Teater Jalanan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 14 March 2016

Siang itu di sebuah pinggiran kota besar, tampak sepasang suami istri sedang berteduh di bawah pohon besar rindang yang letaknya tidak jauh dari pertigaan jalan yang terbilang masih baru. Sebuah jalan yang baru selesai dihubungkan untuk mencegah kemacetan lalu lintas di jalur yang padat lalu lintas. Seperti jamur di musim hujan, di sekitar jalan baru tersebut tempat semerawut beberapa pembangunan-pembangunan ruko, hotel ataupun gedung-gedung perkantoran baru. Sangat kontras dengan berbagai sisa-sisa semen, pasir ataupun batu-batu kecil yang masih berserakan di sepanjang jalan.

Pedestrian baru pun sedang dipersiapkan untuk menghias sisi-sisi jalan di sepanjang jalan tersebut. Masih tampak asal dan tidak teratur, entahlan.. apakah memang tidak ada perencanaannya sama sekali atau memang menunggu instruksi yang masih mengambang. Seperti biasanya di Negara ini tampak tidak pernah ada komunikasi dengan departemen lain. Sebagai contoh tidak lama jalan dibangun dan tampak rapi pasti tidak lama akan ada galian lagi untuk departemen telekomunikasi menanam kabel-kabel telepon, ataupun nanti departemen air minum menanam pipa-pipa air. Hasil galian tersebut akan terus menambah indah suasana di sekitar jalan. Bahkan membuat sebuah kubangan di musim hujan ataupun menambah asesoris gundukan baru yang memang tidak membahayakan namun kata beberapa orang malah menambah daya estetikal seni jalan di Negara ini.

Dengan memanfaatkan gundukan batu-batu kali yang tidak terpakai bekas pembuatan jalan, sepasang suami istri itu pun duduk sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang bertiup di sekitar pohon tersebut. Dengan penuh perhatian pandangan mereka tidak lepas memperhatikan beberapa anak-anak yang sedang bermain di sekitar pertigaan tersebut. Anak-anak tersebut bermain di antara kendaraan-kendaraan yang berhenti karena pengaturan lampu lalu lintas. Setiap lampu merah menyala mereka pun beraksi dan mencoba untuk menarik perhatian para penumpang atau pengendara tersebut.

Ada yang mencoba menari, bernyanyi dengan bertepuk tangan ataupun membawa kerencengan yang terbuat dari tutup botol yang dipipihkan lalu digabung jadi satu dengan menggunakan paku dan kayu sebagai alat pegangan. Lampu hijau pun menyala, mereka pun menepi di pinggir jalan lalu secara bergilir berjalan menuju sepasang suami istri yang duduk di bawah pohon dan memberikan beberapa uang yang mereka dapatkan dari para dermawan jalan. Beberapa keping uang logam atau beberapa lembar uang kertas mereka dapatkan dari para dermawan-dermawan jalan tersebut yang dengan berbaik hati memberikan uang lebih yang ada di kantong mereka. Hasil yang sangat lumayan dibandingkan mereka bermain di tanah lapang ataupun bermain di gang-gang sempit dekat dengan rumah mereka. Beberapa tatapan sinis orang-orang yang dari tadi berdiri di sekitar sepasang suami istri tersebut. Mereka menatap lekat sepasang suami istri tersebut yang sedang memberikan beberapa pengarahan kepada anak-anak tersebut.

“Aneh, kok orangtua setega itu menyuruh anaknya mengemis,” sungut seorang perempuan kepada temannya sambil menatap heran kerumunan keluarga tersebut.
“Belum tentu itu anaknya Min, siapa tahu itu koordinator pengemis yang mengambil anak-anak jalan lalu diperkerjakan menjadi pengemis. Usaha tersebut lagi marak-maraknya di kota ini,” seru perempuan yang memakai hijab menjelaskan sambil berbisik lirih. “Ho-oh.. bisa jadi Nur,” seru perempuan satunya yang dipanggil Min mengiyakan sambil mengangguk angguk menatap tidak lepas dari keluarga tersebut.

Beberapa bapak-bapak hanya menggeleng-gelengkan kepala lalu mengalihkan perhatiannya ke arah jalan menuju bus kota yang selalu lalu lalang di jalan tersebut. Aku pun mencoba mencermati dengan sudut pandangku sendiri, mencoba untuk memposisikan diriku sebagai seorang laki-laki yang entah ayahnya atau koordinator yang beberapa orang sangka. Namun pada akhirnya yang ada hatiku terenyuh membayangkan diriku membiiarkan anak sendiri untuk mengemis. Ataupun aku seorang koordinator yang mengambil keuntungan dari anak-anak jalan di bawah perlindunganku untuk mengemis. “Hati nurani yang bicara.” Seruku dalam hati. Namun jika berbicara mengenai hati nurani apakah masih ada orang zaman sekarang yang membiarkan hati nuraninya berbicara. Bukannya urusan perut yang dikedepankan, apa pun caranya jika demi perut mereka rela melakukan apa saja.

Di zaman yang katanya semuanya serba mahal, dollar yang merangkak naik, ditambah dengan tuntutan buruh akan kenaikan gaji membuat kondisi beberapa pengusaha di Negara ini untuk berpikir dua kali menginvestasikan dananya. Efek domino berupa pengangguran karena beberapa pengusaha memutuskan untuk menutup perusahaannya ataupun pindah ke Negara yang menyediakan perkerja dengan gaji murah. Bahkan beberapa pengusaha lebih memilih menginvestasikan dananya ke mesin atau teknologi tinggi dibandingkan tenaga kerja manusia, sehingga booming pengangguran pun akan terjadi. Namun tampaknya pengusaha harus mempertimbangkan baik-baik.

Negara ini dikenal dengan costumer yang sangat potensial dengan tingkat konsumsi yang sangat tinggi. Oleh karena itu mereka masih ketergantungan dengan pasar Negara ini. Mudah-mudahan pemerintah mempunyai rumus yang jitu untuk mempertahankan kondisi investasi Negara ini, sehingga para perkerja yang tidak mempunyai keahlian lebih masih bisa merasakan naiknya gaji UMK mereka. Namun apabila terjadi, akan ke mana larinya para perkerja yang tidak mempunyai keahlian ini. “Akankah mereka akan seperti ini? seruku dalam hati sambil menatap sepasang suami istri tersebut yang sekarang masih menatap kerumunan anak-anak mereka bermain dengan lincah di antara kendaraan-kendaraan yang berhenti di lampu merah.

Tidak ada warna gembira yang ditampilkan oleh sepasang suami istri tersebut, tidak ada obrolan yang berarti di sela-sela waktu yang sudah mereka korbankan untuk hidup. Warna mereka tampak kelam dengan tampilan yang sederhana. Guratan-guratan wajah lelah tertampak pada sang ayah yang tampak jelas di antara sorot tajamnya. Sementara sang perempuan dengan wajah sedikit muram mencoba untuk mengusir peluh yang menetes di dahinya. Walaupun suasana tampak teduh di bawah pepohonan namun sorot matahari masih membiaskan suasana panas di siang hari ini.

Dengan tertutup tudung kepala serta rambut yang tergurai acak, sang perempuan berusaha untuk merapikan rambutnya dengan maksud berusaha untuk menghilangkan rasa gerah yang hinggap dengan cara mengikat rambut dan mengibas-ngibaskan rambutnya. Tidak ada yang menarik dari penampilan kedua orang tersebut dengan berpakaian yang cukup sederhana tanpa perhiasan apa pun. Entahlah, apakah memang pakaian dinas mereka seperti itu ataupun memang kamuflase yang sengaja ditampilkan oleh mereka. Sebagai daya tarik untuk menarik simpati rasa kasihan orang-orang yang melihat mereka.

Aku pun mencoba untuk mengalihkan perhatian dan pikiranku dari mereka berdua. Ku alihkan pandangan ke arah bus yang akan datang, berharap bahwa bus jurusan yang tengah aku nanti datang menghampiriku. Namun ternyata yang tiba bukan bus dengan jurusan yang tengah ku nanti, aku pun kembali mengalihkan pandanganku ke arah lain. Namun belum selesai aku mengalihkan perhatianku, tampak lewat di depanku dua orang dengan tubuh badan kekar dan memakai t-shirt ketat. Tampak beberapa tato yang tertutup t-shirt ketat menghias di badan dan lengan kedua orang tersebut.

Mereka mendekati kedua pasang suami istri tersebut dengan sikap kasar, salah satu pemuda mencolek sang suami. Tidak beberapa lama mereka terlibat pembicaraan yang serius yang pada akhirnya sang suami tampak dengan tergesa-gesa mengambil beberapa uang puluhan ribu dari kantongnya dan menyerahkan kepada kedua orang tersebut. Kedua pemuda tersebut tersenyum dan menepuk-nepuk pundak sang suami lalu berpamitan kepada pasangan tersebut. Sang istri sedari awal kehadiran kedua pemuda tersebut tampak tidak mengacuhkan apa yang terjadi. Sampai dengan menghilangnya kedua pemuda tersebut pun tidak tampak sang istri terpengaruh akan kejadian barusan.

Mereka kembali tenggelam dalam pikiran masing-masing sambil memperhatikan anak-anak yang berada di tengah jalan. “Tiap hari kedua preman tersebut mengambil setoran kepada setiap pengemis yang beroperasi di daerah sini,” seru seorang laki-laki yang berdiri di sampingku. Aku pun menoleh mencari tahu siapa yang berkata barusan. Tampak bapak penjaga warung kecil yang sedari tadi memperhatikan tingkah laku preman tersebut. “Tiap hari ya bang, memang masih ada bosnya lagi ya bang yang harus dikasih jatah?” tanyaku penasaran.
“Iyalah Dek, keluarga tersebut kan memang punya bos masing-masing yang beroperasi di wilayah yang berbeda. Tergantung siapa yang pegang,” jawab sang bapak, sambil menyulut sebatang rok*k kretek.

“Sangat kompleks,” pikirku termenung. Tapi banyak orang yang menggantungkan hidup dengan cara begini. Walaupun keras tetapi mereka tetap kukuh untuk bertahan berkerja seperti ini. “Besar Dek pendapatan mereka. Satu bulan mereka bisa minimal dapat 3 juta dan maksimal dapat 6 juta bersih,” sambung tukang rok*k sambil menghembuskan asap rok*k yang tampak mengepul mengudara, mengisi ruang-ruang hampa yang ada di hadapanku.

“Bersih bang, sudah dengan pungutan liar seperti tadi,” seruku tidak percaya. Sang bapak pun hanya menganggukkan kepala, sambil matanya menatap kosong kepada pasangan istri tersebut. “Saya adalah Bapak mertua sang laki-laki Dek,” seru si bapak menghela napas, “di kota mereka sengsara dan dihina namun di kampung mereka kaya,” sambung sang bapak tersenyum penuh makna. Senyum yang terus ku ingat sampai aku menulis cerita pendek ini. Tidak pernah ku mengerti makna senyum tersebut. Hanya menerka-nerka, Entahlah.. apakah senyum kepuasan, senyum kemenangan atau senyum kegetiran.

Pantas saja pemerintah tidak bisa berbuat apa pun. Tawaran menjadi petugas kebersihan kota dengan gaji UMR pun ditawarkan, namun tidak ada satu pun pramuwisma yang berminat. Pendapatan mereka lebih besar sebagai pramuwisma dari pada sebagai petugas kebersihan. Walaupun perkerjaan hina namun hasilnya sangat luar biasa. Ternyata Negara ini masih penuh dengan orang-orang yang berhati mulia serta dermawan, itu dimanfaatkan oleh sebagian besar pramuwisma menangguk keuntungan yang instan. Ataukah memang tidak ada lagi perkerjaan yang layak untuk kaya di Negara ini sehingga sebagian orang berpikiran menjadi pramuwisma adalah langkah jitu untuk menjadi kaya secara instan.

Pikiranku pun menjadi buyar sejurus dengan datangnya bus tujuan yang akan ku tempuh. Aku pun bergegas berlari dan melompat memasuki bus yang belum berhenti sempurna. Beberapa orang mengikut langkahku di belakang, Segera aku bergegas melangkah dengan pandangan liar mencari kursi yang kosong berlomba dengan penumpang lain. Syukurlah salah satu tempat di dekat kaca jendela kosong dengan segera aku duduk menghempaskan kepenatanku yang sedari tadi menghinggapiku karena terlalu lama berdiri menunggu bus.

Pandangku pun tertumbuk pada sekumpulan anak-anak pengemis yang tadi aku perhatikan. Mereka berlomba dengan panasnya sinar matahari mencoba untuk meluluh lantakkan perasaan budiman sang dermawan yang ada di balik kemudi, di atas motor ataupun di dalam angkutan kota. Di lain sisi aku masih merasa beruntung dilahirkan dengan kondisi yang terhormat dengan orangtua yang terhormat tanpa harus mencari rejeki dari hasil belas kasihan orang. Namun aku tidak bisa menyalahkan anak-anak tersebut yang kini berada di jalanan. Secara naluriah aku yakin mereka tidak ingin begitu namun kondisi dan tekanan dari orangtua mereka yang harus membuat mereka melakukannya.

Apakah memang peran orangtua yang mencetak mereka pada nantinya akan menjadi pengemis? Mudah-mudahan anak sekecil itu menyadari kealfaan orangtuannya dan bisa menjalani hidup dengan penuh harga diri nantinya. Jika tidak, mungkin seluruh anak negeri ini akan mencari hidup dari belas kasihan orang lain. Lama-lama penduduk pribumi akan menjadi budak di negeri sendiri dimana para orang-orang terhormatnya adalah orang-orang asing dari negeri lain yang tidak secara langsung menjajah negara ini. Silahkan renungkan dengan kondisi yang sekarang ini, sudahkah kita sadar wahai penduduk negeri yang indah nan subur ini.. akan kemanakah kita melangkah?

Cerpen Karangan: Asep Kurniawan
Blog: https://aanfutureimagine.wordpress.com
Nama: Asep Kurniawan
Alamat Email: aan_future[-at-]yahoo.com
Alamat Facebook: asep.kurniawan.35762[-at-]facebook.com
Kelahiran Palembang tanggal 10 September 1978, lebih mencintai tanah kelahirannya. Sampai suatu ketika tiba waktunya untuk membuka mata, pikiran serta hatinya untuk melihat keindahan kota-kota lain di dunia ini. Menamatkan dengan baik Sekolah Dasarnya di SD 1 PUSRI PALEMBANG, SMPN 8 PALEMBANG, SMUN 7 PALEMBANG, dengan predikat anak baik, tanpa nark*ba, tanpa minuman keras, tanpa pernah berkelakuan tidak baik atau mendapat catatan hitam di kepolisian serta tanpa dikejar-kejar oleh orangtua untuk dinikahi anak perempuannya, untungnya…

Berbekal predikat tersebut saya merantau di negeri seberang yaitu tanah jawa. Tanah kelahiran orangtuaku yaitu ayahku yaitu Jawa Barat. Tepatnya di kota bandung untuk melamar menjadi mahasiswa di perguruan tinggi ITB, namun gagal total karena ternyata otakku masih kalah encer dengan calon-calon lainnya. Akhirnya aku pun terdampar di Kampung Paling Besar di Negara ini adalah Jakarta. Aku pun akhirnya mendapat predikat gelar mahasiswa di salah satu kampus negeri Kementrian Perindustrian dan Perdagangan (dahulunya masih digabung karena sering berebutan jatah akhirnya sampai dengan tulisan profil ini saya buat alhamdulillah sudah dipisah) yaitu APP (Akademi Pimpinan Perusahaan) ceritanya sih pengen jadi Direktur itu pun kalau ada modal, tapi apa daya tangan tak sampai jadi karyawan pun masih Alhamdulillah, mengambil jurusan Perdagangan Internasional.

Tahun-tahun di kampus aku abdikan dari tahun 1997-2001 serta termasuk predikat mahasiswa paling beruntung karena tidak menjadi korban penganiayaan aparat ketika demo mahasiswa untuk menurunkan Presiden Soeharto. Aktif dalam kegiatan Mapala, sepak bola kampus walaupun jadi cadangan dan pemandu sorak, aktif dalam berorganisasi dengan organisasi bentukan dadakan oleh anak-anak kost yang memang belum punya kerjaan terpenting ada ide dan kumpul bahkan aktif dalam dunia jurnalistik walaupun hanya baru sebagai penikmat dan pengamat. Termasuk mahasiswa pencinta buku yang hobi mengkoleksi buku apa pun serta mempunyai hobi menulis walaupun belum pernah kesampaian.

Berbekal ijazah aku pun mendapatkan perkerjaan sebagai EDP (Entry Data Processing) di sebuah perusahaan advertising yang kebetulan menangani ponsel Ericcson. Sambil berkerja ku teruskan untuk berkuliah mengambil Strata 1 di Universitas Nasional Jakarta jurusan Hubungan Internasional. Kecintaanku pada literatur sejarah dunia, Tokoh-tokoh besar dunia, semakin terbuka ketika mengambil jurusan ini. Pemikiran-pemikiran Islam dan Barat beradu argument di kepalaku, tokoh-tokoh sentralnya pun tidak luput dari perhatianku.

Selama berkuliah di Universitas Nasional ini sudah dua kali berganti
perkerjaan. Untuk di perusahaan advertising saya abdikan dari bulan Juni 2001-Maret 2002. Setelah itu saya bergabung dengan PT Summit Plast Cikarang sebagai team Leader. Saya abdikan di perusahaan tersebut dari bulan Oktober 2003-Jan 2004. Selepas mendapatkan predikat Sarjana Strat 1 dengan gelar Sarjana Politik saya pun bergabung di PT Yomart Rukun Selalu dengan spesifikasi perkerjaan retail dari tgl 14 september 2006-15 mei 2011 jabatan terakhir sebagai Spv area untuk daerah Bandung.

Di bulan Mei 2011 saya pun bergabung di PT MNC SKY VISION bergerak di bidang Pay tv (saluran tv berlanganan) sebagai spv area untuk daerah Cirebon, Majalengka dan Kuningan. Saya abdikan di perusahaan ini sampai dengan bulan Maret 2012. Terakhir saya mengabdikan diri saya masih didunia retail yaitu retail garment di perusahaan PT Sandang Makmur Sejati Tritama dengan brand Royalist sebagai Spv Wilayah Indonesia Bagian Timur yang meliputi semua area Jawa kecuali Jabodetabek, Sulawesi dan Kalimantan.

Saya sekarang mempunyai keluarga kecil yang masih menuju bahagia, dengan dianugerahi seorang istri bernama Lina Marlina dan sepasang anak. Anak pertama yaitu perempuan bernama Adinda Zahra Putriana dan adiknya laki-laki bernama Fathi Rizqi Faqihazam Zuhdi (azam). Kami sekarang menetap di kota bandung yang indah nan sejuk.

Cerpen Teater Jalanan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Puisi Sedih Untuk Thara

Oleh:
Sore itu, angin tak seperti biasanya, ia berhembus dengan sangat tenang. Sore itu seorang wanita berpakian serba hitam berjalan menuju sebuah pemakaman umum. Dia berjalan menyusuri setiap petak tanah

Tentang

Oleh:
Adakalanya kau membutuhkan kesendirian untuk memekik pada udara kering perihal semua rahasia hatimu. Dengan tatapan pasi. Dengan ratapan nanar. — Malam turun dengan sempurna di Kaduara Timur. Menyisakan tebasan

Sore

Oleh:
Hari yang melelahkan. Seharian ini penuh dengan agenda kantor. Pagi tadi rapat dengan Bapak Kepala Institusi Statistik, siangnya melatih instruktur petugas pencacahan sensus penduduk yang tinggal beberapa bulan, sorenya

Tiada Motor Jalan Pun Jadi

Oleh:
Melamar sebagai sales mobil dari pabrikan mobil ternama di kota Balikpapan, hanya dengan bermodalkan tekad yang kuat dan niat memperbaiki kehidupannya. Setelah melewati beberapa tes akhirnya Radian diterima di

Mereka Juga Manusia

Oleh:
“Orang gila… Orang gila..” Panggilan-panggilan sejenis itu sudah tidak asing lagi terdengar di telinga Kak Omas, orang gila kampung kami. Bahkan, ia sudah tak marah lagi bila anak-anak kampung

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *