Taman Syurga Raudhatul Jannah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau, Cerpen Islami (Religi), Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 22 April 2013

Suara gemuruh hati menikam dari dalam jiwaku. Hasrat tuk menjejaki suasana baru itu membuatku resah tak karuan. Sebenarnya apa juga yang harus kuresahkan. Praktek menjadi seorang guru itu kan sudah perjalanan yang harus aku lalui. Toh, ujung-ujungnya aku pasti akan menjadi seorang guru. Tapi kenapa aku masih sedikit gamang dengan keadaan ini. “sudahlah.. aku pasti bisa” hatiku selalu begitu menjawab. Kata hati yang bersahabat itu selalu membuatku jauh lebih tenang.

Pagi ini aku masih terbawa bisikan yang mengorek-ngorek telinga. Diatas kursi mungil, di tepi jendela rumah yang berdinding kayu, ku menghirup udara tenang berembun seperti salju. Sepertinya fikiran cemas membawaku pada renungan yang panjang. Percikan kesepian yang dalam, juga datang menemaniku saat itu. Kudayung larutnya masa dalam sayup-sayup cuaca yang tiada berpenghujung. Ku teliti hati yang meresap ragu tak beratap. Kuteteskan secebis ceria dalam senyum. Tubuh yang biasa gemetar menyambut keadaan asing ini, memberi celah tuk mengalirnya galau bercampur resah. Hingga tiada kusadari telah membasahi kepercayaan diri. Kepada siapa harus kukadukan perisai rasa seperti ini. Pada saudara, mungkin tak terlalu memahami tentang ini. Namun, hanya bisa ku yakinkan jiwa pada satu asa yang tak pernah terbuai oleh gelapnya hati. Ku jernihkan sendiri pandangan-pandangan kosong dalam semangat. Sambil mencantumkan tekat tuk tak pernah menyerah.

Dalam suasana yang masih memancing imajinasi itu, kutersandar sambil berkata, “Ya Allah, Engkau sudah mentakdirkanku tuk Praktek di SMP Islam Raudhatul Jannah”. Sekolah yang berkualiatas Islam, namun tetap bergengsi tinggi. Bukannya dengan bisa Praktek di Rj ini, tidak suatu hal yang mudah? semua orang butuh proses untuk mendapatkan kesempatan itu. Sedangkan aku hanya sebatas ketidaksengajaan, yang tiba-tiba saja ada yang mengajak, dan namaku sudah tercantum begitu saja di papan pengumuman, bahwa aku sudah ditetapkan untuk menggali ilmu disana.

Alhamdulillah, akhirnya aku mendapatkan tempat PL yang IsyaAllah akan memberikan yang terbaik dalam perjalanan hidup dan masa depanku. Jika ini takdirmu ya Allah, aku akan jalani semua dengan penuh ketekunan.

Esok, di pagi hari yang cerah, aku sudah berangkat dengan hati yang teramat damainya. Walau dibaliknya masih ada rasa dag-dig-dug yang tiada terduga datangnya. Kelihatannya mentari sudah sedikit mengintip. Aku kedipkan mata karna tak mampu menahan pancaran yang sesekali meyelinap masuk kesela mataku. Kumelangkah dengan membawa status jurusanku. Jurusan unik dan asyik. Apalagi kalo bukan Bahasa dan Sastra Indonesia. Aku sangat bangga mengakuinya. Walaupun kebanyakan orang menganggap remeh jurusan itu, tapi apa mereka tau, semua yang berhubungan dengan bahasa itu menyenangkan. Dan berakhir dengan ketenangan. Itu bagi yang mendalami arti sebuah ilmu bahasa dan sastra. Dengan adanya ilmu sastra kita akan sangat mudah berkomunikasi dengan banyak orang. Perkataan ini sebenarnya akan sangat menggelitik bagi yang mau menempuh dunia sastra. Itu pasti.

“Kak… kita sampai juga disekolah ini…”, ungkap Rika sahabat sesama PL yang sekaligus adik buatku

“iya Kak, Alhamdulillah ya, semoga ini perjuangan yang menyenangkan. Coba kamu lihat, sekolahnya ada tiga tingkatan. Visi dan misinya juga tertulis disana”

“ya kak, sekolah yang hebat, selain punya potensi agama yang tinggi, mereka memang juga unggul dalam prestasi”

Setelah lima menit berbincang, kami melihat ada segerombolan guru PL yang sudah sangat berwibawa dengan seragam barunya. Namun dengan warna baju blue black, pancaran wajah mereka tak terlalu jelas, aku meneliti wajah-wajah baru itu. Jujur masih ada yang kelihatan asing bagiku. Walau berada di Colegge yang sama, kami sangat jarang bertatap muka. Disebabkan jadual yang selalu bentrok.

Setelah beberapa saat, wajah mereka akhirnya mendekat. Pastas saja wajah-wajah itu kurang jelas, karna aku yang selalu tidak menyadari mataku yang sedikit konslet. Kemudian ku melihat satu sosok yang sudah kukenal lama. Sahabat sesama kaum hawa yang bernama Ciana. Ia jurusan biologi, yang merupakan adik dari sahabat karib Kakakku. Awalnya semua pertemuan itu biasa saja. Hanya aku merasa sedikit tersaingi dari semangat yang mereka miliki. Aku rasa, semangat yang ku punya sudah tak terkalahkan. Namun, aku salah. Mereka melebihi segalanya. Itulah rasa minder yang selalu mencongkel benakku. Aku tak pernah merasa PD dengan apa yang ku rasa, dan apa yang aku miliki. Bagaimana bisa PD, aku memang tak ada apa-apa yang bisa ku banggakan. Itulah perasaan lemah yang selalu diam-diam ingin menjatuhkanku.

Setelah memasuki kawasan SMP Islam Raudhatul Jannah, aku dengan delapan orang temanku, didampingi dua orang pembimbing dari kampusku STKIP. Kami berjalan menuju sebuah mesjid RJ yang masih dalam perbaikan. Mesjid itu lumayan besar, sepertinya sudah bisa menampung siswa RJ keseluruhan. Ditengah perjalanan sampai kedalam mesjid, kulihat dan kuperhatikan ada satu sosok yang masih muda berwibawa tinggi, berjilbab putih yang menutupi kepala dan separoh pundaknya. Sholeha betul sosok wanita paruh baya itu. Aku sampai terkesima juga dibuatnya. “Kapan aku bisa sewibawa itu?”, ucapku dalam hati. Ketika aku asyik memperhatikan sosok kaum hawa itu, ternyata pembicaraan sudah selesai. Aku tak banyak menyimak, karna aku hanya berfikir tentang sosok wanita sholeha itu tadi, yang ternyata merupakan kepala sekolah SMP RJ. “Pantaslah” ucapku lagi, sambil membenarkan di dalam hati. Saat itu mataku hanya tertegun lama. Sampai-sampai Rika teman dekatku menepuk pundakku. Hanya perkataan akhir yang bisa terekam dibenakku. Kami seluruh rekan sesama PL diharapkan bersedia mematuhi segala peraturan yang ada di sekolah tersebut, dimana bumi dipijak, disitulah langit di junjung. Bagitu saja yang bisa kusimpulkan. Memang ini bukan lingkungan yang biasa aku tempuhi, namun aku bersyukur dengan adanya kesempatan ini, aku bisa mendalami ilmu agama lebih dalam, sedalam cintaku padaNya.

Sesampainya di ruangan kepsek, guru PL dan seluruh Pamong dikumpulkan tuk perkenalan pertama. Senang memang. Karna kami disambut dengan senyuman bersahabat dari mereka. Inilah yang mungkin membedakan Rj dengan lingkungan sekolah lain. Mata yang miring kiri dan miring kanan tidak kutemui disana. Tapi entahlah nanti. Ini hanya kesan pertama yang bisa kuterka begitu saja.

Ketika semuanya sudah duduk bersimpuh berhadapan, aku melihat sosok-sosok pamong yang kian ayunya. Aku meneliti wajah itu satu persatu. Mencari sosok seorang “Febria Nelsi” yang sudah ditunjuk sebagai pamongku. Aku tak tahu entah mana orangnya. Aku hanya melihat namanya saja yang sudah tertera sebagai pamongku. Aku berfikir nama ini pasti dimiliki oleh orang yang masih muda, dan umurnya tak akan jauh beda dengan ku. Maklumlah nama orang lama akan sering berbeda dengan nama anak muda zaman sekarang.

Ketika aku meneliti wajah-wajah itu, mataku terhenti pada satu wajah imut dan tak kalah ayunya. Mungkin inilah pamong yang aku cari. Ketika aku memperkenalkan diri, ia juga seperti meneliti ucapan yang keluar dari mulutku. Mungkin ia juga bertanya-tanya siapa yang akan dititihnya.

Terntaya benar, aku telah mendapatkan jawaban ketika guru-guru pamong itu diperkenalkan diri kepada kami. Senang memang hatiku saat itu. Dengan pamong yang masih muda seperti itu mungkin aku akan mudah berkomunikasi dengannya. Jika bisa dilihat, mungkin hatiku sudah tersenyum kesenangan.

Hari pertama aku di RJ sudah berlanjut. Awalnya sedikit hambar. Aku tak bisa berborak-borak dengan pamong. Padahal aku ingin bicara banyak padanya. Tapi aku kehilangan sosok pamongku itu. Sudah kuteliti semua kelas, namun tak bertemu jua. Waktu itu aku hanya mencari di lantai bawah saja. Tiba-tiba kuberfikir, “bukannya di atas ada ruang guru?”, pasti pamongku ada disana. Simpulku lagi. Ketika kubergegas menuju lantai dua, diperbatasan tangga itu aku bertemu dengan mbak Yani jurusan sejarah, juga rekan sesama PL dan teman dekat kakakku sewaktu SMK. Kebetulan saja sekarang aku satu perjuangan dengannya. Dulu dia D3 jurusan Manejemen bisnis, sekarang mengambil jurusan Sejarah. Berbeda memang, tetapi itulah jalan hidup yang dipilihnya.

“eh Na mau kemana?” sapanya lembut.

“mau cari pamong ni mbak, belum sempat berkenalan langsung….” “mbak da liat pamongku ngak?”

“Oo iya, tadi ada diatas, kok raut wajahnya nana resah gitu sih?”

“ya iyalah mbak, orang belum kenalan ma pamong…”, pamongnya mbak gimana, asyik ngak orangnya?”

“asyik dong…heee, malah lebih asyik dari yang mbak bayangkan”

“syukur deehhhh, berarti senang dong…”, ya udah, aku mau ke pamong dulu ya mbak.., “ucapku terburu-buru”

Sesampainya di lantai dua, perasaan dan jantungku terasa berserakan. Cemas yang sering berselubung di jiwaku selalu menakuti mentalku. Padahal aku tak biasa lemah mental begini, tetapi kalau sudah berhadapan dengan situasi baru begini, bagiku memang sedikit ribet. Aku tak bisa bermanis-manis kata jika bermula seperti ini. Hatiku makin diasah-asah oleh resah. Ketika ku melihat sosok pamong yang sedang sedapnya makan, aku berusaha mendekati tempat duduknya. Ketikaku berusaha mendekati, pamongku itu sudah menangkap mataku mengintipnya dari luar.

“ooo.. ya silakan duduk. Kalo boleh tau umurnya berapa ya?”

“umurku 26th”

“o kalo begitu ku panggil kakak aja ya, aku 25th. Di SMA dulu tamatan tahun berapa Kak?”

“tamatan 2005. Kakak sama tamat dengan ibuk disebelah sana. Buk Askem. Dia teman satu sekolah dengan ku di SMA 1 Tiakar.

“o ya? Betul ya buk Kem? Tanya Nelsi pamongku yang beraura imut itu.

“mmm, aku ngak ingat, Nana dulu jurusan apa ya?

“jurusan IPS kem.. dulu IP5, Kem mungkin ngak ingat karna kita tak pernah satu kelas. Na Cuma ingat Askem dulu kita sama-sama eskul taecgondo. Benarkan?

“heeee… mmm betul, jadi dulu Na juga ikut?

“ya begitulah Kem.

Ternyata Askem tak begitu ingat padaku. Aku maklumi karna ia memang tak pernah berkenalan denganku. Askem itu agak sedikit pendiam di SMA dulu, akupun juga tak banyak bicara dengan orang yang tidak aku kenal. Aku dulu maupun sekarang memang tak terlalu pandai bergaul. Aku hanya banyak diam saja. Kalo tidak orang lain yang meminta berkenalan, aku tak kan pernah memulai berkenalan dengan siapapun. Mungkin ini memang sifatku yang tidak bisa kutinggal dari dulu. Walaupun aku sebenarnya paling tidak suka dengan sikapku seperti ini. Aku tetap tak bisa merubahnya. Seperti itu juga yang aku rasakan pada Nelsi. Aku tak tahu bagaimana bermula tuk berbicara dengannya. Rasa ingin tuk ramah itu sangat besar. Tapi itu terlalu berat tuk ku lakukan.

Setelah lama berborak, aku merasa cukup senang dengan sambutan guru-guru RJ itu. Perkenalan yang membuatku bersemangat. Sepertinya pamongku itu juga pamong yang baik, dan aku tak perlu resah tuk bergaul dengannya. Itulah yang tersimpulkan pada saat itu.

Hari terus berlalu, suara-suara hati yang gemerisik sedikit demi sedikit mengundang kegalauan dalam diriku. Kepalaku terus pusing. Badanku tak enak, fikiranku selalu tertanya pada gundah yang menempel dipundak hatiku. Rasanya ini hal yang tersulit tuk kulalui. Tak tahu apa yang nak aku buat. Sebenarnya semakin lama aku PL di RJ, ku semakin terbiasa dengan tempat itu. Guru-guru RJ itu dudah semakin dekat denganku. Aku sudah terbawa dan merasa bagian dari RJ. Namun satu yang aku tak mengeti. Aku merasa sulit berkomunikasi dengan Pamong. Hal yang awalnya aku sangka mudah, ternyata amatlah sulit. Dan hal yang aku anggap sulit, ternyata mudah tuk kulalui. Mulanya aku menganggap bergaul dengan guru lain selain Pamong, begitu susah. Tetapi keadan terasa berbalik. Aku begitu mudah bergaul dengan guru lain. Tapi sayangnya dengan Pamongku sendiri aku sangat kesulitan. Jangankan berbicara tentang meteri ajar, berkata hal paling biasa saja aku sangat sulit.

“kalo terus begini bagaimana aku bisa nyaman selama PL?” ujarku sendiri dalam hati.

“ya Allah bagaimana harus aku lalui semua ini ya Allah, aku begitu kesulitan bertanya satu hal saja pada Nelsi. Padahal banyak yang harus kutanyakan. Berilah aku keberanian tuk bermula dengannya. Sebenarnya apa yang membuat aku tak sanggup? Bukannya aku bukan Nana yang lemah mental? Dengan dosen aku tak pernah merasa sulit begini jika tuk bertanya, tapi kenapa dengan pamong merasa sangat sulit? “ Ya Allah apakah wibawanya terlalu tinggi di mataku? “entahlah”… aku tak menemukan jawaban itu.

Tepat jam 5.00 sore aku telah sampai dirumah dengan nafas ngos-ngosan. Aku sangat merasa capek dan kaki terasa pegal semua. Keringatku sudah menjalar sampai punggung. Batang hidungku sudah dipenuhi dengan komedo, bercampur dengan dengan bekas-bekas spidol berwarna hitam. Aku langsung kekamar dan menggantungkan seragam PL ku itu di dalam almari tua yang sudah turun temurun dari kakak sulungku, sampai akhirnya turun padaku.

Saat itu, aku langsung mandi, dan segar sangat rasanya. Dengan capek yang teramat hilang sekejap. Mungkin karna kuman yang sudah menumpuk di badanku sudah terkikis. Dan sejenak kuhempaskan tubuh yang sedikit lunglai ini diatas kasur yang masih beralas rapi. Kupejamkan mata. Tapi tiba-tiba ada yang mencongkel dan mengusik fikiranku lagi. Handphone miniku berdering kecil

“Na apa kabar? Ternyata itu sahabat lamaku Nela yang tidak pernah lupa denganku. Aku senang. Mata yang tadinya terasa mengantuk, sekarang telah melotot begitu saja.

“baik Nla, lagi dimana ni? Ngak kerja? Balasku.

“lagi di Mart ni. Na lagi sibuk ngak?

“sekarang ngak, mang kenapa? Mau curhat? Jawabku mengusik

“Iya si, tapi ngak ditelpon. Ntar sore Nla kesana deh. Besok na kemana?

“Besok lagi PL Nla, sekarang na kan lagi PL”

“o udah PL ya? PLnya dimana ?”

“di SMP RJ..,

“RJ?

“ya… mang napa?

“adik Nla disana lho…”

“adik Nla yang masih kecil-kecil dulu?

“iya itu kan dulu Na, sekarang kan dah gede…sekarang kelas 9, ngak tau di kelas berapanya.

“kok kelas adik sendiri ngak ngak tau”

“sekarang sibuk di Mart ja Na, jarang ketemu.

“o ya, namanya siapa?

“pokoknya ada Zamrinya dech…”

“oh ya? Rasanya na kenal nama itu. Jadi itu adiknya Nla? Tapi wajahnya kurang ingat dech Nla. Cirinya gimana ?

“adik laki-laki Nela di RJ ada dua. Yang satu tinggi, putih dan yang satu lagi agak gemuk.

“kayaknya ngak bisa dibanyangin dech. Tapi ntar bisa di cari Nla.”

“tolong perhatiin ya Na, adiknya Nla, soalnya kita tu jarang ketemu. Nla sibuk urusan bisnis keluaraga ja.

“ya aman Nla.., jangan kwatir. Lalu profesi dokternya mau dikemanain?

“disimpan dulu kali…heeee, tapi sekarang Nla sambil ngurus Mart Nla juga magang di Bukittinggi.

“o begitu. Sukses ya…

“makasi Na, kamu memang teman yang terbaik. Pantas Nla ngak pernah lupa ma Na.

“Na udah tau kali Nla…ngak bakal ditemuin dimana-mana sahabat kayak Na. Satu aja di dunia ini… heee

“ya udah sekali lagi makasi. Sampai jumpa ntar sore. Asslamualaikum.

“walaikumsalam.

Handphon mini itu kupegang sambil menuai senyum. Selain keluarga hanya sahabat yang bisa memberiku semangat. Aku senang dengan kedatangan sms dari Nela. Sahabat yang akan kukenang sampai bila-bila masa. Hanya dia saja yang selalu setia menghubungiku. Padahal sewaktu di SMP dulu kita tak pernah satu kelas. Kita hanya berkenalan begitu saja.

Dulu Nela bermasalah dengan teman dekatku Anita. Dan aku menjadi penasehat di ketika itu. Aku merasa cukup dewasa juga jika memperbaiki hubungan pertemanan yang sering bentrok. Nela juga sering membantuku dalam segala hal. Ketika aku sering tidak di beri uang jajan, Nela yang selalu membagi uang jajannya denganku. Aku sangat terbantu dengan kebaikannya. Sejak dulu memang kehidupan keluargaku berada dalam kemiskinan. Bahkan aku juga termasuk siswa yang kurang mampu yang diberikan beasiswa di sekolahku.

Nela sangat tahu tentang kesulitanku itu. Dia sering membantu tanpa balasan apa-apa. Hanya saja aku harus setia menjadi teman curhatnya setiap saat. Karna Nela adalah anak kos yang selalu butuh teman untuk berbagi. Jauh dari jangkauan mata orang tuanya, mungkin membuatnya agak sepi. Jadi mungkin hanya sahabatlah yang paling ia butuhkan diketika itu. Nela yang aku kenal sahabat yang sangat pintar, bahkan juara umum, teman yang cantik dan baik. Selain keberuntungan itu, Nela juga diberikan Keluarga dengan harta berlimpah, kaya hati dan kaya harta. Aku bersyukur bisa memiliki sahabat sepertinya. Dimana-mana aku tak dapat sahabat sepertinya. Bahkan sampai keluar negripun aku tak temui sahabat seperti itu. Walaupun semua lengkap dalam hidupnya, Nela adalah teman yang tidak sedikitpun sombong. Ia hanya berlagak seperti manusia biasa yang sama sekali tidak memliki kelebihan. Itulah yang aku kenal dalam dirinya. Sejak itulah Nela menjadi sahabat sejatiku hingga kini.

Sorepun tiba. Gemuruh angin menerpa jiwaku yang terbawa sepoi-sepoi luka. Hatiku yang cemas, berubah menjadi semangat yang membuang ku dari resah tentang RJ. Aku hanya berfikir hal itu tak perlu aku pusingkan sangat. Aku harus optimis dengan jalan ini.

Sorenya, menunggu sambil duduk-duduk di depan rumah sebentar saja, ternyata Nela datang juga. Ia memarkir kendaraan di atas pekarangan, dekat jalan di atas sana. Rumahku agak kedalam. Sedangkan titian jalan kerumah tak bisa di lalui kendaraan. Nela turun dan melangkah kerah rumahku dengan pelan. Karena jalan juga agak becek terkena linangan air hujan.

“hai.. Na.

“yuk masuk” Pintaku.

Nela duduk di sofa yang sedikit robek. Tapi ia tetap kelihatan nyaman duduk di sofa itu.

“mau cerita apa ni?

“begini

“……………………………..”

Setelah pembicaraan itu berlalu lama. Aku terhenti dari perkatan itu.

“Na…, kenapa? Mau curhat juga ni? Ceritalah Na.

“Na sekarang merasa kesulitan ma Pamong di sekolah Nla.

“kesulitan gimana?

“masalah komunikasi. Kurang lancar. Padahal pamongku itu seumuran kamu Nla, tapi kok susah banget ya bicara ma dia tu. Aku tu ngak nyaman tau ngak dengan situasi ini. Aku pengen lepas dari semua ini. O, ya pamongku itu dulu sekolah yang sama denganmu di SMA 2 dulu. Kamu ngak kenal? Namanya Nelsi lho.

“o… Nelsi, yang badannya agak kecil itu? Dia tu biasa aja kok Na. Kan ngak ribet, baik kok. Nana aja yang harus banyak bicara dikit. Tapi mungkin dia ngak ingat lagi ma Nla, kita cuman temen satu les aja dulu. Na aja yang merasa terlalu segan ma dia kale… mungkin dia tu juga sama. Juga segan ma na. Jadi dua-duanya sama-sama saling menyegani. Na jangan pernah minder dengan kemampuan Na. Buktiin dong Na bisa. Berusahalah tuk lebih dekat agar mudah berkomunikasi. Nla yakin semua akan baik-baik aja.

“o jadi dia dulu temennya Nla juga? Bilangin dong ma temen Nla agar jangan cuek gitu banget ma Na. heeeeeeee

(tertawa itupun berderai memecah kegelisahan)

“sebenarnya siapa yang cuek si? Na juga harus pro aktif dong…

“iya dech… siiippp…. makasi ya….”

“ya dah sore banget ni, ntar lagi Magrib. Nla pulang dulu yach…

Sosok sahabat sejati itupun telah lenyap sekelip mata. Rasanya tak puas tuk cerita padanya. Aku butuh seseorang yang bisa membantuku tentang ini. Aku ambil handphone mini lagi. Ku buka fb dan buat status..

“mengapa begitu susah mengenal jati dirimu?

Seseorang mengomentari saat itu juga… ternyata itu Rika yang bisa menebak tentang siapa status itu.

“jadikan dia teman dekatmu kak… pasti semua bisa dilalui dengan baik.

Kumerasa komentar dari sahabat-sahabatku itu sangat mengertak dan mencabariku. Aku tak ingin juga larut dalam satu masalah yang membuatku lemah. Lagian Rika memang sangat benar, Nelsi bisa kujadika sahabat tuk berjuang. “ah kok kayak orang lebay gini sih”, ucapku dalam hati.

Di bulan kedua di RJ, aku memang sedikit telah tenang. Aku sudah bisa sedikit dekat dengan Nelsi. Aku sudah diberikan arahan serta komentar yang cukup pedas tuk ku memperbaiki diri. Aku selalu belajar disetiap malam gelap yang setia menemaniku di dalam kayanya Allah. Jangkrik-jangkrik menemaniku di ketika itu, menghiburku dari hening malam yang tak bertepi. Namun akan berlalu dalam senyapnya udara yang kan berubah dari masa yang telah di aturNya.

Berusaha sendiri itu juga lebih baik. Daripada menyulitkan diri untuk bertanya. Kecuali yang benar-benar tak aku faham. Namun keresahan itu selalu berlanjut. Setiap datang saat-saat aku mengajar. Jantungku selalu berputar resah. Aku juga sedikit serius dengan materi yang aku ajar. Hingga mungkin ramai juga siswa yang jenuh denganku. Kritikan dari Nelsi juga tak banyak berkomentar baik. Ia juga menilai aku juga tak semangat dalam mengajar. Berarti aku harus banyak melakukan perubahan. Aku sadar, ini bukanlah penampilan terbaikku. Saat ini aku tak menemukan siapa diriku ketika mengajar. Aku bukan Nana yang mudah putus asa. Bukan Nana yang layu dengan cabaran. Bukankah aku sudah berfikir lama tuk memutuskan PL di RJ ini.

Dengan adanya Nelsi menjadi pamongku aku merasa lebih banyak mengintropeksi diri. Aku mencoba memahami dengan sikap Nelsi yang tidak begitu banyak bicara. Aku merasa juga sangat dihargainya. Mungkin benar kata Nela. Karna perasaan saling menghargailah yang membuat kita menimbulkan rasa segan yang tinggi. Sejak detik itu aku sudah biasa membawakan diri. Walau ku akui tak sepenuhnya bisa menebak apa yang difikirkan Nelsi atas sikapku.

Ketika aku beserta rekan sama PL dikumpulkan untuk rapat. Aku sedikit terkejut. Kami masuk keruangan Kepsek. Tapi sebelumnya aku bertemu dengan Nelsi.

“Rasailah lah kak… ungkap Nelsi seperti mencandaiku dalam bahasa kita orang Minang.

“Emang kenapa Ci? Tanyaku. Nelsi hanya menjawab dengan senyuman. Tapi aku senang. Karna jarang-jarang pamongku itu bercanda denganku.

Aku masuk keruangan Kepsek dengan perasaan yang sedikit cemas. Aku berusaha rilek dengan keadaan itu. Tapi aku sengaja tak banyak bicara, karna bagaimanapun aku harus menuruti peraturan di RJ. Walau kadang itu bertentangan dengan hati kecilku. Hanya satu kalimat yang aku ingat dalam rapat itu. Yaitu kalimat yang diucapkan oleh pamongku Nelsi. Dan aku merasa ucapan itu ditujukan untuk semua Mahasiswa PL, terutama untukku.

“satu lagi tambahan dariku, cobalah untuk banyak bertanya”

Aku mengambil kesimpulan dalam rapat, kita sebagai guru adalah sosok yang akan ditiru oleh siswa kita. Jadi bersikap dan berpenampilanlah seperti layaknya seorang guru yang patut untuk ditiru. Apalagi sekolah kita ini adalah sekolah Islam. Yang di isi oleh anak-anak yang kurang mendapat perhatian dari keluarga. Mereka akan cendrung meniru dari cara-cara yang dilakukan guru-guru mereka. Dan jika banyak hal yang tidak bisa difahami, cobalah untuk banyak bertanya. Aku merasa sangat faham tentang itu, dan semua terasa telah kulalui dengan baik. Tapi yang namanya manuasia pasti sering berbuat khilaf, dan harus saling memaafkan.

Aku merasa perkataan yang ungkapkan oleh Nelsi terakhir itu, paling utama ditujukan untukku. Karena memang aku akui tak banyak bertanya padanya. Mungkin karena rasa ini yang terlalu menghargainya sebagai pamong. Kalau tak itu alasannya apa lagi? Akupun tak bisa bicara banyak, karna aku sulit mendapatkan jawaban.

Ketika aku terhening disebuah meja piket, tiba-tiba aku ditemui oleh seorang siswaku yang bernama Yola. Nama yang sederhana tetapi memiliki kepribadian unik. Kabarnya ia siswa yang memiliki kedewasaan yang tinggi, karna memang umurnya melebihi teman-teman yang sekelas dengannya.

“ibukkkk…”

“ya Yola? Ada apa, ngak belajar?

“kan lagi olahraga buk…”

“eh buk, ibuk kapan sih habis PL nya?

“emangnya kenapa, Yola ngak suka kalo ibuk berlama-lama disini” ucapku mengusiknya.

“bukan gitu buk, Yola kan pengen tau aja”

“mmmm lebaran kemana aja?

“ngak ada kemana-mana buk. Dirumah aja.”

“kue lebarannya masih ada ngak?

“masih buk”

“kok ibuk ngak pernah dibawaain, padahal guru PL yang laen dah pada dibawain. Ibuk aja yang ngak ada yang perhatian. Sedih rasanya.” Ucapku agar menimbulkan respon darinya.

“ya ibuk… Yola perhatian kok. Nanti Yola bawain, tapi ngak janji ya buk”

“mesti janji dong.. ibuk tunggu lho… heeee,”

Aku terus mengusik siswa yang super semangat itu. Aku merasa lain saja jika berbicara dengannya. Ia memiliki keunikan yang berbeda dari siswa lain. Jarang-jarang siswa yang betah berlama-lama bercerita denganku. Akupun begitu. Biasanya tak pernah berbicara banyak. Padahal siswa lain sering protes. Kalo aku hanyalah seorang guru yang kurang dekat dengannya siswa. Tak pandai bergaul, sombong dan banyak hal lain yang mereka protes. Walaupun itu tak ditujukan secara langsung. Aku faham gaya dan bahasa tubuh mereka meresponku. Namun, aku hanya maklum dengan keadaan itu. Mereka yang memang membutuhkan perhatian lebih, memang membuat bermacam-macam cara tuk menarik perhatian guru. Karna memang banyak diantara mereka yang terlalaikan. Soal materi mereka punya. Tapi kasih sayang ortu sepertinya jarang didapatkan.

Hal ini menjadi pertimbangan besar buatku. Dengan suasana berkelas ini, membuat ku merancang sikap yang agak berbeda. Mereka sangat berarti bagiku. Malah dengan adanya mereka, menjadi inspirasi tuk aku menulis sebuah cerpen.

“aku harus membuat sebuah cerpen buat mereka” ucapku berbisik dalam hati.

“buk kenapa termenung”

“ah ngak, ibuk cuman berfikir mau membuat sebuah cerpen tentang perjalanan ibuk selama di RJ.

“yang bener aja buk?”

“emang ibuk pernah boong ma Yola?

“ya ngak si buk, tapi Yola mau baca cerpen ibuk”

“ya boleh-boleh aja, tapi kue nya dulu mana buat ibuk…”

“ya dech buk besok Yola kasih dech… ya udah Yola masuk dulu ya buk…”

“ya… pergi sana… heee. usikku sambil memberi senyum-senyum kecil padanya.

Heran juga dengan anak itu. Entah apa yang membuatnya selalu tertarik berbicara denganku. Padahal aku tak pernah mengajar di kelasnya. Yaitu kelas XI4. Mungkin karna rasa minatnya pada ilmu bahasa dan sastra. Dan sepertinya ia juga siswa yang berbakat. Apa yang kufikir tentangnya, bisa terbaca saja oleh fikirannya. Aku rasa ialah satu siswa yang sangat tertarik dengan ilmu sastra. Aku senang. Ia sempat bercerita panjang lebar tentang kesukaannya itu. Dalam senyum manis yang berciri khas itu ia bertanya banyak tentangku. Asyik memang berbicara dengannya. Bisa nyambung, dan gaya bicaranyapun bisa membuktikan dia bisa menjadi penerus Jurusan bahasa dan sastra nantinya. Inilah yang aku harapkan.

Besoknya, di pagi yang cerah dan hening, kulihat suasana RJ sudah mulai dipenuhi oleh siswa. Tepat pukul 7.15 bel sudah berbunyi. Kulihat guru-guru RJ digerbang sana masih menanti siswa dengan senyum dan salaman. Beberapa detik mereka berhenti dan melangkah masuk. Sedangkan aku melihat dari lantai dua, di depan ruangan guru, yang khusus untuk guru bidang IPS dan Bahasa Indonesia. Aku bersama Widia saat itu. Guru bidang studi geografi yang cukup ramah. Aku lebih leluasa berkomunikasi dengannya.

Tiba-tiba saja datang dua rekan guru PL dari STAIN mendekat kearahku. Dua guru gadis yang ramah itu bernama Rini dan Via. Senang betul melihat wajah mereka yang sudah nongol didepan mataku pagi-pagi begini. Selain jiwa mereka yang ferr dan ngak banyak komen itu, aku juga menyalutkan sikapnya yang humoris. Mereka pengisi hari-hariku yang sering redup. Masalah yang datang bertubi-tubi padaku, sering kuluahkan pada mereka. Aku merasa lega bisa berkenalan dan dekat dengannya.

Dalam renungan sekejap aku tersenyum kearah mereka.

“kak kok pagi-pagi dah bermenung indah sih, sambil senyum gitu lagi”

“ya kak senang sama kalian berdua… makasi ya…

Suasana itu mulai gelap dalam hatiku, tiba-tiba saja perasaan sedih tak terduga mengoyak jiwaku yang paling sensitif ini. Yang aku fikir tentang mareka hanya satu, perpisahan. Itu pasti akan datang dan pasti akan membuat aku kehilangan lagi.

***

Hari terus berlalu, hingga akhirnya sudah berbulan-bulan pula aku meninggalkan RJ. Namun tak disangka aku mendapat kesempatan mengajar disekolah yang baru. Tetapi yang aku ajari adalah anak sekolah dasar. Aku tak pernah bermimpi dan tak pernah ingin tuk mengajar di sekolah dasar. Rasanya aku tak bisa menyesuaikan diri dengan anak SD. Tapi apa dikata, takdir berkata lain.

Awal aku mengantar lamaran, sebenarnya aku tak terlalu senang. Aku hanya menghormati dan menghargai keinginan ibuku yang sangat ingin aku menjadi guru secepat mungkin. Beliau ingin, ketika aku tamat, bisa langsung dapat kerjaan, dimanapun itu.

Saat itu hatiku kucar-kacir. Entah menurut keinginan ibuku, entah menurut keinginanku sendiri. Aku merasa aktivitas menjadi guru sambil kuliah akan sangat mengganggu kuliahku. Apalagi aku orangnya ingin konsentrasi pada satu aktivitas. Sedangkan merried saja aku undur demi menjalani satu aktivitas, namun ini pula yang datang.

Kesimpulan akhir dari fikiranku, aku hanya bisa bertahan tuk menghargai kesenangan yang akan di dapat orang tuaku. Aku diterima dan sekarang telah menjadi guru, bahkan dipanggil dengan sebutan ustadzah.

Panggilan yang sangat berat kini harus kupikul dengan modal iman yang lebih dalam. Aku tarik nafas dan berkata “ inikah tekdirMu ya Allah?, sudah dua tempat yang kutempuh, aku selalu mendapat tempat tuk mengajar, dengan visi keimanan. Apakah aku layak mengabdi dalam jalanMu yang penuh dengan orang-orang dermawan ini? Sanggupkah aku menyamai rekan-rekan disini?. Ya Allah… semuanya kuserahkan padaMu.

Hari yang berlalu kini, tiba masanya aku menempuh ujian yang mungkin paling berat bagiku. Aku akan seminar proposal untuk skripsi. Dalam hal ini aku secara tidak disengaja pula harus meneliti di kawasan Rj yang mungkin sudah banyak kukenal… bagaimanakah kisah yang kan berlanjut?

Bersambung

Cerpen Karangan: Fitriana Delvis
Facebook: dua.zindri[-at-]yahoo.com
Panggilan: Nana / FIDE
T/Tgl: Payakumbuh, 20 maret 1986

Cerpen Taman Syurga Raudhatul Jannah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sketsa Lembayung Jingga

Oleh:
Telah ku lewati separuh jalan kehidupan. Aku tersesat di tengah tandusnya gurun pasir. Semakin jauh, semakin ku tak mengerti. Mataku seolah kehilangan fokusnya, samar-samar pemandangan ku tangkap. Fatamorgana yang

Mengukir Pelangi Di Negeri Rangsang

Oleh:
Suasana pagi nan indah, semilir angin yang berhembus dari arah laut, menyeberangi bebatuan pantai yang berbaris dengan rapi di mulut pantai. Tak tertinggal, burung-burung berterbangan di sekitaran semenanjung pantai

Jangan Panggil Aku Ustadzah

Oleh:
“Assalaamu ‘alaykum Ustadzah Uswa. Kian hari, kian cantik saja.” Goda seorang pria tambun yang sedang berkumpul bersama teman-temannya di pelataran kampus. Aku menundukkan pandanganku dan mempercepat langkahku. Tak menggubris

Ketika Langit Terasa Pahit

Oleh:
Sunar bangun sebelum matahari dan sebelum speaker langgar. Rejeki datang untuk orang yang bangun pagi, begitu katanya, meskipun orang miskin yang selalu bangun lebih pagi daripada orang kaya sepertinya

Sepenggal Kisah dari Palestina

Oleh:
Hai, aku adalah seorang anak yang hidup di Palestina. Seperti yang kalian tau, kami hidup di tengah peperangan. Keluar rumah adalah hal yang menakutkan bagi kami. Kami tidak bisa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *