Takdir di Dalam Takbir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Kisah Nyata
Lolos moderasi pada: 20 August 2012

Don’t ever want to be a demon
Which follows you around.
Don’t ever want to be some evil thing
Leading you astray,
For you to know me, and so love me well,
There’s something you must know
And that’s to show me your love is real
And take me as I am, now-and forever more

I’m nothing like a raging fire,
Consuming your heart.
Never want to be like a bed of nails,
Piercing and wounding you.
But I want to be open with you
Not to hurt you…
And though the truth hurts
I must speak honestly
‘Cause that’s the way I am, now-and forever more.

Or I’ll become like a virus
Which only brings you down

(Virus – SLANK, Anthem for the broken hearted).

Hidup bukan pilihan. Pilihan-pilihan hanyalah anak-anak tangga sebuah proses dalam hidup. Hidup yang memilih kita. Bukan sebaliknya. Dan setelah itu, perjuangkanlah apapun peranmu. Itu yang benar. Kita tak pernah bisa memilih hidup kita sendiri. Jangankan hidup, lahir di rahim wanita manapun saja kita tak pernah bisa memilih. Tak boleh. Kita ditentukan. Ditakdirkan Tuhan. Tapi kalau pun kita mengeluh dengan yang kita dapatkan, itu juga tak sepenuhnya salah. Tapi ingat, siapa yang akan membela kita kalau kita mengeluh dan mempertanyakan keadilan yang seperti itu? Tidak ada, bukan? Tak seorang pun, tentu. Karena memang tak perlu.

Terserah, kalian mau setuju aku atau tidak? Melihat atau menilainya dari sisi siapa, bagaimana, dimana atau apa? Tapi kalau nanti kalian berkesempatan terpilih mengalami yang seperti aku alami sekarang ini, ingatlah opini murahan aku itu.
Dan sekali lagi, saranku : jangan sampai pernah mengeluh. Apalagi berulah. Berontak berarti menambah masalah. Kalian pasti setuju-lah? Kalau pun tak mau atau tak kuat, hindari sajalah. Mengalah. Tak usah malu disebut pecundang. Akui saja kalau kalah berjuang. Kalau perlu, menghilang. Dan itulah yang aku lakukan sekarang. Mau ikut?

Seperti ajakan yang tolol, memang. Seperti tololnya aku sendiri yang tak mengerti, bagaimana bisa aku sampai di tempat ini. Tempat yang tak asing sebenarnya. Dulu waktu masih aktif nge-band, ‘ngamen’ cafe to cafe, sebenarnya aku cukup sering kesini. Apalagi kalau bulan Ramadhan, seperti yang baru lewat beberapa jam saja barusan. Sebulan kemarin saja, aku pun bisa dibilang cukup sering juga kesini. Bedanya, di waktu yang aku punya sekarang, kebanyakannya aku datang justru bukan di waktu berbuka puasa seperti biasanya, tapi menjelang sahur. Tapi juga jujur, kalau aku bisa menyambangi tempat ini bersamaan dengan suara takbir Idul Fitri seperti sekarang, aku bener-benar tak pernah menyangka. Terbayang saja, rasanya tidak. Apalagi berharap. Karena mind set-ku hanya satu, Idul Fitri adalah waktu berkumpul dengan keluarga. Titik !!!

Tapi juga sungguh, aku lupa. Tuhan memang selalu memberi yang kita butuhkan. Bukan selalu yang kita mau. Mauku jelas, seperti orang lain. Seperti tahun-tahun biasanya. Mudik. Berkumpul dengan seluruh keluarga di malam takbir. Apalagi masih banyak tradisi juga, yang masih dilestarikan di kampung halaman mama-papa yang memang satu desa di Purwakarta itu.
Oh, ini waktunya malam ‘Adu Bedug’ kalau di sana? Tadi sore, mama pasti sangat sibuk ‘kirim-kiriman rantang’? Hmm…Mama pasti sibuk sendirian. Kehadiran wanita itu pun, aku yakin hanya bisa membuat mama lebih senang saja. Tak lebih. Kurangnya, malah membuat repot saja. Lidahnya tak akan pernah bersahabat dengan makanan-makanan kampung.

Dan tempat ini, untukku sekarang ini sudah berubah menjadi sebuah surga. The real heaven of world. Thank’s God.
Ya, surga yang aku dapatkan tanpa harus meninggal dahulu. Tanpa harus mengumpulkan amalan-amalan. Surga yang hanya berbayar teranaktirikan kemarin dulu. Surga yang hanya bertiket maha sabar. Mengalah. Ikhlas. Surga yang berpenghuni puluhan anak-anak kecil yang biasa memanggilku kakak. Tulus. Sangat-sangat tulus, meski tanpa ada ikatan darah sekalipun…

***
Purwakarta, Juni 2011,
“Ya Alloh, kalau memang ini takdirku, aku ikhlas…!!!” do’aku di ba’da ashar, atau belum genap 24 jam dari sejak mama mewanti-wanti aku yang bisa saja terlangkahi adikku, katanya. Dan doaku hanya itu. Tak lebih. Di mesjid, diatas tanah wakaf almarhumah nenek buyutku yang tepat di belakang rumah nenek, dimana setahunan lebih ini mama-papa bersama adik bungsuku juga tinggal sekarang.

Tapi kenapa juga, mereka semua sampai harus memakai alasan kesehatan nenek untuk membuat aku datang dan di-‘vonis’ seperti ini? Kenapa tak jujur? Tak terbuka?

***
Purwakarta, Juli 2011,
“Ya Alloh, ada apa sebenarnya? Beri tahu aku apa-apa yang aku tak tahu. Beri tahu aku tentang maunya mereka? Tentang Widya yang kembali? Aku mohon ketenangan untuk menghadapinya. Amin !!!” do’aku, di magrib terakhir di Ramadhan 1432 Hijriyah, di tempat yang sama.

***
Bandung, Oktober 2011,
“Apa? Bener orang tuanya ngomong gitu?” tegasku ke mama.
Aku kaget. Pikiranku langsung melayang. Aku tak bisa membayangkan, bagaimana adikku yang belum pernah berpacaran sekalipun sebelumnya itu, dan harus dikagetkan dengan omongan yang bernada ancaman ?
“Sialan…” gerutuku, sangat pelan dan tanggung.
Dari kemarin, aku sudah bilang, malah berulang-ulang, kalau aku cukup mengerti perasaan mempunyai anak perempuan yang sedang dikejar-kejar usianya untuk menikah. Egois tentu, kalau aku tak memberi jalan ke adikku untuk lebih dulu menikahi wanita yang umurnya empat tahun lebih tua darinya itu. Apalagi, tiga bulan yang lalu, Widya telah kembali ke pelukan aku. Aku sudah cukup tenang-lah. Apa harus aku bilang terus-menerus?
Lagian, aku juga masih punya iman. Punya Tuhan. Aku sangat percaya takdir. Aku juga punya hati. Tak perlu mengancam adikku dengan batasan waktu. Kalau perlu, tak perlu pedulikan aku. Tapi juga jangan seenak-udelnya dengan uang kalian. Not for Sale untuk harga diri !!!
Mama masih belum bicara lagi.
“Ya udah lah, kita lihat aja sampe akhir taun…? Kita liat arahnya mereka kemana dulu? ” ajakku ke mama. “Kalo bisa sih, mereka Arif undang kesini. Kita bareng-bareng omongin baik-baik…”

***
Bandung, Desember 2011,
“Hhehe…emang ngawinin kambing-apa?” sanggahku ke mama.
Aneh. Aku sangat tahu betul siapa mama. Aku sangat dekat dengan mama. Dari empat anak mama yang ada, yang semuanya laki-laki, aku berani disurvey kalau aku-lah yang paling dekat dengan mama. Saking dekatnya, aku akan sangat bisa protes hal-hal kecil ke mama. Baju undangan mama yang tak matching, misalnya. Atau kita akan berselisih kecil, hanya gara-gara mama yang ingin di cat rambutnya saja yang mulai ditumbuhi rambut-rambut senjanya itu. Begitu juga mama, yang dulu sempat terang-terangan mencibir hanya karena aku suka SLANK.
“Iya sih, Arif sama si neng udah sepakat gak usah dipestain. Tapi tetep kan harus di-planning. Masa ngelamar sekarang, nikahnya harus besok…”
Dan setahu aku, mama adalah orang yang super sangat hati-hati. Apalagi, untuk masalah besar seperti ini. Walaupun dengan niat bercanda, mama tak akan pernah tidak hati-hati.
“Ada apa sih, Ma?”

***
Bandung, Januari 2012,
“Kebijakan?…”
Ada harapan yang dinantinya di mata papa.
“Bukannya mereka yang maunya sampe akhir taun? Undangan Arif kan ikut batasan waktu mereka…” cerocosku. “Arif udah bilang, kalo mereka gak nyuruh mundur berarti mereka munafik. Kalo ngomongnya sama tingkahnya sejalan berarti ngajak ribut…”
Sepertinya, dari tadi, papa memang terlalu berhati-hati bicara karena terlalu banyak menyimpan sesuatu.
Aku hisap dalam-dalam rokokku.
“Jadi kalo misalnya mereka datang sekarang…”
“Gak !!! Telat !!!” sergapku.
Sebentar, situasi hening.
“Tapi adikmu kan laki-laki, di belakang dia bisa saja kan…?”
Sekilkas, aku seperti dapat sesuatu dari mata papa. Tapi entah itu apa?
Sebentar lagi, kembali hening.
“Kalo pun sampe nekat gitu, ya silakan…” akhirnya, kataku. “Berarti sekarang Arif tau-lah, kalo Arif ternyata punya adik banci…!!!” tambahku, meninggi. “Dan Arif minta, pa… Mama-papa jangan sampe kasih tau Arif hari ‘H’-nya. Itu aja.”
Aku langsung mencoba menghubung-hubungkan semuanya dengan cepat. Mama yang mendadak berubah? Adikku yang menghilang dua bulanan ini tanpa ada kabar? Kabar-kabar dari teman-teman aku di Purwakarta? Selentingan-selentingan teman-teman adikku disini? dan bla bla bla…

***
Bandung, Februari 2012,
Akhirnya, yang aku tidak maui itu terjadi juga. Adikku married di belakangku, kakaknya. Mama-papa bahkan kakakku satu-satunya yang sekarang serumah itu pun benar-benar tidak memberitahu aku, sesuai pintaku ke papa. Tak ada yang salah. Ini takdirku. Untuk tidak memberitahuku pun, itu mauku. Tapi apa sih yang ada di hati orang-orang terdekat aku itu? Aku benar-benar tak bisa membayangkan mereka yang akan sembunyi-sembunyi Purwakarta-Bandung menikahkan adikku dari aku? Apa juga yang ada di hati-hatinya keluarga si perawan tua itu??? Ah, dasar keluarga i*lis !!!

“Ya Alloh, Demi nama-MU, dari kemarin hamba sudah menerima takdir-MU ini dan hamba akan terus menerimanya… tapi maafkan hamba, hamba benar-benar tak mampu menerima cara-cara dzalim mereka semua… Ya Alloh, tunjukkan dengan nyata kebesaran-MU… kemahaadilan-MU… Amin.” aduku di sajadah tahajud biruku.

12 Pesan baru.
16 Panggilan tak terjawab.
Ya, dari beberapa nomor, memang. Hanya dari sejam-man terakhir. Dan pastinya, panggilan dan pesan dari nomor ‘Rock N Roll Mom’ dan ‘Neng Wid’-lah yang paling banyak. Tapi untuk apa? Untuk menyuruh aku lebih bersabar lagi? Merayu untuk lebih mengalah lagi? Lebih ikhlas lagi? Atau mungkin hanya ingin berbasa-basi bertanya, “Kamu dimana?”, “Kok gak ke Purwakarta?” atau bla bla bla. Basi !!! Atau malah mau menyalahkan aku lagi dengan alasan keluarga, keluarga dan keluarga?

“…Masa sih sama saudara mau musuhan?…” kalimat saktinya mama.
“…Masa sih sama saudara mau culas?…” punyanya aku.

Dan sungguh, untuk sekarang ini, aku harap jangan ganggu aku dulu. Aku seperti sedang disuruh Tuhan untuk berdzikir bersama mereka malam ini? Bersama Ahmad yang konon terlahir antah-berantah dan ditemukan si pejalan kaki di depan gerbang panti yang putih itu dalam kardus bekas mie instan. Bersama si jagoan kecilku Bayu, yang sempat semalaman bermalam di teras rumah penduduk sebelum ditemukan Ibu Mia, si pemilik panti yang mau ke pasar. Bersama adik-adik cantikku Mela, Medina dan Nurul yang dulu ditinggalkan di rumah sakit, ketika baru beberapa jam saja keluar dari vagina mahasiswi-mahasiswi bejat. Bersama si anak ajaib Heru yang ditemukan di pinggiran sungai yang dangkal di kaki bukit pinggir kanan panti asuhan ini tanpa menangis. Dan banyak-banyak lagi. Adikku ada puluhan jumlahnya di sini.

Aku tak bilang, aku senasib. Aku juga tak bilang, aku sama dengan mereka. Aku jelas beda. Aku jelas masih sangat-sangat beruntung. Dan aku percaya, kemarin mama-papaku hanya sedang khilaf saja. Walaupun sekarang, semuanya tak ada lagi yang tak mungkin terjadi ke aku. Bukan sebuah kemustahilan, kalau aku ke depan bisa saja terusir menjadi bagian dari keluarga aku sendiri. Bukan tak mungkin. Sekali lagi, bi-sa sa-ja ter-ja-di !!!

Ah, aku mungkin tak pintar mendramatisir cerita dengan tulisan. Tak pandai bermajas. Terlalu polos. Slenge’an. Begitu pun ketika aku akhirnya membalas juga SMS dari mama, menuruti saran adik cantikku, Lestari:
“Ma, Pa… Ini bukan satu-satunya masalah kan?
Bukan di masalah ini saja Arif sempet sangat-sangat sabar kan?
Ma, tau kan kenapa Arif gak mau lebaran di sana?
Masih inget sumpah Arif kan?
Kabari Arif, kalo si anjing Yanti itu udah pulang?
Baru Arif akan mudik ke Purwakarta.
Ini mengalah Arif yang terakhir, Ma.
Kalo taun depan mereka gak mau ngalah, Arif janjiin, kalo gak di sana berarti di bandung bakal ada kriminal dari Arif !!!
Maafin Arif, Ma, Pa.
Ini hanya protes Arif !!!
Wassalamu’alaikum”

“Alloh tidak menyukai perkataan buruk, (yang diucapkan) secara terus terang kecuali oleh orang yang di dzalimi.
Dan Alloh Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
(An-nisa : 148)

Dago Bandung, 18 Agustus 2012 21:17 wib

Profil Penulis:
Nama KTP : Arif Anwar
Call Name : Ngky (koq jauh banget? Hhehe…)
Blog : arifngkyanwar.blogspot.com
Facebook : www.facebook.com/arif.ngky.anwar
Twitter : twitter.com/iamNGKY

*silakan add atau follow… Let’s to friendship !!!

Cerpen Takdir di Dalam Takbir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pernikahan 2 Tahun Selesai Hanya 15 Menit

Oleh:
Mempunyai keluarga yang utuh dan bahagia itu adalah cita-cita oleh setiap insan. Tidak terkecuali diriku. Tapi bagaimana jika keinginan itu belum tercapai? Tahun 2006 adalah tahun yang bersejarah bagi

Aku Adalah Kakakmu

Oleh:
Terakhir kali aku melihatnya dia masih sangat lugu, tidak tahu apa-apa dan rapuh, sekarang dia sudah tumbuh dewasa, cantik, berani, tapi bagiku dia masih sama seperti dulu, sangat rapuh.

Lelaki Pemandang Langit

Oleh:
Heru besar tanpa kehadiran Bapak sejak ia baru lahir. Bapaknya meninggal dunia ketika ia berumur 8 bulan. Aku berkeluarga karena Bapaknya berkeluarga dengan Kakekku. Setelah lahir ke dunia tanpa

Secangkir Rasa Kehidupan

Oleh:
Angin malam menyelimuti tidurku, dengan alunan daun-daun yang menari bersama hangatnya cahaya kesunyian. Malam ini tidak seperti biasanya, ku melamun menatap wajah sesosok bidadariku yang tergambar bersama kenangan-kenangan lalu.

Jalan Tengah

Oleh:
Malam itu seperti malam-malam sebelumnya. Abdul Rahim, yang dikampungnya kurang begitu popular sedang berbincang dengan seorang temannya, di kampung mereka teman abdul Rahim ini kurang begitu di suka. Abdul

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *