pejabat yang kaya raya. Sesuai dengan apa yang dicita-citakan Suci selama ini.
Akhirnya lelaki malang yang kecanduan pada senja ini hidup seperti pada mulanya. Tanpa Suci, menyendiri. Dan akhirnya trauma dengan wanita.

Inilah alasan kenapa catatan ini kutulis pada waktu senja, Fuada. Agar kau tahu betapa senja mengajarkan banyak hal dalam hidup.
Terpenting yang harus juga kau tahu, Fuada. Tahukah kau siapa lelaki pecinta senja yang malang itu. Itu Aku.

Tanpa Nama

Cerpen Karangan: Muhammad Miraj Pasegeri
Blog: http://mirajpasegeri.blogspot.com
Muhammad Miraj Pasegeri, lahir 10-januari- di Makassar. Menyelesaikan Sarjana di Universitas Hasanuddin, Jurusan Sastra Asia Barat FIB-UH. Saya hanya penikmat sastra, tidak memiliki capaian dalam menulis. Kini tinggal di Iraq. Bisa di sapa lewat Facebook: Muhammad Miraj Pasegeri, Twitter:@tho_Caddi, Email: muhammadmirajpasegeri[-at-]gmail.com

Cerpen Surat Senja Untuk Fuada merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Diam Diam Suka

Oleh:
Amy adalah seorang anak yang baru masuk SMA. Awalnya dia merasa sedikit canggung, tapi dalam hati kecilnya dia selalu berkata bisa. Amy, adalah seorang cewek yang periang tetapi saat

I’m Pecundang Hero (Part 2)

Oleh:
Sepanjang perjalanan aku tidak berkata sepatah kata pun, namun dia banyak sekali bercerita tantang kehidupannya yang baru pertama kali ini naik motor, terus pulang selarut ini dan diantar oleh

Cintaku Juga Darahku

Oleh:
Sejak kejadian beberapa tahun silam, seiring berjalannya waktu yang aku lewati dengan rasa trauma yang sangat mendalam. Sejak kejadian bencana alam itu tejadi, masih ku ingat betapa isi bumi

Jimko and Dinoland (Part 1)

Oleh:
Bunyi bel pulang terdengar nyaring di telinga anak kelas VII Einstein. Seluruh siswa bersorak seakan terbebas dari match class yang membosankan. Namun, di sisi lain, Jimko seorang cowok dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *