The Real Monster (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 28 August 2017

“Presentasi kita kacau, parah banget! Ini gara-gara si Fajri nggak masuk,” Maya berujar kesal ketika Ia bersama teman-temannya baru saja beranjak meninggalkan kelas. Bibir ranumnya mengerucut, menandakan betapa buruk suasana hatinya sekarang.

“Materi presentasi kita ada sama dia, ‘kan? Dan dia juga kebagian tugas jadi narator utama, harusnya hari ini dia nggak ngilang tanpa kabar kaya gini. Atau kalau emang mau absen ya seenggaknya dia kabarin kita lah, jadinya kan aku bisa ngambil materi presentasi kita ke rumahnya!” Lanjutnya, masih dengan bersungut-sungut dan wajah yang ditekuk. Kedua tangannya terlipat di depan dada.

Ia tampak begitu kesal. Bagaimana tidak? Tugas presentasi Bahasa Indonesia yang mengusung tema ‘Narkotika dalam Kehidupan Remaja’ itu berantakan gara-gara tidak ada materi yang bisa Ia dan anggota kelompoknya bacakan di depan Guru tadi. Tentu saja hal itu membuat mereka harus merelakan nilai untuk presentasi kali ini berkurang beberapa poin. Padahal mereka sudah susah payah menyusun materi presentasi sedemikian rupa agar mendapat nilai maksimal, tapi gara-gara si Fajri yang menyebalkan itu semuanya jadi kacau. Ini tentu sangat merugikan, bukan?

“Ya sudahlah, May.. mau gimana lagi? Toh kita juga salah. Seharusnya kemarin kita nggak nitipin tugas itu ke Fajri yang jelas-jelas dari awal udah nggak niat banget bantu nyusun presentasi,” Milly pun kini ikut bicara. Wajahnya tampak santai, sama sekali tidak kelihatan raut muka kesal seperti yang Maya perlihatkan. Ia bahkan masih sempat memperagakan setiap kata yang dia tuturkan melalui gerakan tangan.

“Eh, tapi anak itu ke mana, ya? Sakit atau gimana? Nggak biasanya dia absen tanpa keterangan?!” Pertanyaan Milly kali ini membuat semuanya tampak berpikir, menerka-nerka. Benar juga. Ke mana perginya Fajri, ya?
Yura yang tadinya cukup anteng berjalan di belakang tiba-tiba berseru. Membuat semuanya sontak mengalihkan pandang ke arahnya.
“Kudengar semalam dia nggak pulang,”

Bahkan Flor yang sejak keluar dari kelas lima menit yang lalu hanya membungkam mulutnya, menjadi pendengar setia untuk semua celotehan teman-temannya itu pun kini ikut membeliakkan mata.

“Tahu dari mana?” Tanyanya cepat. Yura tampak begitu malas menanggapi. Semuanya tahu, Yura memang memiliki kepripadian yang lebih tertutup dibandingkan teman-temannya yang lain. Sosoknya begitu dingin, sangat sulit menebak apa yang dia pikirkan kalau hanya dengan sekali lihat.
“Aku nggak sengaja dengar pas Ardo lagi terima telepon tadi pagi, sepertinya sih dari Papanya Fajri yang galak itu. Sebenarnya aku nggak terlalu menangkap dengan begitu jelas apa apa saja yang mereka bicarakan, yang pasti aku sempat dengar Ardo menyebut-nyebut masalah nggak pulang gitu.”

Dari mereka semua, hanya perubahan raut muka Flor yang paling kentara. Bukan reaksi terkejut seperti yang teman-temannya perlihatkan, melainkan semburat ekspresi bingung dan juga.. takut. Apa hanya Ia saja yang berpikir kalau Fajri, temannya yang sangat menggilai dunia olahraga itu menunjukkan tingkah yang sedikit aneh akhir-akhir ini?

“Apa Fajri senakal itu sekarang?” Maya bertanya dengan nada setengah tak percaya.
“Aku nggak bilang begitu!” Sahut Yura.
“Menurutku ada yang berubah darinya belakangan ini. Dia jadi sering menghilang sekarang, jarang gabung sama kita, bahkan di kelas juga jarang ngobrol. Dia lebih banyak diam, habis itu tidur. Dan penampilannya, aduuhh.. bukan Fajri banget. Baju nggak rapi, sepatu kotor, dasi miring kanan miring kiri, rambut berantakan, muka kusut. Dan sekarang ada lagi kabar kalau dia ternyata nggak pulang ke rumah. Sejak kapan coba dia jadi berandalan begitu? Aneh banget nggak, sih?” Perbincangan siang itu masih terus berlanjut, dan penuturan Milly barusan membuat suasana menjadi lebih serius. Menciptakan ketegangan yang tidak bisa diakhiri hanya dengan satu tarikan napas panjang, atau segaris senyum palsu yang coba ditorehkan.

Sambil melangkah, diam-diam Flor menahan napas. Ternyata bukan hanya Dia saja yang merasa seperti itu. Milly juga menyadari perubahan yang cukup signifikan dalam diri seorang Fajri. Dan kini perasaan gelisah yang tertanam dalam dirinya itu malah semakin memuncak. Mendengar pendapat Milly mengenai Fajri yang Ia paparkan tadi membuat tubuh Flor gemetar. Takut. Tiba-tiba terngiang di dalam benaknya materi presentasi yang seharusnya Ia bawakan hari ini, pembahasan mengenai Narkotika dan Obat-obatan Berbahaya. Berkelebat di kepala, membuatnya semakin gelisah dan mau tak mau mulai mempertimbangkan kegelisahannya itu.

Temannya itu sudah banyak berubah. Perubahan yang sebenarnya nyaris Ia kenali, tapi tak ingin Ia percayai. Karena perubahan yang dilihatnya dalam diri Fajri itu hampir sama seperti yang tertulis dalam artikel yang Ia baca beberapa hari lalu saat menyusun tugas presentasi di rumah Maya. Perubahan sikapnya belakangan ini membuat Flor curiga. Apakah dia…
Flor menggeleng cepat. Tidak! Tidak! Tidak mungkin. Ia sama sekali tidak ingin memiliki pemikiran buruk terhadap temannya itu. Lagipula Ia tahu Fajri anak yang baik. Ia tidak boleh berlebihan curiga padanya. Tidak boleh!

“Iya benar. Bahkan nggak cuma Fajri, tapi Ardo juga. Dia juga sama anehnya.” Tapi mendengar ucapan Maya itu, kepercayaan Flor terhadap dua teman prianya yang sudah mulai Ia kokohkan lagi mendadak runtuh kembali.

Belum ada dua detik setelah Maya menyelesaikan perkataannya, suara berat nan dalam akibat hormon testosteron yang masih gencar-gencarnya berkembang itu membelah perbincangan mereka berempat. Suara yang sudah pasti akan mereka kenali tanpa terlebih dahulu melihat siapa pemiliknya. Itu Ardo.

“Pada ngapain nih? Kelihatannya seru banget. Gosipin apaan?”
Semuanya saling menatap, seolah saling memberi isyarat untuk tidak mengatakan apapun pada anak itu.
“Ee.. nggak ada apa-apa. Cuma ngobrol biasa.” sahut Milly. Bohong, tentu saja.
“Oh, kupikir ada yang penting. Ahh ya, bagaimana kalau kalian ikut denganku sekarang? Kita pergi bermain!”
“Ke mana?” Tanya Yura.
“Ada lah, tempat rahasia. Tempat yang bisa membuat kalian semua senang. Pokoknya nggak bakal nyesel deh kalau kalian ikut aku sekarang. Aku berani jamin itu!”
Tidak ada yang tertarik dengan tawaran itu pada awalnya, tapi mendengar Ardo terus membujuk, melontarkan berbagai kalimat yang kedengarannya sangat menggiurkan, pada akhirnya mereka mengangguk juga. Setuju untuk ikut bersama Ardo, kecuali Flor.

“Yakin nggak mau ikut?” Tanya Ardo sekali lagi, masih berusaha membuat Flor mengubah keputusannya, namun jawaban gadis itu tetap sama. Ia menggeleng, menolak dengan lebih tegas.
“Aku harus langsung pulang. Ibuku menunggu di rumah.”
“Ya sudah nggak apa-apa. Kalau begitu sampai ketemu besok, Flor!” seru Milly.
Flor berusaha mengulum bibirnya ketika Milly melambai padanya, disusul teman-temannya yang lain. Mereka berpisah disini. Di depan gerbang sekolah. Sebenarnya Ia ingin ikut bersama mereka, kedengarannya sangat menarik saat Ardo berceloteh tadi, tapi tidak bisa! Ada hal lain yang perlu Flor lakukan sekarang. Yang lebih penting. Bukan pulang ke rumah karena Ibunya sudah menunggu, tapi Ia akan pergi ke rumah Fajri.
Ya. Ia harus menemuinya.

Mereka semua bertukar pandang, mengernyitkan kening saat langkahnya ternyata berujung pada sebuah tempat kumuh di balik bangunan tua yang pondasinya sudah mulai lapuk. Kotor, gelap, dan lembab. Bau tidak sedap segera merasuki indra penciuman ketika Ardo membawa mereka masuk lebih dalam.

Tidak ada yang tahu itu tempat apa, dan kenapa Ardo mengajak mereka ke sana. Setiap ditanya, bocah itu hanya berkata kalau mereka akan tahu nanti dan meminta mereka untuk mengikutinya saja. Awalnya tidak ada satu pun yang membantah, tapi begitu melihat keadaan sekeliling yang semakin diperhatikan semakin mengerikan itu satu per satu dari mereka mulai melayangkan kalimat protes. Keputusan Ardo membawa mereka ke tempat itu benar-benar sangat mengejutkan. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah kenyataan bahwa Fajri ternyata ada di sana.

“Kamu kok di sini sih bukannya ke sekolah? Kamu tau, hari ini kamu sudah bikin presentasi tim kita hancur!” Maya mengepalkan tangannya di depan wajah, tampak begitu geram dengan bocah lelaki di hadapannya. Kekesalannya saat di sekolah tadi rupanya masih berlanjut sampai sekarang.
Pria itu tidak menjawab, hanya melirik teman-temannya bergantian, kemudian bangkit dari kursi kumuh yang sudah renta.

“Bang Kris ada?” Ardo mendekat ke arah Fajri, berbisik lirih di samping telinganya. Sesekali Ia menoleh ke belakang, melihat barisan tiga gadis yang diboyongnya dari sekolah.
“Lagi pergi. Tapi di dalam ada Bang Jodi” katanya, kemudian Ia mengambil langkah. Baru sejengkal, pergerakannya kembali terhenti oleh pertanyaan Milly.
“Mau ke mana?”
Fajri meliriknya sekilas. Lalu menjawab dengan sangat datar.
“Pulang!”
“Loh.. loh.. Fajri! Fajri!” Pekikan Milly tak dihiraukannya. Fajri tetap melaju, meninggalkan tempat itu dengan langkah lebar-lebar. Semuanya mengerutkan alis. Heran.
“Dia benar-benar aneh sekarang!” gumam Milly.

“Tunggu dulu deh! Ini sebenarnya tempat apaan sih? Kamu ngapain ngajak kita ke sini, Do? Dan si Fajri kenapa bisa ada di sini? Oh, jadi semalaman dia di sini, dan kamu tau itu?”
Ardo mendesah begitu mendengar pertanyaan Yura. Binar di matanya berubah, lebih tajam dan dingin sekalipun bibirnya masih tetap menyunggingkan seulas senyum.
Itu bukan Ardo. Sama sekali bukan Ardo.

“Masuk aja, yuk!”
“Kasih tahu dulu ini tempat apa?” Desak Yura. Ia mengitarkan pandangannya, mengamati sekeliling.
“Tempat nongkrong anak-anak gaul jaman sekarang. Udah ayok masuk aja!”
Tidak ada yang menolak. Semuanya kembali luluh dengan bujukan Ardo yang lagi-lagi terdengar sangat menggiurkan di telinga. Langkah kaki mereka berderap memasuki sebuah rumah kecil yang tak kalah mencekamnya, hanya saja tempat itu lebih bersih daripada yang mereka lihat diluar. Setidaknya ketika daun pintunya dibuka, tidak ada bau busuk yang menyengat dari dalam.

Semuanya kembali mengedarkan pandangan. Rumah itu tidak terlalu luas, namun juga tidak bisa dibilang sempit. Meski cat putih yang melapisi dinding rumah itu banyak yang sudah mengelupas, tapi pondasi bangunan itu kelihatannya masih cukup kokoh. Disana ada satu meja berukuran besar dengan botol bir berserakan di atasnya. Sepertinya tempat itu baru digunakan untuk pesta mir*s.
Oh, astaga! Apa Fajri terlibat dalam pesta itu juga?

Ardo memanggil seseorang, lalu sesosok lelaki jangkung dengan penampilan acak-acakan muncul dari balik pintu lima detik kemudian. Mungkin itu kamar tidur, gudang, atau.. entahlah. Mereka semua memandang lelaki itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk dapat menyimpulkan bahwa penampilan lelaki itu sama sekali tidak lebih baik dari seorang preman pasar.

Bajunya lusuh, kumuh, seperti tidak pernah tersentuh air lebih dari dua bulan. Rambutnya yang diwarnai sedikit merah dibiarkan jatuh sembarangan, matanya sayu dan wajahnya lesu seperti orang yang menderita insomnia selama berminggu-minggu. Kacau. Mungkin hanya kata itu yang pas untuk menggambarkan sosoknya. Bahkan kata ‘kacau’ saja sepertinya masih belum cukup untuk mendeskripsikan penampilannya yang ambur-adul. Sebenarnya lelaki itu masih cukup muda, usianya mungkin sekitar 25-26 tahun, tapi cara dia berpenampilan membuatnya kelihatan jauh lebih tua dari usianya sendiri.

“Wuishh.. lu bawa temen, Do?” lelaki itu menyambut hangat kedatangan Ardo. Wajahnya tampak lebih hidup ketika melirik ke arah tiga gadis berseragam SMA yang berdiri di belakang Ardo.
“Iya, mereka teman-teman saya, Bang. Rencananya saya mau ajak mereka untuk gabung, makanya saya bawa mereka ke sini” sahut Ardo, membuat semuanya terhenyak.
“Lu mau ajak mereka gabung? yakin lu?”
“Yakin lah, Bang.. mereka juga pasti mau kok!”
“Bagus kalau gitu! suka nih gue yang kaya begini.. haha”
“Maksud kamu gabung apaan, Do?” Suara Milly membuat tawa lelaki itu reda. Ia dan Ardo bertukar pandang, seolah saling bicara melalui telepati yang sama sekali tidak bisa dimengerti siapapun. Beberapa detik, sampai Ardo kembali memandang mereka sambil tersenyum miring. Dan lelaki itu berujar,
“Sebentar! Gue ambil barangnya dulu!” Ia lantas menelusup kembali ke dalam ruangan tempat Ia muncul beberapa saat lalu.
“Barang? barang apaan?” Maya mengerutkan kening.
“Sebenarnya kita ngapain sih, Do? Ini rumah siapa? Mas-mas yang tadi itu siapa? Dan barang yang Dia maksud itu barang apa? Sumpah aku nggak ngerti banget!” Keluh Milly.

Belum sempat Ardo menjawab apa-apa, lelaki itu kembali muncul dari balik pintu. Senyum miring Ardo mengembang sembari meraih ‘barang’ yang dibawakan lelaki itu untuk mereka.
“Kalian mau coba ini?”
Semuanya tercekat. Matanya membeliak lebar begitu menyaksikan ‘barang’ yang diperlihatkan Ardo di hadapan mereka. Milly bahkan membungkam mulutnya dengan kedua tangan.
“Ardo? Ini…” Maya tidak melanjutkan kalimatnya. Bibirnya bergetar ketakutan.
“Guys.. kita ini udah gede, udah waktunya kita seneng-seneng. Dan aku punya barang bagus yang pastinya akan bikin hidup kalian jadi lebih berwarna. Lebih keren. Kalian lihat ini?” Ardo menunjukkan satu bungkus pil berwarna kuning yang sengaja Ia angkat setinggi wajah.

“Semua ini bisa bikin kalian merasa senang, bebas, lepas. Kalian pasti tahu lah, usia-usia seperti kita ini adalah usia dimana kita biasanya merasa jenuh sama rutinitas sehari-hari. Pasti ada lah saat dimana kita merasa lelah, bosan, belum lagi masalah-masalah internal yang ada di rumah dan selalu bikin pusing. Keluarga, misalnya. Ada saatnya kita merasa capek sama hidup kita sendiri. Itu wajar. Tapi, sekarang aku punya solusi. Saat kita rasain semua itu maka yang kita butuhin cuma satu. Pelampiasan untuk bikin hidup jadi lebih menyenangkan. Dan benda-benda kecil ini adalah pilihan yang paling simple!” Ardo melanjutkan, memaparkan dengan menggebu-gebu sambil sesekali melirik ke arah Jodi yang berdiri di sebelahnya.

Semuanya masih diam. Tanpa reaksi. Tapi Ardo tidak menyerah begitu saja. Ia kembali melontarkan satu kalimat yang lagi-lagi terdengar begitu menggiurkan. Entah kenapa semua kalimat yang dituturkan Ardo hari ini bagaikan magnet yang tak pernah gagal menarik simpati teman-temannya.

“Ayolah..! Jaman sekarang tuh cuma anak cupu yang nggak berani nyoba beginian!”
Maya maju satu langkah, mendekat pada Ardo.
“Do! Baru aja kita bahas tentang Narkotika di sekolah, dan kamu tahu dampak yang akan terjadi nantinya, kan?”
“May, gini ya.. sekarang aku tanya. Apa kamu pernah ngerasain yang namanya ekst*si? Apa kamu pernah tahu gimana efeknya setelah coba barang itu? Nggak kan? Kamu lihat aku sekarang! Aku baik-baik aja, seneng seneng aja. Bahkan aku merasa hidupku jauh lebih menyenangkan setelah aku bergaul sama benda-benda ini. Kamu lihat Fajri! Bahkan si juara kelas aja berani nyobain barang beginian, dan dia nggak ngerasa ada masalah tuh! Sebagai orang yang otaknya encer, udah pasti dia paham banget apa itu narkotika dan seperti apa efeknya. Tapi nyatanya dia tetap nyoba, kan?”
Mereka kembali membelalakkan mata serempak. Terpekik kaget mendengar penjelasan terakhir yang dituturkan Ardo.

“Fajri? Jadi, dia ‘pemakai’?” Milly tidak percaya. Mereka semua juga tidak percaya. Bahkan semua orang yang mengenal Fajri pasti juga tidak akan percaya. Anak itu selalu menunjukkan sikap baik, ramah kepada semua orang, prestasinya di sekolah juga lumayan bagus. Siapa yang tidak akan terkejut saat mendengar kalau anak itu ternyata seorang ‘pemakai’?
“Sejak kapan?” Sambung Yura.
“Tiga bulan yang lalu!”
Hening. Tidak ada yang bersuara setelah itu. Udara yang mengalir di atas kepala mereka seperti berhenti bergerak, menciptakan suasana yang lebih mencekam dari sebelumnya. Sampai Ardo berseru lagi,

“Jadi, gimana sekarang? Kalian lebih pilih ngikutin trend atau terus-terusan bertahan jadi pelajar primitif? huh?”
Masih tidak ada jawaban.
“Ayolah..! Kalian semua nggak akan pernah tau kalau nggak pernah nyoba!”

Melihat gadis-gadis itu masih membeku, berdiri gemetar dengan wajah pasi, lelaki yang Ardo panggil ‘Bang Jodi’ itu segera berjalan menuju meja. Ia keluarkan beberapa benda yang semula tersimpan di dalam tas, lalu mulai menyebutkan namanya satu per satu.
“Ini salah satu jenis psikotropika. Namanya amfetamin!” tunjuknya pada salah satu benda, membuat perhatian mereka segera teralih.
“Sering digunakan untuk meningkatkan daya tahan dan kewaspadaan, menghilangkan rasa letih, lapar, dan kantuk, memberikan efek gembira (euphoria), dan sebagai doping untuk meningkatkan prestasi diatas kemampuan normalnya” jelasnya.
“Nah kalau yang ini kalian pasti udah nggak asing lagi, namanya Shabu. Kalian pasti sering lihat di acara TV, ‘kan?” Jodi menatap mereka sejenak, kemudian melanjutkan kembali.
“Gue juga punya kok*in, m*rfin, meth*don, L*D, B*Z, cod*ina, dan juga her*in yang akhir-akhir ini lagi booming banget di Indonesia. Paling banyak dicari dan paling diminati oleh pecandu nark*ba. Termasuk gue. Gimana? kalian tertarik buat coba salah satunya? untuk kali ini gue kasih gratis buat kalian kalau kalian emang masih mau coba-coba!”

Masih tidak ada jawaban juga. Mereka memandang benda-benda terlarang yang kini tersebar di atas meja, memperhatikannya satu per satu. Garis wajahnya kaku seolah sedang berpikir keras. Lalu tiba-tiba Yura menjulurkan tangannya, meraih satu jenis pil berwarna kuning.
“Yang ini namanya apa tadi?”
Semuanya menoleh ke arahnya. Begitu pula Ardo yang diam-diam tersenyum lebar.

Cerpen Karangan: Anita Kurniastuti
Facebook: Anita Taa

Cerpen The Real Monster (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Derita Di Penghujung Usia

Oleh:
Ia hanya terbaring lemah tak berdaya. Tubuhnya tak bertenaga lagi. Tak sejaya dulu saat berusia 30an. Kini wajah cantiknya yang selalu terpoles sepabrik bedak kosmetik itu mulai keriput. Rambutnya

Ada Mei Di Bulan Juni

Oleh:
Senin pagi di awal bulan juni, ku mulai perjalanan menuju sekolah yang berada di desa tetangga. Namaku Kara Febrian, aku duduk di bangku kelas 3 SMA. Seperti biasa aku

Hingga Semua Orang Tahu Siapa Diriku

Oleh:
“Kepada, Annisa kelas 9-a, harap menuju ke sanggar tari sekarang,” bunyi sound system memanggilku. Aku pun langsung pergi berjalan menuju kantor ditemani dengan Sarah, sahabatku yang selalu bersamaku. “Cie,

I Hate U Somad (Part 1)

Oleh:
Kenalin nama aye Somad ramdan, aye sekolah kelas 2 SMA. Aye anak pertama dari dua bersaudara. Sekarang aye lagi suka banget sama perempuan cantik di kelas, namanya Anggun. Dari

Ranah Itu Bertuan, Malam Diperuntukkan

Oleh:
Yang kutahu dirinya adalah anak dari keluarga terpandang. Entah itu benar ataupun salah, aku pun kurang yakin. Terlebih kulihat beberapa warga selalu menundukkan kepala acapkali orangtua Janni lewat. Hari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *