Taman Hatimu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 4 August 2012

Menangis. Aku tidak mengerti mengapa air mata ini tiba-tiba saja mengalir mulanya perlahan kemudian menganak sungai, membawa semua gelondongan kayu kayu besar dan bebatuan yang tak terhitung memenuhi semua lorong kampung menjungkal rumah rumah kami menjadi tanah merata basah penuh dengan puing belantara. Kau dimana saat itu terjadi? bukankah kau ada di rumah di ambang pintu dengan tangan membelai rambut jagung si upik kita, kau tahu aku saat itu berat rasa melangkah meninggalkan istana kita untuk pergi ke kota menjenguk abangmu sedianya kau ikut serta tapi panas sedikit menjalar di tubuh mungil Lia membuatmu was was dan melepas aku sendiri karena kau pikir putri kita akan lebih aman di buaimu sambil mendendangkan qasidah kesukaanmu di halaman belakang, sebuah taman di dalam hatimu.

Aku mulai mengais lumpur bercampur material gunung. Hanya sisa pondasi tidak tersisa sedikit pun dari rumah kita. Semua yang kukenal di dusun ini mereka juga mengenalmu telah lenyap. Tersisa beberapa orang berdiri termangu di atas tanah mereka masing masing. Mereka berwajah sama, pias.

Malam di tempat asing yang tidak pernah terpikirkan olehku, mataku sedetik pun tidak terpejam, di tempat erang dan raungan orang orang yang ditinggalkan, aku bersama mereka mengepung api unggun. Beberapa merokok dari pemberian donatur, sebagian mengurung tubuh dengan sarung. Mengusir rintih dari hati aku membenamkan doa ke dalam kalbu tengadahku adalah benar tengadah berharap ribuan doaku menembus dinding langit.

Sebulan sebelumnya aku membicarakan masalah besar ini dengan Pak Lebe. Pak Lebe berbisik agar aku tidak mencampuri urusan orang orang besar karena percuma dan bisa bisa malah dikriminalkan, ” Biarkan saja Di, yang penting tidak membahayakan kita.”. Tapi semua penebangan itu telah menampakkan merahnya tanah hutan, bukit bukit merekah tinggal menunggu sebuah tenaga besar meruntuhkannya. “Kemana kita akan lari Pak Lebe?”. Pak lebe membetulkan letak pecinya dan berlalu, “Ada yang sedang sekarat.”.

Aku harus percaya dengan seorang pengurus mayat? setiap aku naik ke bukit semakin hatiku miris.

Sudah kukatakan padamu Laila agar kau mengerti, kita pindah saja ke tempatku di tepi pantai dengan suara ombak merdu di malam hari. Kau selalu beralasan kapan saja bisa ombak membesar dan menggilas semuanya. Walau aku besikeras kau tetap dengan rasa kebanggaan ayahmu tentang ladang dan kebun yang luas apa saja akan kudapatkan kalau hanya sekedar menikmati hidup sederhana di pangkuan alam, katamu. Terakhir perdebatan kau berujar, ” Musibah bisa dimana saja, Bang.”.

Di mana saja bahkan dipangkuan ibunda musibah akan datang. Terbebani dengan mimpi aku seret semua lukaku ke dalam kubur massal berdoa di satu batu nisan dan hanya satu batu nisan yang ditanam dengan nama korban berurutan abjad, namamu menguap atau mereka lupa menulisnya. Sedikit asaku timbul dan aku berani mengejarnya ke hadapan para petugas penyelamat, mereka begitu padu menggeleng kepala artinya keluargaku hilang tidak tertemukan mungkin saja masih selamat kata beberapa mereka. Selamat?. Ini penghiburan.

Seperti anak panah menembus mesin waktu tubuhku mengejar bayangmu aku berharap lariku lebih cepat dari cahaya hingga aku bisa kembali membalik badan tidak melangkah pergi pagi itu. Aku bisa saja merayumu ke tempat air beriak di teras rumahku di tepi pantai Boom. Kau bisa mendendang qasidah di kebun kebun melati di dusunku, melompati parit parit di kebun kelapa, menanti sore di rimbunan bakau di depan halaman rumahku sambil memandang para penggarap tambak pulang ke pelukan anak anak mereka.

Lihatlah hitam kulit mereka dan putih gigi mereka akan terlihat mencolok di keremangan di tempat pelelangan ikan di ujung desa di tepi muara yang bertambat puluhan perahu. Di gelap malam perahu perahu itu bergoyang goyang layaknya tarian alang alang beriap merah dengan kaki kaki telanjang. Di kedai kedai para lelaki akan menegguk sedikit air penawar kepenatan tapi yakinlah aku tidak pernah mencoba walau sekali, biarlah mungkin mereka akan merasa sedikit lega dengan itu . Pada dasarnya mereka adalah orang orang baik dengan nasib seperti ikan ikan yang keracunan di bawah lunas lunas.

Aku bisa saja tidak pergi pagi itu hingga kita bisa bersama ketika tumpahan dari bukit gundul menenggelamkan desamu. Siapa yang akan mencari kita? keluargamu atau keluargaku setidaknya kita tetap bersama.

Kau biasa mendendangkan keindahan taman taman hatimu dengan irama qasidah dan alam mengadirkan simponi yang indah dengan menyukuri kemerduan suaramu, desau angin, gesekan dedaunan dan ranting, suara suara binatang seakan berpadu dengan serasi. Setiap dendangmu adalah pujian. Setiap sudut desamu adalah keindahan. Jurang, tebing, jalan berbatu yang tersusun rapih melekuk lekuk pinggang bukit dengan seribu wajah itu maka kau bersemayam di hati alam ini. Apakah kau masih berdendang?

Kabar sedikit terhembus seperti issu akan kenaikan harga atau turunnya seorang pejabat issu sejumlah orang selamat menggelitik kupingku. Kabar itu datang dari mulut Pak Lebe? aku harus percaya dengan seorang penggurus mayat?

Di tempat aku dilahirkan, amis tercium segar membakar darahku. Belum sampai aku di pintu rumah orang tuaku di tengah kebun kebun melati semua keakraban lama kembali menyapa. Angin pantai yang riang, tebaran tambak tambak menyisakan pemantang kering dengan bakau bakau bertenggeran di tepiannya, melangkah diantara semak seperti saat aku dulu berlarian di lebar pemantang itu mengagetkan puyuh dan burung udang udangan, menakuti kepiting dan memancing salak anjing milik penjaga tambak. Aku muda kembali.

Di depan teras rumah tua bergaya joglo seorang wanita berjilbab merah muda berkebaya merah muda berkain merah muda seakan aku melihat hantu, aku tak percaya dan tak mau mempercayai ini jika tidak lolongan upikku, Lia Anjarwati terdegar jelas dan nyaring. Kau bukan hantu dan aku harus percaya dengan seorang pengurus mayat kini.

Rupanya pagi itu setelah punggungku lenyap di telan pepohonan satu jam kemudian kau pun bergegas pergi dengan ayah dan ibuku yang datang menjemputmu karena ingin kau ada di samping mereka saat upacara sedekah laut, mereka memaksa dan kau pun tidak seperti biasanya kau mengikut mereka. Terima kasih Allah aku masih bisa mendengar dendang qasidahnya. Laila.

Nama Penulis: Rahmat Mujiantoro

Cerpen Taman Hatimu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tak Selamanya Mendung Itu Kelabu

Oleh:
Entah kenapa, hari ini kursor komputer ku me ‘open new tab’ picture seorang teman di homepage facebook. picture itu adalah capture gambar teman saya. isinya adalah wall selamat ulang

Penggerebekan

Oleh:
Imamudin datang lebih kurang tiga minggu yang lalu, saat senja hari kamis ketika matahari dengan senang melukis langit dengan warna jingga seolah tak peduli dengan apa yang terjadi di

Lukisan Dida

Oleh:
Sejak berusia sepuluh tahun, Dida mempunyai keahlian melukis yang sangat hebat. Sudah beberapa kali ia mendapatkan hadiah dari beberapa lomba lukis di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia,

Ujian Untuk Andin

Oleh:
Malam semakin mencekam,,angin bertiup menampar alam, hingga menusuk tulang rusuk yang semakin hari semakin rapuh dengan tangan yang lebam. Ku lihat taburan bintang yang indah di atas langit sana,

Kesempatan Kedua

Oleh:
“Azka, aku ingin bicara denganmu.” Kalimat yang membuat Azka terkejut kepada teman satu jurusannya itu, Efrida. “Azka? Kau mendengarku tidak? Aku ingin bicara denganmu. Jangan beralasan lagi untuk menghindariku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *