Tatapan Sinis Penuh Dendam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 27 August 2019

Sebenarnya apa yang ada di pikirannya sejak pertama kali kita bertemu dia selalu menatap sinis padahal kita juga belum pernah kenal. Sekarang kita terjebak di lift yang sama hanya berdua, ingin rasanya aku bertanya ada apa dengan dirinya, bibirku beberapa kali ingin bertanya tetapi semua sia-sia saja egoku mengalahkan rasa penasaranku. Di pagi ini pekerjaan cukup banyak dan aku hampir terlambat. Lift terasa cukup lambat padahal hanya naik dua lantai.

Hari ini ada pertemuan seluruh ketua cabang toko roti seluruh jawa tengah di mana aku bekerja. Tas punggung yang berat dan satu koper berisi beberapa stel pakaian sudah aku bawa dari kota asalku. Acara pertama dalam rangkaian pertemuan ini diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, tak heran karena bos besar kita punya jiwa nasionalis yang tinggi dan nampaknya dia juga ingin menyalonkan diri jadi presiden. Cukup singkat acara pertama hanya pembukaan dan penjelasan rangkaian jadwal selama tiga hari dua malam kedepan.

“bapak-bapak dan ibu-ibu setelah ini acaranya adalah makan siang jam 12.15 di restaurant hotel lantai satu, setelah masuk ke kamar masing-masing silahkan langsung menunju ke restaurant. Untuk info-info yang mendetail langsung saja menghubngi saya pak Juned dan panitia lainnya terimakasih dan selamat beristirahat” Kata salah satu panitia.

“pak Soni ya?” ucap bapak-bapak berbaju batik merah sambil melihat nametagku.
“bukan pak saya Roni, memangnya ada apa pak mencari pak Soni?”
“oh maaf saya cari pak Soni teman sekamar saya” jawabnya “soalnya saya belum banyak kenal dengan orang-orang disini mas, maklum saya baru 3 bulan di angkat jadi ketua cabang” lanjutnya.
“owh begitu ya pak kebetulan saya kenal dengan pak Soni ehm… itu pak yang baju hijau pakai tas abu-abu.”
“itu ya? Terimakasih banyak mas, wah mas Roni ini hebat ya masih muda gini udah jadi ketua cabang. Ya sudah mas saya ke sana dulu”. Ucapnya sambil tangan kirinya menepuk-nepuk pundakku dan tangan kanannya menunjuk pak Soni.
“iya pak sama-sama” jawabku sambil berjalan ke lift

Karena tadi hampir terlamabat aku lupa untuk mampir ke resepsionis, dengan langkah yang sedikit membungkuk membawa tas punggung seperti kura-kura ninja pulang kampung sampailah aku ke lobby hotel. “permisi mbak pengumuman pembagian kamar PT. Emrily Roti Indonesia di mana ya?”
“untuk papan pengumumannya sudah diambil panitia pak, bisa dibantu nama lengkapnya saja pak? Agar bisa saya carikan nomor kamarnya?” jawab resepsionis dengan ramah. “Yohanes Roni Hermawan” jawabku
“kamar bapak nomor 809, bapak satu kamar dengan bapak Rohman.”

Tidak terasa delapan tahun sejak aku mulai dari cleaning service kini aku sudah dipercaya menjadi pemimpin cabang di perusahan roti terbesar di indonesia. Aku ingat sekali pernah hanya mengantar pak Harun yang dulu bosku ke pertemuan seperti ini dan kini kita satu level. Benar juga kata orang-orang kalau kerja keras tidak pernah mengkhianati hasil.

Cacing di perut sudah tidak bisa dikompromi lagi akhirnya kaki ini memutuskan untuk pergi ke restaurant yang tidak jauh dari lobby hotel. orang aneh itupun terlihat lagi dia berada makan bersama di antara peserta lain lagi-lagi dia memandang sinis, ah sudahlah mungkin hanya perasaanku saja. Sambil menikmati makanan aku mengingat-ingat perjuanganku dulu saat masih jadi cleaning service.
Sambil senyum senyum sendiri aku hanya bisa bersyukur atas jalan Tuhan yang sangat baik denganku. karena cuaca cukup panas dan badan terasa pegal kuputuskan untuk menunju kamar untuk menaruh tas dan mandi.

Pintunya terbuka sedikit oleh ganjal pintu dan nampak hanya ada pak Rohman yang habis mandi. “mas Roni dari mana saja? Saya kira belum sampai ke sini.” Tanya basa basi pak Rohman.
“saya tadi makan dulu biar nggak naik turun aja.”
“wah saya nggak nyangka bisa sekamar dengan calon ketua regional yang baru” kata pak Rohman menatapku sambil membuka kopernya.
“Ah bisa saja pak…”

Acara seperti ini rutin diadakan setahun sekali untuk membahas masalah masalah atau melaporkan keadaan setiap cabang di setiap regional. Selain itu kebetulan tahun ini diadakan pemilihan ketua regional jawa tengah yang baru, entah kenapa aku yang baru satu tahun empat bulan diangkat menjadi ketua cabang ikut dicalonkan menjadi ketua regional.

Selesai mandi aku besiap untuk pertemuan kedua, yang dijadwalkan pukul 14.30. untuk kali ini aku memilih setelan batik coklat bercorak hitam putih dan celana kain hitam. Jam menunjukan pukul 14.11 tak lupa aku menyiapkan beberapa berkas dan laptop untuk pertemuan nanti.

Di meeting room masih belum banyak orang yang datang padahal meeting seharusnya tinggal 5 menit lagi. Terlihat hanya ada panitia di depan dan tujuh orang yang sedang asik berbincang. Tanpa ragu-ragu aku berjalan ke arah mereka. Aku yang terhitung baru dua kali ikut pertemuan seperti ini belum terlalu banyak kenal dengan mereka hanya pak Soni, pak Komar yang sudah akrab denganku di situ. Ternyata mereka sedang membicarakan pak Yudhi si owner yang setiap keputusannya yang diambilnya selalu dimusyawarahkan.

“beruntung kita mempunyai pemimpin yang hebat, saya rasa jika benar beliau mau mengajukan diri sebagai calon presiden beliau pantas untuk itu” pujian pak komar.
“benar pak contohnya saja beliau tidak langsung memilih anaknya untuk jadi ketua regional jawa tengah, beliau memilih untuk mengambil voting dengan ketua cabang yang lain” Sahut salah satu bapak-bapak yang belum kukenal.

Aku baru tahu bahwa salah satu kandidat ketua regional adalah anak dari pak Yudhi. Aku hanya tahu nama keempat kandidat itu dua orang dari semarang bernama pak Usmar dan pak Billy, pak Harun yang dulu bosku dan aku. Aku pun tidak terlalu menginginkan jabatan itu walaupun gajinya yang dengar-dengar sampai tiga kali lipat dari yang kudapat sekarang. Aku tahu dibalik gaji yang besar itu juga terdapat tanggung jawab yang besar.

Meeting pun dimulai kali ini membahas tentang SOP, dan yang mengejutkan pak Yudhi sendiri yang menjelaskan detail tentang semua SOP. Nampak beliau sangat menguasainya dan ingin semua anggota mengerti betul. Setelah satu jam kami diizinkan untuk sejenak beristirahat menikmati coffeebreak. Kita berbincang bertukar pikiran satu sama lain tak jarang kita saling melempar candaan yang membuat pikiran sejenak santai.

Meeting dilanjutkan dengan penyampaian visi misi dari pak Harun untuk pemlihan ketua regional, sungguh kharismanya masih sama sejak menjadi bosku, aku belajar banyak dari pak Harun dia seorang yang tegas dan ramah pada bawahan dan sifat itu yang aku contoh sampai sekarang. Serangkaian acara hari ini membuatku kelelahan tanpa menunggu pak Rohman aku langsung ke kamar dan tidur.

Alaram dari handphoneku membangunkanku pagi ini tanpa ada waktu untuk bermalas malasan aku langsung mandi lalu duduk di depan laptop. “pagi sekali bangunya mas masih jam setengah enam gini sudah rapi saja” kata pak Rohman yang baru bangun
“iya pak saya baru persiapan buat nanti”

Pertemuan jam 9 nanti giliranku untuk menyampaikan visi misiku. walaupun aku tidak berniat untuk jadi ketua regional aku hanya tak mau malu di depan banyak orang di depanku. kusiap kan slide-slide power point yang sudah kusiapkan seminggu yang lalu. Tidak dapat dipungkiri lagi aku sedikit gugup aku hanya bisa berdoa agar diberi kelancaran oleh Tuhan.

Akhirnya saat itupun tiba saat maju ke depan tanganku sedikit bergetar, aku merasa cukup minder karena pak Usman yang duluan mendapatkan kesempatan mendapat tepuk tangan yang meriah dari anggota-anggota yang lain. Flashdisk biru kuberikan ke panitia untuk file power pointnya. Karena pak Yudhi melihat aku yang sedikit gemetar dia meminta tepuk tangan dari anggota untuk menunmbuhkan rasa percaya diriku.
Berkat itu aku cukup nyaman dalam menyampaikan visi misiku satu demi satu slide dengan lancar aku jelaskan, walau demikian keringat dingin tidak dapat aku sembunyikan.

Setelah selesai pak Yudhi kembali meminta untuk bertepuk tangan.
“beri tepuk tangan dulu dong buat mas Roni…” Katanya
“mas Roni ini walaupun saya belum mengenalnya dekat dan masih sangat muda saya tahu dia pantas untuk menjadi ketua regional jateng” lanjutnya. Aku hanya berpikir kalau pak Yudhi hanya ingin menghiburku yang sedang grogi berat ini. Saat itu hampir saja kaki melangkah untuk mundur dan kembali ke tempat duduk.

Tiba-tiba pak Yudhi merangkulku dan berkata “Sekitar 3 bulan yang lalu saya sekeluarga mampir ke cabangnya mas Roni, dia menyambut saya dengan hangat ditengah-tengah pembicaraan kita dia tiba-tiba minta izin untuk menegur seseorang yang merokok di dalam toko. Dengan ramah mas Roni menegur orang tersebut tetapi orang tersebut sempat ngeyel akhirnya mas Roni memanggil security untuk mengusir orang tersebut”
Aku mulai mengingat-ingat kejadian tersebut. Pak Yudhi melanjutkan perkataannya. “saya salut dengan ketegasan mas Roni yang mementingkan kenyamanan pengunjung yang lain”. Aku mulai teringat dengan peristiwa itu, tapi masih lupa dengan orangnya.
“langsung saja kita sambut orang yang diusir mas Roni” kata pak Yudhi yang membuat seluruh orang di meeting room kebingungan.

Tiba-tiba orang aneh yang menatap sinis itulah yang maju ke depan sontak kejadian itu membuat keadaan di meeting room riuh dan baru kutahu kalau orang itu pak Billy anak pak Yudhi.

Cerpen Karangan: Wegga Perkasa Eddyviar
Blog: sastraperkasa.blogspot.com

Cerpen Tatapan Sinis Penuh Dendam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lilin Tertiup Angin

Oleh:
Sang surya mulai tenggelam di ufuk barat. Perlahan awan berarak menutupi kilaunya dan hembusan angin menambah lengkapnya suasana. Aku mulai mengenakan dress merah, high heels dan sedikit riasan di

Ratapan Masjid Tua

Oleh:
Pagi yang cerah dengan embun yang masih menempel di dedaunan. Sang fajar masih malu untuk menampakkan dirinya, tapi cahyanya yang kemilau mulai menyeruak menyibakkan kabut kelabu. Pagi ini begitu

Missing (Part 3)

Oleh:
Semua mulai duduk beristirahat sedangkan kami mulai mendirikan tenda. Dua buah tenda ukuran besar berhasil kami dirikan berhadapan dengan jarak sekitar 5 meter. Dengan rencana akan ada api unggun

Petualangan Empat Orang Anak

Oleh:
“Kak, kita jalan yuk” ajak Ratih. Aku tak menghiraukannya. Aku sendiri lagi menikmati acara TV kesayanganku, yang tak pernah aku lewati satu bagian pun. “Kakak?” panggilnya sekali lagi. “Iya,

Riddle Mungkin

Oleh:
Tasya melirik jam di dinding. Sudah jam 12 malam lewat. Sudah terlalu malam juga. “Lebih baik, kusudahi dulu saja perkerjaanku.” Gumam Tasya. Tasya mematikan laptopnya. Mengemasi semua barang yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *