Tanya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 12 April 2016

Namanya Nadya. Baginya waktu begitu cepat berlalu, menggoreskan tinta-tinta pembelajaran yang tak akan sirna. Sampai tiba waktu baginya untuk memilih jalannya dan bertanya pada dunia. Memang umurnya masih lima belas, namun itu sudah cukup dewasa untuk menentukan sebuah pilihan yang masih terbayang-bayang dalam pikirannya. Tanya kepada alam semesta selalu meliputinya, “Akankah hidupku akan lebih baik dari orangtuaku? Akankah cita-cita bisa membawaku ke dalam kesuksesan? Apakah Tuhan akan mengabulkan setiap permohonan dalam sujudku? Apa semua akan berakhir bahagia seperti yang selalu aku bayangkan?”

Dia bukan anak yang ceria dan selalu tertawa, namun dia juga bukan orang yang diliputi kesedihan dan duka. Dia menghabiskan waktunya untuk bersekolah dan membuka cakrawala dunia. Saat waktunya luang, dia hanya mendekam di markas kecilnya yang sederhana. Di sana, ia menyampaikan semua curahan dan tanya menggunakan seribu bahasa. Membuat puisi dan syair-syair yang mengungkapkan isi hatinya. Juga menulis sebuah proyek novel kecil yang tak tahu akan dia bawa ke mana. Saat ini, pikirannya ke mana-mana. Dia dihadapkan dalam sebuah pilihan menjebak dan sulit dihadapi. Mudah memang, bagi segelintir orang yang tak berpikir panjang tentang masa depan ataupun yang sakunya dipenuhi uang.

Tapi, dia hanyalah anak petani. Ayahnya bekerja di luar negeri. Untuk makan sehari-hari saja susah. Apalagi uang tabungannya sudah habis dipakai untuk menutupi keperluan dapur ibunya. Baginya, salah satu langkah saja dalam mengambil keputusan dapat membuat masa depannya diliputi penyesalan dan kemuraman. Hari-harinya dia gunakan untuk berpikir dan berakhir dengan menyerahkannya pada Tuhan. Tak lupa dia selalu berdoa dan memohon petunjuk Yang Kuasa, serta puasa senin kamis seperti yang telah dianjurkan oleh guru-gurunya. Bahkan, ia bisa berpikir panjang yang berakhir pada ketiduran di ranjang karena kelelahan. Saat sedang berbaring, dia menulis sebuah puisi dengan menggunakan handphone kecil yang ada di tangannya.

TANYA

Ada tanda tanya
Tertata dalam benak dan pikiran
Adakah sedikit kasihani-Nya
Tuk hidup yang lebih indah dan nyaman
Kosong pikiran berpikir-pikir
Apa tujuan yang kan kupilih
Saranmu buatku lebih jenuh berpikir
Dan mulai tahu yang kan kupilih

Akankah mimpiku akan nyata
Atau rahasia-Nya menjawab bersama waktu
Akankah hidupku kan berwarna
Atau satu saja yang paling baik untukku
Tanya ini semakin membara
Saat kutahu banyak hal
Tapi kutahu itu sifat manusia
Jadi jalani saja pada satu hal

Percakapannya dengan dunia menghadirkan tanda tanya baru dalam pilihannya. Membuatnya semakin bertanya-tanya. Hatinya mencoba menenangkan, namun pikirannya yang tak bisa diam. Saat malam, setelah remaja berkaca mata itu belajar, ia menonton televisi sambil berbincang-bincang dengan keluarganya. Tanya pada dirinya memancing saran dari ayah dan ibunya. Ayahnya yang religius berkata, bahwa yang terpenting adalah ilmu agama dan spiritual. Kalau dia sekolah di Madrasah Aliyah ayahnya akan berusaha untuk membiayainya. Jika urusan agama, pasti Allah akan menuntun dan memberi jalan. Tapi, letak Madrasah Aliyah letaknya cukup jauh dari desa kecil tempat Nadya tinggal. Kasian ibunya jika harus tinggal sendiri di rumah mungil nan sederhana itu. Jadi, lebih baik di Sekolah Menengah Kejuruan saja. Yang penting, ilmu agama, spiritual, dan ibadah harus selalu diutamakan. Lebih baik lagi, kalau tetap bersekolah di madrasah desa meski memiliki kesibukan di sekolah umum.

Ibunya berkata, bahwa sebaiknya dia sekolah Sekolah Menengah Kejuruan. Selain biayanya murah, letaknya dari rumah juga dekat. Nanti jika ada rezeki, bisa meneruskan ke perguruan tinggi, jurusan keuangan jika mengambil jurusan akutansi di Sekolah Menengah Kejuruan. Sedangkan di madrasah kecilnya yang memiliki sedikit santri, ustadznya berkata bahwa hidup di dunia sudah diatur oleh Allah SWT. Ada seseorang, tidak kaya, juga tidak memiliki tanah luas. Dengan puasa senin kamis, anak-anaknya telah berhasil menempuh pendidikan sarjana dan menjadi orang yang berkecukupan biaya. Apa yang bisa dipikirkan oleh seorang remaja sederhana dari desa yang memiliki banyak mimpi dan keinginan. Seorang remaja yang memiliki begitu banyak bakat bila ada media, namun keluarga tak mendukung dan juga tak menyangka karena anaknya tak bicara dan bercerita.

Sampai sekarang, remaja itu hanya diliputi tanya. Dia melakukan segala hal yang dia bisa. Dia tetap menulis dan belajar, juga berdoa untuk kelanjutannya. Dia menanti kelanjutan hidupnya bersama usaha dan doa. Dia hanya bisa bertahan. Menanti semua jawaban yang akan datang. Jawaban segala pertanyaannya kepada Tuhan. Tuhan yang akan menunjukkan bersama waktu yang terus berjalan. Dia masih termenung setiap malam. Berpikir akankah keberuntungan ada di jalan yang akan datang. Cita-cita menyembuhkan ataukah hobi kepenulisan yang akan menjadi awal perjuangan. Dia terus berpikir positif dengan sejuta harapan. Semoga saja harapannya itu menjadi kenyataan. Tak menjadi suatu harapan palsu yang tak terpecahkan.

Cerpen Karangan: Nadya Nurlisa
Facebook: Nadya Nurlisa
Nama Lengkap: Nadya Eka Nurlisa
Asal: Tulungrejo, Besuki, Tulungagung, Jawa Timur
Tempat lahir: Tulungagung
Tanggal lahir: 20 Desember 2000
Hobbi: Menulis, Membaca, Mendengarkan Lagu
Pekerjaan: Pelajar

Cerpen Tanya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Punk’s Not Dead

Oleh:
Megan membuka matanya pelan ketika mendengar ketukan keras di pintu kamarnya. Alih alih beranjak dari ranjangnya, ia tetap berdiam di balik selimut patchwork buatan tantenya sambil melirik weker bergambar

Mati Muda

Oleh:
Pria berusia sekitar 50an itu, bertamu ke rumah bersama seorang anak lelaki. Aku masih belum ngeh siapa sebenarnya tamu yang datang menjelang berangkat kerja pada pagi hari. Yang jelas

Hujan

Oleh:
Bukan hal yang baru memang yang sedang terjadi. Hujan. Ya.. hujan. sebuah peristiwa alam biasa yang menyapa tanah kami, negri kami. Maklum tanah kami ada di bentangan katulistiwa sehingga

Ada Cinta di Ampera

Oleh:
Dini hari begini, masih saja kendaraan berlalu-lalang di jalan arah Jakabaring. Hembusan AC yang semilir ini membuat bulu romaku berdiri. Sudah tepat pukul dua, mata yang sebenarnya berat ini

Tamparan Tuk Kembali

Oleh:
Kusapa langit dan kuinjak bumi dengan berjalan berlenggak lenggok tanpa ada rasa berdosa. Usahaku berjalan sesuai apa yang saya harapkan dan pengetahuanku membuat saya beradu logika dengan Tuhanku. Saya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *