Teringat Frankenstein

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 20 July 2016

Siang itu usai gempa 5.9 skala richter mengguncang Kota Bengkulu, suasana kota cukup lengang, masyarakat khawatir guncangan gempa susulan.

Gempa tentunya bukan momok yang baru bagi masyarakat Bengkulu yang terbiasa dihantam gempa lokal hingga ‘jungkir balik’ warga dan rumah penduduknya.

Menghela nafas Beno melihat tetangga sebelah rumahnya sibuk memperbaiki tiang rumahnya yang retak akibat gempa setengah jam yang lalu.

“Ditopang aja kak, biar nggak meletot lagi”.

“Iya nih, harus dibuat benton baru aja, rusaknya dah parah,” kata Kak Wandi, mantan pemabuk yang katanya sudah tobat akibat kena gejala liver.

Tak membalas, Beno hanya tersenyum, tampak simpul pipit dari pipi kirinya. Dengan ditemani segelas kopi dan rok*k daun nipah, lamunan Beno kian jauh ke masa lalunya, saat masih aktif sebagai aktifis dan gagal dalam menyelesaikan kuliahnya.

Segelas kopi dan sebatang rok*k daun nipah, mengingatkan Beno cerita dosen filsafatnya saat masih duduk di bangku kuliah di Pulau Jawa tahun 1993 lalu.

“Cerita Dr Syaitan… Ya itu Frankenstein, kenapa aku ingat kisah itu ya,” lamun Beno.

Menurut Sang dosen filsafat, Frankenstein atau The Modern Prometheus merupakan cerita yang menarik dan banyak pelajaran yang dapat dipetik dari novel gothik karya penulis Mary Wollstonecraft Shelley kebangsaan Inggris tahun 1818.

Frankenstein berkisah tentang Victor, seorang ilmuwan Swiss, yang lahir di Jenewa dan dibesarkan orangtuanya untuk memahami dunia lewat ilmu pengetahuan.

Ketika kanak-kanak, ia melihat petir menyambar pohon, lalu bertanya-tanya itukah sumber kehidupan? Apakah manusia dapat menciptakan manusia lain?

Teringat

Beno sempat teringat dengan secarik kertas peninggalan kakeknya, saat Bung Karno, Hasanoedin Sabri dan teman lainnya memainkan cerita Dr Syaitan ini dalam sebuah kelompok bernama Tooneel Club Monte Carlo, yang mempunyai semboyan “Selamanja Naik, Djangan Toeroen”. Kala itu bulan Desember Malam Rabu tahun 1939.

Frankenstein kala itu mencoba, menirukan ciptaan terbesar Tuhan. Ia membuat monster dari serpihan dan potongan orang mati. Serpihan dan potongan tubuh itu disatukan dengan cara dijahit bersama, dan dihidupkan lagi menggunakan listrik dari petir.

Baru sejenak mengingat cerita dosennya kala itu. bulu romanya tampak berdiri. Namun kenangan itu tetap mendewasakannya untuk mengingat kisah itu, disaat ini dirinya hidup sebatang kara. Memang Beno tak ada beban, tapi hidup harus dijalaninya hingga ajal menjelang.

Kopi hitam pun kembali dihirup, dan tampak ia mulai melinting kembali rok*knya yang telah habis. Sementara tetangga sebelah rumahnya sibuk memukul paku, memperbaiki rumahnya yang usai digoyang gempa bumi.

Lamunan Beno pun terus berlanjut. Dalam cerita itu, Frankenstein berhasil menghidupkan eksperimennya dalam percobaan ilmiah ortodoks. Ternyata, Mary Wollstonecraft Shelley, penulis Novel fiksi ilmiah itu jelas Sang dosen, menulis cerita berawal dari mimpi tentang Ilmuwan gila itu.

Terakhir, Victor Frankenstein, mulai jauh fikirannya, dan celakanya ia menyebut diri sebagai “Adam dari pekerjaan Anda”, dan di tempat lain sebagai seseorang yang “akan” menjadi “Adam Anda”, tetapi bukan “malaikat Anda”.

Tersentak Beno, saat kumandang suara adzan dari Masjid di belakang rumahnya mengalun melintas beranda rumahnya. Namun suara itu sempat disingkirkannya, karena pikirannya masih teringkat cerita Sang Dosen Filsafatnya dulu.
Timbul pertanyan yang ada dalam pikirannya, kenapa sang penulis Mary Wollstonecraft Shelley sampai bisa bermimpi segila itu? Mungkinkah karena ia berkhayal bebas tampa terikat sebelum tidur?

“Kalau hanya gara-gara lengannya tertindih dan ia bermimpi, rasanya tidak separah itu? Tapi kenapa pula aku resah setelah mengingat cerita itu ya!”

Suara Adzan pun berlalu tanpa terasa. Suara gaduh tetanggapun tak terdengar lagi, kecuali hilir mudir kendaraan masyarakat yang ingin beraktifitas.

Beno memaksakan dirinya untuk berdiri dari beranda rumah menuju dapur. namun tak satu pun makanan yang dapat dimakannya. Sementara cacing di perut sudah berbunyi dengan irama yang tak merdu.

“Wah gawat ini. Mau ngutang ke warung, yang kemarin aja belum bayar. Gimana ini…Gimana ini,” Beno ngedumel sendirian.

Kebingunan Beno kian menjadi, saat melihat tumpukan uang kerta mainan anak-anak yang ketinggalan di halaman rumahnya. matanya terus menatap uang mainan tersebut. Ia pun tersenyum sipu.

“Berubah-berubah… Simsalabim,” katanya berbisik-bisik.

Cerpen Karangan: Benny Hakim Benardie
Facebook: Benny Hakim Benardie
Benny Hakim Benardie adalah penulis dan jurnalis tinggal di Kota Bengkulu.

Cerpen Teringat Frankenstein merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Persimpangan

Oleh:
Malam menampakkan kepekatan yang mengerikan dengan langit tanpa sinar rembulan dan bintang. Bergelayut mendung menduduki singgasananya menunggu waktu untuk menumpahkan seluruh isinya. Burung walet beterbangan menyapa hujan yang mulai

Kaca Mata Kuda

Oleh:
Angin sepoi menghidangkan asa baru di tengah hiruk pikuk suatu pola. Orang perorangan memperjuangkan kehendak melangkahi karma. Kejengkelan membludak mendesak keluar di tengah sesakan kios toko di pasar seni

My Hero

Oleh:
Angin pantai memeluk lembut tubuhku, memutar pasir, dan mengibarkan rambut yang kubiarakan bebas tergerai. Bisikan-bisikan lembut angin seakan menelisik jauh ke dalam diriku, mengucapkan salam rindu dari seseorang yang

Pertemuan Singkat

Oleh:
Kulangkahkan kaki keluar kelas yang sangat membosankan dan suntuk. Siang hari yang cukup terik di kampus, hanya segelintir orang yang rela berpanas-panas di jalan, sementara yang lain sepertinya nyaman

Sekardus Uang Cinta Untuk Lala

Oleh:
Pagi itu Selasa 20 Juni 2017. Bak petir mengelegar, gempa 9.9 skala ricter menguncang dasyat Negeri Bencoolen yang notabene merupakan pagi yang sejuk, meriah, aman, rapi, kenangan. Akronim dari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *