Terbaik Dari Yang Terburuk

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 13 January 2022

Sebulan menjelang pemilihan kades, calon yang kukagumi tiba-tiba jatuh sakit yang kabar penyakitnya cukup parah, Umar namanya. Figur ini begitu merakyat Banyak orang menginginkan beliau ikut dalam pemilihan kepala desa, meskipun dari awal Umar tidak ingin ikut hal-hal yang berbau politik, cukup memperjuangkan masyarakat kaum bawah dengan menjadi ketua kelompok tani desa, tetapi banyaknya permohonan dan desakan meluluhkan hati hingga membuatnya berubah pikiran

Konon akibat penyakit yang diidapnya mengancam keikutsertaannya dalam pemilihan kepala desa. Berita tersebut sudah tersiar ke seluruh pelosok desa kabar yang membuat calon kades lain merasa di atas angin. Hal yang kuketahui calon kepala desa yang berhak ikut ialah yang memiliki keterangan sehat rohani dan jasmani dari dokter yang ditunjuk oleh panitia pelaksana.

Hal yang kutakutkan akhirnya terjadi. Umar, pemuda energik, calon kepala desa favoritku menghembuskan napas terakhirnya, setelah dirawat di rumah sakit selama sepuluh hari atau bertepatan dua puluh hari menjelang pemilihan. Sedih tak dapat kuhindari, kehilangan orang yang kuyakini dapat membangun desa kami dari keterpurukan.

Masyarakat saat itu berbondong-bondong mengantar kepergian beliau ke peristirahatan yang terakhir. Saat prosesi pemakaman, muncul gosip tentang kematian Umar, yang salah satunya menyebutkan kalau kematian Umar akibat guna-guna dari lawan politiknya, hal yang kebenarannya belum dapat dipertanggungjawabkan. Akan tetapi masyarakat pun tidak memedulikannya, sebahagian masyarakat kekeuh dengan pendapatnya bahwa ada yang salah dengan kematian Umar, penyakit yang konon tak dapat dipastikan dokter yang menanganinya.
Ironis memang, kenapa di saat desa kami membutuhkan pemimpin yang memiliki kompetensi baik malah dipanggil cepat oleh Sang Khalik.

Aku memang bukan tim sukses beliau, tetapi tidak ada keraguaan sedikitpun aku kan memilihnya bila beliau masih hidup. Apakah desa kami harus dipimpin lagi oleh orang-orang yang memiliki rekam jejak tak mumpuni? Apakah harus memilih di antara dua orang tersisa yang memiliki catatan tak mengenakkan di mata masyarakat?

Haji Bahar dan Haji Sahal, kedua pesaing calon yang kukagumi memang bergelar haji, gelar yang begitu dihormati bagi mereka yang menyandangnya, tanpa melihat tata kelakuan mereka. Akan tetapi, aku sangat yakin masyarakat tak mudah dibodohi dengan gelar, walaupun politik uang memang sudah menjadi senjata pamungkas dalam meluluhkan pendirian seseorang.

Bukannya aku menuduh, tapi hal-hal seperti itu sering terjadi di pemilihan sebelumnya. Kala itu mereka juga bersaing ketat yang dimenangkan oleh Haji Bahar dengan selisih 4 suara. Waktu itu politik uang begitu kental terasa, uang haram yang begitu mudahnya diterima oleh mereka yang menganggap itu hadiah, yang sudah tidak menjadi tabu lagi di kalangan masayarakat.

Banyak yang menyayangkan kematian Umar sebagai calon kades yang diunggulkan di desaku. Saat masih hidup, ia dikenal sebagai laki-laki bersahaja, suka membantu, dan memperhatikan rakyat miskin. Tak ayal ia memiliki pendukung yang banyak sehingga diunggulkan dan diprediksi meraup perolehan suara terbanyak di pemilihan kepala desa di desaku. Dari mulai kalangan pemuda, orang tua, bahkan anak kecil sekalipun sudah paham benar akan hal itu.

Nama sekaligus wajahnya masih terpampang di jalan-jalan, di sudut perempatan, di pohon-pohon, begitu juga di hati para pendukung yang setia dan percaya kepadanya. Namun, sayang seribu sayang, beliau telah berpulang lebih cepat.

Jika ditanya siapa calon kades yang merakyat? Semua orang di desaku akan menyebut namanya. Siapa calon kades yang akan memberikan perubahan nyata? Semua orang di desaku akan menyerukan namanya. Siapa kades yang akan mendengarkan aspirasi rakyat kecil dan mengutamakan kepentingan warga? Sekali lagi, semua orang di desaku akan melantangkan namanya. Bahkan konon, selama proses pencalonan kepala desa, tak sepeser pun uang yang ia keluarkan, menurut kabar dana kampanye yang telah ia siapkan didapatkan dari sumbangan mayoritas warga sekitar.

Dua hari sejak kematian Umar, baliho-baliho yang memajang gambar dan namanya akan diturunkan oleh pengawas pemilihan calon kepala desa, kejadian yang saat itu membuat tim sukses umar dan pendukungnya naik pitam, mereka beranggapan bukan waktunya tuk menurunkan baliho tersebut karena mereka masih dalam suasana berkabung, tetapi pangawas pemilihan tetap pada pendiriannya. Mereka akan tetap menurunkannya, hingga aparat kepolisian setempat bertindak, musyawah pun dilakukan. Pihak kepolisian bertindak sebagai penengah masalah tersebut, akhirnya disepakati kedua belah pihak bahwa penundaan penurunan baliho ditunda sampai tiga hari ke depan.

Di lain waktu, Haji Bahar, yang juga calon kepala desa, melaksanakan kampanye terakhir. Haji Bahar berkampanye di lapangan sepakbola desa. Tampak orang yang hadir cukup sedikit. Orasi yang sempat sekilas kudengarkan dengan janji membantu menyejahterakan masyarakat. Tidak ada satu hal pun yang membuatku terpana dengan janji kampanyenya, hanya ada membuatku terkejut, Rizal adikku, berada di deretan tim sukses Haji Bahar, hal yang membuat hatiku terasa panas. Rizal yang merupakan tim sukses mendiang Umar malah berpindah ke lain hati. Ingin rasanya kulabrak dia, apa yang sebenarnya terjadi?

Umar yang merupakan idola kami berdua malah dalam sekejap berubah pikiran. Aku tidak sabar menunggunya di rumah untuk mempertanggungjawabkan keputusan sesatnya, hingga tibalah Rizal pulang ke rumah, saat itu aku memperlihatkan amarah dengan memasang wajah murka, Rizal pun pasti paham mengapa aku melakukan itu. Terlihat Risal agak ketakukan lewat di depan mataku tanpa sepatah kata, hingga kupanggil dia dengan suara amarah.

“Risal, apa yang sudah kamu lakukan? Kenapa kamu malah menjadi tim sukses Haji Bahar?”
“Maaf Kak, saya melakukan itu karena terpaksa, karena janji Haji Bahar membiayai uang kuliahku. Kakak pasti tahu ekonomi keluarga kita lagi terpuruk sawah yang kita harapkan malah gagal panen tahun ini.”
“Serendah itukah kau, menjual harga dirimu dan khianati yang sudah kita sepakati?”
“Saya hanya berusaha mengejar impianku, Kak, mimpi yang anak seusiaku sudah mereka rasakan sedangkan aku tidak, apakah aku salah, Kak?”
“Tidak ada yang salah dengan mimpimu hanya cara kamu agak keliru, pastilah kau tahu bagaimana Haji Bahar, ingat… Haji Bahar lah yang telah mengukir luka yang amat mendalam di keluarga kita.”
“Kenapa Kakak segitu dendamnya, Haji Bahar sudah berubah Kak, maafkanlah atas dosa-dosa kecil yang telah ia lakukan.”
“Dosa kecil katamu? Tidak ada yang namanya dosa kecil disaat dosa tersebut dilakukan berulang-ulang, itu dosa besar yang terampuni.”
“Memang benar Kak, tapi ingat dosa besar akan terampuni jikalau pintu taubat telah dilalui. Maaf Kak, untuk saat ini kita memang tak sejalan, biarkanlah jalan yang kupilih berjalan seperti air mengalir.”
“Terserah kamu, jangan salahkan aku jika penyesalan telah menghampirimu.”

Rizal yang tertunduk lesu meninggalkanku menuju kamarnya. Malam itu, tak seperti biasa, aku tak bisa tidur. Pertengkaranku dengan Rizal terus terniang di hatiku, apa aku salah terlalu keras dengannya? Kalaupun iya, sungguh kumemohon petunjuk-Mu ya Tuhanku, walaupun jalan yang kami pilih beda, jadikanlah perbedaan ini sebagai cobaan, tanpa membuat kami saling membenci dan tak memutus hubungan batin dengannya. Malam semakin larut. Semakin ku berniat memejamkan mata, semakin ku tak mampu melawan perasaan gelisahku.

Di pagi hari di warung kopi Bu Mirna, tak sengaja aku bertemu Karim teman masa kecilku yang sama-sama pengagum Umar. Hari itu ia mengajakku ngopi bareng. Percakapan kami dimulai dari hal yang sederhana saja tanpa dibumbui permasalahan politik, topik yang lagi hangat diperbincangkan khalayak beberapa hari terakhir, hingga tiba-tiba ponsel Karim berdering.

Tampak dari wajah Karim sepertinya bahagia dan dari cara berbicara sepertinya ia lagi teleponan dengan seorang perempuan. Apa iya Karim sekarang sudah punya pacar? Aku pun bergegas bertanya langsung ke Karim setelah pembicaraannya lewat handphone selesai.
“Hey Karim, yang barusan nelpon siapa tuh?” tanyaku agak iseng.
“Ini ada perempuan minta dibimbing ngaji gitu, soalnya di usia yang sudah beranjak dewasa mau perdalam ilmu agama dengan bimbingan baca tulis Al-Qur’an. Kamu pun pasti tahu cewek ini, masih anak di desa ini.”
“Anak desa ini, siapa yang kamu maksud?” tanyaku penasaran.
“Farida, anak Haji Sahal.”

Mendengar namanya seakan aku tak percaya. Rasa kesal pun terbit di hatiku.
“Kamu sekarang jadi pendukung Haji Sahal ya?”
“Bukan, aku cuma membantunya dalam hal bimbingan itu, tidak lebih, yang kulakukan hanya membimbingnya dengan ilmu yang kupunya.”
“Tapi, dia itu putri Haji Sahal, ingat dia lawan politik almarhum Umar.”
“Iya, aku tahu saudaraku, tapi bimbingan yang kulakukan tidak bertentangan dengan perintah agama. Agama bahkan mewajibkan kita untuk berbagi dengan sesama tanpa melihat dia dari keturanan siapa. Aku yakin mendiang Umar pun akan merestui jalanku ini.”
“Wanita bisa saja membuatmu berubah pikiran, wanita itu sumber masalah, Karim, kamu harusnya tahu itu.”

“Jangan kau dibutakan oleh dendam, saudaraku. Dendam itu lebih baik janganlah dipelihara, kalaupun Farida adalah anak Haji Sahal yang kau permasalahankan itu agak keliru, siapapun itu harusnya kamu tahu tidak boleh membenci seseorang karena latar belakang keluarganya.”
“Aku hanya tidak percaya, Karim. Jangan-jangan ayahnya sengaja mengutusnya untuk mempengaruhimu. Semua warga desa tahu kamu itu pemuda yang baik hati, suka menolong, terlebih lagi kamu memiliki jamaah yang begitu banyak.”
“Padamkan amarahmu saudaraku, ingat, soal berbagi ilmu tidak ada hubungannya dengan politik.”

“Aku agak prihatin Karim, warga desa akan mencapmu sebagai pendukung Haji Sahal karena keputusanmu.”
“Aku yakin tidak, tapi kalaupun itu terjadi, kan kutanggung hal tersebut dengan keteguhan hatiku sembari berdoa untuk menghilangkan kegersangan di hati mereka yang menuduhku seperti itu.”
“Baiklah, aku tidak akan memaksa, tapi tolong pikiranlah sekali lagi dampak yang ditimbulkan dapat merusak nama baikmu.”
Setelah itu aku pun berpamitan kepada Karim, sahabatku.

Hari demi hari berlalu, hingga tibalah hari pemilihan kepala desa di desaku, tampak kegundahan tak terasa surut di hatiku. Apa iya aku harus memilih yang bertentangan dengan pilihanku, kalau pun iya, siapa? Apa iya harus memilih mereka yang terbaik dari yang terburuk, kalaupun aku harus memilih lapangkanlah hatiku, ya Tuhan.

Saat itu juga kubergegas ke tempat pemilihan dengan secercah harapan mudah-mudahan tercipta hal yang terbaik bagi desaku, siapapun yang terpilih nantinya dapat membuat desa yang kucintai ini dapat berubah ke arah yang lebih baik lagi.

Cerpen Karangan: Rasywan
Blog / Facebook: sufdariani Darsa
Alamat: kABUPATEN mAJENE SULBAR
PROPESI; gURU Madrasah Aliyah Negeri 1 Majene

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 13 Januari 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Terbaik Dari Yang Terburuk merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dulu Aku Berbeda

Oleh:
Terkadang aku harus menangis meninggalkan apa yang harus kutinggal. Namun aku tak menyalahkan siapapun, apalagi tuhan. Suatu kehormatan bagiku untuk mengatasi hidup sendiri di rantau orang. Ahh tak asik

Perbedaan

Oleh:
“Kapan yach kehidupan senang dan bahagia berbalik arah kepadaku…?” Ya… itulah kalimat yang senantiasa selalu ada dan hadir di benak perempuan yang senang berpakaian warna pink ini. Ketika dia

Ada Yang Pergi dan Kembali

Oleh:
“Mereka selalu berjuang demi beberapa lembar rupiah yang halal. Dengan cara apa pun asalkan halal. Setiap harinya berjuang demi menafkahi keluarga. Mereka bukan kepala atau Ibu rumah tangga, tapi

Badut

Oleh:
Jalan-jalan kota sudah menjadi bagian hidup Andi. Sudah 3 tahun ia hanya menggantungkan hidupnya sebagai badut. Saat ini menjadi badut adalah sumber kehidupannya. Namun siapa sangka, dibalik topeng lucu

Derita Andi Si Pengamen Cilik

Oleh:
“Bintang kecil di langit yang biru…” nyanyian Andi yang serak karena kerongkongannya belum dilewati air sejak pagi. Dari jendela-jendela mobil, Andi mengais rezeki hanya untuk membeli sebungkus nasi. Dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *