Tangis di Malam Takbiran

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 14 April 2016

Aku meninggalkan bangku sekolah sejak berumur 13 tahun karena orangtuaku tidak sanggup lagi membiayaiku untuk bersekolah, padahal aku berharap bahwa aku bisa melanjutkan sekolah sampai ke tingkat SMA. Aku rela meninggalkan kampung halamanku dan orang-orang yang aku sayangi berharap masa depanku akan berubah lebih baik. Ku tinggalkan kota kelahiranku di daerah Kota Nopan Sumatera Utara dan pergi mengadu nasib ke perantauan orang-orang di daerah Batam, terasa berat kaki ini untuk melangkah namun ku langkahkan dengan penuh kepercayaan diri.

Aku masih teringat ketika ibu menangis melihat diriku masuk ke dalam sebuah bus, sepintas aku teringat kepada ayahku yang sudah lebih dulu dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, hatiku seakan-akan tersayat melihat Ibu yang tiada henti-hentinya mengeluarkan butiran-butiran bening di pipinya. Walaupun aku hidup di perantauan, tanpa ada sanak saudara yang akan memberikan pertolongan apabila terjadi sesuatu kepadaku. Aku akan selalu ingat pesan Ibu sehari sebelum keberangkatanku dulu, aku tidak akan mengikuti teman-temanku yang hanya hura-hura tanpa mengingat keluarga mereka yang ada di kampung.

Setibanya di daerah perantauan orang-orang di situ aku merasakan betapa susahnya hidup di daerah orang lain dan jauh dari orang-orang yang kita sayangi. Dan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan namun, aku teringat dengan tekadku kembali untuk membuat keluargaku bahagia dan adik-adikku tidak merasakan apa yang aku rasakan saat ini aku ingin mereka hidup bahagia atas apa yang akan aku berikan nantinya kepada mereka, meskipun itu kecil. Ku bulatkan tekad untuk mencari pekerjaan kesana-kesini, tetapi mencari pekerjaan sekarang tidaklah mudah apalagi kita berada di daerah perkotaan, mengingat aku juga hanya tamatan SMP. Meskipun demikian aku tidak pernah putus asa, aku selalu berharap suatu hari nanti aku akan mendapatkan pekerjaan sesuai dengan keahlian yang aku miliki serta menanamkan sikap jujur dan percaya diri pada diri-sendiri.

Ketika malam hari tiba aku selalu menatap ke langit membayangkan betapa bahagianya aku dulu sewaktu kecil berkumpul dengan keluargaku. Siang hari sepulang sekolah biasanya aku pergi membantu Ibu di sawah sambil membawakan Ibu makan siang, setelah itu aku baru minta izin pulang terlebih dahulu untuk pergi bermain bola bersama teman-teman sebayaku. Tidak terasa hari sudah larut malam, ku lihat jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB aku beranjak dari tempat dudukku dan pergi ke tempat tidur. esok paginya ku lihat langit begitu cerah sehingga membuat udara terasa panas.

Aku cepat-cepat pergi ke kamar mandi dan bersiap-siap untuk pergi bekerja, untung saja tempat kerja ku dekat dengan kos-kosan yang aku tempati, aku bekerja di sebuah pabrik roti di Pekan Baru. Walaupun gajiku tidak cukup besar tetapi itu sudah cukup untuk makan dan membayar uang kosku di sini, terkadang aku juga dapat mengirim sedikit uang untuk Ibuku di kampung. Semua itu aku lakukan demi kebahagiaan Ibu dan adik-adikku yang masih sekolah di bangku SD, SMP, dan SMA karena hanya mereka yang aku punya di dunia ini. Aku berharap kelak adik-adikku berhasil tidak seperti aku yang harus putus sekolah ketika masih kecil cukup aku saja yang merasakan betapa sakitnya tidak sekolah dan harus berjuang untuk hidup yang lebih baik.

Terkadang aku berpikir untuk pulang ke kampung halamanku karena rindu yang selalu bergejolak di dalam hatiku, namun aku tersadar kembali dalam lamunanku yang sudah jauh berkelana tanpa ada ujungnya, aku berpikir tidak mungkin semua itu aku lakukan. Aku tidak ingin melihat keluargaku sengsara dan aku tidak ingin melihat Ibuku harus berjuang sendiri menyekolahkan adik-adikku. Ketika lebaran tiba suara gendang terdengar bertalu-talu di telingaku membuatku teringat kepada kedua orangtuaku, hatiku berkata, “Wahai Ibu dan Bapak yang jauh di sana aku minta maaf yang sebesar-besarnya kepada kalian berdua atas segala kesalahan yang pernah aku lakukan baik yang aku sengaja maupun yang tidak aku sengaja. Aku berharap kalian bahagia di sana maaf aku tidak bisa pulang karena keadaan yang memaksaku harus begini, sejujurnya di dalam hatiku aku sangat merindukan kalian semua.” Dengan sekuat hati aku harus bersabar dan rela merayakan lebaran di kampung orang yang sudah menjadi tempat aku untuk berjuang demi bertahan hidup.

Aku mengakui di perantauan ini memang ada segalanya yang ku butuhkan, apa pun yang ku inginkan bisa cepat aku dapatkan, tanpa harus menunggu lama terlebih dahulu. Namun meskipun demikian itu semua tidak membuat diriku terlena akan kemewahan yang kapan saja bisa habis dan hilang begitu saja. Aku lebih suka tinggal di kampung tempat kelahiranku walaupun di daerah pegunungan, alam yang begitu asri di pagi hari terlihat gunung-gunung yang menjulang tinggi dan juga sawah yang berhamparan hijau membuat mata siapa saja yang melihatnya terpesona. Apalagi ditambah dengan masyarakatnya yang ramah dan juga saling tolong-menolong antar sesama agar tercipta hidup yang aman, damai, dan sejahtera.

Aku selalu berharap aku dan keluargaku bisa berkumpul seperti dulu lagi yang penuh suka dan duka kami tanggung bersama-sama. Hatiku terasa teriris-iris seakan-akan menjerit karena rindunya bila ingat akan semua itu, tanpa aku sadari air mata jatuh membasahi kedua belah pipiku. Aku hanya meminta kepada Allah SWT agar selalu memberikan kebahagiaan, dan melindunginya dari orang-orang yang ingin menzalimi keluargaku. Setiap saat aku selalu teringat kepada ibu dan adik-adikku aku takut terjadi sesuatu kepada mereka di sana apalagi Ibuku yang sudah sakit-sakitan, hal itu membuat hatiku tidak tenang dan selalu memikirkan akan kesehatan Ibu. Sering kali aku berpikir Apa pun yang terjadi aku harus membahagiakan Ibu terlebih dahulu sebelum sang Maha Kuasa memanggilnya, seperti yang Ayahku yang sudah lebih dulu meninggalkan kami semua di saat kami masih kecil-kecil.

SEKIAN

Cerpen Karangan: Efrida Yanti
Facebook: efrida.yanti.5623[-at-]facebook.com

Cerpen Tangis di Malam Takbiran merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Doa Terakhir Sang Penari

Oleh:
Lagi-lagi, oksigenku dirampas bebas alkohol, tontonanku tetap berkutat pada lampu yang berkedip-kedip manja, tapi beringas, benar-benar meluluh lantahkan logika manusia-manusia tak beretika ini. Pendengaranku masih dibungkam gaduh dan riuh

Ada Cinta di Ampera

Oleh:
Dini hari begini, masih saja kendaraan berlalu-lalang di jalan arah Jakabaring. Hembusan AC yang semilir ini membuat bulu romaku berdiri. Sudah tepat pukul dua, mata yang sebenarnya berat ini

Harapan Kecil Untuk Rafi

Oleh:
“BRAK!!!” Suara gebrakan pintu itu mengagetkanku. “Ayo bangun, mau sampai kapan lo tidur terus?! Dasar anak tidak tahu malu. Udah numpang, males-malesan lagi!! Lama-lama gue usir juga lo!!!” bentak

Antara Ayah, Ibu, Dan Anaknya

Oleh:
Seperti pelangi menunggu hujan reda, itulah sebuah gambaran perasaan Puput Sri Asrianti perempuan cantik beranak satu, ia dengan setia memandang langit Kota Makassar menunggu dengan sabar sang suami pulang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *