The Power ff Liar (Sang Pembohong)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 14 March 2016

Di pintu masuk suatu kampung yang paling maju di daerah iwak toman, tampak ramai. Beberapa orang berseragam mengelilingi 3 orang anak muda yang membawa alat-alat musik. Ketika diperhatikan seragam yang dipakai oleh orang-orang tersebut adalah seragam petugas keamanan penduduk kampung tersebut yaitu kampung blangbetok. Seragam petugas keamanan kampung blangbetok yang berwarna oranye tersebut sangat menyala ditambah dengan terangnya lampu alam yang terik memikat warna seragam orang kampung ini. Menimbulkan aura segan bagi orang yang melihatnya ditambah tampang penduduk kampung berseragam ini terbilang seram, sebagian besar memelihara berewok dan kumis yang melintang namun tidak terurus.

Berbeda dengan anak muda yang ada di depan mereka, para anak muda ini terlihat kurus, agak kumal dengan pakaian atas kaus berbeda namun semuanya tidak jelas warnanya serta memakai celana jeans yang juga tidak jelas warnanya. Ketiganya kompak memakai setelan yang sama namun hanya berbeda penampilan. Satu pemuda berambut gondrong rapi dan agak jangkung, berkumis tipis dan mempunyai celak di mata. Pemuda ini tidak membawa apa-apa. Teman di sampingnya agak bertubuh gempal, sawo matang gelap, berambut ikal, dan gondrong serta membawa gitar. Sedangkan pemuda terakhir bertubuh putih bersih, kurus tinggi, dan berambut cepak terlihat agak rapi dari kedua temannya. Satu-satunya kesan kotor dan kumal adalah bajunya yang agak semerawut dan kotor. Ia juga membawa gitar seperti temannya.

Salah seorang berseragam yang berperawakan tinggi kurus serta berkulit hitam maju ke depan, seperti teman-teman berseragam yang lain, mukanya ditumbuhi kumis dan jambang yang tidak terurus. Dengan menimbang-nimbang kayu rotan yang panjangnya hanya setengah meter, dia memperhatikan ketiga pemuda di depannya, menyelidik, dari ujung kaki sampai ujung kepala. Dengan nada pelan namun kasar dia berkata, “Matanya buta ya? tidak melihat pengumuman di depan gapura,” dengan menggunakan kayu rotannya dia menunjuk gapura yang berada tidak jauh dari mereka. “Pengamen dan pemulung dilarang masuk,” melanjutkan dengan nada kasar dan lebih keras dari sebelumnya.

Kampung belangbetok merupakan sebuah kampung yang hidup dari restoran-restoran kuliner yang bertebaran di sepanjang jalannya. Maklum saja karena kampung ini terletak di dataran tinggi dibandingkan kampung kampung yang lain di daerah iwak toman. Pemandangannya yang aduhai dengan dikelilingi oleh bukit bukit, jurang, dan gunung silau ku pandang yang menjulang tinggi di sebelah barat kampung belangbetok.

Tidak heran di daerah ini menjadi tujuan para wisatawan lokal dan asing untuk menikmati keindahan serta bersihnya udara pegunungan. Pemasukan kas daerah terbesar didapatkan dari sektor ini, tidak heran pemerintah daerah mencanangkan untuk lebih meningkatkan pelayanan dalam sektor wisata. Hal-hal yang dirasa merusak ketertiban, ketenteraman, kekhawatiran, keindahan para pengunjung dibasmi. Para pengasong jalanan, bandit-bandit tanggung, warung emperan, warung remang-remang, bahkan para pengamen semua dihilangkan.

“Kampung belangbetok harus teratur dan terorganisir yang rapi serta bebas dari semua yang mengganggu!!” tegas Pak Jokono, lurah terbaru.

Semuanya dilokalisasi ke tempat baru, semuanya terencana untuk penempatan, pasar ada tempatnya, hotel ada tempatnya, lokalisasi ada tempatnya, perumahan ada tempatnya, restoran ada tempatnya. Namun peraturan-peraturan yang diterbitkan oleh pemerintah daerah sering dipakai kaku oleh para bawahannya. Harusnya memang ada training dan pelatihan serta sosialisasi tentang peraturan daerah ke seluruh jajaran pemerintahan sehingga satu suara. Seperti peraturan pelarangan adanya pengamen saja, harusnya pemerintah daerah jangan kaku. Mereka harus merekrut para pengamen sehingga tidak berkeliaran, diorganisir kalau istilah manajemennya. Sehingga mereka bisa menghibur para pengunjung di tempat dan waktu yang tepat dan tidak dikejar-kejar petugas berpakaian oranye.

Tidak selalu menyewa artis atau group band terkenal untuk menghibur. Toh mereka tidak tiap hari menghibur para pengunjung karena mahalnya menyewa para selebritis. Pernyataan pak Jokono sebenarnya sudah jelas dan mengarah ke arah sana. Namun pelaksanaan di lapangan oleh jajaran bawahannya yang terlalu baku dan kurangnya sosialisasi ditambah pak Jokono semenjak dilantik sering melakukan sidak ke hotel-hotel, lokalisasi dan restoran sisanya ngendon di kantor kelurahannya. Akhirnya selalu terjadi tindakan-tindakan pengusiran seperti yang selalu terjadi di pintu masuk kampung, salah satunya kejadian siang ini.

“Loh.. kita bukan pengamen loh Mas, kita dermawan yang mau menyumbangkan suara kami pada masyarakat di sekitar sini. Kalau merasa terhibur wajar dong Mas kita dapat bayaran dari kedermawanan kita. Lah wong orang besar saja kalau bisa menghibur atasannya malah bisa dapat bisnis besar dan uang banyak, masa kita yang rakyat biasa gak dapat,” seru sang pemuda yang bercelak mata, sambil tersenyum sopan dan mengangguk untuk menghindari tatapan mata dari sang pria berseragam. “Oh, para dermawan ya? Loh kok pada kumal ya,” ujar pria berseragam lunak dan sopan. Kata-kata dermawan membuat sikap para pria berseragam tersebut menjauh dan menjadi berubah sopan.

“Mobil kami dirampok di kampung sebelah Mas, cuma ini harta kami satu-satunya,” seru sang pemuda berbohong, “tolong dibantu lah Mas supaya kedermawanan kami dihargai oleh masyarakat terpandang di kampung ini, siapa tahu pencuri mobil kami mendengar suara kedermawanan kami sehingga tergugah dan akhirnya mengembalikkan mobil kami,” sambung sang pemuda. “Bolehlah, kebetulan daerah kami ini belum ada dermawan dalam hal tarik suara atau bermusik yang murah seperti kalian, silahkan ke kantor kami dahulu untuk membuat izin,” seru pria berseragam di depan mereka.

Para teman-temannya juga manggut-manggut dan tersenyum menyetujui perkataan pria berseragam yang berada di depan para pemuda. Hanya kedua teman sang pemuda bercelak yang tampak bingung dan garuk garuk kepala, “The power of voice,” seru temannya yang gempal dengan menengadahkan tangannya kedepan seperti menyambut sesuatu dari langit. Sedangkan pemuda yang berkulit putih hanya geleng geleng kepala dan berkata kepada temannya yang gempal, “Kata pengamen diubah menjadi dermawan musik.. baru kali ini ku dengar,” serunya sambil tertawa.

Ketiganya tertawa sambil memasuki kampung belangbetok diiringi pandangan sang lampu alam yang tersenyum lebih cerah melihat kaki-kaki sang pemuda menapaki kehidupan mereka. Kelak mereka akhirnya menjadi legenda di daerah tersebut karena menjadi satu-satunya pengamen yang diizinkan secara resmi dan berhasil mengorganisasi para pemuda menjadi pengamen profesional. Sesuatu yang tidak mungkin bisa menjadi kenyataan jika dilakukan. Walaupun hal tersebut mustahil tetapi tidak mungkin bisa berhasil. Dengan sedikit kebohongan demi kebaikan kenapa tidak dilakukan demi membongkar tirani yang berdiri mengurung setiap langkah kehidupan di dunia ini. “Lakukanlah dahulu, untuk hasilnya biarkan proses yang akan berjalan, terpenting langkah pertama.”

Cerpen Karangan: Asep Kurniawan
Blog: https://aanfutureimagine.wordpress.com
Nama: Asep Kurniawan
Alamat Email: aan_future[-at-]yahoo.com
Alamat Facebook: asep.kurniawan.35762[-at-]facebook.com
Kelahiran Palembang tanggal 10 September 1978, lebih mencintai tanah kelahirannya. Sampai suatu ketika tiba waktunya untuk membuka mata, pikiran serta hatinya untuk melihat keindahan kota-kota lain di dunia ini. Menamatkan dengan baik Sekolah Dasarnya di SD 1 PUSRI PALEMBANG, SMPN 8 PALEMBANG, SMUN 7 PALEMBANG, dengan predikat anak baik, tanpa nark*ba, tanpa minuman keras, tanpa pernah berkelakuan tidak baik atau mendapat catatan hitam di kepolisian serta tanpa dikejar-kejar oleh orangtua untuk dinikahi anak perempuannya, untungnya…

Berbekal predikat tersebut saya merantau di negeri seberang yaitu tanah jawa. Tanah kelahiran orangtuaku yaitu ayahku yaitu Jawa Barat. Tepatnya di kota bandung untuk melamar menjadi mahasiswa di perguruan tinggi ITB, namun gagal total karena ternyata otakku masih kalah encer dengan calon-calon lainnya. Akhirnya aku pun terdampar di Kampung Paling Besar di Negara ini adalah Jakarta. Aku pun akhirnya mendapat predikat gelar mahasiswa di salah satu kampus negeri Kementrian Perindustrian dan Perdagangan (dahulunya masih digabung karena sering berebutan jatah akhirnya sampai dengan tulisan profil ini saya buat alhamdulillah sudah dipisah) yaitu APP (Akademi Pimpinan Perusahaan) ceritanya sih pengen jadi Direktur itu pun kalau ada modal, tapi apa daya tangan tak sampai jadi karyawan pun masih Alhamdulillah, mengambil jurusan Perdagangan Internasional.

Tahun-tahun di kampus aku abdikan dari tahun 1997-2001 serta termasuk predikat mahasiswa paling beruntung karena tidak menjadi korban penganiayaan aparat ketika demo mahasiswa untuk menurunkan Presiden Soeharto. Aktif dalam kegiatan Mapala, sepak bola kampus walaupun jadi cadangan dan pemandu sorak, aktif dalam berorganisasi dengan organisasi bentukan dadakan oleh anak-anak kost yang memang belum punya kerjaan terpenting ada ide dan kumpul bahkan aktif dalam dunia jurnalistik walaupun hanya baru sebagai penikmat dan pengamat. Termasuk mahasiswa pencinta buku yang hobi mengkoleksi buku apa pun serta mempunyai hobi menulis walaupun belum pernah kesampaian.

Berbekal ijazah aku pun mendapatkan perkerjaan sebagai EDP (Entry Data Processing) di sebuah perusahaan advertising yang kebetulan menangani ponsel Ericcson. Sambil berkerja ku teruskan untuk berkuliah mengambil Strata 1 di Universitas Nasional Jakarta jurusan Hubungan Internasional. Kecintaanku pada literatur sejarah dunia, Tokoh-tokoh besar dunia, semakin terbuka ketika mengambil jurusan ini. Pemikiran-pemikiran Islam dan Barat beradu argument di kepalaku, tokoh-tokoh sentralnya pun tidak luput dari perhatianku.

Selama berkuliah di Universitas Nasional ini sudah dua kali berganti
perkerjaan. Untuk di perusahaan advertising saya abdikan dari bulan Juni 2001-Maret 2002. Setelah itu saya bergabung dengan PT Summit Plast Cikarang sebagai team Leader. Saya abdikan di perusahaan tersebut dari bulan Oktober 2003-Jan 2004. Selepas mendapatkan predikat Sarjana Strat 1 dengan gelar Sarjana Politik saya pun bergabung di PT Yomart Rukun Selalu dengan spesifikasi perkerjaan retail dari tgl 14 september 2006-15 mei 2011 jabatan terakhir sebagai Spv area untuk daerah Bandung.

Di bulan Mei 2011 saya pun bergabung di PT MNC SKY VISION bergerak di bidang Pay tv (saluran tv berlanganan) sebagai spv area untuk daerah Cirebon, Majalengka dan Kuningan. Saya abdikan di perusahaan ini sampai dengan bulan Maret 2012. Terakhir saya mengabdikan diri saya masih didunia retail yaitu retail garment di perusahaan PT Sandang Makmur Sejati Tritama dengan brand Royalist sebagai Spv Wilayah Indonesia Bagian Timur yang meliputi semua area Jawa kecuali Jabodetabek, Sulawesi dan Kalimantan.

Saya sekarang mempunyai keluarga kecil yang masih menuju bahagia, dengan dianugerahi seorang istri bernama Lina Marlina dan sepasang anak. Anak pertama yaitu perempuan bernama Adinda Zahra Putriana dan adiknya laki-laki bernama Fathi Rizqi Faqihazam Zuhdi (azam). Kami sekarang menetap di kota bandung yang indah nan sejuk.

Cerpen The Power ff Liar (Sang Pembohong) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Biasanya Putih

Oleh:
Udara panas menyelimuti kota siang itu, matahari bersinar sangat terik tanpa penghalang awan di langit, dan angin seakan-akan tak berhembus yang membuat cuaca semakin panas dengan sempurna. Terlihat Deni

Air Mata Ke Seribu

Oleh:
Kabar pernikahanmu sudah sampai padaku, sayang. Undangan merah jambu dengan motif bunga-bunga kecil terasa manis menghiasi pinggiran kertas. Tak terasa sudah 25 tahun sejak hari itu. Bahkan aku tidak

Tukang Sampah dan Kampanye

Oleh:
Supeno kerahkan seluruh tenaga untuk mendorong gerobak sampah warna kuning miliknya hingga melesat lebih kencang dari biasanya. Pakaian kumal compang-camping yang ia kenakan basah kuyup oleh keringat. Napasnya tersengal-sengal

Gara Gara Wawancara

Oleh:
Semilir angin malam terasa begitu sejuk bagi Pak Abu. Setelah seharian ia bergelut dengan berbagai macam pertanyaan dan silaunya blitz kamera, akhirnya selesailah sudah bebannya untuk hari ini. Menjadi

Pedagang Bakso Yang Sabar dan Baik

Oleh:
Pak hasan adalah seorang pedagang bakso, suatu hari dia berangkat dengan membawa gerobak baksonya di terminal bus Pulo gadung, saat sampai di terminal dia dipalak oleh seorang calo, akhirnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *