Tak Sadar Diri Tak Punya

Judul Cerpen Tak Sadar Diri Tak Punya
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Nasihat
Lolos moderasi pada: 10 January 2017

Nama penuhku Raja Faizal Muslim bin Abdullah bin Raja Mustafa Muslim -nama yang cukup jarang didengar. Aku orang Melayu. Kampung lahirku bernama Teluk Kangkung, salah satu kampung terpencil di dalam kawasan regional Kota Batam. Di sana jugalah aku dibesarkan.
Aku dilahirkan dalam keluarga sederhana -normal tanpa orang-orang aneh dalam keluargaku, kecuali beberapa paman pelawak tak masuk TV. Kami adalah salah satu penganut sistem keluarga taat. Taat pada hukum NKRI, maupun tuntutan-tuntutan agama Islam. Ya, tidak hanya kami saja, tapi hampir seluruh keluarga di kampungku seperti itu. Kami taat pada hukum, tidak melanggar atau menyebarkan sifat-sifat barbar kriminalisme untuk menghancurkan bangsa -seperti yang dilakukan oleh koruptor atau bandar nark*ba. Orang-orang di kampungku ramah, bersahaja, memiliki ketekunan dalam segala urusan. Semuanya orang baik, dan bisa diandalkan jika ada urusan-urusan yang menyangkut kebaikan: mengurus tahlilan, gotong-royong, pengurusan jenazah, patroli kampung, dan lainnya.
Ya… Aku tak tahu apakah aku bisa menyombongkan diri karena lahir di desa harmonis semacam itu. Kurasa tidak (ingat, sombong itu tidak diizinkan).

Hidupku nyaman, walau tak empunya barang-barang impian para gamers: PS3, XBOX 360, 3DS, Wii, atau pun PC yang bisa memainkan Call of Duty 5 tanpa bugging. Sayang sekali. Uhh…
Ya, kurasa itu juga sebab kenapa aku bisa memiliki hidup tenang. Kurasa, kenapa orang-orang di kampungku juga hidup tenteram tanpa sengketa atau perkelahian adalah karena mereka sadar akan ketiadaan mereka itu. Orang-orang miskin yang sadar diri. Begitulah kira-kira. Sulit mencari orang-orang seperti itu sekarang.
Eh?
Kenapa sulit…?
Kenapa bertanya?
Aaahhh… Benar juga. Ada jutaan orang miskin di negeri besar ini ya… Aku harusnya tidak menjelaskannya seperti itu.
Kalau begitu akan kuralat.
Tidak mudah mencari orang-orang miskin yang sadar bahwa mereka miskin.
Ya, apa itu sudah meluruskan semuanya.
Eh?
Belum…?
Uuh… susah sekali membuat kalian mengerti.
Baiklah, baiklah. Akan kujelaskan lagi.

Aku bukan guru psikologi ataupun profesor ilmu sosial, jadi memang kemampuan eksposisiku soal topik semacam ini terbatas. Hanya saja, aku suka mengkritik-ah, aku mengatakannya!
Tidak, tidak. Maksudku, aku suka mengobservasi semua kejadian yang aku tertarik padanya. Seperti dunia kontemporer ini. Kebanyakan fenomena yang terjadi adalah kesalahan penempatan sikap pada kemampuan. Ada banyak lho…
Namun untuk bab ini, akan kuceritakan satu saja. Seperti yang kujelaskan tadi, orang-orang yang mengerti diri tak punya.
Kontradiksinya… Umm… Ah, ya, orang-orang miskin yang mengaku kaya.
Ya, orang-orang eksibis pada kondisi ekonomi mereka.

Pertama, jenis orang seperti ini adalah manusia sombong. Contoh kecilnya ada pada anak-anak muda-perantau-yang ada di Batam. Ah… aku heran pada mereka. Mereka pergi ke Batam jauh-jauh dari Jawa, Sulawesi, Kalimantan, dan daerah Sumatra lain untuk mencari kerja, tapi malah melenceng dari tujuan itu. Sebaliknya, uang yang harusnya mereka pakai untuk bekal mencari kerja malah dihabiskan untuk pergi ke Pasifik atau Newtown-tempat hiburan malam. Menyedihkan, semua uang mereka habis, dan harus menahan perut karena tidak bisa makan. Teman-teman yang mengajaknya juga tidak ingin membantu. Hati-hati memilih teman, apalagi yang mengajak ke jalan sesat.

Masih ada lagi contoh lain.
Aku juga pernah mencari kerja sebelum masuk kuliah dan fokus belajar. Ada sebuah tempat perkumpulan yang disebut CC di pusat Daerah Industri Batamindo, Muka Kuning. Ada banyak sekali pengangguran yang mencari kerja. CC adalah lokasi di mana poster-poster pengumuman lowongan kerja perusahaan-perusahaan dalam Batamindo meletakkan iklannya -selain tembok depan PT mereka.

Aku pernah bertemu beberapa orang ini, yang kebetulan di tahun yang sama denganku, hanya saja mereka berasal dari Provinsi lain. Mereka juga mencari kerja.
Ada tiga orang. Hendi, Prasetyo, dan Lukman. Ketiganya laki-laki, mungkin juga sudah tidak perjaka semua-memandangkan mereka tak terlihat bersih.

“Aku baru datang dari Jawa,” kata Hendi dengan nada jernih.
“Kau asli mana?” lanjut Lukman padaku.
“Asli Batam,” jawabku sopan.
“Berarti tahu lah Batam itu gimana ya?” timpal Prasetyo, atau Pras singkatnya.
Aku merasakan akan ada perbincangan buruk saat Pras bertanya seperti itu. Begitu juga dengan kedua mata teman-temannya yang menunjukkan nafsu tak terkontrol. Nafsu remaja tersesat.
“Tahu tempat hiburan malamnya?” lanjut Pras tanpa menahan maksudnya.
Aku tak menjawab, hanya mengangguk untuk merespons.
“Pernah ke sana?” tanya Hendi, sambil sedikit membungkuk untuk mendengarkan lebih saksama.
“Enggak,” jawabku singkat, sesuai kenyataannya.
“Kita ke sana malam ini yuk.”
Mendengar ajakan dari Pras itu, jantungku terasa diremas oleh tangan dokter bedah gadungan yang tak pernah ikut kuliah kedokteran. Aku merasa aneh pada mereka. Sedikit terpuruk karena manusia semacam mereka yang datang ke tanah kuning ini. Dilihat dari mana pun, ketiga orang itu bukanlah berasal dari keluarga kaya -mereka juga mengakuinya saat kutanyai. Bekal mereka juga tak banyak. Hanya cukup untuk satu bulan saja.
Daripada fokus untuk menemukan pekerjaan, mereka malah memilih untuk menghabiskan bekal mereka di jalan maksiat. Sebenarnya apa tujuan mereka ke sini? Untuk bekerja, atau hanya menambah semak kota kecil ini saja…? Mereka tidak sadar bahwa kebanyakan orang memacu diri mereka, berebut datang pertama ke CC untuk melihat papan pengumuman kalau-kalau ada iklan lowongan di PT. Mereka ingin bekerja, malah sampai tidak makan siang untuk menghemat uang bekalnya. Ilham daru Padang adalah salah satunya. Dia datang pagi-pagi sekali, bahkan selalunya datang paling awal. Ilham memang rajin, ingin segera dapat pekerjaan dan membiayai keluarganya. Dia tidak pernah makan siang, hanya makan malam saja. Tiap hari adalah puasa baginya. Dia sadar kalau dia berasal dari keluarga tak punya, karena itu dia tahu menghemat uang seperti apa.
Hasilnya, dia sekarang jadi salah satu anggota logistik -sudah senior- di PT Schneider Electronics Muka Kuning. Sekarang kuliah di universitas yang sama denganku, seorang mahasiswa brilian.
Sedangkan ketiga orang tadi, tetap jadi pengangguran sampai sekarang. Aku tahu facebook mereka bertiga, begitu juga Ilham. Ketiga orang itu tak pernah dapat satu lowongan pun. Kerjaan mereka di Batam sini hanya menghabiskan uang saja. Tidak sadar akan siapa diri. Kampung jauh dan tak ingin usaha untuk hidup, atau merubah hidup. Manusia-manusia gagal.

Akhirnya, ketiga orang itu pun ditangkap polisi akibat kedapatan menjual s*bu-s*bu di Batu Aji. Aku baca beritanya di koran dulu. Wajah ketiganya terpampang jelas.
Tidak punya, tapi foya-foya. Dapatlah padahnya. Begitulah kalau jadi orang tak sadar diri. Musibah pasti datang tanpa diduga. Ya, sebenarnya datang karena ulah sendiri.

Sebaiknya tahu diri sebelum mengambil langkah. Jangan pernah terjebak dengan keinginan duniawi, apalagi kalau tak punya uang. Ya, jika pun punya uang banyak, bagusnya juga jangan.

Cerpen Karangan: Faz Bar
I’m just an ordinary guy, with no talent or awesomeness. I like to write, especially a light novel. My dream is to write a light novel that then being adapted into an anime series (I’m serious about this). I like anime and J-Pop music, and all about Japan. My favourite protagonist is Hikigaya Hachiman, whether the heroine is Yukinoshita Yukino from Oregairu. I’m still an amature. But, I sure can be one of like those great writer whom had made history with their works. I want to be one like that. A famous writer (once again, I’m serious about this).

Cerita Tak Sadar Diri Tak Punya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Harta Tidak Segalanya

Oleh:
Chika adalah anak orang kaya, maka tidak heran kedua orangtuanya selalu memanja dia. “Ma… aku mau boneka itu, pokoknya enggak mau tau, aku mau boneka itu.” Ketus Chika yang

Mari Belajar

Oleh:
Hanya karena usianya sudah matang, bukan berarti dia dapat ku lepas begitu saja. Buktinya hingga detik ini, hidupnya kacau bagai benang kusut yang sukar diurai. Aneh juga kalau dipikir,

Maafkan Aku Terlahir Perempuan

Oleh:
Aku memiliki tiga saudara aku adalah anak terakhir dari empat bersaudara. Ketiga kakakku ber’v*gina’ semua. Padahal sedari dulu ayah dan ibu mengharapkan bisa punya anak laki-laki. Setelah lahir anak

Buruh Cuci

Oleh:
Pagi itu sinar mentari hangat menerpa bumi. Kicauan burung seakan turut mewarnai pagi. Kubuka tirai jendela yang menghalangi pandangan untuk melihat keadaan di luar. Rupanya belum banyak kendaraan yang

Pelayan dan Tuannya

Oleh:
Dalam kehidupan rumah mewah itu, ada seorang pelayan bernama Betsy yang melayani tuannya, Leony. Betsy sejahtera disana mengingat dulunya ia anak buangan di pinggir jalan. Makan batu, debu, asap,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *