Tak Berujung

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Kehidupan, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 26 July 2015

“Sore menjelang petang! Saya Weni, hadir kembali untuk Anda di tembang tembang lawas penghantar minum teh di senja hari… silakan buat yang mau request tembang lawas yang bisa membuka kenangan tempo dulu, saat indah yang kadang terlalu manis untuk dilupakan… sebagai pembuka, satu lagu apik dari Anggun C Sasmi…”

Kuteguk sedikit kopi yang masih panas. Mendengarkan radio merupakan kegiatan favoritku untuk membunuh sepi di usiaku yang renta. Apalagi menikmati lagu lagu lawas seperti membuka memoriku yang mulai on off karena faktor u… umurku yang sudah masuk kategori manula.

Tanpa terasa alunan lagu mimpi itu seperti membawaku ke alam mimpi, rasanya enggan bangun lagi…
Samar samar terbayang wajah seseorang yang sangat aku cintai… Wulan..
Sosok yang anggun bersahaja dan paras yang ayu, membuatku terlalu sulit berpindah ke lain hati. Hingga 4 tahunku di negeri paman Sam, aku tak tergoyahkan oleh wanita wanita lain. Namun nasib baik tak berpihak padaku, sepulang ku dari negeri orang, dia kudapati tak lagi sendiri. Kecewa… ya! Sakit hati…ya! Tapi untuk menghapusnya, aku tak pernah mampu.

Wajahnya masih ayu, sama seperti dulu, hanya mulai terlihat kerut kerut di keningnya. Dia terdiam kaku, saat ku menatapnya, 15 tahun sudah berlalu setelah dia menjadi milik lelaki lain.
“Apa kabarmu?” tanya dia pelan
“aku baik-baik saja, seperti yang kamu lihat sekarang”
Dia mempersilakan aku duduk.
Sofa putih gading senada warnanya dengan cat rumahnya. Entah apa yang membuat aku nekat menemui dia di rumahnya, aku menjadi tak peduli kalaupun nanti harus bertatap muka dengan suaminya. Aku hanya ingin melepas rinduku yang sudah bercampur dengan luka, dan tertahan bertahun tahun lamanya.

“Rumah kok sepi…?” tanyaku memecah kesunyian. Suasana kaku masih sangat terasa.
“Suamiku berlayar, 6 bulan baru pulang. Tuhan belum mengaruniai kami anak”

Tiba tiba ada perasaan lega di hatiku, entah mengapa…
Suasana pun mulai mencair, dia sudah bisa tertawa, bercerita banyak… dia masih belum berubah, dia sangat menyenangkan. Aku seperti kembali mendapatkan dirinya yang dulu.

Pertemuan itu menjadi candu. Aku selalu saja ingin bertemu. Apalagi dia pun tak pernah menolakku jika aku berkunjung. Aku seperti lupa, kalau dia sudah ada yang punya.
Sampai suatu ketika, aku tak bisa lagi membendung perasaanku untuk memilikinya, yang gagal karena dia telah dipersunting oleh orang lain.
Suasana membuatku terlarut dalam lautan emosi, kasih yang terpendam terkoyakkan, tak lagi ada yang bisa membendungnya. Deru nafasnya dan nafasku saling memburu, entah setan dari mana yang membutakan kesadaran diri, yang ada hanya luapan cinta dan nafsu yang bersatu…

Kuteguk kopiku yang mulai dingin. Hatiku kembali tersayat mengingat peristiwa itu.
Dia hanya diam terpaku, tak ada sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Dia juga tak menangisi kekhilafan itu.
Aku benar benar kalut, tak bisa membaca arti diamnya itu. Apakah dia menyesal, ataukah dia marah atas kekurangajaranku?
Sampai akhirnya aku pulang dan hanya bisa berucap maaf, dia pun masih tetap diam tak bergeming.

Andai saja waktu itu aku bisa menahan diri, seumur hidupku tak dihantui rasa penyesalan yang mendalam. Karena setelah kejadian itu, dia pun menghilang. Rumahnya kosong dan aku tak bisa lagi menemukannya, meski hanya berupa berita tentangnya.
Dia meninggalkanku bersama sebuah tanda tanya besar.

Aku kembali terluka, bahkan lebih parah. Aku tak tahu kenapa waktu itu, dia tak menolakku, mungkinkah dia hanya merasa bersalah sehingga merelakan dirinya ternoda karenaku? Tiba tiba aku merasa diriku ini sangat jahat.

Aku tak bisa memaafkan diriku. Penyesalanku yang tak berujung, membuatku sulit mengikatkan diriku dengan wanita lain dalam suatu pernikahan. Aku memutuskan hidup sendiri tanpa pendamping hidup. Menghabiskan usiaku dengan bekerja dan bekerja, harapanku suatu kali aku bisa berjumpa lagi dengannya mulai pupus termakan waktu.
Kini usiaku mulai renta. Tak banyak yang bisa aku lakukan, hanya termangu bertemankan sebuah radio.

Suara pintu berderit. Pasti itu Bayu, anak angkatku datang. Jam segini dia biasa mengunjungiku untuk mengantarkan makan malam, sebelum dia pulang ke rumahnya dari kantor.

“Pak, aku bawakan sate padang kesukaan Bapak…”
sayup sayup aku dengar suara anakku… makin lama makin mengecil… dan menghilang… aku tak bisa lagi mendengar apapun, semua tiba-tiba menjadi gelap…

Cerpen Karangan: Yuni Indriati

Cerpen Tak Berujung merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hanya Menjadi Kenangan (Part 2)

Oleh:
Setelah makan siang Chelsea pun berpamitan untuk pulang, dan Farra langsung masuk ke kamarnya tanpa mengucapkan apa-apa terhadap mamanya. Mungkin saat ini ia tengah bimbang dan ia hanya perlu

Cinta Pertama dan Terakhir

Oleh:
“Pergi jauh-jauh dari hidup gua!” jerit Chela. “Chela, gua itu gak pacaran lagi sama cewek laen kecuali lu!” “Udah, Rizky, gua udah tau Semuanya tentang lu! Lu cari cewek

Terbang

Oleh:
Ibarat kepingan logam yang bertebaran lalu terbang dibawa angin, dan orang bertanya “Angin sekuat apa bisa membawa pergi kepingan logam?” mana aku tahu? Aku sudah mulai tak peduli. Aku

Takut Karma

Oleh:
Pada suatu hari ada lelaki yang bernama David, dia itu adalah orang yang baik. Saat dia kelas 3 ayah dari David meninggal dunia, dan dia pun bersedih. Seesoknya temannya

And I Hope

Oleh:
Hai nama saya Ilona, aku berasal dari keluarga yang menjunjung tinggi agama islam. Ya beginilah aku, seorang muslimah cantik yang tinggal di dusun kecil Aku memang terkenal dengan keramahanku,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *