The Beautiful Name

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 2 May 2014

Pagi menyapa dengan senyuman mentari yang menghangatkan meskipun pagi ini masih sedikit basah oleh embun dari sisa hujan semalam. Udara pagi ini begitu sejuk membuatku tak henti-hentinya memenuhi setiap rongga paru-paruku dengan menghirup kesejukannya dalam-dalam. Dengan langkah mantap aku menyusuri jalan ke sekolah, jarak antara rumahku dan sekolah memang tak begitu jauh. Dengan jalan kaki sepuluh menit saja sudah sampai.

Setibanya di sekolah. Aku lebih memilih untuk tetap di kelas saja menunggu bel berbunyi sambil mendengarkan musik melalui earphone yang bertengger di telingaku. Pagi ini yang berdiam diri di kelas memang tak banyak, mungkin hanya sekitar lima orang dan percayalah keadaan seperti ini akan berbanding terbalik jika pagi ini ada tugas rumah yang harus dikumpulkan.

Tak lama bel pun berbunyi diiringi dengan Bu Siska yang sudah berada di ambang pintu kelas. Tapi kulihat pagi ini Bu Siska tidak datang sendirian. Dia bersama seorang laki-laki yang berseragam sama sepertiku.

“Pagi murid-murid,” sapaan rutin Bu Siska sebelum pelajaran dimulai. Dan tanpa komando semuanya serempak menjawab.
“Sebelum pelajaran dimulai, Ibu akan memperkenalkan murid baru yang mulai hari ini menjadi anggota baru kelas kalian. Namanya Billy, dia ini murid pindahan dari Bali,” terang Bu Siska singkat.
“Ganteng ya Bu. Boleh tau nomor Hp nya nggak?” tiba-tiba ada yang menyerocos, arah suaranya dari meja belakang. Semua menolah ke arahnya, aku hafal betul kalau pemilik suara cempreng itu adalah Shinta si cewek super centil seantero sekolah.
“Huuuu…” sontak seisi kelas menyorakinya dan aku tak mau kalah untuk ikut-ikutan.
“Sudah, sudah. Kalau mau kenalan lebih lanjut ada waktunya, jam istirahat atau pulang sekolah nanti kalian bisa kenalan,” Bu Siska coba menenangkan kegaduhan.
“Kalau begitu kamu Billy silahkan duduk di kursi sebelah situ,” Bu Siska menunjuk kursi yang tepat berada di sampingku. Kursi itu memang sudah seminggu kosong, ditinggal penghuninya yang akan meneruskan sekolah ke luar negeri.

Aku tidak terlalu terpesona melihat Billy, mungkin karena dia bukan tipe cowok idamanku. Tapi memang sih tak aku pungkiri, bagi cewek kebanyakan cowok seperti Billy yang berkulit putih, tinggi, punya hidung mancung, nyaris mendekati sempurna atau bahkan sangat sempurna.

Bu Siska lalu melanjutkan pelajaran sejarahnya. Pelajaran sejarah memang selalu bisa membuat orang terlena dan akhirnya ada suatu kekuatan yang tak tertahankan dan bisa sakit kepala kalau tak dituntaskan yaitu ngantuk. Aku edarkan pandangan, belum ada setengah jam sudah banyak yang menyerah. Pihak sekolah sepertinya sadar akan hal itu dan mencoba menempatkan pelajaran sejarah di pagi hari, saat isi kepala masih segar. Tapi kenyataannya, tidak terlalu efektif.

“Baiklah, sebelum pelajaran hari ini Ibu sudahi. Ibu punya tugas untuk kalian. Tugas ini dikerjakan per kelompok dan Ibu yang akan menentukan kelompokknya. Setiap kelompok hanya terdiri dari dua orang,” ucapan Bu Siska membuyarkan mimpi setiap murid. Sebenarnya banyak yang memasang muka protes tapi yang memberi tugas kali ini adalah Bu Siska, seorang guru yang tak segan-segan menyuruh muridnya berdiri dengan kaki satu sambil menjewer telinga di tengah lapangan hanya karena tidak mengerjakan tugas. Mau tak mau semua mulai pasang telinga lebar-lebar. Dan mulai membuat harapan, semoga yang menjadi teman sekelompoknya adalah benar-benar seseorang yang diinginkan.

Satu persatu Bu Siska menyebutkan setiap nama kelompok. Terlihat ada yang tersenyum senang karena harapannya terkabul dan ada juga yang memasang wajah pasrah. Mereka yang senang biasanya karena dipasangkan dengan teman yang pintar atau best friendnya. Tapi kutunggu-tunggu namaku belum juga terdengar.
“Billy Kurniawan kamu saya pasangkan dengan Zainab Sugiyanto,” kata Bu Siska akhirnya.
Tampak Bu Siska lalu meninggalkan ruangan.

Aku menoleh ke arah Billy. Terlihat Billy sedang celingukan mencari seseorang. Ya mungkin dia belum tahu kalau yang menjadi teman kelompoknya adalah aku. Beberapa menit kemudian aku menoleh lagi ke arah Billy, anak baru yang kini duduk di sebelahku. Terlihat dia masih saja celingukan.
“Hei, loe nyari siapa?” aku beranikan untuk menepuk pundaknya. Malas saja harus melihat dia celingukan kayak orang bego.
“Yang namanya Zainab mana sih orangnya?”
“Nih, orangnya ada di depan loe,” aku mengarahkan jari telunjuk ke arah wajahku sendiri, cuma sekedar untuk mempertegas. Tampak kemudian dia senyum-senyum geli.
“Kenapa ada yang aneh sama nama gue? Menurut loe lucu. Loe fikir yang namanya Zainab itu pasti pake kacamata besar berminus tebal trus rambutnya dikepang dua. Orangnya kampungan dan culun abis. Iya?!” aku sedikit sewot. Ini bukan kali pertamanya ada orang yang senyum-senyum sendiri menahan lucu waktu mendengar namaku. Untuk zaman sekarang nama itu memang terkesan kurang elit. Aku pun mengakuinya.
Tapi tidak bagi ayahku. Ayahku begitu mengidolakan tokoh Zainab di film Si Doel Anak Sekolah. Dan karena itu aku diberi nama Zainab. Ayahku selalu berkata kalau nama Zainab itu indah dan berharap aku bisa secantik dan baik hati seperti seorang Zainab di film favoritnya itu. Nama Zainab memang indah di masanya, tapi bukan untuk sekarang. Dan sayangnya ayahku kurang peka untuk urusan itu.
Tampak Billy kemudian sedikit menjaga sikapnya. “Ya udah, maaf deh. Kita kerjain tugasnya di rumah gue aja gimana? Soalnya gue harus jaga adik gue.”
“Iya, nggak masalah. Ntar loe kasih tau aja alamatnya,” lanjutku. Tampak Billy hanya mengangguk.
“Dan satu hal lagi, panggil gue Zay. Cukup panggil gue Zay. Ingat ya!” tampak sekali lagi Billy mengangguk. Baguslah, aku anggap dia sudah mengerti.

Hari minggu jam empat sore, aku tepat berada di depan pagar rumah Billy. Hari ini aku dan Billy sepakat untuk mengerjakan tugas sejarah yang diberikan Bu Siska kemarin. Awalnya aku sempat canggung untuk masuk karena rumah Billy bak istana, besar banget dan halamannya super luas. Segera saja aku beranikan untuk mendekati pos satpam.
“Permisi Pak, saya Zay. Saya temannya Billy. Apa Billynya ada di rumah Pak?” tanyaku pada satpam berbadan kurus.
“O, temannya den Billy. Mau ngerjain tugas ya neng?” jawabnya. “Silahkan neng, sudah ditungguin sama den Billy. Mari saya antar.”

Ku ikuti saja satpam itu berjalan dari belakang. Lamat-lamat kuedarkan pandangan ke sekeliling. Rumah ini memang bak istana, tak henti-hentinya aku bergumam di dalam hati. Setiba di dalam rumah, aku semakin takjub. Ku lihat banyak sekali pajangan kristal-kristal mahal yang tersusun rapi di dalam sebuah lemari kaca besar. Bentuknya pun bermacam-macam dan semuanya berkilauan.

Di dindingnya banyak terpampang lukisan-lukisan indah, dan pasti harganya tidaklah murah. Ada juga sebuah foto berbingkai besar yang bersandar di dinding hijaunya. Seperti sebuah foto keluarga, di foto itu ada Billy, kedua orangtuanya, dan seorang anak perempuan yang manis.

Tak lama Billy tampak menuruni tangga. Membawa beberapa buku di tangannya dan sebuah laptop.
“Kita ngerjain tugas di belakang aja ya,” katanya setelah menuruni anak tangga terakhir.
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum lalu mengikuti langkahnya dari belakang. Aku perhatikan Billy dari belakang, Billy tampak begitu keren dengan pakaian rumahnya. Cara dia berjalan begitu berkarisma, tatapan matanya tajam terbingkai indah di bawah alis matanya yang tebal, dan rahangnya yang kokoh menyiratkan sebuah pribadi yang kuat. Apalagi sikapnya yang dingin pasti bisa membuat semua orang makin terpesona. Tapi bukan aku.
Tiba-tiba saja,
Bruk…!!!
“Ngapain sih loe Zainab, jalan pake acara nabrak-nabrak,” Billy sewot.
“Yee, lagian salah loe. Ngapain pake acara berhenti mendadak. Kan gue nggak sempat ngerem. Dan satu hal lagi, panggil gue Zay not Zainab,” aku mencoba membela. Tapi Billy tampak cuek saja.

Aku dan Billy lalu duduk di atas karpet merah yang di depannya terdapat sebuah meja bundar. Seorang pembantu rumah tangga yang usianya sekitar 40an datang dengan membawa dua gelas es jeruk. Billy lalu menghidupkan power laptopnya. Beberapa menit kemudian, muncul sebuah foto yang menjadi background di laptopnya. Billy dengan anak kecil yang berkepala botak.
“Foto loe sama siapa itu Bil?” aku bertanya untuk menghilangkan rasa penasaran.
“Loe mau ngerjain tugas atau mau tau urusan gue? Udah deh nggak usah kepo,” tampak Billy langsung sewot.
Aku memilih mengalah. Malas saja rasanya kalau saat ini harus ribut dengan cowok yang galaknya minta ampun. Mending cepat-cepat menyelesaikan tugas dan aku bisa segera bebas dari dia.

Sepertinya Billy adalah orang yang perfectionist. Sepanjang mengerjakan tugas, dia tetap bisa untuk terus fokus. Cara dia berfikir, berdiskusi, menyampaikan pendapatnya sungguh membuatku terkesan. Tak hanya itu saja, setiap aku memberikan pendapat atau masukan dia selalu bisa menghargainya. Aku merasa beruntung bisa satu kelompok dengan Billy, walaupun dia sedikit galak. Setidaknya baru kali ini aku mengerjakan tugas kelompok yang benar-benar dikerjakan secara kelompok. Karena selama ini, selalu aku yang mengerjakanya sendiri dan teman kelompokku yang lain hanya numpang nama dengan balasan traktiran di kantin.

Dan memang benar jika segala sesuatu dikerjakan dengan bersungguh-sungguh pasti akan cepat selesai dan hasilnya pasti akan sangat memuaskan. Tugas selesai hanya dalam waktu lebih kurang satu jam setengah. Kami berdua sama-sama menghela nafas lega.
Setelah tugas selesai di print out, Billy lalu merapikan buku-bukunya dan mematikan laptopnya. Tapi lagi-lagi foto di background laptop itu masih membuatku penasaran. Siapa sebenarnya anak yang berkepala botak yang berfoto bersama Billy itu.

Aku lalu permisi pulang dan Billy berinisiatif untuk mengantarku sampai pintu depan. Tapi tiba-tiba saja dari arah dapur, muncul seorang anak berkepala botak persis sama dengan foto yang menjadi background tadi.
“Eh kakak, ada yang datang ya. Siapa kak, kok nggak dikenalin ke aku. Mmm, pacar kakak ya?” tanya anak kecil itu dengan senyum yang mengembang lebar.
“Namanya kak Zainab. Dia teman baru kakak di sekolah,” Billy menjawab sambil mengelus-elus pundak anak itu.
Aku melirik sadis ke arahnya, dan tampaknya Billy menyadari. Sudah sering aku peringatkan Billy untuk tidak menyebut nama itu tapi sepertinya Billy punya penyakit amnesia akut. Baru beberapa menit diperingatkan tapi sudah lupa. Ingin rasanya aku cakar-cakar mukanya biar gantengnya luntur sekalian. Menurutku tidak ada gunanya punya wajah ganteng tapi galaknya minta ampun dan punya penyakit amnesia akut.
“Kakak cantik deh,” kata anak itu lagi sambil tetap mengembangkan senyum lebarnya dan kali ini dia tersenyum untukku. Senyumnya yang tulus akhirnya memaksaku untuk membalas senyumnya.

Sejak pertemuan pertama, sosok mungil itu selalu membayangiku. Entah kenapa, dirinya bagaikan magnet yang bisa membius setiap aliran darahku. Cara matanya menatap, wajahnya yang lugu dan senyumannya yang tulus selalu terngiang di setiap mataku memandang. Aku juga bingung racun jenis apa yang sedang menggerogoti fikiranku, baru kali ini aku merasa tanggap, peduli, perhatian bahkan begitu penasaran akan sosoknya.

Saat ini aku berada di taman dekat parkiran sekolah, menunggu Billy datang. Kemarin aku juga sempat menunggunya tapi ternyata dia izin tak masuk sekolah. Dan kali ini aku sungguh berharap bisa bertemu dengan batang hidungnya.

Sepuluh menit sebelum bel berbunyi akhirnya kudapati sebuah ninja masuk ke pelataran parkir. Segera saja aku menghampiri pengemudi ninja yang kini tengah membuka helmnya.
“Billy, gue mohon kali ini loe jawab pertanyaan gue. Gue masih penasaran sama anak yang di rumah loe kemarin. Siapa sih?”
“Buat apa gue kasih tau. Apa untungnya buat loe?”
“Sekali lagi gue mohon. Please kasih tau gue anak itu siapa. Gue juga nggak tau sejak pertemuan gue sama dia, entah kenapa fikiran gue nggak bisa lepas dari dia. Jadi gue mohon kasih tau gue ya,” aku terus memohon dengan wajah memelas berharap Billy mau menjawab rasa penasaranku.
“Namanya Laura. Dia adik gue,” jawab Billy singkat.
“Adik? Beneran adik loe? Waktu gue lihat di foto keluarga loe, perasaan adik lo nggak,” belum selesai aku bicara Billy langsung memotongnya.
“Botak! Dia kayak gitu bukan karena kemauan dia, dia kena kanker darah,” terang Billy.
“Trus keadaan adik loe sekarang gimana?” tanyaku iba.
“Menurut prediksi dokter, gue bakal ngerasain punya adik cuma tinggal dua bulan lagi. Tapi sekarang orangtua gue lagi berusaha bawa dia berobat ke Amerika,” wajah Billy terlihat berusaha untuk tegar.

Seketika aku tertegun. Darah yang mengalir deras di tubuhku seakan berhenti seiring dengan berhentinya waktu di sekitarku. Aku merasa ada suatu beban yang tiba-tiba menyokong pundakku. Beban itu sangat berat, rasanya tubuhku tak kuat lagi menahanku untuk tetap berdiri. Persendianku terasa kaku, urat nadiku terasa tersayat, dan nyawaku berhenti bernafas. Udara terasa pengap dan paru-paru terasa berhenti bekerja. Aku tak habis fikir, takdir macam apa ini.
“Kenapa bengong. Loe pasti kaget kan?”
Aku masih tak sanggup berkata, mulutku kaku dan tenggorokanku begitu serak. Seperti ada pisau tajam yang saat ini tertancap di leherku.
“Sekarang loe udah tau semuanya. Seharusnya loe bersyukur sama hidup loe. Jangan bisanya cuma mempermasalahkan nama yang sebenarnya itu nggak penting untuk dibesar-besarkan. Seharusnya loe tu mikir, bagaimana caranya agar nama loe terlihat indah,” kata-kata Billy barusan berhasil membuat hati nuraniku bergetar.

Senyuman dan tawa lepas mereka selalu membuatku merasa jadi orang yang paling bahagia di seluruh dunia. Aku tak henti-hentinya mengembangkan senyum melihat mereka tertawa riang, bermain dan bernyanyi riang melepas beban. Aku bisa terbang ke langit ke tujuh dengan leluasa walaupun dengan satu sayap. Ya hanya satu sayap, karena sayap satunya lagi telah aku berikan pada mereka. Agar mereka juga bisa terbang bersamaku.

Tak pernah ada kata terlambat untuk berubah. Setiap orang berhak untuk berubah menjadi lebih baik kapan saja. Apalagi jika perubahan itu diikuti dengan niat yang kuat, percayalah setiap sendi di tubuh kita akan merespon dengan sempurna.

“Senang ya bisa melihat mereka tertawa,” bisik seorang cowok di sebelahku. Aku menoleh ke arahnya dan mengangguk yakin.
“Sekarang nama loe adalah sumber kebahagiaan mereka. Setiap mereka memanggil nama loe, satu beban mereka hilang. Dan loe sekarang percaya kan, kalo nama loe itu indah,” lanjut cowok itu.
Sekali lagi aku mengangguk mantap penuh keyakinan. Dan tiba-tiba saja ada yang menarik tanganku.
“Kak Zainab, kita nyanyi yuk,” ajak seorang anak.

Aku menuruti permintaannya. Sekarang aku tak lagi menghebohkan jika ada yang memanggilku dengan nama Zainab. Benar kata Billy, aku tak seharusnya membesar-besarkan hal kecil. Saat ini aku sangat bahagia karena telah menjadi sumber kebahagiaan bagi mereka. Mereka yang hidupnya kurang beruntung karena harus menanggung penderitaan akibat penyakit yang tak habis-habisnya menggerogoti sampai akhirnya mereka lelah untuk bertahan dan tidur panjang untuk selamanya.
Aku sangat berterima kasih pada Billy karena telah membawaku ke dunia yang selama ini tak pernah aku sentuh. Aku salut padanya, dibalik sikapnya yang dingin dan sedikit galak ternyata dia mempunyai pribadi yang penyayang. Yayasan kanker inilah yang membuatku bisa belajar banyak tentang arti kehidupan. Di sela-sela bernyanyi aku menatap Billy dan tersenyum indah padanya. Terima kasih, you are my best friend.

THE END

Cerpen Karangan: Noviana Kusumawati
Facebook: Http://facebook.com/noviana.kusuma24
TTL: Sragen, 24 November 2013
FB: http://facebook.com/noviana.kusuma24
Twitter: @novianaku

Cerpen The Beautiful Name merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dika, Zaki Dan Wahyu (Part 2)

Oleh:
Sudah hampir 15 menit aku menunggu Wahyu tapi tidak keluar-keluar. Aku jadi penasaran dan ingin masuk ke rumahnya, tapi kan kita tidak boleh masuk rumah orang tanpa seizin dari

Tersenyumlah Kawan

Oleh:
Tak pernah kulihat wajahnya tersenyum. Atau pun tertawa. Apa beban hidupnya terlalu berat? Tertawalah kawan. Rara. Gadis yang selalu ku ingin beri 1000 pertanyaan sekaligus. Kenapa ia tak pernah

Selembar Ladang Manis (Part 1)

Oleh:
Aku berjalan dalam duniaku, aku berimajinasi dalam mimpiku, aku berbagi dengan diriku, aku, aku ingin memikirkan semua tentang apa yang ingin aku lakukan. Rerumputan ini telah membangunkanku, menyadarkanku dari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *