Tanah Airku


Share

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 31 August 2012

“Pemenang Lomba Kebersihan, Kerapihan dan Kehiajauan Desa pada tahun ini kembali diraih oleh desa “IMPIAN” ungkap seorang lelaki setengah baya di atas podium. Serentak gemuruh tepukan tangan membahana di lapangan tempat acara penutupan Lomba Kebersihan, Kerapihan dan Kehijauan Desa itu dilaksanakan.

Memang tak ada satu orang pun yang memungkiri kalau desa itu akan kembali memenangkan lomba tersebut untuk kesekian kalinya, apalagi kalau melihat kondisi yang nyata di desa itu. Pesawahan yang luas nan hijau, perairan yang terus mengalir deras, tata kota yang menawan dan ratusan alasan lainya, termasuk kesejahteraan para penduduknya yang hampir merata.

Kepala desa tempat itu bernama pak Raja Adil. Semenjak ia terpilih jadi Kades, sejak itu pula desa tersebut selalu jadi juara setiap lomba Kebersihan dan kerapihan desa. Baik yang diadakan oleh kabupaten Kemakmuran atau Propinsi Kesejahteraan. Malah sampai lomba yang diadakan langsung oleh pemerintah Republik Cita-cita pun pada tahun 2028 desa itu tetap jadi juara.

Kemenangan yang berulang kali itu secara tidak langsung membuat sabahagian orang penasaran. Saking penasaranya beberapa orang membentuk sebuah panitia untuk megadakan jumpa pers dengan sang kepala desa.

*****

“apa kiat dan trik-trik yang bapak lakukan dalam hal ini ?” tanya salah seorang wartawan media masa.
“sebenarnya tak ada hal yang aneh yang kami lakukan dalam hal ini, selama ini kami cuman hanya dan selalu mengingatkan para warga untuk selalu sadar.” Jawab Raja Adil
” maksudnya apa pak ?”
” maksudnya semua warga dalam tindak-tanduknya harus dalam keadaan sadar tanpa dikendalikan oleh bujukan atau rayuan siapapun” lanjutnya menjelaskan.
“maksud bapak Setan ” tanya salah seorang wartawan diiringi gelak tawa wartawan dan penonton lainnya.
” bisa jadi, atau mungkin barang kali bujukan kawan-kawan yang mengajaknya untuk terjun ke dunia tikus.”
” Tapi pak bukanya hal itu membutuhkan hal yang lama?”
“ya, iyalah ! namanya juga proses, dimana-mana pasti butuh waktu. Cuman bukan berarti kita harus menyerah kan?” tanyanya balik.
“terus apakah bapak membentuk tim pengawas?”
“jadi gini sebelum semuanya di mulai kita memberikan pengarahan tentang materi KESADARAN. Sadar dalam segala hal terutama sadar akan keberadaan sang pencipta dan sadar akan keberadaanya sebagai seorang manusia.”

“dalam kata lain berarti bapak lebih mementingkan sisi religiusnya dibandingkan kredibilitasnya?”
“tapi nggak salah khan ? buktinya sampai saat ini tikus-tikus putih di daerah kami bisa teratasi.”
“apa awal yang mengilhami bapak untuk menggunakan metode ini dalam kepemimpinan bapak?” tanya wartawan lain
“secara sederhana seperti ini. ibarat seorang majikan ketika budaknya sadar akan keberadaanya sebagai budak, kemudian ia berlaku sebagimana layaknya seorang budak maka secara tidak langsung sang majikan pun akan sadar akan keberadaanya sebagi majikan. Bukti majikan sadar paling tidak ia akan memeberikan gajih pegawainya tepat waktu, atau lebih besarnya lagi sang majikan akan memberikan bonus atas kerjanya yang Ok.”
“hubunganya dengan keberhasilan bapak dalam kepemimpinan?”
“kami meyakini dan meyakinkan kepada semuanya kalau bumi ini ada pemiliknya, ada pengurusnya dan ada pemeliharanya. Dan kami mengibaratkan pemilik itu sebagi majikan, dan kami sebagi budakNya.”

*******

Desa itu memang indah, berada jauh dari keramaian kota. Sebuah Tempat di mana gunung-gunung tinggi jadi bentengnya, di mana pohon-pohon besar jadi pagarnya, sawah-sawah jadi halamnya., sungai dan danau jadi kolamnya.

Penduduknya hidup berdampingan tanpa beban. Tanpa rasa takut akan ancaman ataupun serangan.

Keberhasilan desa tersebut yang kesekian kalinya dalam perlombaan tersebut, betul betul disambut hanagt oleh seluruh pendududknya. Sampai seorang pemuda saking gembiranya, dengan semangat tinggi sambil berlari mencoba naik ke atas puncak bukit. Rona bahagia di mukanya begitu terlihat.

Selang beberapa saat sang pemuda pun sudah sampai diatas bukit. Sambil menghadap ke arah sang surya pagi yang berada di atas kepala desanya. Ia berteriak :
Aku bangga menjadi anak Kemakmuran
Aku bangga bertanah air Kesejahteraan
Aku bangga budayaku Cita-cita
Aku bangga bahasaku Cita-cita.

Anak-anak bermain seru
Para gadis berjilbab malu
Para ibu berdandan ayu
Para bapak optimis karena mau yang ia tahu

Walaupun hanya dengan sebuah cahaya lampu
Pengajian tetap berjalan
Walaupun tanpa segelas susu
Air danaupun mengenyangkan

Sawah sawah nan hijau membentang
Pohon pohon besar nan rindang berderet panjang
Aliran aliran sungai mengalir tenang
Hewan hewan bernyanyi riang

Begitu indah ……
Begitu damai ……
Begitu tentram …
Suasana yang tercipta.

Apalagi di pagi hari
Ketika alunan gemercik air
dan lantunan desahan angin
membentuk irama harmonika memecah sunyi

bangsaku
budayaku
tanah airku
Cita-citaku.

Sejenak Pemuda itu diam seribu bahasa, mencari kata lain yang tepat untuk membanggakan tanah airnya, untuk memuji bangsanya.
terlihat sorot mata yang penuh asa dan senyum simpul menghiasai wajahnya yang tak setampan arjuna.

Pakaian kebesaran orang orang miskin yang dipakainya tak membuat ia malu untuk berbangga. Bolongan bolongan di bajunya ia anggap bak bunga bunga yang terlukis dibajunya.

” ha .. ha … ha ..” sebuah suara keras bernada merendahkan memecah keheningan yang tercipta. ” wey….. siapa kamu ?” tanya sang pemuda sembari menyembunyikan rasa takut yang menghinggapinya. ” tak usah kau tahu siapa aku…. tak usah kau tanya siapa namaku …. ” jawab sang sumber suara aku cuman mau bilang :

tak usah kau banggakan bangsamu
tak ada guna kau puji indonesiamu
sekarang semuanya sudah berlalu
buka jendela rumahmu dan lihatlah sekelilingmu.

Lihat ….. anak anak sudah mulai bermain dadu
Para pemuda mulai buka tutup kartu
Para gadis tak lagi berjilbab malu
Mereka mulai berjalan ponggah sambil berkata ini dadaku

Lihat … para ibu tak lagi berdandan ayu
Melainkan penuh dengan polesan abu
Seorang ayah tak lagi mau yang ia tahu
Melainkan tahu yang ia mau

Tidak kah kau lihat rok mini rok mini itu
Tidak kah kau lihat lipstik lipstik tebal itu
Tidak kah kau tengok botol dan kertas itu
Tidak kah kau perhatikan orang orang gila itu

Anak anakmu tak lagi punya masa depan
Pemuda bangsamu tak lagi punya harapan
Para gadismu tak lagi punya impian
Semuanya telah kalah oleh jaman

” Tapi… ” ungkap si pemuda memotong
itu bukan bangsaku
itu bukan budayaku

” wahai pemuda lugu …!” panggil sang suara
bukankah yang di ibu kota itu bibimu ?
bukankah yang berdasi itu pamanmu
bukankah yang berpesta itu sepupumu
bukankah yang beralmamater itu kerabatmu

tak usah kau malu untuk berkata iya
tak usah kau berdusta denagn berkata tidak
akui lah semuanya
karena aku tidak buta

“sobat …. aku tak mau lama lama denganmu. aku jenuh … cape … bosan … ” ungkap sang suara .” Cuma ingatlah satu hal !” lanjutnya
Rumahmu memang bangsamu
Tapi bangsamu bukan rumahmu.

” Wey tunggu …. tunggu .. kita belum selesai ” teriak sang pemuda . namun sayang sang suara tak lagi meyahut. Ia pergi meninggalkan sang pemuda sendirian dalam kebingungan.

Rona ceria berubah duka, ada lara yang tercipta di diri sang pemuda.
Tubuhnya mulai melemas, omongan omongan pedas sang suara seolah telah memakan seluruh energinya.

Dengan sengaja ia jatuhkan tubuhnya ke atas rumput yang diinjaknya. Langit biru yang tak berhiaskan awan ia jadikan mainan tatapan kosongnya.

Setelah sekian lama termenung, ada sebuah cahaya harapan yang muncul dari mukanya, sekilas terlihat ada Perang batin yang hebat mulai terjadi dalam jiwa sang pemuda.

Dengan susah payah ia mencoba untuk bangkit, sambil menarik napas ia mencoba mengumpulkan serpihan-serpihan energinya.

Duka diraut mukanya ia coba ubah dengan asa. lara di hatinya ia coba ganti dengan cita. Sejenak ia berpikir, kemudian mengangkat kakinya untuk melangkah menuruni bukit ” tugasku masih banyak …. ya robb bantu hambamu !” do’anya dalam hati. Sambil memandang ke atap bumi.
Tamat

Nama Penulis: Abu Ayyasy

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Kehidupan

Baca Juga Cerpen Lainnya!



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One Response to “Tanah Airku”

  1. Frida Ariyanti says:

    sunggu indah cerpen itu membuat ku sadar akan bangsaku yg hancur

Leave a Reply