Surat Untuk Presiden

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 15 May 2014

02 Juli 2013
Kayu-kayu itu masih berserakan. Sampah dimana-mana. Rumah-rumah kokoh itu sekarang tinggal kepingan-kepingan yang berserakan. Guncangan besar telah terjadi di tempat ini rupanya. Entah, aku tak tahu mengapa aku begitu bersemangat ketika di kampus ku akan mengadakan bakti sosial ke Aceh Tengah. Setelah aku melihat secara langsung tempat ini, ternyata lebih parah daripada yang aku lihat di televisi.

Aku masih berdiri tertegun di tengah kepingan-kepingan ini. Aku tak tega melihat mereka yang kehilangan harta bendanya, bahkan orang yang paling mereka cintai. Kamera yang sedari tadi tergantung di leher secepat kilat kini sudah berpindah ke tangan mungilku. Aku mengabadikan kenangan-kenangan di tempat ini. Memang kuasa Allah begitu dahsyat. Gempa dengan berkekuatan 6,2 SR mampu memporak porandakan tempat ini. “hey rin, kenapa masih disini? Ayo cepet kita ke tempat pengungsian” ucap Abi salah satu temanku. “eh.. iya Bi” ucapku. Aku dan rombongan segera menuju ke tempat pengungsian. Disana sudah ada banyak orang, dari beragam usia. Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, sampai yang lanjut usia. Keadaan mereka sangat memprihatinkan. Hanya berlindung di sebuah tenda kecil dan berharap bantuan datang setiap harinya.

Setelah beberapa lama kami berada di sana, ternyata ada beberapa anak yang akan menampilkan sebuah pertunjukan. Untuk menghilangkan rasa bosan mungkin. Anak-anak itu berlari kecil menuju halaman di depan pengungsian itu. Dari wajahnya sungguh terlihat kemurungan seperti ingin mengatakan: kita korban gempa, apa masih ada yang perduli terhadap kita? Anak-anak itu menampakkan wajah sedih mereka dengan air mata yang mengalir secara otomatis. Mereka membiarkan air mata mereka mengalir lembut di pipinya.

Tiba-tiba seorang anak mulai membacakan puisi. Matanya memerah, karena sejak tadi menangis. Penghayatannya sungguh luar biasa, itu benar-benar suara hati mereka Tuhan. Apa engkau tega melihat wajah-wajah tak berdosa mereka? wajah-wajah yang seharusnya tersenyum polos, bukan wajah mengharap seperti ini. Ah, mereka terlalu suci untuk mendapatkan tamparan keras dunia yang kejam ini.

Gempa
Mengapa engkau menghantui kami lagi?
Baru saja kemarin engkau datang
Meluluh lantakkan desa kami
Sekarang kau datang lagi
Hancur rumah
Hilang harta benda
Jeritan hati sudah tak lagi terdengar
Derita hati, derita badan
Masih kah ada yang perduli kepada kita?
Masihkah ada yang mendengar jeritan hati kita?
Tuhan, selamatkan desa kami
Jangan Engkau datangkan lagi guncangan besar itu
Jangan Engkau renggut lagi orang yang kami sayang
Tuhaan..
Kuatkanlah hati kami
Aamiin

Gadis itu menutup puisinya, dan setetes air mata jatuh di pipi lembutnya. Semua orang yang ada disana serempak mengucapkan Aamiin bersama-sama. Tuhan, lihat anak itu. Anak yang seharusnya masih duduk di bangku sekolah, kini harus menghadapi cobaan seberat ini, anak yang seharusnya masih bermain dengan teman sebayanya kini harus mendapatkan ini? anak itu kemudian keluar dari kerumunan orang-orang yang melihat pertunjukannya. Sambil menyeka air mata yang keluar dari pelupuk matanya, anak itu berjalan gontai menuju tenda. Aku segera mengekor di belakangnya, karena segudang pertanyaan sudah ada di kepalaku. Ketika gadis itu duduk di tepian tenda, dengan tatapan lurus tak bertujuan. Aku mendekatinya sambil tersenyum, dia menatapku kaget dan penuh dengan pertanyaan.

“hai, adik manis” sapaku seakrab mungkin. Agar dia tidak takut kepadaku. Dia tersenyum sambil tersipu malu.
“nama kakak Karina febrianty. Tapi, panggil kak Karin aja yah” ucapku sambil tersenyum mencoba bisa segera akrab dengannya.
“namamu siapa?” ucapku lagi setelah sadar aku belum mengenalnya.
“namaku syila kak” ucapnya sambil menampakkan senyum mirisnya.
“nama yang bagus. cantik seperti wajahnya” ucapku mulai bercanda, berusaha mencairkan suasana. Sekarang dia mulai bisa tersenyum dan menceritakan keluarganya. Ternyata ayahnya masih belum ditemukan karena menjadi korban gempa tersebut. Dia masih berharap ada sedikit keajaiban yang bisa menyelamatkan ayahnya.

“syilla, nanti kalau sudah besar mau jadi apa?” tanyaku.
“syilla mau jadi penulis novel kak.” Katanya sambil tersenyum (lagi). Wah anak sekecil ini sudah bercita-cita sebagai novelis. Di hati, sudah kuamini saja mimpinya.
“wah, bagus. Emang Syilla sekarang kelas berapa?” tanyaku penasaran. Jarang ada anak SD sudah mengenal dunia novel.
“kelas 4 SD kak. Syilla sering baca-baca novel di perpustakaan. Syilla pengen banget bisa nerbitin buku syilla kak. Waktu itu syilla terakhir baca novel karya Andrea Hirata yang judulnya padang bulan kak, tapi sayang belum selesai, keburu ada…” katanya tertahan. Aku tahu apa yang ingin dia ucapkan: gempa
“nanti kakak kirim novelnya ya buat Syilla.” Aku mencoba menghiburnya. Karena dia mulai sesenggukan lagi. Mendengar ucapanku dia mulai tertarik dan segera menyeka air matanya.
“apa yang kamu mau setelah kejadian ini syilla?” ucapku sambil menebarkan pandanganku.
“kehidupan aku waktu dulu” lagi, aku tercengang dengan ucapannya yang seperti orang dewasa, mungkin itu efek dari membaca novel yang memang sangat dia gemari.
“hhhmmm, makasih buat waktunya ya adik manis. Nanti kakak kirim novel Padang Bulannya.” Ucapku sambil berdiri akan beranjak.
“iya. Kak Karin mau ke Jakarta?” Tanya Syilla sambil ikut berdiri, kurangkul pundaknya sambil berjalan di sampingnya.
“iya, kenapa?”
“boleh Syilla nitip surat?”
“surat apa?”
“surat untuk presiden” katanya sangat percaya diri. Ku tatap tak percaya gadis kelas 4 SD tersebut. surat untuk presiden? hal yang menarik!
“Boleh kakak baca?” Tanyaku dengan nada memohon padanya.
“Ini, tapi jangan bilang-bilang sama orang lain, ya? yang buat itu Kak Ratna, kakakku.” Katanya sambil mengeluarkan sebuah kertas kusam dengan tulisan yang cukup rapih. Kubaca kata-katanya yang memang indah. Pantas tulisannya bagus.

Aceh, 4 Juli 2013

Kepad Yth.
Bpk.Susilo Bambang Yudhoyono
Presiden RI
di tempat.

Assalamualaikum Wr.Wb.

Pak SBY yang terhormat, kami adalah suara dari anak-anak Aceh dan korban gempa. Bisakah Bapak segera menindak lanjuti dan memberi bantuan yang layak kepada kami? kami disini rakyat Bapak yang memiliki hak yang sama.

Kami ingin segera bersekolah kembali. Bagaimana jikalau kami menjadi generasi yang bodoh, apakah Bapak mau melihat kami menangis di tengah malam karena tak mendapatkan ranking? apakah bapak tega kami hanya menggunakan baju sekolah yang sudah menguning itu? Kami merindukan kehidupan kami yang dulu pak, bermain bersama teman sebaya, tertawa bersama keluarga. Apakah kami akan mendapatkan kembali semua kehidupan kami yang dulu. Mungkin, suara kehidupan kami memang tak akan mampu menjangkau telinga Bapak yang kami hormati. Tapi marilah saling bicara, barangkali kita dapat mengusir kelaparan dan kejenuhan belajar karena ruangan yang sumpek.

Kami ingin Bapak datang kesini dengan membawa sejuta kehidupan.

Wassalamualaikum Wr. Wb

Aku menatap Syilla yang menutupi mukanya malu. Ku elus rambut lurusnya dan memeluknya erat. Seperti Kakak kepada Adiknya.
“Insyaallah kakak sampaikan semampu kakak ya Syilla.”

Dia pun tersenyum dan memelukku lebih erat. Aku berpisah dengannya, menatap wajah polosnya. Aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan membantu semampuku, yah apapun akan kulakukan. Demi menghapus air mata seorang gadis manis yang menunggu kebahagiaan di sana.

Cerpen Karangan: Silvia S.
Facebook: Cielvia86[-at-]yahooo.com

nama: Silvia S.
Kelas: XI
Sekolah: SMA Negeri 2 Tanggul

Cerpen Surat Untuk Presiden merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pertemuan Singkat

Oleh:
Mentari mulai menampakkan sinarnya dan sudah siap untuk menerangi sebagian dari belahan bumi ini. Sama seperti Netta yang sudah siap untuk memulai lembaran baru di SMA Harapan Bangsa. Ya,

Hingga Nafas Terakhirnya

Oleh:
Siang ini, matahari kian lama kian mengujung. Teriknya seumpama lidah api yang menjilat-jilati sekujur tubuh kurusnya. Ia terpontang–panting tak menentu. Tiba-tiba, tubuhnya terkulai menghunjam tanah. Tubuh kurusnya tergeletak bersejajar

Kind Heart

Oleh:
“Kamu pikirkan lagi deh, Mes. Apa yang kamu liat dari dia? Kamu itu satu-satunya harapan keluarga kita. Kamu satu-satunya anak Ayah dan Bunda yang sukses dan punya penghasilan tetap.

Ujian Untuk Andin

Oleh:
Malam semakin mencekam,,angin bertiup menampar alam, hingga menusuk tulang rusuk yang semakin hari semakin rapuh dengan tangan yang lebam. Ku lihat taburan bintang yang indah di atas langit sana,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *