Terima Kasih Mang Udin

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 29 December 2016

Pagi ini seperti biasanya. Aku berpamitan ke sekolah tanpa mencium tangan kedua orangtuaku. Aku tahu itu adalah hal yang tidak seharusnya kulakukan. Tapi aku tidak peduli. Persetan ah! Selalu aku lempar kata kotor itu ketika mereka menasihati dan menasihatiku lagi. Kekecewaan yang mereka torehkan setahun yang lalu membuatku terus berkecamuk dengan amarah dan kebencian yang merasuki tubuh.

“Sarapan dulu, Nak!” Seru ibu saat melihatku ke luar dari kamar.
“Roy!” Ayah bangkit dari kursinya. Tanpa sepatah kata pun aku berlalu.
“Sudah, biarkan saja, mungkin dia belum lapar, mas.” Ayah kembali duduk di kursi ruang makan setelah ibu menarik pelan lengannya…

Pelajaran sekolah telah usai. Nampaknya matahari siang ini kurang bergairah untuk menyengat kulitku. Dengan terburu-buru aku seret kaki ini dan berusaha melangkah lebih cepat. Aku tidak ingin terlambat. Tapi… ah, sialan! Rupanya aku kalah cepat dengan tangisan awan yang lebih dahulu mengguyur Kota Hujan ini. Terpaksa aku bergegas mencari tempat peneduhan…

Astaga! Betapa bodohnya aku yang baru menyadari tukang sepatu yang sering aku lihat duduk di ujung trotoar ini ternyata bukan orang biasa. Dengan penuh ketelatenan, tangan itu sibuk menikamkan jarum jahitnya ke sol sebuah sepatu yang tebal. Tidak ada yang aneh sampai aku sadar bahwa dia tidak menggunakan dua tangan. Hanya satu tangan kanan. Lengan baju kirinya berkibar-kibar ketika ditiup angin. Tidak ada isinya. Sebagai pengganti tangan kiri, dia menggunakan jari kakinya untuk menarik jarum dari sol sepatu tadi. Yang membuatku terkesan adalah dia melakukan semuanya dengan semangat, seakan-akan tidak mempedulikan bahwa dirinya cacat. Bahkan, dia masih sempat bergeser memberi aku tempat berteduh sambil melempar senyum. “Kalau perlu serpis sepatu, bawa ke Mang Udin aja yah,” katanya memulai obrolan sambil menunggu hujan reda.
“Eh… iya, Mang,” balasku gugup, “Aku Roy, Mang, hehe.”

Aku mulai merasa nyaman dan berani menatap sepasang matanya. Lagi-lagi hanya sebelah kanan yang normal. Mata yang kiri tidak dapat dibuka lebar.

“Iya, Royyan Al-Farisi, ‘kan?”
“Lhoh kok tahu sih, Mang?”
“Iyalah, Mang ‘kan lihat ini.” Tangan kanannya menunjuk kearah nama siswa di atas saku baju pramuka yang kukenakan. Aku membalasnya dengan pekikan kecil. Obrolan kami membuatku semakin nyaman. Hingga akhirnya aku mencoba memberanikan diri menanyakan apa yang kutahan dari tadi.

“Emm… ”
“Kenapa? Ngomong aja, Roy!” Mang Udin membalas keraguanku. Cukup lama aku menutup mulut, mengabaikan Mang Udin. Aku takut pertanyaan ini akan menyinggungnya. Tapi aku penasaran.
“Kok diem, jangan dipikirin, langsung omongin aja!” Mang Udin menyadari sorotan kekhawatiran di wajahku. Tanpa canggung, ia menatapku. Nampaknya Mang Udin semakin paham kalau aku merasa tak enak hati untuk mengatakannya. Kini Mang Udin mengangkat lekuk garis bibirnya, dengan mata yang belum beralih dari wajahku. Aku balas senyuman itu dengan senyuman pula, meskipun sedikit kupaksa.

“Begini, Roy… manusia itu yang nyiptain Tuhan, ‘kan?” tanya Mang Udin sembari menjeda kembali pekerjaannya.
“Em… iya, Mang.”
“Nah, setiap manusia di dunia ini pastilah banyak kepercayaannya masing-masing. Sedangkan kita sebagai kaum muslimin mempercayai bahwa Allah adalah Tuhan kita. Dialah yang maha berkuasa dan maha pencipta. Dia menciptakan manusia dan makluk lainnya dengan bermacam-macam rupa. Ada yang diciptakan dalam rupa cantik, bagus dan ada sebaliknya yang diciptakan jelek bahkan dianggap kurang sempurna.” Mang Udin menundukkan sedikit kepalanya setelah sebelumnya kembali menatap sepasang mataku yang terfokus dengan pituturnya.

Lalu Mang Udin melanjutkan perkataannya, “Tapi sempurna atau tidaknya rupa manusia itu tidak jadi masalah untuk Allah, Roy. Rupa yang cantik, bagus, jelek… itu semua jika dipandang sesama manusia pastilah berbeda pendapatnya. Misalkan Si A, yang menurut Si B terlihat sempurna dengan ketampanan dan kekayaan yang dia miliki. Tapi kata Si C, dia lumayanlah. Sedangkan kata Si D, Si A biasa aja tuh. Dan ternyata kata Si A sendiri, dia mengakui dirinya tak setampan dan tak sebahagia seperti yang orang lihat. Si A ternyata mengidap kanker otak. Dia terlihat sempurna dari luar, tapi dia rapuh dari dalam.” Mang Udin kembali menatapku, menyodorkan senyumnya yang kini yang khas, menurutku.

“Nah, sedangkan menurut Allah, semua itu tidak penting. Dia tidak memerlukan ketampanan, kecantikan dan lainnya. Tidak kaya juga miskin. Semuanya sama di hadapan Allah. Hanya satu yang menjadikan mereka berbeda ketika di hadapannya.” Mang Udin menengadahkan telunjuk kanannya ke atas.

“Apa itu, Mang?”

“Amal baik dan ketaatan manusia itu sendiri dalam menjalankan segala perintahNya, Roy. Jika kita mampu menjalankan segala perintahNya dan menjauhi laranganNya dengan sungguh-sungguh, maka kita akan mendapatkan ketentraman dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat,” sambung Mang Udin, serius.

Mang Udin menggelengkan serempak kepala dan telunjuk kanannya ke wajahku. “Bukan hanya itu, Roy,” ucapnya semakin serius, “Kamu tahu yang Mang maksud?”

“Em… kurang ngerti, Mang,” jawabku gamblang. Mang Udin kembali menyunggingkan senyumnya. Aku tersipu.

“Lihat Mang, Roy!” Pinta Mang Udin, “Tangan hanya satu, mata pun yang normal satu, dan jari kaki… kurang sempurna ukurannya, mungkin menurut orang-orang, bahkan kamu, Mang ini dilihat sebelah mata. Tidak sempurna dan kurang bahagia. Tapi itu salah. Alhamdulillah Mang malah sangat bahagia dan merasa sempurna. Mang sudah ikhlas lillahi taala dengan kondisi Mang yang seperti ini. Karena Mang yakin, Allah akan memberikan keberkahan dan kebahagiaan bagi para hambaNya yang sabar, bersyukur dan ikhlas menerima pemberian serta cobaan dariNya. Jadi… kamu jangan berpikiran kalau dengan kondisi dan pekerjaan Mang yang seperti ini, apa Mang bahagia dan cukup untuk kebutuhan sehari-hari? Percayalah, Roy! Allah akan mencukupi jika kita sabar, bersyukur dan ikhlas.” Mang Udin merapikan peralatan pekerjaannya, kemudian bangkit.

“Mang pulang dulu yah, assalamualaikum,” sambungnya tersenyum, kemudian mengayunkan kakinya yang perlahan menjauh dariku.

“Wa… walaikumsalam, Mang,” ucapku sedikit terbata karena masih terperangah dengan perkataan Mang Udin. Dan kini ia telah berlalu dari pandanganku.

Aku pun melangkah pulang. Bersama sisa-sisa tangisan awan, kuseret kakiku meninggalkan trotoar yang hari ini menjadi tambahan pelajaran yang berarti untukku…..

Sesampainya di rumah, aku langsung memeluk ayah dan ibu, bergantian. Mereka membalasnya dengan wajah kebingungan. Setelah kulepas pelukanku, aku tak bisa menahan bendungan haru yang kurasakan. Pecah.

“Kamu kenapa, Roy?” tanya ibu, khawatir.
“Roy, kamu kenapa?” Ayah menimpaliku dengan pertanyaan serupa.
“Ma… maafin Roy ya, Bu, Yah!” Suaraku parau.
“Kenapa, Roy? Ada apa? Ibu nggak ngerti.”
“Roy minta maaf… kalau sejak kecelakaan itu sikap Roy jadi bandel. Selama ini Roy bodoh, mau menuruti kemarahan dan kebencian. Tapi Roy sadar, ayah tidak mungkin sengaja melepaskan pegangannya meskipun Roy bukan anak kandungnya. Roy salah, Roy minta maaf sudah berpikiran yang nggak-nggak tentang ayah.” Aku semakin tak kuasa. Kutumpahkan airmata ini, membasahi kemeja putih yang ayah kenakan.
“Hm… iya nggak papa, Roy,” balas ayah terharu, “Ayah sayang sama Roy, sudah selayaknya ayah dengan anak kandungnya, percayalah!”
“I… ya, Yah, Roy baru ngerasain itu.” Aku menunduk setelah melepaskan pelukanku.
“Tapi siapa yang membuatmu tersadar, Roy?Apa kesadaranmu sendiri?” Ibu mengelus kepalaku, lembut.
“Tadi pas pulang sekolah, Roy mendapat pelajaran berharga dari Mang Udin, tukang sol sepatu. Dia yang membuat Roy sadar dan mengerti tentang sabar, ikhlas dan bersyukur.” Kuseka airmataku, lalu menyodorkan senyum ke ayah dan ibu.
“Alhamdulillaah…” Ayah dan ibu mengucap syukur, kemudian kami bertiga saling berdekapan.

Pagi ini mataku sudah terbuka lebar dan siap menyambut senyuman raja siang. Tidak seperti setahun silam, aku hanyut dalam kemarahan dan kedengkian, hingga aku selalu kesiangan dan enggan mencium tangan saat berpamitan. Aku khilaf. Tapi kini aku kembali ceria, belajar bersyukur.

Cerpen Karangan: Mizmarul Khaq
Blog: www.mizmarulk.pun.bz

Cerpen Terima Kasih Mang Udin merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lonely

Oleh:
Duh berisik! Aku kan besok ujian, gimana bisa konsen belajar kalo dari tadi berisik. Adek teriak-teriak lah, kak Ari karaokean nggak jelas, mama nonton tv. Berisik! berisik! berisik! Aku

With Us, We Can Make It Wonderfull

Oleh:
Cerita ini bermula saat tanggal 7 Agustus 1990 dimana seorang lelaki lahir ke dunia ini dengan segala kepolosannya tanpa tahu lahir dimana, dengan orangtua seperti apa, dan keadaan yang

Dia Kakakku

Oleh:
“Timmy, cepat turun…!!! Ini sudah Ibu buatkan nasi goreng!” “Iya Bu, bentar! Timmy lagi pake kerudung!” “Bantu Ibu menyuapi kakakmu…!” “Argggghh…”, gerutuku. “Iya! Iya!” Teriakan itu yang setiap pagi

Perjuangan Anak Tukang Gula Mendulang Juara

Oleh:
Jilbab putih menutupi wajah bundar, berkulit hitam manis, bertengger tahi lalat menghiasi pipinya yang lesung. Dengan kepolosan dan keluguannya mewarnai keayuan Siti Saodah. Ia rajin serta disayang kawannya. Terlahir

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *