The Real Monster (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 28 August 2017

Setelah hampir dua jam menunggu di teras rumah Fajri, Flor akhirnya melihat bocah itu datang dari kejauhan. Langkah kakinya yang bertambah cepat menandakan kalau Fajri sudah melihatnya. Flor segera bangkit, menyambut bocah itu begitu dia tiba di hadapannya.

“Habis dari mana?”
Pertanyaan Flor sama sekali tak diindahkannya. Flor bahkan sempat terkejut ketika menyadari temannya itu datang dengan sangat berantakan. Pakaiannya tidak rapi, tali sepatunya tidak terikat dengan benar, rambutnya acak-acakan seperti dua hari tidak disisir, matanya sayu dan wajahnya kelihatan lelah. Jujur saja, melihat keadaannya saat ini membuat Flor semakin merasa gelisah.
Apa yang terjadi dengan anak itu? Bagaimana jika pemikiran buruknya tentang anak itu memang benar?

“Ngapain di sini?” Kalimat itu sama sekali bukan jawaban dari pertanyaan Flor barusan, tapi Ia sama sekali tidak berniat untuk melakukan protes.
“Ku dengar semalam kamu nggak pulang. Dan hari ini nggak masuk sekolah. Itu sebabnya aku ke sini, karena aku mau tanya, kenapa?”
Bukannya lekas menjawab, Fajri malah mendesis sinis. Mata sayunya menatap Flor tajam, membuat gadis itu memundurkan langkahnya beberapa jengkal. Tidak sampai satu langkah, sepertinya.
“Pulang sana!”

Flor terhenyak. Fajri mengusirnya? Apa dia benar-benar mengusirnya? Anak itu tidak pernah seperti ini sebelumnya. Flor sering datang ke rumahnya dan Ia tidak pernah diusir sekalipun Fajri sedang sangat lelah dan ingin istirahat. Tapi kali ini?
Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa semua ini malah membuat Nenden merasa kalau anak itu tidak seperti Fajri yang Ia kenal. Dia berubah. Berubah menjadi sangat buruk. Flor nyaris tidak dapat mengenali sosoknya yang sekarang.

“Kenapa nggak ke sekolah?” Flor masih mencoba tenang. Berusaha mengendalikan diri sebaik mungkin. Tapi anak itu malah memasang wajah dingin yang membuat Flor merasa was-was. Fajri tampak mengerikan dengan tatapan tajam itu. Sungguh.
“Aku mau kamu pulang! Ngapain sih di sini? Aku lagi nggak terima tamu!”
“Tanpa kamu usir pun aku pasti akan pulang kok, nggak usah khawatir! Lagipula aku ke sini cuma mau pastiin kamu ada di rumah atau nggak, kamu sakit atau gimana, dan sekarang aku udah lihat kamu, udah ngomong sama kamu meskipun aku belum dapat jawaban apa-apa atas pertanyaanku tadi. Nggak apa-apa, mungkin kamu memang lagi capek dan butuh istirahat. Kita bisa ngomongin masalah ini lagi lain kali,”
“Nggak! kita nggak akan pernah bahas ini lagi!”
Flor terkesiap. Kedua alisnya berkerut samar.
“Kenapa?”
Fajri tidak menjawab.

“Ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari kita semua? Apa itu hal yang nggak benar?”
Sepasang mata Fajri langsung melebar menerima pertanyaan itu. Ia menatap Flor lebih tajam lagi, seolah ingin membuat gadis itu menyesal karena telah bertanya begitu kepadanya.
“Bisa nggak kamu nggak usah banyak omong dan pergi aja dari sini?!” Bentak Fajri dengan nada tinggi. Flor tercekat, terkejut luar biasa mendengar anak itu meninggikan nada bicaranya. Dan tatapan itu membuat seluruh tubuhnya membeku. Pikirannya melayang-layang tidak jelas. Buyar.

“Kok jadi kasar gitu, sih?”
“Pergi!”
“Fajri..”
“Gue bilang pergi! Telinga lo masih normal, ‘kan?”

Flor terkejut untuk kedua kali. Lagi-lagi Fajri membentaknya, dengan mata memerah dan suara yang amat tajam. Caranya bicara pun sudah berubah. Sangat kasar. Melihat sikapnya sekarang malah membuat Flor yakin kalau temannya yang satu itu sepertinya memang sudah terkontaminasi oleh sesuatu. Sesuatu yang buruk. Sesuatu yang tidak seharusnya masuk ke dalam hidupnya. Sesuatu yang mungkin saja akan merusak segala yang Dia punya.

Fajri yang tampaknya mulai lelah menghadapi Flor berniat akan segera masuk ke dalam. Tepat saat Ia baru memperoleh satu langkah, sesuatu terjatuh dari genggamannya. Fajri cepat-cepat membungkuk dan meraihnya dengan tangan yang sedikit gemetar jika Flor mau memperhatikannya baik-baik. Fajri tampak begitu gugup, dan Ia sama sekali tidak sadar kalau Flor sempat melihat benda yang terjatuh itu sebelum dia kembali menggenggamnya kuat-kuat dan menerobos masuk ke dalam rumah.

Flor masih memaku di tempat. Benda itu tidak asing. Flor merasa pernah melihatnya di sebuah blog di internet. Itu…
Astaga! Apa Fajri benar-benar menggunakan barang biadab itu? Apakah temannya adalah seorang pecandu?

Kecurigaannya benar. Rasa takut dan gelisah yang belakangan ini menyelubungi hatinya ternyata memang bukan tanpa alasan. Fajri adalah seorang pecandu nark*ba. Entah sejak kapan dia mulai bergaul dengan barang-barang itu, siapa yang mengenalkannya dan kenapa dia lebih memilih untuk membiarkan hidupnya rusak daripada menyusun masa depan yang cerah. Flor masih belum bisa mengerti. Mungkin tidak akan pernah mengerti. Seharusnya anak itu cukup cerdas untuk menentukan mana yang baik dan mana buruk bagi dirinya, bagi hidupnya, tapi kenapa kali ini dia seolah tidak menggunakan rasionya untuk berpikir?

Di saat yang bersamaan, fakta yang lebih mengejutkan datang menghampirinya. Ternyata tidak hanya Fajri seorang, teman-temannya yang lain pun memutuskan untuk masuk ke dalam lubang neraka itu. Ardo, Yura, Maya, dan Milly adalah para pecandu narkotika. Hal itu Ia ketahui beberapa hari yang lalu, saat tanpa sengaja Ia mengikuti Yura pergi ke toilet dan mendengarnya menelepon seseorang. Flor yang saat itu berdiri di luar bilik toilet bisa menangkap dengan sangat jelas pembicaraan mereka bahkan merekamnya dengan sangat baik di kepala. Yura sempat menyebut-nyebut tentang m*rfin dan her*in. Dua nama yang langsung bisa Flor kenali tanpa perlu bertanya pada siapapun.

Karena masih tidak percaya, langkah berikutnya yang Ia ambil adalah bertanya secara langsung kepada teman-temannya. Mengejutkan. Mereka semua bahkan tidak membantah sama sekali. Mereka mengaku dengan mudahnya, mengatakan kalau mereka memang menggunakan nark*ba sejak seminggu terakhir. Ardo bahkan dengan sangat gila memberinya penawaran yang kedengarannya sangat menggiurkan. Namun sayang, Nenden tidak tertarik. Tidak akan pernah.

Ia tidak akan merusak hidup yang sudah coba Ia tata dengan apik selama belasan tahun ini. Ia tidak ingin kehilangan masa depannya hanya karena sebutir ekst*si. Ia tidak ingin seperti mereka. Ia bersumpah.

Sejak hari itu pula teman-temannya berubah. Perubahan serupa seperti yang biasa terjadi pada kebanyakan pemakai nark*ba di dunia ini. Penampilan fisik yang kacau, sering tertidur di kelas, tidak mengerjakan tugas, membolos, bahkan berkelahi. Tidak jarang mereka berlaku kasar satu sama lain, termasuk kepada Flor. Mereka juga menjadi lebih sibuk belakangan ini, sibuk dengan dunia mereka sendiri. Dunia yang merusak diri mereka, mimpi mereka, serta hidup mereka. Mereka menghabiskan waktu untuk bermain-main, pergi ke diskotik, pesta minuman keras, dan hal-hal tidak berguna lainnya. Pokoknya semua itu membuat Flor muak. Marah. Ingin rasanya Ia berontak supaya dunia tahu kesedihannya. Jika bisa melakukan itu maka Ia pasti akan melakukannya. Ia hanya tidak tahu bagaimana caranya.

“Jangan minum lagi, Mill!”
Flor meraih gelas di tangan Milly lantas menyingkirkannya jauh-jauh. Ia bahkan mengambil sebotol bir dari hadapannya ketika temannya itu nekat ingin menenggak langsung dari sana.

Sudah dua jam Flor bergabung bersama teman-temannya di rumah Yura, memandang miris benda-benda yang mereka gelar di atas meja ruang tengah. Benda yang membuat Flor harus bersusah payah menelan ludahnya sendiri, berulang kali. Sementara mereka semua asyik bersenang-senang, bebas melakukan apapun yang mereka suka di rumah Yura karena orang tuanya memang tidak di sini. Yura bilang, orang tuanya hanya akan pulang satu kali dalam satu tahun. Itu pun tidak pasti. Tahun lalu, mereka tidak pulang sama sekali.

“Apaan sih? siniin nggak?!” Milly masih berusaha menjangkau botol yang sudah Flor jauhkan dari hadapannya.
“Lihat dirimu! Kamu sudah nggak sanggup minum lagi!”
“Berisik! Balikin ah!” Lantaran kesal, Milly segera bangkit lantas merebut bir-nya secara paksa dari tangan Flor. Gerakan itu sangat cepat hingga Flor sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk menghindar. Melihat Milly sudah kembali duduk sambil menenggak sebotol bir malah membuat pelipisnya berdenyut-denyut. Baru kali ini Ia kewalahan menghadapi seorang Milly yang polos dan penurut.

Ia mengalihkan pandang dan langsung mendapati Maya sedang menghisap sebatang rok*k. Yura dan Ardo bermain kartu sambil sesekali menyesap gelas berisi alkohol yang ada di depan mereka. Sementara di sudut yang lain, Fajri tampak sibuk dengan butiran-butiran pil kecil dan menelannya berkali-kali.

Flor menghela napas berat. Tempat itu terasa begitu sesak baginya. Asap rok*k yang mengepul di udara membuat rongga dadanya menyempit. Dan menyaksikan teman-temannya melakukan semua hal gila itu membuat kepalanya terasa seperti mau pecah.
Ia tidak tahu kenapa teman-temannya menjadi seperti ini sekarang. Berpikir ribuan kali pun tetap tidak dapat membuatnya mengerti.

“Apa kalian nggak bisa berhenti sampai di sini aja?” Suara Flor sedikit bergetar saat kalimat itu meluncur. Wajahnya memanas akibat emosi yang tertahan.
Tapi tidak ada yang menanggapi perkataannya sama sekali. Semuanya tetap sibuk dengan diri mereka masing-masing, seolah suaranya hanyalah angin lalu yang tidak layak untuk di dengar.

“Buat apa kalian seperti ini? Supaya apa?” Flor melanjutkan. Kali ini suara Yura menyambar gendang telinganya.
“Buat seneng-seneng,” katanya acuh tak acuh. Flor menatapnya tajam.
“Seneng-seneng? Banyak kok hal-hal yang bisa kamu lakuin kalau cuma untuk bersenang-senang. Hal-hal yang positif, bukan yang bikin hidupmu rusak seperti ini!”
Yura masih bersikap acuh, bahkan terkekeh sinis seolah sedang meremehkan kata-katanya barusan.

“Oke, mungkin saat ini kalian bisa merasakan efek yang menyenangkan. Kalian merasa hidup kalian lebih berwarna, bervariasi, nggak ngebosenin dan tentunya menyenangkan. Tapi apa semua itu akan bertahan selamanya? Apa kalian akan selalu punya uang untuk beli barang-barang itu? Aku tau semua itu nggak bisa kalian dapatkan dengan harga yang murah, dan aku khawatir kalian akan bertindak kriminal hanya demi mendapatkan barang-barang itu!”
Flor mengitarkan pandangannya, memperhatikan mereka satu persatu. Tidak ada yang menggubris. Semuanya masih tampak sibuk dengan kegiatan masing-masing.

“Tolong jangan seperti ini! Tolong jangan merusak diri kalian sendiri! kalian masih muda, hidup kalian masih panjang. Masih banyak yang harus kalian lakukan ke depannya, salah satunya adalah mengejar mimpi yang pernah kalian tanamkan dalam hati masing-masing. Jadi tolong, jangan buat mimpi kalian hancur!”
Masih tidak ada yang bersuara. Flor mulai ragu, apakah mereka semua mendengarnya atau tidak?

“Nark*ba itu monster! Dia siap menghancurkan kalian kapanpun dia mau, kalau kalian nggak menjauh maka bersiap-siaplah untuk merasakan kehancuran itu!”
“Lo berisik banget, sih! Kalau nggak mau di sini pulang aja sana!” Fajri angkat bicara. Flor terkesiap. Dia benar-benar berubah. Mereka semua berubah. Napza telah mengubah teman-temannya.
“Buat kamu nih, ambil!” Maya melempar sebungkus rok*k dan langsung ditangkap oleh Flor. Flor memandangi benda itu lama. Membolak-balik kemasan yang bergambar penyakit mengerikan itu. Lalu Ia berdecih.
Cih.. sampai mati pun tidak akan pernah Ia biarkan benda itu menyentuh bibirnya.

“Daripada kamu ngomong ngelantur kesana-kesini mending gabung sama kita deh..” Yura menambahkan.
Flor menatap sebungkus rok*k di tangannya sekali lagi, kemudian menjatuhkannya ke lantai dan menginjaknya kuat-kuat. Semuanya menyaksikan itu dengan pandangan tidak suka.
“Kok diinjek sih?” Maya tidak terima.
“Barang yang nggak berguna memang seharusnya dibuang, kan?”

Ardo bangkit dari duduknya, mendekat pada Flor dengan wajah kesal.
“Sebaiknya lo ikutan kita juga. Lo bisa seneng-seneng dengan semua ini. Lo nggak akan nyesel, Flor!” bujuk Ardo, persis seperti caranya membujuk teman-temannya yang lain beberapa waktu lalu.
“Nggak akan!”
Kening Ardo berkerut. Flor menatapnya tajam. Memperhatikan iris hitamnya baik-baik, beberapa saat, lalu Ia kembali berujar dengan nada bicara tak kalah tajam.
“Mencegah masuknya nark*ba di kehidupan kita dan keluarga jauh lebih baik daripada mengobati diri kita yang sudah tercandu nark*ba!”
Setelah mengatakan itu, Nenden segera pergi, meninggalkan teman-temannya yang hatinya sudah membatu sekarang.

Cerpen Karangan: Anita Kurniastuti
Facebook: Anita Taa

Cerpen The Real Monster (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Untukmu Raisa

Oleh:
“Raisa!” panggilku. Raisa pun menoleh ke belakang. “Eh, Rika” jawabnya. “Raisa, Rasty mana?” tanyaku. “Kayaknya, belum datang deh!” jawab Raisa lagi. “Kantin, yuk” ajakku. “Yuk, deh.” Aku dan Raisa

Petikan Terakhir Senar Cinta Rafa

Oleh:
Cerita yang telah lama terpendam , Kisah persahabatan dan cinta antara Tia dengan Rafa. Ditengah kota Fentaly yang panas disertai hiruk pikuk kendaraan bermotor yang tidak kenal lelah ternyata

Anagram

Oleh:
Stasia meletakkan cangkir kopinya sedikit kasar. Seandainya kafe sepi, mungkin dentingan keramik itu akan membuat pengunjung yang ada menoleh padanya. Perempuan di hadapannya baru saja memutuskan Juan, lelaki yang

Nama Sederhana Yang Membuat Sebuah Harapan

Oleh:
pertama kali gue ngelihatnya di sebuah tempat, gue gak inget persis kapan waktunya tapi gue tau ketika gue ngelihatnya mampu ngebuat gue seperti berada di tempat yang begitu indah.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *