Surga Yang Terluka

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 4 June 2012

Pagi yang sama dan biasa. Matahari masih menyembul malu-malu di timur, embun menitik dan memeluk pucuk-pucuk teki, menjinjit disela-sela daun beluntas, membasahi kelopak bunga-bunga kenikir. Angin menghembuskan udara dingin yang terasa menggigit kulit. Ayam jantan sudah berhenti berkokok, yang ada suara riuh ciap anak ayam yang mengekor induknya, mengais-ngais tanah mencari makan dipekarangan belakang. Kudengar suara jerejak kaki sapi dan lenguhannya dari arah rumah Mak Sanip, pasti mak sanip sedang memberi makan dua ekor sapi miliknya dikandang belakang. Aku memeras cucian baju terakhirku, merentangkan dan mengibaskannya, lalu menyampirkannya di tali tampar jemuran, ah…selesai sudah. Aku mengambil sebatang bambu untuk menyanggah tali jemuran tepat ditengahnya agar tali itu tak kendur akibat keberatan muatan. Terdengar suara sepeda motor dinyalakan….

“Hendak berangkat Mi…?” yang disapa hanya menganggukkan kepala saja tanpa suara. Itu Ami anak perempuan Mak Sanip satu-satunya. Ami seorang PNS, salah satu pegawai di kantor kecamatan di kota, suaminya seorang karyawan disebuah bank perkreditan desa. Letak kantor mereka berdekatan, awalnya berangkat dan pulang kerja mereka selalu bersama-sama, namun karena PNS biasanya selalu pulang lebih awal, dan Ami terkadang jenuh menunggu waktu pulang kerja suaminya yang lama, maka mereka membeli satu sepeda motor lagi untuk Ami, agar ia bisa pulang cepat dan tak perlu lagi menunggu suaminya. Meski untuk itu Mak Sanip harus rela melepas satu ekor sapinya.

Seusai menjemur aku menyiapkan sarapan untuk suamiku, nasi yang masih mengepulkan asap, oseng sayur paku, mujair goreng dan sambal cobek, aku hidangkan diatas lincak bambu, suamiku duduk bersila, makan tanpa banyak kata. Selesai sarapan ia mengambil sepatu hitam bututnya yang mulai beranjak menganga, mengusapnya dengan kain lap untuk membersihkan debu-debu yang menempel, aku meletakkan tas kulit coklatnya disampingnya.

“kapan mau dibawa ke rumah Herman untuk dijahit?”

“belum ada uang, nanti saja nunggu gajian…”

“ngutang dulu kan bisa…”

“ah enggak, gak enak sama Herman, dia sudah terlalu sering membantu kita..”

Aku memperhatikan suamiku mengayuh sepeda ontelnya menjauh, meninggalkan suara derit mencicit onderdil sepeda yang jarang diminyaki, meninggalkan bayangan seorang laki-laki kurus dengan sepatu kulit hitam yang sedikit terbuka dibagian depannya, tas coklat butut terkantuk-kantuk diboncengan, dan aroma wangi minyak rambut tanco yang sukses membuat belahan tengah nan klimis dan menawan. Begitulah gambaran seorang guru sekolah madrasah kampung, mulia dan memprihatinkan.

Sejurus kemudian, aku menyambar caping bambu dan bungkusan kecil yang sudah kumasukkan dalam kresek hitam. Kupastikan pintu depan dan belakang sudah kukunci dengan benar sebelum kemudian aku menghilang, menyusuri setapak kecil dibelakang perigi, menelikung sedikit saja lalu sampailah aku dibagian belakang rumah Mak sanip, yang pintu dapurnya berhadapan dengan kandang sapi. Kudapati mak sanip duduk termangu diatas lincak, terdengar suara desisan air yang mendidih diatas tungku. Kusapa ia tapi tak menjawab, tanpa diperintah aku langsung menuju tungku, mengangkat panci yang berisi air mendidih, lalu menghentak-hentakkan kayu bakar untuk memadamkan api, mak sanip masih mematung.

“Mak…” kuelus punggung perempuan tua itu perlahan, aku takut kehadiranku mengejutkannya.

“eh, kau sudah datang Lif….” benar dugaanku, mak sanip tak menyadari keberadaanku.

“apa yang emak lamunkan ?” tanyaku.

Mak sanip menghela nafas berat, turun dari lincak lalu mengambil caping bambu yang tergantung didekat pintu “ayo kita berangkat, keburu matahari meninggi…” ia tak menghiraukan pertanyaanku.

Aku berjalan mengekor dibelakang perempuan berusia 65 tahun yang meski sudah melambat namun tetap sigap, sesekali aku menggamit lengan kurusnya untuk menahan tubuhnya yang tak seimbang ketika menyusuri pematang. hari ini mak sanip mengajakku ke sawah milik haji Soleh yang tiga hari lalu baru selesai panen kedelai. Biji-biji kedelai yang jatuh, yang tersisa dari tumpukan-tumpukan batang kedelai yang dipanen, akan berserakan ditanah sawah yang kering, biji-biji itu akan menelusup kedalam rekahan tanah, bersembunyi dibalik lubang-lubang tanah yang keras, lalu beberapa hari kemudian akan berubah menjadi kecambah-kecambah kecil yang tersembul keluar. Kecambah-kecambah itulah yang kami cari, untuk dijadikan sayur pelengkap nasi. Rencananya kami juga akan mencari tumbuhan paku yang banyak tumbuh di balik semak dekat sungai. Sepanjang perjalanan, bahkan sesampainya ditujuan Mak sanip tak banyak bicara, bahkan membisu, ini tak seperti biasanya. Setiap kuajak untuk memulai percakapan ia hanya mendehem, atau berbicara sepatah dua patah kata saja. Tak seperti biasa, ada apakah gerangan…aku ingin tahu, tapi tak berani bertanya, aku hapal betul sifat Mak sanip, jika ia tak hendak berbagi cerita dibujuk seperti apapun ia tak kan bercerita, ia hanya akan membaginya atas kemauannya sendiri.

“hati-hati Mak, jangan sampai menginjak batang kedelai” seruku, untuk memunguti kecambah-kecambah itu kami memang harus berhati-hati agar kaki tidak tergores oleh tajamnya batang-batang kedelai yang runcing, sisa dari sabitan arit ketika dipanen. Tak memerlukan waktu lama, tas keresek hitam sedang yang kubawa sudah penuh dengan kecambah, begitupun milik Mak sanip. Ku ajak ia untuk menyudahi, lalu menuntunnya untuk beristirahat sejenak di sebuah dangau yang berada dipinggir sawah, dekat kali. Angin berhembus begitu sejuk, menepiskan cucuran keringat yang membasahi wajah dan leherku, kusodorkan sebotol air yang kubawa dari rumah kepada mak sanip, lalu aku membuka bungkusan daun pisang yang memang kupersiapkan sebagai bekal, pisang dan ubi jalar ungu yang kurebus tadi pagi sebagai santapan kami saat ini. Kulirik mak sanip disebelahku, mulutnya mengerut mengunyah, mencoba melumatkan pisang rebus dengan gusinya yang tak lagi memiliki gigi, mata rentanya menerawang kedepan, entah apa yang sedang berkecamuk dalam hatinya, aku hanya bisa menerka-nerka berdasarkan perasaanku saja.

“Apa lagi ulah Ami kali ini mak…?” aku mencoba bertanya, siapa tahu dugaanku benar.

“hah…” mak sanip sedikit terkejut mendengar pertanyaanku, ia tak langsung menjawab, kepalanya menengadah, matanya menatap sepasang merpati yang terbang agak rendah, lalu perempuan tua itu menarik nafas dalam.

“sakit benar hatiku dibuatnya, Lif…”mak sanip kehilangan selera makannya, pisang rebus yang tinggal separo ditangannya, digenggamnya saja, aku jadi merasa bersalah.

“tega benar dia melukai perasaanku, perasaan ibunya sendiri, sebegitu tak sukakah ia padaku, Lif? Apa karena aku sudah tua, tak lagi mampu berbuat banyak untuknya, sehingga ia menganggapku hanya beban yang menyusahkannya saja” mata mak sanip berkaca-kaca, suara bergetar menahan sesak hatinya.

Aku tak tahu harus berkata apa, kuelus punggung tuanya “jangan berkata begitu mak, Ami anak emak, tak mungkinlah ia beranggapan seperti itu”

“kalau memang seperti itu, lalu kenapa ketika aku meminta tolong padanya untuk mengerok punggungku….. punggungku saja….karena aku masuk angin, dia menolak dan berkata……“ah, emak bikin repot saja, nanti saja kalau acara tevenya selesai…..”

“sakit hatiku Lif…sakit…dia lebih mementingkan acara televisi daripada emaknya…” air mata mengalir membasahi pipi keriput perempuan tua itu, dadanya naik turun terisak, aku menjadi geram pada Ami.

“tidakkah dia tau, aku tak pernah merasa repot sedikitpun ketika harus meregang nyawa untuk melahirkannya, aku tak pernah merasa repot untuk mengasuhnya, membesarkannya….tiap malam aku bangun untuk mengelap ompolnya, membersihkan beraknya, dan aku tak menganggap itu sebuah kerepotan…..” Mak sanip mengelap ingusnya dengan ujung bajunya, dadanya masih naik turun, aku sendiri tak bisa berkata-kata, tak kan berani menyela geram hati seorang ibu yang terluka.

“ ketika dia besar, ku giring dia ke sekolah agar berpendidikan, agar tak menjadi bodoh seperti orang tuanya, tak peduli aku dengan segala harta benda, karena bagiku uang bisa dicari, ku jual semuanya agar dia bisa sekolah tinggi, sampai dia menjadi seorang……menjadi apa namanya….?

“sarjana…”

“ya, sajarna itu…”

“sarjana mak….”

“ah apalah itu namanya…..aku berharap dia mampu membuatku bangga, mampu membuatku membusungkan dada. Tapi….beginikah balasannya kepadaku…!!!!.

“kamu tau kan Lif….pernahkah aku mengeluh, ketika aku harus menjual satu petak sawahku yang tersisa untuk memperbaiki rumah agar menjadi lebih layak, supaya dia tak malu pada calon suaminya, tapi lihatlah sekarang, ketika dia telah berumah tangga, aku ditempatkan dikamar belakang, dekat dapur disamping kandang sapi pula. Aku tak keberatan, orang tua sepertiku memang sudah sepantasnya tak lagi didepan. Aku pun tak marah jika dia memberiku makanan yang sudah tak disukainya, aku bisa menghangatkannya kembali……Tapi ketika dia berkata, aku ini merepotkan, betapa murkanya aku..…aku tak terima….”suara mak sanip sedikit menjerit namun seperti tercekik, kemarahan rupanya sudah sampai memenuhi ubun-ubunnya. Tubuh rentanya bergetar hebat, aku bias merasakan kekecewaan perempuan tua ini, maka Kugenggam jemari kurus penuh keriput itu, menepuk-nepuknya, tak terasa air matakupun ikut mengalir.

Lalu hening, gemericik air pancuran dari kejauhan terdengar semakin jelas, sungai hanya menyumbangkan kecipuk anak ikan yang bermain di hilir. Mak sanip masih tersedu, ujung bajunya kuyup karena ingus dan airmata. Aku menjentik seekor ulat bulu yang mencoba memanjat tepi capingku.

“emak yang sabar ya…..nanti akan kucoba bicara dengan Ami…”

“apa gunanya ia kusekolahkan tinggi-tinggi jika ia tak pandai memperlakukan orang tua, orang tuanya sendiri pula. Apa gunanya ia menjadi seorang sajarna kalau ia masih berkata “Ah…” pada orang tuanya. Lupakah dia yang diajarkan di madrasah bahwa berkata “Ah…” saja kepada orang tuanya bisa membuat Allah murka, bagaimana jika langit mencatatnya dan laknat Allah jatuh padanya….” Rupanya belum usai kemuntaban mak sanip.

“Astaghfirulloh…..jangan bilang gitu ah mak…..istighfar….istighfar….” aku berusaha sebisaku menenangkan hati perempuan tua ini. Aku tak tau lagi harus berkata apa, kupeluk tubuhnya sambil menggumamkan istighfar berkali-kali, dan lamat-lamat kudengar mak sanip pun mengucapkan istighfar disela-sela isak yang tak tertahan.

Matahari meninggi, sudah tepat diatas pohon nyiur yang tumbuh nun diseberang, sebentar lagi lohor, kuajak mak sanip untuk beranjak pulang. Aku batalkan untuk mencari tumbuhan paku, semangatku sudah menguap sejak tadi. Kubantu membawa bawaan mak sanip, ku biarkan orang tua itu berjalan mendahuluiku, tertatih dan ringkih. Aku iba….sungguh iba…..maka sepanjang perjalanan pulang, benakku berkelana, mencari sosok ibuku yang telah lama pergi menghadap Illahi, aku merindukannya “ibu.….jika ada khilafku yang luput dari sadarku, kumohon maafkan aku”

Cerpen Surga Yang Terluka merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hewan Patuh dan Manusia Pembangkang

Oleh:
Hewan yang diharamkan bagi umat Islam ada dua. Pertama babi, kemudian anjing. Dua hewan ini merupakan hewan yang paling dihindari oleh umat muslim. Jika terkena atau melakukan kontak fisik

Ayah

Oleh:
“Srrruuuft Aaah…” suara Ayah saat meminum kopi buatan ibu. Setiap pagi aktifitas yang Ayah lakukan selalu diawali dengan segelas kopi. Ayahku adalah seorang yang hebat di mataku beliau tidak

Ayah, Aku Rindu Sosok’mu

Oleh:
Pagi itu sang mentari mulai menampakkan mukanya ,dan di dalam balutan selimut yang hangat aku mendengar suara seorang laki-laki yang dengan lantang membangunkan ku,ya,,,dia ayahku,dia adalah sosok seorang laki-laki

Mister Z

Oleh:
Ibu cepat-cepat menghamparkan bagian atas selimut ke seluruh wajahku. Kamar yang gelap kini menjadi semakin gelap. Aku hanya dapat mendengar suara desah nafas dan ranjang yang naik turun. Setelah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Surga Yang Terluka”

  1. lia says:

    membaca cerita ini, serasa melihat langsung kisah nyata kehidupan di desa pinggiran kota.
    miris.^.^

  2. indah Pengenduweanaklimo says:

    makasih lia…..

Leave a Reply to lia Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *