Tentang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 30 May 2017

Adakalanya kau membutuhkan kesendirian untuk memekik pada udara kering perihal semua rahasia hatimu. Dengan tatapan pasi. Dengan ratapan nanar.

Malam turun dengan sempurna di Kaduara Timur. Menyisakan tebasan kelopak-kelopak gemintang dari gantungan langit. Kelam yang kemilau. “Masih tetap sama, Ipah. Berisik ombak yang senantiasa kau ceritakan padaku di jalan sepulang dari pasar terus menyetubuhi perak bulan. Kadang, melambai ramah dalam kerinduam untuk beberapa kesempatan bagi penikmat tunggalnya. Dirimu. Ya, hanya terkadang.”

Kepulan asap memadat menabrak angin. Membentur nisbi lengkungan manis di pucuk mata pria kesepian itu. Untuk beberapa detik, sebatas dengus lemahnya yang mengisi sunyi. Selain debur-debur yang seperti ingin menjangkau bibir pantai.

Dari gubuk yang beberapa langkah di sampingnya, seekor laba-laba hitam terlihat terpekur dan berhenti sejenak menyulam jaringnya untuk melihat pipi keriput Matlak yang kembang kempis. Cukup lirih, namun sudah cukup jelas; ia sesenggukan. Daging bibirnya setengah terangkat seraya bergetar. Seperti ingin sekali melafalkan beberapa puntung kalimat. Ah, rupanya tepat, ia mengurungkannya. Saat menangis, kita memang sering tak sanggup melepas suara lemah sekalipun. Tapi bisa demikian beringas memekik.
Hanya saja, Matlak untuk kali ini tak sanggup untuk keduanya. Mungkin sudah jemu sendiri dengan kebodohannya. Tunggu, ia lebih terlihat hendak berdendang.
Andai Tuhan memberiku satu perintah untuk merelakanmu. Aku akan melakukannya, Ipah. Asal surga adalah balasan segera bagiku. Untuk kita.

Akhirnya ia memutuskan menutup pengembaraan kenangannya untuk keempat kali di minggu ini dengan menudungi kopi hitamnya sambil menjuntaikan satu tangan. Seorang perempuan separuh baya perlahan menghampiri dengan senyum yang dipaksakan. Menerima selembar rupiah yang hampir setengah sobek darinya tanpa memandang dan segera membereskan cangkir serta apapun yang tertinggal di tempat Matlak tadi. Perempuan penjual kopi itu tentu telah terbiasa bahwa Matlak pasti akan menanggalkan setangkai mawar. Semua orang di sana tahu alasannya.

“Bibi tak mengharapkan ini.”
“Memang, tapi ia pantas menerimanya. Kau tentu tahu, adakalanya sepotong hati akan ikut dibawa oleh seseorang yang pergi,
“Lagipula, kau harus menentukan dengan tegas. Kau hendak masukkan dia di tujuan hidupmu sebagai musuh atau kawan. Ini adalah kemurnian pilihan. Ini bukan lagi tentang salah atau benar. Kupikir, ini lebih bersentuhan dengan mana yang lebih baik. ”

Seperti biasa, kaki gontainya melangkah. Beranjak memunggungi berisik ombak. Dan, perempuan setengah baya di belakangnya menggeleng lemah. Bosan atas esensi jawaban yang sama.
Semilir dan ombak memang telah menculik wangi kenangan miliknya. Menanduskan sumur kebahagiaannya. Menghapus catatan anggun tentang seorang yang telah menjadi petani mawar di hatinya. Wanita yang telah ia kagumi sejak masih lancheng.
“Ipah,” rengeknya seraya mengusap lemah dada kirinya di antara kawanan pohon bambu yang seperti ingin menjilat langit.
Sejurus, lima jari mendarat tepat di bahu kanannya. Tiba-tiba.

Jalanan desa perbatasan ini memang selalu remang, tidak ada penerangan yang memadai bahkan demi sekadar tahu ke mana jalan pulang. Kendaraan juga sebuah kemewahan. Bila tak benar-benar kaya raya, seseorang akan lebih memilih beras daripada membeli kendaraan.

“Ke kanan,”
Macam-macam ocehan serangga juga tak terelakkan. Menjadi melodi setia ketika gulita memandikan desa. Desas-desus selalu beredar bahwa banyak dedemit yang menunjukkan diri. Memberi kesan ngeri bagi siapapun yang melewati satu-satunya akses yang belum tersentuh aspal itu. Imbasnya, tak banyak orang yang berani melalui jalan tersebut kala singgasana matahari sudah harus rela melompong dan digantikan kerajaan baru sebagai sebuah siklus waktu. Saat matahari mulai jenuh dan kembali dari perantauannya. Pun, saat bulan tak sabar menjadi aktor utama di altar langit.

“Masih cukup jauh memanjang lurus, tapi tenang saja.”
Matlak memang belum sekalipun melewati jalan ini. Hanya sekali ini saja. Dan bakal menjadi yang terakhir juga.
Adalah dilematis. Saat seluruh jalanan sebatas menjajakan keheningan dan sinar-sinar tipis yang tersembul dari celah-celah mungil dedaunan, cukup terlihat redup beberapa pemuda duduk melingkar di sebuah tempat duduk dari bambu. Mereka berkerumun disambi terdengar ledakan tawa yang mengular. Kira-kira delapan orang ada di sana.

“Untunglah dengan keberadaan mereka jalanan ini tidak lagi hanya menyoal tentang keheningan yang mencekam,”
“Tapi, kudengar mereka tak disenangi seluruh warga desa,”
“Entahlah, kurasa tidak semuanya,”

Beberapa meter sebelum persis lewat di samping para pemuda itu, suara denyitan tiba-tiba tersiar lirih. Rasa-rasanya, salah satu mereka hendak turun demi menghampiri keberadaan selain mereka. Dengan tatapan lancip dan air muka serius. Dua orang itu memilih melangkah cepat. Nyaris seperti setengah berlari ketika merasa ada gelagat aneh dari salah seorang dari mereka sekaligus isyarat tak baik karena bau menyengat yang melabrak indera penciuman keduanya.

“Hei,”
Tak ada gubrisan dari mereka.
“Hei,”
Langkah mereka makin cepat, “Lihatlah, kita hampir sampai,” sedikit ada jeda sebelum tangan kanan Ipah ditarik ke belakang hingga tubuhnya terpelanting cukup keras. Kegaduhan seketika tercipta, segerombolan pemuda tadi berduyun-duyun mendatangi seorang temannya tadi. Di lain sisi, Matlak telah mendengus murka. Di depannya, Ipah mungkin sudah tidak sadarkan diri. Darah segar tercium juga. Tatapan pemuda itu saling bertabrakan dengan matanya. Tak tinggal diam, satu bogem mentah mendarat telak di pelipis kanan pemuda itu. Dia terjungkal. Arus darah dan napas Matlak semakin tak teratur. Saat pemuda itu hendak bangkit, tak ada ampun, kini kerangka rusuknya mungkin retak dikarenakan tendangan keras.

“Aaargh,” erangannya jelas menandakan rasa sakit mengulitinya. Matlak menghunus celurit dari pinggangnya. Bagi beberapa daerah di Madura, tak menyisipkan celurit di pinggang merupakan sebuah kesombongan. Apalagi bagi para pejantan. Bahkan dianggap sebuah penghinaan besar.
Di kepalanya hanya hasrat ingin mengakhiri. Mengahabisi. Lelehan bening dari air netra dan separuh raut belas kasih jelas tergambar dari wajah Matlak. Hanya saja, hukuman Tuhan tak dipedulikannya. Bahkan.
Saat Matlak mulai mengayunkan celuritnya, tubuhnya terjorok tiba-tiba. Debu tanah yang di tengah kengerian dan kegelapan mengaspali wajahnya. Benar saja, seorang teman pemuda itu menendangnya dari belakang. Sambil berusaha bangkit, Matlak mesti melihat wajah para pemuda yang berdiri berkacak pinggang di depannya menyeringai. Seperti kawanan serigala yang berhasil memojokkan domba buruan. Di atas angin kemenangan. Kemurkaannya meletup menjadi-jadi.

“Dasar sampah sialan. Sudah kukatan beberapa kali pada seluruh warga desa. Aku akan memberi mereka makanan dua kali untuk sehari asalkan tak ada yang mengganggu aktifitasku. Kalau kalian ingin hidup lebih nyaman, lalui semua ucapanku. Kalian tidak akan makan ikan-ikan menjijikkan hasil tangkapan itu kembali. Tidak akan ada lagi anak-anak sakit saban hari namun tidak mendapat perawatan atau orangtua yang kelaparan. Yang akhirnya mati sia-sia,
“Kalian hanya cukup menjadi budakku. Kuberi kalian makmur. Kebebasanku di tanah ini adalah ganjarannya. Tidak sulit kurasa.” segaris senyum mengembang saat menuntaskan kalimatnya. Senyum pelecehan. Senyum memuakkan. Seringai iblis.

Dari belakang, pemuda dengan dengan rambut yang dicukur habis di samping kanan maupun kirinya pelan-pelan muncul dari belakang. Memberai gerombolan. “Kakak, lebih baik agar dia tahu rasa. Kita habisi saja wanita itu,” jarinya menunjuk Ipah yang kini hanya tinggal suara lembut napasnya yang terdengar. “Kupikir, dia adalah pacarnya. Tidakkah begitu, paman yang menyedihkan?”
Serentak mereka terbahak-bahak hebat. Namun, tawa mereka tak lagi terdengar oleh Matlak.

Memang, sudah hampir delapan bulan mereka menjadi bagian dari warga desa paling ujung Pamekasan ini. Kedatangan yang membawa padi dan belati. Tak terbantahkan lagi, roda kehidupan warga desa berangsur pulih dan stabil. Tiada lagi kabar warga yang meninggal karena kelaparan atau sakit yang tanpa pengobatan. Hampir semua kebutuhan dasar warga dipenuhi oleh mereka.

“Kalian memang bisa memberi penghidupan perut yang layak bagi kami. Tapi kami tidak butuh itu!” Matlak meninggikan suaranya. Menekan pita suara di tiga kata terakhirnya.
“Kepala desa bodoh itu yang menerima tawaranku. Ingat, tidak ada paksaan dari uluran tangan kami.”

Di sisi lain, Ipah sudah mulai sadar. Gemerisik rumput di samping sekujur tubuhnya melantun lemah. Sayang, ia belum bisa sepenuhnya bangkit. Pundak kiri yang tadi merupakan bagian tubuhnya yang pertama kali jatuh dipeganginya. Untuk mengurangi rasa sakit dan membebat luka yang darah segar mengucur dari sana.

“Ipah,” Matlak berteriak tak tega melihat penderitaannya.
“Sialan, kau tidak memperhatikan perkataanku. Bowo, seret wanita jalang itu ke hutan,”

Belum selesai Ipah mengatur detak napasnya kembali normal, tubuhnya telah diseret oleh dua kacung dan seorang adik pemuda itu. Kerudung biru pemberian Matlak tergeletak tak berdaya. Bau tubuh Ipah pun raib bersama kebiadaban pendatang itu.

“Haha, makhluk menyedihkan seperti kalian selalu pantas mendapatkan semua perlakuan layaknya anjing penjaga rumahku.”
Durja Matlak tak terhindarkan lagi, celurit warisan bapaknya kembali direngkuhnya. Sejurus, untuk beberapa detik suara tebasan dan teriakan kesakitan memenuhi malam. Singa benar-benar telah berontak.
Malam kehilangan sayup-sayup lemah. Yang terisi hanya erangan kesakitan yang tiada banding yang menyesakinya.

Sayup-sayup tangisan lemah langit menerpa atap rumah sederhana Matlak. Karena terbuat dari seng, suara yang tersiar terdengar seperti cecaran peluru. Angin sudah mengendur. Hanya tersisa beberapa pleton bulir air langit yang terus memaksa jatuh. Tak tahan ingin meyatu dengan tanah untuk menjadi lumpur.

“Yang jelas, paman tidak akan pernah lekang ingatan tentang sebuah malam yang membuat jeruji besi Polsek Larangan harus menjadi rumah bagi paman. Untuk belasan tahun,”

Ah, siapa anak muda ini?
Mata Matlak membulat. Keningnya yang mulanya mengerut karena sedang mengingat ingat adakah pertemuan yang mereka pernah menjadi pemeran kini seperti tergambar jelas ihwal remang prasangkanya. Di sisi lain, sang pemuda membuang muka sejenak ke arah jendela yang sudah kabur. Seperti berbaju kabut. Entah karena lama tak dibersihkan atau karena ulah beberapa tetesan hujan deras tadi yang meloncat bebas dari altar langit.

“Aku merupakan anak angkat dari keluarga Jawa yang sempat beberapa tahun bermukim di sini, Paman. Sudah barang pasti, ada banyak sepah kepahitan yang sempat dicercap desa ini,”

Matlak tak habis pikir, ia masih menerawang wajah pemuda misterius yang banyak tahu tentang masa lalu dirinya desa. Untuk beberapa waktu, ia kembali menggulung ingatannya. Berusaha keras, adakah setitik hal dari pemuda itu yang mengingatkan siapa dirinya bagi Matlak. Tidak, Matlak tak menemukan garis wajah pemuda itu dari ingatannya tentang beberapa remaja di masa lalu yang telah disirnakan kehidupannya. Olehnya.

“Aku tidak melihat kerutan kejahatan sedikitpun darimu, pemuda. Kau bukan salah satu dari mereka. Dan aku sangat yakin.” ujarnya, disambi gestur kebingungan dalam yakin sangkaannya.
“Paman benar. Selama beberapa tahun menduduki desa ini, bapak dan ibu memang lebih memilih memasrahkanku ke sebuah pesantren di Situbondo. Tentu setelah mereka mengadopsiku dari sebuah panti asuhan di wilayah pinggiran Banyuwangi. Wilayah yang jarang tersentuh pembangunan,
“Sudah lama sekali, paman, aku ingin ke sini. Tanah kerontang yang kerap diceritakan bapak dan ibu saat awal aku dipesantrenkan. Mereka bilang bahwa, Madura merupakan bumi minim humus tapi penuh kedamaian dan kesederhanaan. Penduduk di sini hidup sedemikian bersahaja.” ucapnya, ditutup dengan kalimat yang menunjukkan gerangan siapa biasa ia dipanggil.
Matlak tampak jelas sekali bertambah kebingungan. Hanya saja, bukan lagi karena identitas tersembunyi pemuda tersebut, melainkan pada impiannya ketika muda yang berhasil dikecap oleh sang pemuda; berkesempatan nyantri.

“Ah, rupanya kau tamu istimewa,” pantat Matlak telah beranjak dari kursi yang benar-benar tak empuk itu. Senyumnya mengembang. Sempurna sebagai wujud ketulusan.
“Seyogyanya kau tak hanya kuhidangkan segelas air putih ini saja,” dua detik berselang, Sofyan mencegah langkah Matlak untuk menghambur ke dapur demi menyiapkan hidangan yang “sepantasnya” bagi seorang santri. Memang, Madura merupakan pulau dengan budaya religiusnya yang amat spektakuler. Bagi mereka, derajat dan perlakuan pada seorang kyai mesti diposisikan di puncak penghormatan. Kyai dalam perkembangannyapun tidak melulu sebagai perekat solidaritas kegiatan keagamaan. Segala hal yang melibatkan kolektifitas dan kepentingan masyarakat, akan terlebih dahulu menyambangi takaran dan pertimbangan kyai sebelum ditelurkan sebagai pilihan dan keputusan bersama. Dan Sofyan ialah salah satu hal yang punya kaitan dengan kyai. Karena selaku santri.

“Tidak, paman. Aku memang paham. Sebelum aku kemari, aku tidak melompong modal. Aku lebih dulu memberai warta yang melingkupimu. Berupa masa lalu, kepentingan dan harapan-harapan terselubung yang tak sanggup diracikmu dalam kenyataan. Tinggal basi sebagai mimpi,
“Dulunya kau anak seorang nelayan miskin yang bahkan harus kehilangan adikmu yang masih bayi karena sudah tidak ada lagi tetangga yang belum kalian hutangi. Bukankah begitu, paman?” Matlak yang masih mematung mulai tak enak dengan pijakan kakinya Deru dadanya mengguntur. Tampaknya sedikit rintik-rintik merembes, menembus gerbang hatinya yang terlampau lama membaja. Membias di kantung matanya yang dikelilingi bujur hitam.

“Aku bahkan tahu, paman, kau punya keinginan besar untuk mondok, menjauh dari hiruk-pikuk kemalangan. Nun jauh di jurang curam di hatimu, kurasa masih tertanam harapan itu,” tukasnya, membuat Matlak semakin tak nyaman dengan titik tumpu kakinya. Kiranya, Matlak sudah kehilangan kesabaran untuk ikut menumpahkan anggur yang menyumpal pipa di kepalanya, “Tidak. Dulu, aku hanya berniat untuk enyah dari kesusahan keluargaku. Atau, kurasa, agar keluargaku tidak kesusahan, akulah yang harus sirna dari mereka,
“Banyak sekali orang yang mengaggapku sebagai musibah bagi keluarga. Mereka selalu berkata bahwa sebelum nyawaku tertanam dalam jasad dan terlahir sebagai Matlak, keluargaku termasuk bertingkat ekonomi atas. Yang terkenal dermawan pula. Merekalah yang menjadi rumah bagi aduan-aduan kekurangan di desa. Bahkan, masjid bercat hijau di samping gapura sebelum kau memasuki wilayah desa ini merupakan hibah dari kakek.
“Semua orang menganggap keluarga kami sebagai penyelamat keberlangsungan desa. Keluarga yang berani merantau, berlayar melangkahi selat dan bekerja di Jawa hingga meraih sukses adalah suatu kelangkaan dahulu. Semua orang lebih memilih berdiam di sini dengan kesusahan yang betah. Apalagi, kami adalah penakluk badai, bukan penanam palawija.” nada suaranya sungguh-sungguh tak sanggup dikekang dalam kendalinya. Semakin jelas bahwa hatinya larut bersama sentimen masa lalu.

“Aku tidak tahu sebegitu dalam tentang itu, paman. Sungguh. Maafkan aku,”
“Tak perlu, anak muda. Lagipula, maafmu itu tidak akan mengembalikan dan mengubah apapun di masa laluku. Tentang adikku yang wafat karena tidak ada lagi tetangga yang bisa kami hutangi tak sepenuhnya benar,” perkataannya menggantung, seirama dengan kosong tatapannya pada langit-langit rapuh rumahnya. Bergelanyut, berdua bersama denging nyamuk. Sisa-sisa hujan memang kerap mengajak spesies ini berkunjung ke gubuknya yang bersebelahan dengan pantat selokan.
“Tetaplah duduk di situ, anak muda,” sekarang Matlak sudah benar-benar menuju dapur. Entah, rasanya bukan hidangan yang hendak dia sajikan. Di sisi lain, pemuda bersarung hijau itu melibas pandangannya ke seluruh penjuru rumah, ia sungguh tak menemukan ampas-ampas kekayaan yang tadi diceritakan Matlak. Sekadar jaring-jaring hasil kreativitas laba-laba yang menjadi hiasan senantiasa di setiap pojok rumah. Tidak, seluruh ruangan. Bukan hanya sudut-sudutnya saja. Ia berpikir, sedemikian tegar lelaki setengah baya tadi terjatuh dari bukit tinggi dan rela hidup di tempurung gelap yang bahkan tak layak untuk didiami seseorang yang sempat merasakan kaya.

“Karena kau seorang santri. Aku harap kau bisa membangun sebuah masjid lagi di desa ini. Atau masjid peninggalan kakek yang kau perbaiki. Setiap lima kali sehari ke sana, hatiku kuyup, banyak retakan di sana sini,” sebuah kotak besar yang dilubangi membentuk persegi panjang kecil berwarna putih bersih ditaruhnya di meja.

Bahkan, ia bisa menabung dengan kehidupan yang seperti ini? Sebuah palu memporakporandakan hatinya yang menciut. Pemuda itu tak tahan lagi, bongkahan kristal bercucuran lemah dari kantong retinanya.

“Ya. Sejak sebelum kedatangan orang Jawa itu, aku sudah menyisihkan beberapa uang hidupku untuk membenahi peninggalan terakhir yang tersisa dari keluargaku di masa lalu. Bahkan ketika masih di penjara. Memang, aku bersyukur pendatang itu bisa menawarkan kehidupan yang jauh lebih baik. Sayangnya, mereka tak sedikitpun melirik kerontokan masjid satu-satunya di sini yang telah berada di ambang.” sambil berkata lirih dan syahdu demikian, tangannya tangkas membuka gembok kotak putih itu.

“Paman, kenapa kau tidak langsung saja memperbaiki masjid desa? Kurasa tentu saja warga di sini akan senang dan mendukungmu,”
“Tidak sesederhana perkiraanmu, pemuda,”
“Aku mulai tidak paham dengan arah pembicaraanmu. Bukankah adalah sebuah kebaikan? Lagipula yang harus kau takutkan adalah kekhawatiranmu itu,”

Perbincangan menjadi samar. Hujan kembali datang bersama kompi-kompinya. Belum benar-benar menuntaskan rindunya pada lumpur dan bumi. Di luar rumah, tidak ada lagi suara makhluk hidup. Sesekali derik serangga yang berterima kasih atas turunnya hujan. Berbanding terbalik dengan atmosfer perbincangan Matlak dan Sofyan yang menghangat. Deru jantung mereka saling bertukar cerita-cerita dan harapan.

Tuhan hanya perlu menjentikkan sekelumit takdirnya untuk mengubah bisa menjadi cita rasa. Tak tertakar oleh logika. Sebagai makhluk, kita hanya perlu percaya dan tak perlu rumit-rumit mengeja kekuasaan-Nya yang tanpa tara. Lewat itulah Matlak mulai paham, perbedaan yang awalnya sangat dibencinya ternyata menjadi pintasan untuk meloloskan impiannya yang telah lama pulas. Dulu, ia sungguh tak percaya pada orang selain dari kampung garam tentang titipan keagamaan. Restu hatinya tak akan leleh pada mereka yang tidak seterali darah dengannya. Darah asin garam. Hingga, Sofyan tiba dengan harapan yang sama sepertinya.

Dua pria beda generasi ini akhirnya padu sebagai pivot pemberdaya desa. Masjid dambaan Matlak dan kehidupan sentosa desa telah diiringi keberanian dan ketulusan Sofyan. Keduanya kini berjalan dengan pundak yang sama. Dengan impian yang sama. Impian yang bisa mereka tarik dari mozaik angan.

Bulan dan matahari yang beralih siklus saban hari menjadi bukti dari Sofyan untuk Matlak bahwa keberagamanlah yang membuat waktu selalu tak dapat dinanti. Hanya bisa dirindukan.

Kaduara Timur telah menjadi bendera selamat datang bagi siapapun. Tidak ada lagi penganggapan beda karena terlahir dari rahim kebuyaan yang tak sama.

“Pemuda Jawa ini telah menghibahkan hikmah bahwa tak perlu berebut kehidupan dengan mempertaruhkan budaya dalam perang. Dunia akan menjadi surga ketika kita percaya bahwa tak ada tentang dan perihal yang memagari,” orasinya disambut riuh tepuk tangan warga. Semua larut dalam gempita dalam acara pembukaan pengajian rutin Jumat Manis.

Di bangku paling belakang, Bowo yang mengaku Sofyan tertunduk syukur dalam perih di bawah dada kirinya yang sempat ditusuk Matlak di masa lalu.

“Kak Suryo, aku telah menukar dendammu menjadi surga. Madura memang akan membalas sesuai apa yang kita berikan. Dulu, mereka memberimu hujaman dan darah. Aku, mereka tak henti-hentinya melempar terima kasih,”

Hujan kembali bergerombolan di lorong hatinya. Wajah Matlak terlukis jelas di keperihannya. Matlak yang buas kini di depannya tak ubahnya malaikat tanpa sayap.

Tiba-tiba…
“Sofyan, warga desa akhirnya setuju untuk menanami mawar di tanah yang kita beli bulan lalu,” raut wajah Matlak sangat ceria. Ada kebahagiaan raksasa di hatinya. Senyumnya amat lebar. Mempertontonkan giginya yang mulai tak keropos.
Bowo hanya mengangguk lembut.
Akhirnya, batinnya.

Dunia nyata memang kacau. Semua orang melakukan kesalahan. Selalu. Dan, itu artinya semua setara. Alhasil, dunia bakal luar biasa saat semua mengerti kebodohan dan kemajuan adalah milik tidak hanya satu kepentingan. Satumejakan selaksa pandangan demi dunia damai yang didamba seluruh mereka yang bernapas.

Hal yang kerap ditakutkan kita adalah sesuatu yang belum kita pahami secara utuh. Namun, satu hal yang pasti, kecemasan itulah yang ternyata menjadi teman baik. Bagi kita. Kelak.

Jember, Oktober 2016

Cerpen Karangan: R. Aminul Muslim
Facebook: Rhiezald Aquariuzboys Thegunners

Cerpen Tentang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kelompok Pemain Musik dan Kakek Tua

Oleh:
Pukul 10 lewat 10 malam. Ini sudah waktunya bagi anak-anak maupun orang dewasa untuk pergi tidur. Kupadamkan lampu di samping kasurku, kututup kerai jendela dan menarik selimut. Saat aku

Derita Anak Jalanan

Oleh:
Pada sebuah malam menjelang Idul fitri. Malam begitu ramai di jalan-jalan kota besar, yang hiruk pikuk dengan kendaraan yang hendak mudik ke kampung halaman. Ada seorang anak laki-laki yang

Tahajud Nenek Aisha

Oleh:
“Labbaik Allahuma Labbaik. Labbaik Laa Syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syarika lak.” Itulah ucapan talbiyah yang ingin nenek Sumtiantuti ucapkan di tanah suci

Pencopet Ulung

Oleh:
“Kukkuruyuukkk… Kukkkuurrruuuyyuukkk…” Suara ayam jantan yang sedang berkokok dengan gagahnya membangunkanku di tengah kegelapan pagi. Suara ayam jantan yang berkokok di pagi hari bergantian hingga tak terhitung jumlahnya. Suasana

Mam

Oleh:
Padang rumput itu sudah tumbuh sepenuhnya. Tidak seperti terakhir ku tinggalkan. Gersang dan hanya ada satu pohon yang berdiri di sana. Pohon yang selalu ku datangi setiap aku mempunyai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Tentang”

  1. Dinbel says:

    Banyak yang gak DI mengerti bahasa Nya,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *