Tangga Nada Berjalan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Jawa, Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 4 August 2013

Cahaya terang itu berebutan memasuki area penglihatanku, sehingga aku tak kuasa membuka kedua mataku dan akhirnya akupun menangis sejadi-jadinya.
“Oak… oak…” ya begitulah kiranya suara tangisanku yang khas nan merdu, layaknya seorang rocker yang sedang menunjukkan aksi hebohnya bernyanyi di atas panggung megah.

Setelah sembilan bulan lamanya, aku merana di dalam sebuah tempat yang amat sangat sempit, gelap dengan dikelilingi suatu benda yang jelas tidak aku ketahui, akhirnya… aku divonis untuk segera keluar dari tempat itu.

TRI WANADYA LASMININGRAT, sebuah nama yang anggun dan indah bukan? Em.. serpertinya yang memiliki nama itu berasal dari darah biru alias darah ningrat. Tapi kawan! Tebakkanmu kali ini salah, karena aku hanyalah seorang gadis manis yang terlahir dari sebuah keluarga yang sangat sederhana, namun harmonis.

Tak lama, mengalunlah sebuah suara yang keras namun lembut dan setiap kata per-katanya mengandung makna yang sangat indah, yang aku dengar di kedua telingaku. Dengan cengkok yang khas dan tangga nada yang tidak beraturan, hm… kurasa aku akan mengubah tangga nada yang tidak beraturan ini menjadi tangga nada berjalan.

“Adek… bangun dek.. Cepat sekolah dek sekolah, ayo bangun..”
Aku sama sekali tidak menggubris suara yang aku dengar itu. Kau tahu, siapa yang membangunkanku itu? Dia adalah sesosok makhluk kecil, lebih tua satu tahun dariku, dan aku biasa memanggilnya Mbak Laras.
Mungkin karena Mbak Laras kesal kepadaku, akhirnya dia membangunkanku dengan nada tinggi naik satu oktaf,
“TRIIIII WANADYAAA LASMININGRAAAT! banguuun, banguuun, gimana sih kamu ini?” jerit Mbak Laras.
Sungguh, aku benar-benar kaget mendengar namaku yang indah diteriakkan dengan jelas ke udara, akupun memutuskan untuk bangun dengan mata yang masih tertutup.
“Apasih mbak? Aku itu masih ngantuk” terangku dengan wajah kusut.
Aku kembali menyelimuti tubuhku dengan selimut kesayanganku. Dengan sekuat tenaga mbak Laras menarik selimutku,
“Ibuuu…” jeritku sambil berurai air mata
Ibuku datang terbirit-birit dengan celemek yang masih menggantung di lehernya.
“Ono opo tah cah ayu?” kata ibuku seraya menggendongku dan mengusap kepalaku dengan lembut dan penuh cinta.
“Itu lo bu, mbak Laras tereak-tereak koyo wong edan, aku itu masih ngantuk bu” rengekku manja
Aku memang paling bisa dengan mudah mengambil hati ibuku 😉
“Mbak Laras, adekmu ini masih ngantuk, mbo’ ya nanti saja tho dibanguninnya, jam wolu tho mangkat sekolahne?” kata ibuku panjang lebar, sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Mbak Laras.
Mbak Laras meninggalkan kamarku dengan wajah kesal sambil berkata,
“Yo wislah, huh manja”.

Singkat cerita, aku diberi pengetahuan serba-serbi, segala sesuatu yang sebelumnya aku tidak tahu hingga menjadi tahu.
Tidak terasa aku akan segera mengenakan kemeja putih dengan rok merah, aku kembali meyakinkan diriku, bahwa akhirnya aku akan segera menaiki tangga nada RE, di Sekolah Dasarku Al-Irsyad Surakarta.
Layaknya seorang satpam yang sedang memburu sang-maling, aku kembali mendengar sebuah suara yang sudah tidak asing lagi ditelingaku, ya! Suara ini adalah suara dua tahun lalu yang membuatku menangis.
“TRIIII WANADYAAA LASMININGRAAAT, banguuun!” jeritnya.
Entah kenapa aku langsung mengendorkan selimutku dan bergegas ke kamar mandi. Mbak Laras tersenyum melihat tingkahku, seraya menyindir,
“Tumben, kamu cepat bangun dek? ndak manggil ibu lagi? hihihi,” sindir mbak Laras sambil menahan tawa.
Akupun menoleh ke belakang, sambil menjulurkan lidahku, wleeee :p
“Hahahaha” tawa Mbak Laras akhirnya meledak.

Aku bukanlah seorang yang mudah bergaul, sehingga di hari pertama sekolahku, aku hanya diam membisu, sesekali melihat keluar jendela untuk memastikan bahwa ibuku aman berada di luar.

Satu tahun sudah aku mengenyam bangku pendidikan sekolah dasar, aku berhasil naik kelas dengan hasil yang sangat memuaskan. Tepat di hari kenaikan kelasku, aku mendapati kabar bahwa kami sekeluarga harus pindah ke daerah Jawa Barat, tepatnya di Kota Sukabumi.

Seperti tersengat arus listrik, aku meronta tidak ingin berhijrah ke Jawa Barat. Namun ibuku berhasil menguasai diriku, ibu menjelaskan dan memberi pengertian kepadaku. akupun menghentikan tangisanku.

Suasana dingin mencekam dan menusuk tulangku, tepat pukul 05.00 subuh, kami sudah berada di terminal dengan selamat. Inilah kota Sukabumi dimana aku akan melanjutkan perjalanan hidupku.

Tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan bagiku dapat beradaptasi dengan kotaku yang baru ini. Seiring berjalannya waktu aku mampu melewati semuanya.

MI, aku duduk di bangku kelas tiga SD, semakin tinggi tingkatan tangga nada berjalanku ini, semakin kencang pula angin yang berhembus dalam kehidupanku. Begitupun dengan mata pelajaran yang aku pelajari, aku selalu mengeluh, namun ibu, Mbak Laras, nenek, kakek, bahkan ayahkupun yang tidak ikut pindah bersama kami karena ada sesuatu hal begitu ibu bilang, selalu memberikan semangat 45 kepadaku. Kakekku yang jelas banyak sekali berperan dalam mata pelajaran khususnya matematika dan bahasa inggris, beliau selalu sabar mengajarkanku, tak pernah mengenal lelah.
Dua tahun berlalu tanpa ayahku, rasa rinduku semakin menggebu kian hari, kian bulan, kian tahun. Aku sangat mendambakan sosok seorang ayah yang biasa menemaniku dan Mbak Laras, meskipun kakekku sudah sangat sempurna menggantikan posisi itu.

(Tok.. tok.. tok), terdengar suara pintu rumah kami yang diketuk.
“Dek, buka pintunya” pinta mbak Laras
Akupun bergidik menuju ruang tamu, ketika aku membuka pintu, kurasakan jantungku berdetak sangat kencang seperti genderang mau perang, sosok yang sudah lama kutunggu, kini berdiri di hadapanku.
“Ayaaah…” jeritku.

LA, kini aku sudah berada ditingkatan terjauh dari MI. Aku akan segera menanggalkan baju putih merahku dan menggantinya dengan putih biru.
Kini aku tidak pernah lagi mendapati ayahku bersenda gurau bersama, karena beliau selalu pulang larut malam dan subuh pagi sudah berangkat lagi. Namun aku dan mbak Laras sudah terbiasa dengan semuanya.

Kota metropolitan itu berhasil menghipnotis dan mencuci otak ayahku dengan pergaulan yang tidak baik. Bak tersambar petir aku tidak sengaja membuka dompet ayahku yang tergeletak di atas meja. Aku mendapati foto ayahku berdampingan dengan perempuan yang tidak aku kenal, aku berlari ke kamar dan melupakan hal yang baru saja aku saksikan beberapa detik yang lalu.

Aku tidak pernah menduga, ayahku yang selalu aku banggakan ternyata tega menghianati ibuku, mbak Laras, dan aku. Aku marah. Aku kecewa sekali. Tetapi aku mencoba mengontrol emosi, disana kami mengganggap cobaan ini adalah anugerah dari Tuhan agar kami selalu mendekatkan diri kepada-Nya.
Sebuah keluarga sederhana yang sangat harmonis itu kini sudah tidak lagi kudapati.

“Yang namanya dunia itu ada masa senang dan masa kurang senang. Di saat kurang senanglah kita perlu aktif. Aktif untuk bersabar. Bersabar tidak pasif, tapi aktif bertahan, aktif menahan cobaan, aktif mencari solusi. Aktif menjadi yang terbaik. Aktif untuk tidak menyerah pada keadaan. Kita punya pilihan untuk tidak menjadi pesakitan. Sabar adalah punggung bukit terakhir sebelum sampai ditujuan. Setelah ada di titik terbawah, ruang kosong hanyalah ke atas. Untuk lebih baik. Bersabar untuk menjadi lebih baik. Tuhan sudah berjanji bahwa sesungguh-Nya Dia berjalan dengan orang yang sabar.”

Sebaris kalimat motivasi di atas dari sebuah novel best seller yang pernah aku baca, selalu menjadi mantra kesabaran bagiku setiap aku mulai kehilangan kesabaran.

Kini aku sudah berhasil menaiki tangga nada terakhir DU, dengan berhasil menembus perguruan tinggi di IPB (Institut Pertanian Bogor).
Tuhan… aku selalu berprasangka baik untuk semua keputusan-Mu. Terimakasih untuk selalu berada di dekat aku dan keluargaku, tidak pernah beniat sedikit pun meninggalkan kami sampai sejauh ini.
Terimakasih Tuhan, aku berhasil membuktikan kepada dunia bahwa aku dapat membuat bangga ibu dan keluarga. Kebencianku terhadap ayahku semakin lama semkain pudar terkikis oleh waktu, karena aku sadar seburuk apapun beliau tetap ayah kandungku yang harus ku hormati.
Meskipun keluarga kecil yang sederhana itu sudah tidak lagi kudapati, tetapi semuanya masih terlihat sempurna hingga detik ini.

dari seorang gadis kecil
bersama serpihan hidupnya
yang telah tumbuh
menjadi gadis dewasa
berkat kasih sayang seorang ibu

Cerpen Karangan: Ken Apriela
Blog: commonpreferentstock.tumblr.com
Nama Pena : Ken Apriela
Seorang mahasiswi semester tiga yang sedang mencari kesibukan disela-sela hari kebebasan.

Cerpen Tangga Nada Berjalan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perjuangan Ayahku

Oleh:
Perjuangan seorang ayah baru disadari Abeng sejak dirinya duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Saat itu dirinya baru menjelang melihat pergulatan ayahnya mencari penghidupan sebagai Pegawai Negeri. Sementara temannya

Maafkan Aku Terlahir Perempuan

Oleh:
Aku memiliki tiga saudara aku adalah anak terakhir dari empat bersaudara. Ketiga kakakku ber’v*gina’ semua. Padahal sedari dulu ayah dan ibu mengharapkan bisa punya anak laki-laki. Setelah lahir anak

Rahasia 12 Tahun Lalu

Oleh:
Maya dan Misa adalah Kakak beradik. Maya adalah Kakak yang kasar, tegas, dan sangat pintar menghasut orang, sedangkan Misa adalah Adik yang baik, lemah lembut, dan penyabar. Sikap mereka

Anak Maduku

Oleh:
“Cinta kasih” dia adalah gadis kecil yang cantik, aku menyayanginya meski dia bukan anakku, ya dia bukan anak kandungku, melainkan anak dari selingkuhan suamiku, mungkin ini cara tuhan untuk

Hendi

Oleh:
Dia masih berusaha bernafas karena peluru tepat menembus jantungnya, darah mengalir keluar deras dari lubang peluru pada dadanya. Tidak ada yang melihat kejadian itu, saat itu pukul dua pagi,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *