Terlambat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Pengorbanan, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 23 February 2015

“Terlambat…” bisiknya lirih. Sorot matanya tajam menatapku tanpa secuil pun kata keluar dari bibirnya. Aku hanya terdiam mematung. Butiran air mata dengan cepat membasahi kedua pipinya. Mata yang sebelumnya bening itu menjadi merah. Bibirnya gemetar seperti menahan pedih. Aku menjadi bingung tanpa tahu arti kata yang keluar dari mulutnya. Ia berlari menuju rumah yang sudah dipenuhi oleh orang-orang.

Sontak kebingunganku semakin menjadi ketika kudengar jerit tangis yang menyayat malam. Dan yang kutahu, banyak orang hanya menundukkan kepala menahan tangis mereka.
“Kamu teman anak itu dik..?” tiba-tiba sebuah pertanyaan menyadarkan kehampaan pikiranku. Seorang laki-laki tua menepuk bahuku dan menyunggingkan senyum yang terasa aneh bagiku.
“Iya pak..” jawabku lirih mencoba membalas pertanyaannya.
“Sayang sekali.. Ia tidak kembali lebih awal..” ucap lelaki itu lirih namun entah karena apa, aku merasa seperti tertusuk sebuah belati yang sangat tajam.
“Mari kita masuk ke rumahnya dik!” ucap lelaki itu sambil melangkah pelan tanpa menungggu jawabanku. Aku masih terdiam mematung. Lelaki itu menghilang ditelan banyaknya orang yang datang ke rumah kecil di tengah desa itu.

Semua berlalu begitu cepat. Sepertinya baru kemarin aku kenal Putri. Saat sang surya memancarkan semburat kemerahan di balik kemegahan Candi Borobudur yang kokoh… dan waktu aku mendengar dan menyaksikan sebuah tarian di pelataran candi. Di situlah aku mengenal sosok Putri.
Seorang penari yang cantik menunda kepulanganku sore itu. Langkahku terhenti saat kudengar alunan gamelan di tengah kerumunan di pelataran candi. Aku bersandar di sebuah pohon yang ada di tempat itu. Gemulai gerak penari itu mengikuti irama gamelan. Begitu lentur dan lentik jemari itu melempar selendang yang melilit tubuhnya. Senyum manis dilemparkannya ke pengunjung yang ada di sekitar candi, dengan lesung pipi yang begitu dalam.
Setiap gemulainya mendapat tepuk tangan pengunjung di pelataran candi. Dalam ketidaksadaranku, tanganku pun ikut bertepuk mengagumi keelokan penari itu.

Tek..! Tek..! Tek.! Aku tersadar dari kekagumanku. Seorang pemuda berkeliling sambil menyodorkan kardus padaku. Sebuah tanda untuk memberikan sumbangan atas pertunjukan yang mereka lakukan. Aku pun merogoh saku, kukeluarkan selembar uang 10.000 dan kumasukkan ke dalam kardus itu.
“Terima kasih mas..! Terima kasih..!” ucap pemuda itu dengan sangat riang. Ia tampak begitu gembira melihat lembaran uang yang ku masukkan ke dalam kardus bekas itu.

Hari semakin petang dan sang senja mulai menyapa. Iringan gamelan akhirnya berhenti. Para pengunjung mulai meninggalkan tempat itu satu per satu. Sementara aku masih terdiam, menyandarkan tubuhku di sebuah pohon di pelataran candi. Mataku tak bisa lepas dari sosok gadis penari yang sekarang melepas selendang yang melilit tubuhnya. Kecantikan yang mempesonaku tak juga pudar meski ia sudah tak lagi berdandan. Selendang dan kain jarik dilipatnya cepat-cepat. Rambutnya tergerai ditiup sang bayu, menutupi paras yang elok, di bawah lampu pelataran candi yang mulai menerangi.
“Pasti akan jadi daya tarik bagi pembaca, jika pekerjaan gadis itu kutulis menjadi berita..” gumamku sambil tersenyum.
Pemuda yang tadi menodongkan kardus padaku, mendekati gadis itu dan menyerahkan hasil mengamen mereka. Dengan cekatan, gadis itu memasukkannya dalam tas.

“Selamat ya..! Anda menari dengan sangat indah.” ucapku membuatnya terkejut. Kuulurkan tanganku memberinya ucapan selamat. Ia memandangku dengan ragu dan membalas uluran tanganku dengan kebingungan yang terpancar dari matanya.
“Terima kasih, Mas..” hanya itu yang terucap dari mulutnya. Gadis itu menarik tangannya dan bergegas pergi meninggalkanku.

Hari berganti malam dan aku tak juga bisa memejamkan mata. Pikiranku selalu teringat sosok gadis itu. “Siapakah dia? Di mana rumahnya?” Pikiran itu terus menggangguku.

Kamera masih tergantung di leherku. Aku kembali mencari obyek untuk kujadikan berita di surat kabar tempatku bekerja. Rasa penasaran terhadap gadis penari itu masih terus mengusik pikiranku.
“Aku harus menemuinya sore ini.. Pasti sore ini dia akan menari lagi.” Itu yang muncul dalam pikiranku, ada keinginan sangat besar untuk segera mengusir rasa penasaranku ini. Namun tak juga kujumpai gadis itu.

Seminggu telah berselang. Putus rasa telah menghinggapi perasaanku. Di tengah keputusasaan dan rasa penasaranku, tiba-tiba aku dihentakkan oleh suara gamelan yang kudengar dari kejauhan. Sontak tergugah semangatku untuk mencari tempat di mana suara gamelan itu berasal. Begitu girangnya aku saat mataku tertuju pada sosok gadis yang kucari itu. Dengan pakaian sama yang dipakainya waktu itu.

Aku duduk di sebuah kursi. Menikmati gemulai gerak tubuh gadis itu. Saat semua sudah selesai, aku berlari kecil menghampirinya. Gadis itu tampak terkejut dengan kedatanganku.
“Jangan sampai aku kehilangan kesempatan ini lagi” pikirku.
Gadis itu mulai mengemasi barang-barangnya dan segera melangkah pergi.
“Mbak..! Mbak..! tunggu sebentar Mbak..” teriakku.
Gadis itu nampak kaget dan semakin mempercepat langkahnya. Aku berlari dan berhenti tepat di depannya, sehingga membuat langkahnya terhenti. Ia nampak gusar dengan tindakanku, namun aku tak peduli.
“Maaf mbak, masih inget saya kan?” Gadis itu diam tidak menjawab.
“Mbak, nama saya Ray. Ray Adrian. Saya wartawan.” Aku perkenalkan diriku tanpa peduli dia tak mengacuhkanku.
“Boleh ngobrol sebentar mbak? Saya ingin menulis artikel tentang pekerjaan mbak sebagai penari..” kataku sambil kusodorkan kartu pengenal wartawan milikku.
Gadis itu kaget dan terlihat gugup. Sejenak tatapan heran muncul dari matanya.
“Maaf mas, tapi saya harus segera pulang, saya sudah ditunggu” jawabnya lirih sambil melirik jam tangan butut yang melingkar di tangannya.
“Sebentar saja mbak, 15 menit..” ucapku memintanya untuk tinggal.
“Maaf mas, tapi saya harus segera pulang..” jawabnya.
“Ayolah mbak. sebentar saja.. Nanti artikel tentang pekerjaan mbak akan dibaca banyak orang. Dan mbak akan semakin dikenal orang..” aku mencoba membujuknya. Sialnya pernyataan itu dijawabnya dengan gelengan kepala.
Aku kebingungan mencari akal untuk bisa membujuknya. Sampai akhirnya aku mengambil sebuah keputusan yang agak nekat.
“Ok mbak.. Begini saja, bagaimana jika mbak saya beri imbalan untuk wawancara kita? 100.000?”
Tidak biasanya aku nekat melakukan hal seperti ini. Namun sepertinya usahaku akan berhasil.
“Tapi..” gadis itu berkata lirih dan tampak gelisah.
“Gak usah takut mbak. Saya bukan orang jahat kok.. Atau kalo 100.000 kurang, nanti aku tambahin deh.” kataku.
Dan akhirnya gadis itu menganggukkan kepalanya. “Yes!!” akhirnya berhasil kuajak gadis itu ngobrol di sebuah tempat makan.
“Mau makan apa mbak?” tanyaku sesaat setelah dia duduk.
“Nggak mas, makasih..” jawabnya. Kegelisahan kembali tampak di raut mukanya.
“Minum?” tanyaku dan dijawab dengan sebuah anggukan pelan.

“Nama mbak?”
“Putri.” jawabnya lirih penuh dengan kegelisahan.
Kukeluarkan catatan kecil dari sakuku.
“Nama lengkapnya?”
“Putri Prameswari, Mas..”
“Sejak kapan menari mbak.. putri?”
“Sejak lulus SMP mas..”
“Sekarang kelas berapa mbak?”
Ia tertunduk dan hanya menjawab dengan gelengan kepala.
“Mbak..??”
“Saya nggak lanjut sekolah lagi mas..”
Kegelisahan itu kembali tergurat dalam raut mukanya. Ia kembali melirik jam tangannya.
“Umur mbak?”
“19 tahun.”

Ia tampak semakin gelisah dan berkali-kali melihat jam.
“Kenapa mbak??” tegurku mengagetkannya. Kugeser tempat dudukku mendekatinya dan dia tetap diam. Tiba-tiba dia berdiri dan melangkah pergi meninggalkan aku.
“Mbak Putri..” dengan cepat tangan kananku meraih tangannya. Dan aku tak peduli lagi walaupun di sekelilingku banyak orang yang tersenyum melihat tindakanku.
“Kita belum selesai wawancara.. Tolong dong selesaikan dulu” kembali suaraku keluar dan tak sadar agak keras mengangetkannya. Putri nampak gugup dan sebentar kemudian bibirnya mulai bergerak gemetar.
“Tapi saya harus segera pulang mas.. Maaf..” ucap Putri dengan tatapan yang sedih.
“Ada hal penting? Atau, takut dimarahi orangtua kamu karena jam segini belum pulang?” tanyaku. Kulihat jam tanganku yang menunjukkan angka 18.30.
Putri hanya terdiam dan menundukkan kepalanya. Ia tidak berani menatapku.
Sial..!! Susah amat gadis ini kuwawancarai! Begitu pikirku dalam hati. Kukeluarkan selembar uang 100.000 dan kuberikan padanya.
“Ok, kita lanjutkan obrolan kita ya..” aku mencoba mengajaknya kembali ngobrol. Tetapi ia tampak makin gelisah dan murung. Akhirnya habis akalku untuk mencoba mengajaknya bicara.
“Baiklah, kita lanjutkan besok saja. Sepertinya mbak Putri sedang punya pikiran. Boleh saya antar pulang? Biar saya tahu rumah mbak dan besok bisa dilanjutkan besok di rumah mbak Putri saja.” Ucapku menyerah sambil memberikan tawaran untuk mengantarnya pulang.
Dan jawaban Putri hanya berupa anggukan kecil.

“Ayo dik.. masuk ke dalam..” aku tersentak kaget ketika lelaki yang tadi bertanya padaku kembali berdiri di sampingku.
“Nggak baik kalo cuma di sini..” ia mengajakku masuk dan aku begitu saja menuruti ajakannya. Orang-orang di tempat itu memandangku dengan tatapan asing. Aku berhenti dan sesaat kemudian aku bertanya pada lelaki tua yang mengajakku masuk tadi.
“Pak, siapa yang meninggal?” tanyaku berbisik.
“Dino, adik Putri.” kata bapak itu singkat dan sontak membuatku tersentak dan tertunduk lesu. Kerongkonganku terasa kering dan nafasku sesak.
“Dino sudah seminggu ini sakit keras. Putri ingin membawa Dino ke rumah sakit, tapi keluarga mereka tak punya uang. Putri jadi tulang punggung keluarganya mencari uang dengan mengamen sebagai penari. Tapi sayang, Dino meninggal petang tadi jam 18.30.”
Aku terdiam. Keringat dingin mengucur deras membasahi tubuhku. Pukul 18.30 adalah saat aku memaksa Putri untuk kuwawancarai. Dan aku yang menyebabkan Putri tidak segera pulang saat adiknya menghembuskan nafas terakhirnya. Aku berdiri dan mencoba melangkah dengan kaki yang sangat berat. Tatapan orang-orang di sekitarku yang kurasakan asing, kini kurasakan sebagai sebuah ungkapan bahwa aku membuat Putri kehilangan kesempatan terakhir menemui adiknya sebelum meninggal. Nafasku seakan berhenti, ketika dari pintu aku hanya bisa melihat Putri menangis histeris memeluk dan menciumi tubuh adiknya yang telah terbujur kaku. Tubuhku semakin basah oleh keringat dingin dan semuanya sudah terlambat..

(shn)

Cerpen Karangan: Setyo Hari Nugroho
Blog: http://themoment2remember.wordpress.com/

Cerpen Terlambat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pulang

Oleh:
Sejuk pagi hari, harum embun membuat kehidupan di desa begitu menenangkan dan damai. Berdiri di sana, di puncak gunung yang melihat matahari terbit seperti harapan yang ingin dia wujudkan,

Tak Sejalan

Oleh:
Hidup itu misteri. Kejutan dari sang waktu yang terus bergulir. Sampai aku bertumpu pada satu titik yang disebut “cinta”. Kalau saat itu aku boleh pilih, aku tak akan pernah

Cinta Terlambat

Oleh:
‘Kamu akan menyesali semuanya, saat kamu tau yang benar-benar tulus mencintaimu pergi dan takkan pernah hadir lagi di hidupmu.’ — Aditya Arcakra Negara seorang pemuda tampan yang sangat cuek

Membeli Mimpi (Part 3)

Oleh:
Si Bapak, Bu Eti dan Rafi pun akhirnya berangkat dengan berjalan kaki menuju tempat yang disebut oleh si Bapak. Sesampainya di tempat yang dituju, Rafi pun benar-benar merasa tak

4 Ever

Oleh:
Aku Salsa, lengkapnya salsabila devanda. Aku saat ini kuliah di salah satu universitas ternama di Bogor. Aku bukan asli berasal dari kota ini, aku berasal dari malang jawa timur.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Terlambat”

  1. johan says:

    alur&critanya bgs penulisanya juga bgs sesuai dgn critanya tp kayaknya di bagian emosinya rada kurang, klo ja da lanjutnya pasti keren

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *