Tempe Goreng

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 5 December 2017

Hah? Di mana aku? Kukerdipkan mataku beberapa kali, berusaha memulihkan kesadaranku. Oh, aku baru ingat, aku sedang berada di asrama. Mimpi barusan benar benar terasa nyata, membuatku sempat lupa di mana aku, setelah bangkit dari mimpiku.

Dalam tidurku aku sedang bercanda bersama teman teman sekampung di teras masjid. Dan entah dari mana berawal, tiba tiba, seseorang teman bertanya persoalan ke manakah aku mau melanjutkan pendidikanku selepas SMP. Seminggu lagi, memasuki tahun ajaran baru, sekaligus babak kehidupan baruku. Orangtuaku —terutama ibuku— ingin aku masuk pesantren, meski beliau tidak pernah memaksaku untuk itu. Karena aku merasa permintaan ibu itu benar benar serius dan aku gak mungkin membantahnya, aku pun menurutinya. Sejak saat itu, hari hari libur di rumah berjalan begitu cepat, hingga senja terakhir sebelum aku berangkat ke asrama, aku sempat melamun panjang hingga tengah malam sebelum akhirnya tertidur. Dan bangun. Oh, masa masa itu kembali terulang dalam mimpiku semalam.

Barangkali aku cuma belum terbiasa. Kulihat jam dinding, tampaknya aku bangun terlalu awal lagi. Aku belum bisa tidur nyenyak di hari hari pertama di asrama. Lantunan ayat ayat suci dari speaker masjid —yang hanya berjarak sejengkal dari asrama— berhasil menuntunku untuk keluar dari alam bawah sadar.

“Ayo wudhlu kang, jamaah di masjid segera dimulai” tegur seorang senior asrama dengan bahasa yang santun.
Santun. Ah, orang orang di sini memang santun santun, ramah ramah. Tatakrama di sini benar benar terjaga. Dan itu sangat terlihat dari cara mereka, seperti ketika para santri berpapasan dengan seorang ustad atau guru, akan membungkukkan tubuhnya empat puluh lima derajat. Atau dari cara bicara mereka kepada yang lebih senior, maupun kepada sesama. Kesantunan yang membuat tempat ini terasa begitu senyap, begitu damai.

Setelah berjamaah subuh dan membaca Yasin, kegiatan para santri adalah bersiap siap untuk berangkat ke madrasah. Atau piket bersih bersih bagi yang sedang kebagian piket. Aku tidak piket hari ini. Aku ingin langsung berangkat ke sekolah. Entahlah, tapi aku selalu kecanduan untuk menikmati suasana sepi di sekolah, ketika belum banyak siswa yang datang.

Jarak antara madrasah dengan asrama hampir setengah kilometer. Deselingi rumah rumah penduduk sekitar. Dan semua santri penghuni asrama ini, berjalan kaki untuk menempuh jarak itu. Jalanan ini selalu dipenuhi anak anak berseragam ketika jam berangkat sekolah atau jam pulang sekolah tiba. Namun, kali ini tidak ada sosok berseragam satupun yang terlihat, sejauh mata memandang kedepan dan ke belakang. Sepagi ini, tapak sepatuku terdengar lebih jelas dan lembab menapaki jalan yang sepi dan basah akibat hujan tadi malam.

Hujan. Aku teringat tadi malam. Aku sempat merasa khawatir tidak bisa tidur dengan nyenyak. Mengingat di luar sedang hujan deras dan selimutku masih tertinggal di jemuran, karena tadi sore, ketika hujan dimulai, aku masih di kelas mengaji dan ustad sedang menerangkan kitab di depan. Hingga tak sempat mengamankan jemuran. Syukurlah, kang Toni –yang gak tega melihatku tidur, sambil meringkuk dingin tanpa selimut dan hanya beralaskan karpet tipis— dengan senang hati berbagi selimut denganku.

Sisa sisa mendung tadi malam menyamarkan banyangan matahari. Tiba tiba, di antara embun embun yang membuat kulitku mengerut dingin, kucium aroma sedap. Aroma tempe yang sedang digoreng. Mungkin berasal dari rumah itu. Sebuah sepeda terparkir rapi di terasnya, dengan sepasang sepatu yang terletak rapi tak jauh dari sepeda itu. Kubayangkan seorang anak sekolahan yang sedang menyiapkan peralatan sekolahnya, lalu ibunya memanggil manggil dari dapur, mengajak sarapan karena lauk tempe sudah diangkat diangkat dari penggorengan yang panas.

Aku teringat masa SMP dulu. Pernah suatu kali, aku tergesa gesa untuk berangkat sekolah, takut terlambat. Hingga, sepiring nasi dengan sayur hijau dan tempe goreng yang masih mengepul di meja tak sempat kusentuh.

“Tidak sarapan dulu?” tanya ibu ketika aku pamit berangkat dan sarapan yang disiapkannya di meja masih utuh.
“Tidak. Sudah hampir jam tujuh, nanti terlambat” kataku sambil mencium tangannya.
“Nanti langsung sarapan aja jam istirahat pertama. Kesehatan itu mahal harganya, jangan sampai mag mu kambuh..” kata ibu ketika aku sedang cepat cepat menuntun sepeda dari pintu belakang rumah.
“Assalamu’alaikum, Nanda berangkat dulu bu..”
Ah, ibu, aku tak tahu harus mengatakan apa untuk menggambarkan kasih sayangmu yang sulit diungkapkan oleh aksara manapapun.

Aku berjalan membelah jalan yang lengang dan kedinginan karena aku berangkat kepagian. Dan aku lupa belum mengambil jatah sarapanku di asrama tadi. Tiba tiba aku ingin sarapan. Dan kucium aroma tempe goreng dari rumah orang desa itu.

Cerpen Karangan: Dian Aris Munandar
Facebook: dian aris
tetangganya Kampung Inggris, Kediri.
Sekarang aliyah di Nganjuk.
Pengen bermanfaat bagi semua orang.

Cerpen Tempe Goreng merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rencana Mu Indah Pada Waktunya

Oleh:
Aku terbayang akan semua kisah lamaku, kisah dimana kesusahan Firman menimpaku. Dulu aku adalah seorang berandalan yang hidup di dalam kegelapan dunia, tiada kasih dan cinta. Sampai aku menemukan

Teringat Frankenstein

Oleh:
Siang itu usai gempa 5.9 skala richter mengguncang Kota Bengkulu, suasana kota cukup lengang, masyarakat khawatir guncangan gempa susulan. Gempa tentunya bukan momok yang baru bagi masyarakat Bengkulu yang

Emak

Oleh:
Langit memuntahkan air matanya, seolah membaca suasana sore itu. Melihatku tersungkur memeluk pusara di bawah pohon kamboja, tangan kananku erat memegangi amplop berisi kertas usang. Mengutuk-ngutuk diri yang amat

Aku Memang Reza

Oleh:
Mentari pagi telah kembali. Siulan burung laksana melodi alam. Namun, itu semua tak sanggup membangunkan Reza dari tidurnya. Bu Winda, Ibu Reza adalah seorang buruh cuci. Bu winda melihat

Perjuangan Seorang Nenek

Oleh:
Di sore hari, ada seorang nenek yang sedang duduk di samping rumah. dia sering melamun dikala mentari sudah mulai menghilangkan wujudnya. Nenek itu sudah berumur 90 tahunan, dengan rambut

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *