Taruhan Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Islami (Religi), Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 1 November 2012

Aku masih berdiri dengan kakiku disini, menatap lurus bangunan megah diseberang jalan itu. Ya, kampus tercintaku. Meski tahun semakin membuatnya terlihat gagah, namun tak begitu membuat kakiku tetap kokoh berdiri. Aku terduduk diatas trotoar yg telah berkali-kali ku pijak sejak aku masuk di kampus ini. Rasanya semangatku mulai kendor, tak seperti awal aku menggebu ingin kuliah dan mendapat gelar Sarjana Filsafat Islam. Mungkin niatku dari semula telah salah kaprah, hanya sekedar ingin punya embel-embel di belakang namaku. Tapi apa peduliku, itu menjadi sebuah gengsi tersendiri.

“San,” tiba-tiba seorang menepuk pundakku dari belakang, sontak ku menatap ke arahnya.
“Oh, kamu Zin.” Jawabku lesu padanya. Ia Faizin, teman sekelasku dr semester satu. Bisa dibilang hanya dialah teman perjuanganku di kota kecil ini. Sedikit berlebihan memang, tapi itu kenyataan hidupku.
“kenapa tadi gak masuk?” tanyanya membuyarkan lamunku, aku diam. Aku tak tau apa yg mesti aku katakan. Sedangkan aku sendiri tak mengerti apa yang terjadi dengan diriku.
“Vina?” tanyanya lagi. Dan aku masih saja diam. “kamu tu, wong idup kayak ga idup. La yamutu wala yahya.” Katanya seraya pergi dariku. “ayo lah ngangkring wae, udud po piye, tak traktir wes.” Aku berpikir sejenak, akhirnya kuputuskan untuk mengikuti ajakannya.

“vin, jangan bengong aja napa? Lagi ada masalah ya?” Tanya Naya sambil duduk disamping Vina. “tadi Mbak Neli Tanya katanya kamu jadi buatin undangan buat rapat besok enggak.” Katanya sambil nyodorin setumpuk program kerja pengurus tahun ini. Ya, tepatnya Vina dan Naya adalah santri di salah satu pesantren di Jogja.
“aku lagi pusing Nay, ntar malem aja aku buatin.” Kata Vina ogah-ogahan.
“crita kalo ada masalah, jangan dipendem sendiri.”
“mungkin lain waktu, aku belum siap.”
“yaudah, tapi lama-lama kalo kamu gitu bisa-bisa kamu jadi sakit, inget kalo kamu tu gampang drop.”
“hmmm,, aku bener-bener bingung, aku pusing.”
“ya pusing kenapa, crita aja kyak aku ni orang asing.”
“aku mau dijodohin.” Kata Vina tiba-tiba yang membuat Naya sontak terlonjak dari duduknya. Ia tertawa, namun seketika diam ketika terlihat raut muka Vina berubah.
“emm, sama siapa?”
“aku gak tau, besok pagi aku disuruh pulang.”
Naya diam, ia tak menjawab apa-apa lagi. Dan mereka terbang dalam pikiran masing-masing.

Esok hari.
“Nay, ini undangannya tolong kasih ke bagian humas. Aku pamit pulang dulu.” Kata Vina seraya menyodorkan beberapa bendel undangan ke Naya.
“aku temenin pulang ya, kamu pucat banget, takutnya gak kuat bawa motor sendiri kerumah.”
“udah, aku bisa sendiri. Emangnya aku anak kecil,” jawab Vina tersenyum padanya.
“nah gitu lho, senyum. Yaudah ati-ati dijalan.”
Pelan-pelan dibawa motor bebeknya membelah jalanan yg sudah begitu ramai. Pikirannya melayang, sesekali konsentrasinya buyar. Klakson bersahut-sahutan ketika kadang ia oleng mengendarai bebek merahnya. 1 jam perjalanan cukup membuatnya pegal-pegal. Sampai di rumah, terlihat beberapa santri lalu lalang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ia parkirkan motornya disamping rumah setelah terlihat tempat parkir yg telah penuh. ia berdiri kaku, seraya dihembuskannya nafas yang begitu berat dirasa. Sempat ingin berteriak, tapi urung. Takut jadi bahan tontonan, dikira ntar aku gila, pikirnya.

“Assalamu’alaikum.” Ucapnya seraya masuk lewat pintu samping rumah. Terlihat disana beberapa santri putri sedang menyiapkan beberapa piring camilan yg buatnya semakin layu mengayunkan langkahnya.
“umi dimana?” tanyanya pada salah satu santri.
“itu neng didapur belakang.” Jawab santri yg terlihat paling tua.
Pelan ia ayunkan lagi kakinya, terlihat umi sedang mencicipi masakan yg mungkin akan dihidangkan nanti. Umi meliriknya, “kok baru nyampe Vin?” Tanya Umi ketika Vina jabat tangannya ta’dim.
“iya, jalanan lagi di perbaiki, jd macet Mi.”
“yaudah, sana makan dulu, trus benahin penampilanmu. Mau ada tamu sambut dengan baik.” Perintah beliau yang buatnya semakin perih.

Ia ayunkan lagi langkahnya, perlahan ia buka pintu kamar, terlihat ada sebuah gamis yg menggantung digagang pintu lemarinya. Gamis itu cantik, dengan paduan warna krem dan pink fanta terlihat apik. Umi benar-benar telah mempersiapkan semuanya. Seketika ia tersadar kalau belum menemui abi. Sontak ia keluar kamar dan mencari abi.
Ia temukan beliau sedang berbincang dengan pakde diteras rumah. Ia hampiri seraya mengecup tangannya, lalu kembali lagi ke kamar. Abi tidak berucap apa-apa. Hanya anggukan pelan ketika menatapnya yang kemudian berlalu.
Ia rebahkan tubuhnya diatas kasur kamar yang telah lama tidak ia tempati. Sekilas bayangan Hasan muncul dalam lamunnya.
“maafkan aku San,” lirihnya. Tak terasa airmata telah mengalir deras. Buru-buru ia usap dan beranjak mengambil gamis yg sedari tadi ia perhatikan.
Setelah ia rasa cukup dengan penampilannya, ia keluar kamar. Ternyata tamu yang abi dan umi tunggu telah datang. Namun bukan untuk ia tunggu. Sekali lagi ia hembuskan dengan berat nafas yang terasa semakin sesak. Allah……

Pelan ia buka gorden yang membatasi ruang tamu dan ruang keluarga rumahnya. Ia menunduk, tak berani menatap sekelilingnya. Pelan didekatinya umi dan duduk disebelahnya. Rasanya semua mata tertuju padanya. Pelan umi menepuk pundaknya seraya tersenyum.
Suasana yang seketika hening itu berubah sumringah ketika salah satu perwakilan dari tamu mengungkapkan maksud kedatangan rombongan keluarga itu kesini. Abi menjawabnya dengan begitu wibawa. “Mungkin ini telah jalanku. Aku tak berani berkata tidak. Pilihan abi dan umi pastilah yang terbaik buatku. Meski sangat perih aku rasa. Serasa kembali pada masa siti nurbaya.” Batinnya sendu.
“vina, jadi ini namanya Taufiqurrahman, dia skrg masih nyantri di Al-munawwar, asli Kediri, dan besok juli insyallah akan melangsungkan wisuda S2-nya.” Kata abi yang tiba-tiba membuatnya kram setengah mati. Seketika ia tatap lelaki yang abi maksud. Deg! Masyaallah! Sontak airmatanya mengalir. Ia tak bisa berucap apa-apa. Harus bagaimana ia hadapi semua ini? Seketika pula ia tatap sosok lelaki yang duduk dibelakang laki-laki yang abi sebut barusan. Kali ini ia benar-benar serasa tak kuat hidup. Tak disangka laki-laki ia maksud itu tersenyum simpul kearahnya.
“San, ternyata kau pula menghendaki semua ini.” Batin vina menunduk diam dalam tangisnya.

Cerpen Karangan: Anis Nuraini Fatayati
Facebook: https://www.facebook.com/anis.fatayati
Masih membiarkan pena menari-nari semaunya…

Cerpen Taruhan Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Saranghae Appa (Part 2)

Oleh:
“Hidup sendirian, inilah yang aku rasakan. Gadis umur 16 tahun yang baru saja kehilangan Appanya. Sebelumnya, hidupku selalu bergantung padanya. Jika aku bisa menarik kembali kata-kata terakhirku padanya, akan

Sideng

Oleh:
Lagi-lagi aku heran menyikapi sifat rekan yang satu ini. Hidupnya seperti sok suci, padahal kelakuannya durjana. Bekerja di salah satu instansi pemerintah, senangnya mendholimi orang lain. Kayaknya tidak ada

A Reason

Oleh:
Dilla terus menulis dengan berusaha mengacuhkan sekitarnya. Dia berusaha mengendalikan diri, rapat sekbid ini memang terasa menyiksa karena ada Ray. Dia merasa jadi kurang terkendali kalau di dekat Ray.

LOVE

Oleh:
“Wuiiih siapa itu, Ay?” “Siapa? siapa?” Gaby dan Aurel mendorongku, Shalin memepetku. “Aduuh, Edric sama siapa itu?” “Shal, jangan jadi kompor, ya..” kata Gaby. “Udahlah biarin.” Kataku kembali membaca

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *